Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
My Turn ~ Jaga Dia


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Afgan__Sudah.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Gavriel pulang ke rumahnya, dengan luka lebam di sudut bibirnya, saat tadi sempat terlibat adu kepalan tangan dengan kakak kelasnya di taman belakang.


Memasuki halaman rumahnya, Gavriel memarkirkan mobil yang dikendarainya, di garasi rumahnya bersama kendaraan lainnya.


Gavriel pun turun dari dalam mobilnya, dengan menenteng blazer di lengan kiri dan tasnya sendiri di sampirkan di pundak kanannya.


Berjalan dengan hati merapalkan doa, Gavriel harus menghela napas saat doanya ternyata belum dikabulkan oleh Tuhan. Sebab sang Mommy__Kiara, berdiri di hadapannya dengan wajah terkejut, jalan tergopoh menghampirinya dan memegang dua sisi wajahnya, untuk memeriksa keadaannya.


"Gavriel! Sayang, kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, Momm. Ini tadi-


"Diam dulu, ikut Mommy. Kita obati dulu lukanya, baru nanti cerita, ok!"


Tidak bisa membantah apa yang diucapkan oleh sang Mommy, Gavriel pun hanya mengangguk pelan dan harus pasrah saat dirinya diseret ke atas, mengikuti langkah kaki sang Mommy di depannya.


"Bi Ana, ambilkan kotak obat dan juga baskom kecil. Antar ke kamar Gavriel!" seru Kiara memerintahkan asisten rumah tangganya, yang dilaksanakan dengan segera.


"Baik, Nyonya!"


Keduanya pun berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar Gavriel dan memasuki kamar Gavriel, disusul oleh bi Ana yang membawa kotak juga baskom sesuai perintah.


"Letakkan di meja sana, ya Bi!"


"Iya, Nyonya!"


Setelah kotak obat dan baskom di letakkan sesuai perintah, bi Ana pun pergi meninggalkan kamar anak majikannya, menutup pintu pelan menyisakan Kiara yang menyiapkan kapas dan Gavriel yang duduk di ranjangnya.


Kiara dengan sigap mencelupkan kapas ke dalam air hangat, yang sudah ia tetesi antisptik, kemudian mengusapkannya di sudut bibir anaknya yang terluka.


Sshhhh!


"Sakit? Maaf, Momm pelan-pelan yah," gumam Kiara khawatir, menatap anaknya dengan ekspresi sedih, membuat Gavriel sadar dan segera menggeleng kepala pelan, memberitahukan jika ia baik-baik saja.


"No, Momm. Ini tidak sakit, aku tidak apa-apa," elak Gavriel, namun Kiara sebagai ibu tentu saja tidak langsung mempercayainya, sehingga Gavriel pun memegang tangan sang Mommy untuk dibawanya dan dikecupnya lembut.


"Lihat, tidak sakit kan. Don't worry, Momm. I'll be fine, trust me," lanjut Gavriel, dengan senyum kecil membutikan dan berharap sang Mommy percaya.


"Ok, trust you."


Kiara pun mengangguk kecil, kemudian melajutkan kegiatannya yang tertunda, membersihkan luka anaknya, mengoles krim untuk lebam dan memandang Gavriel dengan ekspresi sedih lagi.


Sedih, saat melihat wajah tanpa cela sang anak ternoda dengan biru dan merah meskipun setitik.


"Momm, ini akan hilang beberapa hari. Jangan khawatir yah," bujuk Gavriel saat lagi-lagi melihat ekspresi khawatir dari sang Mommy.


Kiara sedih melihatnya, karena ini adalah pertama kalinya sang anak pulang dengan membawa luka, saat dulu Gavriel tidak pernah pulang dengan luka, sekalipun pulang dari latihan karatenya bersama keponakan dan anak dari sahabatnya.


"Gavriel, ada apa sayang? Jelaskan ke Mommy," tanya Kiara menatap anaknya penasaran, tapi sayang Gavriel tidak bisa menceritakan, hanya diam dengan tangan menepuk punggung tangan sang Mommy pelan.


"Tidak ada apa-apa, Momm. Gavriel hanya sedikit ada salah paham, sama teman sekolah Gavriel. Biasa, namanya laki-laki," jawab Gavriel tidak sepenuhnya berbohong.


