Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kebahagiaan Yang Lain


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Enam bulan berlalu


Rumah Sakit Ibu Dan Anak Kota S


Di depan ruang bersalin, ada keluarga Budiman yang sedang menunggu anggota keluarga mereka, yang saat ini sedang berjuang melahirkan anggota keluarga baru.


Di kursi tunggu terlihat keluarga Wicaksono, yang juga ikut menunggu kelahiran anggota baru anak dari pasangan Kaisar dan Fania.


Mereka dengan sabar menunggu, meski ekspresi yang di tampilkan biasa saja tapi nyatanya dalam hati sangat was-was.


"Lama juga yah, sampai sekarang belum juga ada tanda-tandanya!" seru Kiara melihat ke arah Sang Mama, yang saat ini sedang melihat ke arah Gavriel di koridor sana.


Sarah menoleh ke arah Kiara, lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Iya .... Sepertinya ada kendala, tapi semoga saja lahirannya lancar!" balas Sarah dengan senyum kecil.


Ia menepuk lengan Kiara, lalu mengusap perut datar milik Sang anak sayang.


"Dan lahiran Kamu, nanti lancar juga!" Lanjutnya bahagia.


"Amin!" balas Kiara dengan senyum tulusnya.


Gavriel sudah berusia satu tahun enam bulan, usia di mana sedang aktif-aktifnya.


Sehari tidak bisa, jika tidak bergerak. Berlari kesana-kemari, mengejar ini dan itu serta mengesksplore apapun yang membuatnya penasaran.


"Momm, Momm!" panggil Gavriel yang saat ini sedang berlari menghampirinya.


Kiara berjongkok menyambut terjangan maut Sang anak yang sedang tersenyum lebar.


"Momm, mum, ail!" ujar Gavriel menatap Sang Mommy dengan mata bulat polosnya.


Kiara mengusap peluh yang mengalir di pelipis Sang anak, lalu mengecup sayang dan tersenyum lembut.


"Haus?" tanya Kiara memastikan.


Gavriel mengangguk imut dengan senyum lebar, menampilkan gigi susu terawat dengan jarak spasi tidak rapat.


"Mum, Momm!" ulang Gavriel.


Di belakang mereka sarah menggelengkan kepalanya kecil, saat melihat kelakuan lucu cucu pertamanya.


"Habis lari kesana-kemari jadi haus, heum?"tanya Sarah menyahuti.


"Omm, hi-hi. Mum!" ujar Gavriel ke arah Sang nenek.


"Oke ... Kamu tunggu di sini, Momm ke kantin bel-


"Biar Aku saja, sayang!" sela Dirga cepat. Ia berjalan menghampiri kedua wanita dan satu belita yang segera berlari, menyongsong Suaminya yang baru saja datang, setelah Ia hubungi secara mendadak.


"Dadd!" seru Gavriel semangat.


Dirga berjongkok dan membuka lebar lengannya, menyambut pelukan maut Sang anak yang tadi ada di dekapan Istrinya.


Grep!


"Miss me, heum?" bisik Dirga lalu mengecup pipi putranya sayang.


Hup!


Ia membawa Gavriel kedalam gendongannya, menghampiri Kiara yang berdiri dari jongkoknya.


"Kirain Kamu nggak bisa kesini yank!" seru Kiara setelah mengecup punggung tangan Dirga.


"Ini baru selesai meeting, gomenesai!" balas Dirga dengan tangan mengusap lembut pipi Sang istri.


"Eum ... Nggak apa-apa, Kamu nggak perlu minta maaf!" seru Kiara tersenyum lembut.


Dirga beralih ke hadapan Mertuanya, mengambil tangan kanan dan mencium punggung tangan Sarah.


"Sehat Mih?" tanya Dirga setelah melepas tangan Sang mertua.


"Sehat, Kamu sendiri bagaimana?" balas Sarah bertanya.


Kesibukan Suami dari anaknya, membuat Ia dan Sang menantu jarang bertemu, kalau bukan ada acara besar bahkan di hari libur pun mereka jarang bertemu.


"Sehat Mih, Papi di mana?" balas Dirga lalu bertanya.


"Di sini!"


