Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Sidang


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya Muda


Saat ini, Kiara dan Gav sedang bermain seperti biasa, di gazebo taman belakang.


Tapi hari ini ada yang berbeda, entahlah Ia juga merasa aneh.


Semenjak surat panggilan sidang untuk Suaminya datang, Ia di larang keras pergi Ke luar, kecuali bersama Sang Suami.


Sebenarnya apa yang akan terjadi, jika Ia berada di luar rumah?


"Bim," panggil Kiara singkat. Kepada bima, yang saat ini sedang berdiri tidak jauh darinya.


Bima juga berubah, biasanya Dia hanya akan muncul, jika Ia sedang ada di luar rumah.


"Iya nyonya," sahut Bima singkat. Ia mendekati Istri Sang Bos, yang melihat ke arahnya.


"Apa kamu tahu, dengan apa yang sedang terjadi?" tanya Kiara to the point.


Bima tidak bisa menjawab, sebab Bos-nya sudah memerintahkannya untuk diam. Tidak boleh membiarkan Istri dari Bos-nya tahu, karena Nyonya-nya sangat mudah panik.


"Tidak Nyonya," Balasnya singkat.


Ia ingat kejadian beberapa hari yang lalu, tepatnya saat Sang Bos memerintahkan dengan tegas, jika Ia harus berjaga-jaga dengan ketat di sekitar rumah.


Insting Bos-nya sangat tajam, Ia ingat saat itu Ia sedang memantau keadaan luar, bergantian dengan FCA yang lain.


Flasback on


Pukul. 23:50, WKS.


Malam itu Bima, yang bertukar posisi dengan rekannya, memeriksa bagian timur Rumah majikannya, berkeliling dengan seorang rekan lainnya.


Di kejauhan tepatnya di bawah pohon, selang beberapa rumah dari tempatnya berdiri, terparkir sebuah mobil Jeep dengan Plat nomor luar Kota.


Rekannya yang memiliki nama Leo, menyengol lengannya, saat merasakan keanehan dengan mobil tersebut.


"Hm?" gumam Bima singkat.


"Arah jam 12," bisik Leo. Memberi kode, yang hanya di mengerti oleh mereka.


Bima tanpa menoleh, melirikkan matanya melihat mobil Jeep yang terparkir. Meski tidak ada penerangan Ia tahu, jika di dalam mobil itu ada seseorang, setidaknya 3 orang di lihat dari siluet berbeda.


Tanpa kata Bima menekan tombol pada Earpiece, pada telinga kanannya memanggil Rekan lainnya, untuk memeriksa situasi lokasi yang di curiga.


"Copy,"


"Timur, arah jam 12," bisik Bima singkat.


"Aye,"


Bima menepuk pundak Leo, mengangguk kepala kode untuk melanjutkan perjalanan, karena Ia sudah menugaskan yang lain untuk memeriksa.


Saat 2 orang rekannya tiba ke lokasi, sayang sekali Jeep tersebut lebih dulu kabur, seakan tahu bila ada orang yang memergoki. Tapi sebelum Jeep tersebut pergi, dari dalam mobil seseorang melemparkan bingkisan, dengan kotak kecil bungkus koran yang memuat berita tentang Bos mereka.


Bima pun menerimanya dengan kening berkerut heran, tapi Ia tidak berani membuka karena jelas sekali, jika kotak ini di tujukan untuk Bos-nya.


"Apa kalian sempat melihat, orang yang ada di dalam Jeep tersebut?" tanya Bima melihat ke arah keduanya.


"Hanya bayangan sekitar 4 orang, postur tubuh besar," balas Rekannya.


Bima mengangguk, memberikan perintah untuk lebih menjaga keamanan di seluruh lokasi, bukan hanya sayap Timur atau barat tapi seluruhnya. Apalagi rumah Bos-nya di kelilingi dengan rumah lain, yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.


Bayangan Jaya Dharma di kenal kejam, tanpa pandang bulu mereka akan menghabisi lawan, serta target yang di perintah oleh atasan mereka.


Keesokan hari, ia pun melaporkan kejadian semalam dan memberikan kotak dengan bungkus koran kepada Bos-nya.


Bima di ajak Dirga, membahas masalah ini di ruang kantor pribadinya, yang ada di dalam rumahnya.


Dirga mengernyitkan alis bingung, saat Bima menyodorkan kotak dengan bungkus koran, dengan berita utama dirinya yang sedang berada di tempat Lelang dan Amal bersama Istrinya.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Dirga penasaran. Ia melihat ke arah Bima, yang melihat ke arahnya.


"Maaf Bos, saya tidak berani membukanya," balas Bima dengan nada datar.


Karena tidak ingin penasaran, Dirga pun segera membuka bungkus koran dan menemukan secarik kertas, dengan beberapa lembar Foto Istrinya yang sedang tersenyum.