"Benar kah? Tapi Momm rasa bukan hanya itu," tanya Kiara belum puas.


Gavriel menghela napas, tahu jika sang Mommy tidak begitu saja bisa puas dengan apa yang dijawab olehnya.


"Benar, Momm. Gavriel ganti baju dulu, ada yang harus Gavriel lakukan," jawab Gavriel, sebelum berdiri dari duduknya dan berjalan menuju walk in closet, menutup pintu pelan dan meninggalkan Kiara yang melihat pintu masih belum percaya.


Di dalam walk in closet, Gavriel berjalan sambil membuka kancing kemeja yang dipakainya, ke arah di mana tumpukan kaosnya berada.


Lengan dengan bentuk yang hampir sempurna terpampang nyata, saat si empunya melepas kemeja dan melemparnya ke arah keranjang baju kotor.


Kaos dengan warna hitam terpasang apik di tubuh Gavriel, yang saat ini sedang berjalan menuju bagian lainnya, tepatnya ke bagian ujung ruangan untuk ia duduk menyandar di sana.


Kepalanya menengadah, melihat langit-langit di atas sana, mendesah lelah saat ingat kejadian beberapa saat lalu, kejadian yang membuat sudut bibirnya sampai robek seperti ini.


Kejadian saat ia menemui seseorang, di belakang taman sekolah setelah pulang sekolah tadi.


Kejadian yang membuatnya harus rela melepas sesuatu, yang bahkan belum sempat ia genggam oleh tangannya.


Flasback on


Gavriel pov on


Saat ini aku berdiri di depan kelas, melihat ke ujung sana, tepatnya ke arah dua orang yang saat ini sedang berjalan menuju area parkir.


Setelah keduanya sudah benar-benar pergi, aku pun meninggalkan koridor depan kelas, menuju taman belakang untuk menemui seseorang sesuai janji.


Taman belakang tempat aku tadi berlari mengejar sahabatku, taman belakang tempat aku melihatnya memeluk seseorang, taman belakang tempat aku melihatnya menangis dengan seseorang yang lebih dulu menemaninya.


Ya, aku saat itu mengejarnya hingga taman belakang. Tapi aku melihat dia dengan seseorang yang sudah menenangkannya, aku pun menyingkir, meninggalkan mereka dan kembali ke kelas dengan hati nyeri luar biasa.

__ADS_1


Aku juga melihat bagaimana ekspresi khawatir sepupuku, saat aku kembali ke dalam kelas dengan ekspresi yang semakin tidak terbaca.


Aku berjalan melewati ruangan demi ruangan, lalu tidak lama aku pun sampai di taman belakang, dari sini aku bisa melihat punggung seseorang yang sedang membelakangiku saat ini.


Tap!


Berdiri tepat di belakangnya, akhirnya dia pun membalikkan tubuhnya menghadapku, sehingga kini kami berdiri saling berhadapan dengan aku yang menatapnya datar, sedangkan dia menatapku dengan ekspresi menahan marah.


"Dari dulu, gue paling benci dengan tatapan datar lu ini, sombong."


Aku mengangkat sebelah alis, saat aku mendengar pernyataan akan ketidaksukaannya dia terhadap ekspresi wajahku, yang memang dari sananya sudah seperti ini.


"Lalu, masalah buat saya?" balasku santai, dengan nada datar dan itu semakin menyulut emosinya, jelas sekali saat aku melihat tangannya yang mengepal disisi kanan-kiri tubuhnya.


Kakak kelas yang dikenal sabar, ternyata tidak sesabar itu.


"Bangke, jangan karena lu anak pengusaha kaya. Lu seenak-


"Cut it. Saya rasa, bukan itu yang ingin kamu sampaikan untuk saya."


Ekspresi wajahnya jelas semakin marah, saat aku menyela perkataannya dengan tajam dan juga menatapnya semakin datar.


Dia juga menghela napasnya, sepertinya sedang menetralkan rasa kesalnya dengan sikap songongku.


Mau bagaimana lagi, aku lahir dan punya keturunan seperti ini. Jadi jangan salahkan aku.


"Come on, just tell me, I'm so busy now," lanjutku saat aku melihatnya sedang menarik napas berulang, melihatku masih dengan ekspresi marah terlihat jelas di kedua matanya.