Keduanya menoleh ke arah belakang, di mana ada Fandi yang berjalan santai dengan tangan mengusap kening, sepertinya keluar keringat efek bermain dengan Sang cucu.


Dirga bergantian mencium punggung tangan Sang mertua laki-laki.


"Keringatan Pih, cuaca panas sekali sepertinya!" seru Dirga meledek. Ia tersenyum dengan ekspresi menjengkelkan, saat Sang mertua mendengus ke arahnya.


"Tentu saja, cuaca panas dan punya buntalan aktif luar biasa. Nikmat mana lagi yang kau dustakan," balas Fandi menyindir.


Dirga terkekeh kecil, saat Sang mertua menyebut buntalan aktif.


Anaknya memang tumbuh sehat, lebih segala-galanya.


Badan montok, pipi chabi dan yang paling lebih adalah di kelakuannya, maksudnya Gav tidak akan diam kecuali sedang tertidur.


(Lah Si bapak lucu, jelas aja kalau tidur diam. Eleh ... Kan itu ungkapan loh, diem aja deh)


"Ha-ha-ha ... Apalagi cucu yang kedua nanti!" balas Dirga tanpa dosa.


Fandi mendengus saat menantunya menyebut kata cucu ke dua.


Ia berharap jika punya cucu lagi, Ia ingin wajahnya mirip dengan Sang anak bukan menantunya lagi.


"Bosen liat itu-itu mulu," batin Fandi berharap.


"Iya ... Dan semoga kalau cucu kedua lahir, wajah dan tingkah lakunya tidak seperti Kamu," balas Fandi memasang wajah pura-pura polosnya.


"Wajar Pih mirip Aku, kan Dia anak Aku," ujar Dirga tidak terima.

__ADS_1


"Ya ... Ya ... Terserah Kamu aja," balas Fandi acuh.


Sarah dan Kiara yang menyaksikan cek-cok sudah biasa antara menantu dan mertua, hanya bisa menggeleng kepala maklum.


Mereka sudah tidak heran dengan kelakuan keduanya, apalagi kalau Hendri sudah ikut gabung membully Dirga.


"Kompak sekali!" celetuk Kiara.


Ia terkikik saat melihat kedua pria beda usia, menoleh serempak ke arahnya dengan mata melotot tidak terima.


"Enak saja/ mana ada!" seru keduanya kompak, membuat Kiara dan Sarah semakin terkikik di buatnya.


"Itu kompak!" seru Kiara semakin menggoda.


"Siapa yang mau kompak dengan ini papan berjalan?" ujar Fandi seenaknya.


"Iya nggak Gav?" Lanjutnya sambil mengulurkan telapak tangan untuk bertepuk. Lalu Ia terkekeh kompak dengan Sang cucu, saat tepukan tangannya di sambut dengan segera oleh Cucunya.


Prok!


"Hi-hi, Op-op!"


"Cucuku pintar!" seru Fandi senang.


Kiara dan Sarah terkekeh kompak, saat Dirga melengoskan kepalanya dengan ekspresi kesal, lebih tepatnya pura-pura kesal.


"Serah Papi aja," ujar Dirga datar.


"Apa belum keluar juga?" lanjut Dirga bertanya.


"belum," balas Kiara singkat dengan kepala menggeleng kecil.


"Lama juga yah," gumam Dirga pelan.


"Semoga Kai dan Fania sabar menjalani cobaan ini!" lanjut Dirga berdoa.


"Amin!" sahut ketiganya.


Puk! Puk! Puk!


Dirga menurunkan pandangannya, ke arah Gavriel yang menepuk-nepuk dadanya minta di perhatikan.


"Yes, Kid?" sahut Dirga dengan alis terangkat penasaran.


"Dadd, auts, ail!"


Dirga menepuk dahinya pelan, saat ingat tentang Sang anak yang sedang kehausan.


"Maaf, tadi Aku buru-buru sehingga perlengkapan Gavriel tidak semuanya terbawa," ujar Kiara menyesal. Ia tersenyum meminta maaf, yang di balas tepukan pada kepalanya.


"Hanya masalah sepele, tidak perlu di besarkan!" gumam Dirga lembut.