Dirga segera membaca surat, dengan tinta merah berisikan hal, yang membuatnya marah dan takut secara bersamaan.


______________________________________


Istri-nya boleh juga, bisa dong kita berbagi.


_______________________________________


"What the hell, shit," umpat Dirga emosi.


Bima tidak kaget, jika temprament Bos-nya kambuh. Itu tandanya isi surat, yang tadi di baca oleh Sang Bos benar-benar kelewatan.


"Di mana mereka mengintai?" tanya Dirga singkat. Menatap tajam surat, yang tidak bisa menjadi bukti, karena hanya ada tulisan tanpa pengirim.


"Sayap timur, arah jam 12, mereka kabur saat di datangi Tim F," balas Bima menjelaskan.


Dirga mengangguk mengerti, saat mendengar kode lokasi.


"Fokus di sekiling rumah, pantau terus CCTV, bila perlu tambah CCTV di setiap sudut. Gue nggak mau kejadian ini terulang," perintah Dirga tegas. Ia mengepalkan tangannya erat, menyalurkan rasa marahnya.


"Baik,"


"Informasi yang Gue minta, apa semua sudah dapat ?" tanya Dirga. Melihat ke arah Bima, dengan sorot mata tajam saat Bima hanya menggeleng.


"Baru beberapa, bayangan Jaya Dharma lebih licin," balas Bima sedikit takut.


"Shit,"


Lagi-lagi Bima mendengar umpatan kesal, saat Ia membuat Bos-nya kesal.


"Bos pasti kecewa," Batinnya.


"Oke, kerja bagus Bim. Kedepannya lebih perketat penjagaan di sekitar rumah, sidang belum mulia mereka tidak akan menyerang," ujar Dirga memuji. Meski nada suaranya datar, namun Bima yang mendengarnya merasa bangga.


"Baik Bos," seru Bima semangat.


"Paham Bos," balas Bima singkat. Ia mengangguk tegas, dengan suara tegas dan sikap sedia.


"Good, Lu boleh keluar, kasih tahu yang lain untuk selalu sedia. Jangan sampai lengah," ujar Dirga memperingati.


"Baik," balas Bima. Kemudian Ia berbalik keluar ruangan Bos-nya, menuju markas FCA dimana Rekan-rekannya berkumpul.


Flasback off


"Bim, Kamu melamun?" tanya Kiara heran.


Bima tersentak kaget, saat Sang Nyonya memanggilnya dengan suara sedikit keras. Ia tidak sadar melamun, saat mengingat alasan Nyonya-nya tidak boleh tahu suasana aneh akhir-akhir ini.


"Tidak Nyonya," balas Bima singkat.


Kiara hanya mengangguk, meski sedikit curiga tapi apa mau di kata, Suaminya jika sudah bilang tidak ada apa-apa, berarti Ia harus percaya.


"Oke, Saya sama Kicik kedalam dulu," ujar Kiara. Di Jawab anggukan kepala dari Bima, yang segera meninggalkan halaman belakang, menuju Pos depan.


Keesokan harinya


Hari ini adalah sidang perkara kasus penganiayaan, yang di layangkan untuk Dirga sebagai tertuduh.


Di halaman depan gedung pengadilan mahkamah Agung, sudah berkumpul Pers dan juga Stasiun Televisi baik swasta maupun milik negara.


Dirga datang bersama kedua Kakek dan Papa-nya, serta Kiara sebagai saksi ahli. Sedangkan Para Mama, menjaga Gav di Mansion Wijaya agar aman, lalu untuk Sahabatnya mereka datang dengan mobil masing-masing.


Saat turun dari mobil Lamborghini kesayanganya, Flash dari kamera milik Pers menghujaninya serta Istrinya yang ada di rengkuhannya.


Faro memakai seragam advokat dengan toga, juga jubah lengan lebar serba hitam, menunggunya di depan pintu gedung kejaksaan. Di sampingnya ada asistennya, yang membawa Tas yang biasa sahabatnya pakai jika sedang ada sidang.


Pertanyaan demi pertanyaan pun di layangkan untuknya, namun Ia hanya diam. Ia menyerahkan jawaban atas pertanyaan untuknya, kepada Faro sebagai penasihat hukumnya.


Skip


Di ruang sidang, sudah berkumpul penonton yang duduk dengan tertib, di bangku yang di batasi oleh pagar kayu.

__ADS_1


Lalu di depan kursi penonton, tepatnya di meja kiri, ada Richard sebagai penuntut di dampingi oleh kuasa hukumnya.


Sedangkan di meja kanan, ada Dirga yang di sebelahnya tentu saja ada Faro sebagai kuasa hukumnya.


Di depan mereka telah duduk Hakim Agung dengan memakai Simare berwarna kuning, sedangkan di sebelahnya kanan dan kirinya telah duduk hakim pendamping.