"Bacod!"


Aku hanya mengangkat bahu acuh, berpura-pura tidak tersinggung dengan kata-kata kasarnya untukku.


"Ok, gue gak mau basa-basi. Gue cuma mau ngasih tahu, kalau antara gue dan Queeneira nggak ada apa-apa. Selain hubungan kakak kelas dan adik kelas, dan juga gue dan dia nggak pernah ciuman, seperti apa yang tertera di foto. Itu aja."


Aku mengangguk kepala dengan sikap menyebalkan, sehingga dia pun menatapku semakin sengit.


"Lalu, apa masalahnya dengan saya?"


"Apa! Lu gila ya? Gue jelasin hubungan gue sama sahabat lu, lu cuma bilang apa masalahnya dengan lu, sahabat macam apa lu?"


"Itu bukan urusan kamu, dan saya rasa saya juga nggak ada hubungannya dengan kalian. Mau kalian yang tidak atau punya hubungan sekalipun, itu bukan masalah saya, saya tidak peduli."


Mau tahu apa yang hatiku rasakan saat ini? Sakit, tentu saja, saat aku harus berbohong jika aku tidak peduli, nyatanya aku merasakan senang dan bingung disaat bersamaan.


Senang karena aku tahu jika ternyata mereka tidak ada hubungan apa-apa dan bingung saat aku merasa percuma, sekalipun tahu mereka tidak ada hubungan lebih dari pikiranku.


Percuma saat aku sendiri sadar sudah tidak bisa menjaganya lagi, karena aku tahu jika aku tidak akan ada di dekatnya lagi.


"Bacod!"


Kali ini aku yang menyelanya dengan sentakan kasar, sentakan paling kasar yang pernah aku keluarkan di seumur hidupku.


"Jadi kamu mau apa? Bukan kah bagus, kalau saya tidak peduli dengan hubungan kalian, jadi kali-


Buagh!


Kepalan tangan mendarat tiba-tiba di pipiku, saat aku membalas ucapannya. Aku pun terdorong sedikit ke belakang, kemudian mengusap sudut bibirku yang berdarah.


Lumayan juga pukulannya, sepertinya sering adu sparing. Tapi tidak apa-apa, jadi aku juga bisa balas memukulnya tanpa sungkan.


"Bereng*ek lu, sahabat lu suka sama lu, dan lu dengan seenaknya bilang nggak peduli, menyerahkan begitu saja dia buat orang lain. Lelaki mac-


Buagh!


Aku pun memukulnya di bagian sama, seperti dia memukulku, hingga dia terdorong dan berdecih dengan noda merah terhempas ke tanah.


Cih!


Dia mengusap sudut bibirnya yang juga berdarah, sudah hilang rasa marahku dengan membalas pukulannya, saat dia lagi-lagi mengeluarkan kata-kata kasarnya.


"Kheh ... Queeneira suka sama lu, Queeneira cuma cin-


"Tapi saya tidak menyukai dan mencintainya."


Aku menyela kalimat yang akan di ucapkan olehnya, karena aku tahu apa yang dikatakannya benar dan juga aku pun merasakan hal yang sama.


"Bohong! Lu bohong!"


Keras kepala.


"Tahu apa kamu tentang saya. Tahu dari mana kalau saya sedang berbohong?" tanyaku dengan nada datar menyembunyikan rasa sakit ini sendiri.


Dia hanya diam dan menatapku tidak percaya. Coba saja yang melihatku saat ini sahabatku, sudah pasti dia akan cepat menjawab jika aku memang sedang berbohong.


Bad liar, she call me like that.


"Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai," lanjutku saat dia hanya diam saja.


"Nggak, gue belum selesai. Gue mau lu minta maaf sama Queeneira."


Apa yang harus aku lakukan, kenapa orang ini keras kepala sekali.

__ADS_1


"Ok, lalu apa lagi?"


"Gue tahu, lu bohong. Lu pasti suka dan cinta kan, sama Queeneira."


Bodoh, pertanyaan yang sungguh bodoh.


"Tidak, saya hanya menganggapnya sahabat. Tidak lebih," balasku dengan nada tegas.


Hatiku semakin berdenyut sakit, saat lagi-lagi harus berbohong tentang perasaanku sendiri.