Kiara tersenyum, lalu menggengam tangan Suaminya.


"Kalau begitu, Kita bertiga ke kantin aja yuk. Aku juga mau beli minum, haus!" seru Kiara mengajak Suaminya.


"Oke ... Yuk!" balas Dirga balas menggengam tangan istrinya erat.


Oek-oek-oek!


Kalimat Kiara terpaksa berhenti, saat terdengar suara tangisan khas dari dalam ruang bersalin.


Tidak jauh dari mereka, keluarga Fania dan Ronald satu-satunya kerabat Kaisar mendesah dengan ekspresi lega.


"Alhamdulilah, sudah lahir!" gumam Kiara senang.


"Kalau begitu, biar Aku sama Gav yang ke kantin. Kamu di sini bareng yang lain, oke?" ujar Dirga kepada Kiara yang mengangguk.


"Iya ... Nanti langsung ke ruang inap yah, Kita ketemu di sana!" balas Kiara senang.


"Oke!" balas Dirga dengan kepala mengangguk mengerti.


Mereka berpisah dan berjalan ke arah berlawanan, Dirga ke arah kantin dan Kiara yang mendekat ke arah ruang bersalin.


Skip


Setelah menunggu sekitar dua jam lamanya, akhirnya Fania yang dalam keadaan tidur di pindahkan di ruang rawat yang sudah di siapkan Kaisar.


Bayi perempuan sehat yang di lahirkan Fania, memiliki panjang tiga puluh delapan dan berat tiga kilo.


Kulit merah dengan rambut hitam turunan Sang ayah, membuat Kai yang tadi mengadazani Sang putri kecil sampai sekarang masih menampilkan senyum lebar.


Senyum yang membuat Dirga, ingin sekali menampol wajah berbeda dari mantan rival berubah jadi sepupu ipar.


"Gila Lu yah, lama-lama merinding Gue liat Lu senyum mulu kayak orang gila. Biasa aja kali!" ujar Dirga dengan ekspresi ngeri.


Saat ini kebetulan mereka duduk di depan ruang inap, duduk bertiga sedangkan keluarga besarnya di dalam ruangan.


"Apa sih, sewot aja. Lu juga waktu Gav lahir seperti orang idiot!" balas Kaisar sewot. Melotot ke arah Dirga yang mendengus tidak perduli.


"Tapi nggak seperti Lu, gelo!" seru Dirga tidak mau kalah.


"Udah deh, kalian ini selalu saja ribut. Sama-sama gelo mah B aja kali, jangan pada saling teriak!" ujar Ronald menengahi.


"Nah ... Kai, kira-kira siapa Nama lill princess Lu?" lanjut Ronald bertanya dengan nada penasaran.


"Hum ... Nama yah, ada sih ... Tapi tunggu kartu dari rumah sakit aja. Biar surprise!" balas Kaisar dengan cengiran lebarnya.


"Apa sih, sok rahasiaan segala macem,"sela Dirga mendengus.


"Ye ... Biarin aja, sewot mulu ah dari tadi!" balas Kaisar menatap Dirga jengkel.


"Ya ting-


"Yoo ... Bang-Kai, congrats yaw!"


Di ujung koridor sana, ada dua keluarga cemara jalan dengan balita di gendong masing-masing Daddy.


Raka dengan semangat menyapa dan memberi selamat kepada Kaisar, dengan teriakan tentu saja karena jarak mereka saat ini masih terlampau jauh.


Dirga cengengesan melihat partner dalam hal membully, yang tentu saja sahabat strongnya berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Masih jauh kampret!" balas Kaisar melotot kesal ke arah Raka yang beberapa langkah lagi sampai.


"Semangat masa muda, iya nggak tuh!" seru Raka meminta dukungan sahabat songongnya.


Dirga yang suka saat melihat ekspresi kesal Kaisar, tentu saja menyambut umpan yang di berikan Raka dengan senyum miring menjurus meledeknya.


"Yoi Bro, Kita kan masih muda. Nggak seperti bapak satu ini, baru punya baby sudah berasa tuwir sekali**!" seru Dirga semangat. Ia membalas adu tos, saat sahabatnya mengulurkan kepalan tangan ke arahnya.