Sebenarnya sudah ada acara Mediasi, namun karena pihak penuntut tidak menghadirinya maka sidang pun tetap berlanjut.


Sidang pun di mulai, kuasa hukum dari pihak Richard membuka dengan memberikan berkas serta bukti, kepada Hakim Agung.


Di lanjut dengan pemanggilan saksi ahli, yaitu Kiara. Yang menjawab dengan tegas, sesuai apa yang terjadi.


Selanjutnya di timpali oleh Faro, yang menangguhkan tuntutan dengan pasal-pasal sebagai pedoman.


“Menimbang, bahwa dari rumusan Pasal 49 ayat (1) KUHP dapat disimpulkan seseorang dikatakan telah melakukan pembelaan terpaksa, apabila dilakukan dalam dalam tiga hal, yaitu :


Untuk membela dirinya sendiri atau orang lain terhadap adanya serangan yang ditujukan pada fisik atau badan atas dirinya sendiri atau orang lain;


Untuk membela kehormatan dalam bidang kesusilaan;


Untuk membela harta benda sendiri atau orang lain;


"Jadi, bisa di simpulkan jika saudara Dirga tidak bersalah, dalam kasus penganiayaan. Jika di lihat saat kejadian, saudara Dirga hanya melindungi saudara Kiara sebagai istri."


Ujar Faro panjang lebar, memberikan alibi serta pembelaannya.


Pembelaan dari Faro, membuat kuasa hukum dari pihak lawan diam, tanpa bisa berkutik karena dari awal mereka tahu. Jika ini hanya sebuah kasus, yang sebenarnya memiliki maksud.


Sedangkan Richard, hanya memandang kejadian di depannya dengan tatapan biasa. Ia lebih fokus ke arah Kiara, yang duduk di kursi saksi dengan wajah menunduk.


Senyum lebar di tutupinya, saat rencana receh ini terlaksana.


Hakim pun meninjau kembali, saksi serta bukti dari masing-masing pihak.


Keputusan ketidak bersalahan atas tuduhan, yang di layangkan untuk Dirga di umumkan.Jadi, saat ketukan palu dari Hakim terdengar, desahan lega dari Kiara serta tepuk tangan, dari penonton yang menjadi saksi jalannya sidang.


Di antara seruan bahagia di sekitarnya, Dirga hanya fokus ke arah Richard yang sedang tersenyum tepatnya menyeringai ke arahnya, di ikuti oleh kata, tanpa suara. Membuatnya refleks bangkit, berdiri dan menerjang Richard dengan kepalan tangannya, tapi untunglah Faro cepat menghentikannya.


"Brengsek, apa mau Lu hah?" seru Dirga kalap. Nada suaranya yang biasanya datar, menjadi penuh emosi saat melihat Richard, yang hanya tersenyum mengejeknya.


"Ga, sabar. Kita ada di tempat sidang ,tahan emosi Lu, kalau tidak kemenangan kita cuma debu," ujar Faro berbisik. Ia di bantu dengan Raka menahan tubuh Dirga, yang memberontak ingin mendekati Richard.


"Elah Ga, tahan emosi Lu," timpal Raka berbisik.


Suasana pun menjadi riuh saat melihat pertengkaran di antara keduanya, penonton melihat ke arah keduanya dengan wajah penasaran, membuat Kiara terburu-buru mendekati Suaminya, yang saat ini sedang terbakar emosi.


Kiara heran dengan Suaminya, kemana sikap tenangnya dulu, kenapa sekarang Dirga berubah gampang emosi.


"Kenapa? Gue cuma mau ngucapin selamat atas kemenangan Lu, salah yah?" ujar Richard santai. Ia menyeringai saat melihat Kiara, yang menerobos masuk, menenangkan Dirga dengan cara memeluknya.


"Sayang sabar, Aku mohon,"


"Sudah yah, Gue cabut. Oh iya, apa hadiah dari Gue udah sampai di tangan Lu, Bagaimana, apa Lu suka?" ujar Richard hendak berbalik. Namun, sebelumnya ia bertanya dengan nada mengejek, terkekeh senang saat melihat Dirga yang kembali kalap.


"Sialan Lu, Gue ...


Plak


Deg


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mediasi biasanya dilakukan oleh para pihak, dengan bantuan mediator. Bertujuan untuk mencapai kesepakatan kedua belah pihak yang saling menguntungkan.


Simare dibuat dari kain beludru atau saten.


Pengacara, advokat atau kuasa hukum adalah kata benda, subyek. Dalam praktik dikenal juga dengan istilah Konsultan Hukum.


Arah jarum Jam 12 artinya lurus tepat, di hadapan.


Ikuti kisah selanjutnya....


Jangan lupa kirim komentar dan klik jempolnya ...


Serta vote dukunganya...

__ADS_1


Sampai babai


Terimakasih


__ADS_2