"Ha-ha-ha ... Bapak fresh rasa lawas!" sahut Faro kurang ajar setelah tertawa menikmati bully-an dua sahabat, dengan korban bapak baru.


Ronald yang tadinya ingin netral, mau tidak mau ikut terkekeh saat mendengar candaan ada-ada saja dari tiga orang laki-laki, yang bersahabat tanpa ada persilisihan di dalamnya.


"Kagum dengan cara mereka berteman," batin Ronald tersenyum kecil.


"Sudah-sudah kalian ini, selalu seperti ini kalau bertemu!" seru Elisa menengahi.


Ia menggelengkan kepalanya, tidak seperti Amira yang ikut terkekeh menikmati saat Sang suami membuli mantan dari kakak sepupunya.


"Pasangan serasi," batin Elisa geli sendiri.


"Kami kedalam saja yah, kalian di sini dan kalau sudah selesai saling ejeknya masuk, oke?" ujar Amira menyudahi kikikannya.


"Oke!"


Amira dan Elisa membawa Ezra dan Queene masuk ke dalam, meninggalkan Para Daddy yang melanjutkan sesi berakrab ria.


"Jadi perempuan yah?" tanya Faro setelah mereka duduk bersama.


"Anak Gue punya temen dong!" Lanjutnya semangat.


"Iya ... Cantik, hi-hi-hi!" balas Kaisar kemudian terkikik aneh, membuat orang di sakitarnya menjauhi Kaisar yang melotot ke arah mereka.


"Apa sih, nggak kemasukan jin Gue, enak aja!" sembur Kaisar.


Mereka tertawa saat mendengar nada sewot dari Kaisar, lalu melihat ke arah Kaisar dengan pandangan penasaran kompak.


"Apa lagi?" tanya Kaisar sewot.


"Jadi namanya siapa, Boleh tahu?" tanya Raka seperti biasa kepo.


"Mau tahu?" balas Kaisar dengan senyum kemenangan.


Akhirnya tiba juga waktunya bersombong ria, dulu kan mereka tuh yang pelit saat memberi tahu anak masing-masing, apalagi Si songong Dirga.


"Kasih tahu, sebelum Gue bantai Lu!" ujar Dirga datar, Ia melihat Kaisar dengan pandangan memaksa, membuat Kaisar mendengus kesal.


"Nggak perduli,"


"Kasih tahu aja susah sekali!" sahut Faro santai.


"Jadi mau tahu nih, beneran?" tanya Kaisar sok misterius.


"Iya!"


"Jadi namanya itu ...."


"Iya ...."


"Namanya ...


-Gue juga belum tahu, ha-ha-ha!"


"Sialan!"


"Bangke!"


"Serah Lu, Bang-Kai!"


"Ha-ha-ha ... Pada kesal!"


"Bodo amat!"


Sedangkan di dalam kamar, di saat bersamaan.


Amira dan Elisa berdiri di samping box bayi, berhadapan dengan Kiara dan Gav yang juga melihat bayi anak dari pasangan Fania dan Kaisar yang pertama.


"Lucu yah, mirip sama Kaisar!" ujar Elisa memandang bayi perempuan tersebut dengan binar senang.


"Akhirnya Queene punya teman, iya kan sayang?" gumam Elisa di telinga Queene yang terkekeh senang.


Sedangkan Amira dan Ezra sudah sibuk, dengan Ez yang ingin memegang bayi dalam box.


"Jangan lagi bobok, sayang!" bisik Amira, membuat Ezra melihatnya dengan wajah kesal.


"Bhuuu!"


Lalu Kiara sendiri berdiri dengan Gav di gendongannya, yang tumben sekali anteng.


Gavriel yang anteng ternyata melihat bayi perempuan yang tidur nyanyak di box bayi, dengan pandangan berbinar ke arah bayi dan Mommynya bergantian.


Membuat Kiara yang merasa di perhatikan mengernyitkan dahi penasaran.


"Ada apa, heum?" tanya Kiara lembut.


"Momm, au ayi!"


"Hah?"


"Hi-hi, ayi Tav au ayi!"


"Apa?"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....


Next episode ada gambarnya ....


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2