"Tapi Que-


"Dari pada mengurusi masalah perasaan saya. Bukankah lebih baik kamu memanfaatkan masalah ini yah?"


"Apa maksudnya?"


Maaf Queeneira, aku harus melakukan ini.


"Jangan sok tidak tahu dengan apa yang saya ucapkan. Lagian, saya tahu kok kalau kamu suka kan sama Queene. Jadi, kenapa kamu tidak manfaatkannya, dengan mengambil perhatian dia, disaat dia sedang patah hati seperti ini?"


Aku tahu aku kejam, aku akan menyesal jika apa yang aku usulkan benar-benar terjadi, kemudian mereka akhirnya bisa hidup bersama.


Tapi itu lebih baik, dibandingkan dengan sahabatku yang semakin sakit, saat aku harus meninggalkannya tanpa kepastian.


"Nggak gue nggak mungkin ngelakuin itu."


"Terserah," sahutku, kemudian aku pun mengambil tas yang terjatuh saat aku terdorong, menyampirkanya di pundakku, kemudian membalikkan tubuhku membelakanginya.


"Oy! Gue belum selesai!"


Aku yang akan melangkah pergi berhenti sejenak, menolehkan wajahku tanpa membalikkan tubuhku ke arahnnya.


"Apa lagi?" tanyaku dengan nada bosan.


"Queeneira, Queeneira benar-benar mencintai lu, Gavriel."


Aku tahu, jadi jangan jelaskan lagi.


Aku pura-pura menghembuskan napas lelah, kemudian membalikkan tubuhku menghadapnya.


"Kalau begitu, saya minta kamu jaga dia. Hidup bahagia dengan dia dan buat dia lupakan saya, karena saya tidak bisa lagi menjaganya dari dekat. Bisa kan, Rajendra Glen Saputra."


"Apa, apa maksudnya?"


Aku tidak membalasnya, aku kembali membalikkan tubuhku membelakanginya dan berjalan meninggalkannya, benar-benar meninggalkan dia di belakang taman sekolah, saat dia terus menerus memanggil namaku frustrasi.


"Gavriel! Apa maksud lu!"


Aku berjalan dengan kepala tegak, saat teman-teman sekolahku melihat ke arahku dengan ekspresi bertanya. Melihat wajahku tepatnya, dengan sudut bibir berdarah, luka yang tidak sakit saat hatiku lebih merasakan sakit, ketika aku harus melepaskan rasa sayangku kepada sahabatku.


Rasa sayang yang berbeda, rasa yang baru aku rasakan, disaat sisa waktuku tinggal sedikit lagi bisa ada di dekatnya.


Flasback end


Maafin aku Queeneira, aku harap kamu bahagia dengan Ge, bahkan aku harap rasa bahagia bersama Ge, bisa melebihi rasa bahagia kamu saat bersamaku.


Gavriel pov end


Normal pov


Sementara Gavriel dengan perasan tidak terbacanya, Ge yang sedang duduk di tepi danau terdiam, merenungkan apa yang diucapkan oleh adik kelasnya, yang tadi sempat terlibat adu kepalan dengannya.


"Gue nggak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Gue emang suka sama Queeneira, tapi gue juga tahu kalau Queeneira cuma suka sama sahabatnya," gumam Ge dengan helaan napas frustrasi.


"Apa yang harus gue lakuin, gue mau dia bahagia, tapi orang yang bisa bikin dia bahagia udah nyerah dan menyerahkan dia buat gue. Tapi apa iya gue harus memanfaatkan waktu, saat dia sedang patah hati seperti ini?"


Ah! Sial, bikin pusing aja.


Queeneira, apa yang harus gue lakukan.


Pusing dengan apa yang terjadi hari ini, Ge pun berdiri dari duduknya. Ia juga memegang sudut bibirnya yang berdenyut nyeri, akibat balasan pukulan dari adik kelasnya yang kekuatannya tidak main-main.


Ssshhhh .... Lumayan juga kekuatannya.


Kemudian meninggalkan taman belakang, saksi pembicaraannya dengan adik kelasnya, yang berujung dengan ia yang bingung.


Bingung ketika harus memilih egois atau memilih memikirkan perasaan adik kelas kesayanganya.


Jika ia egois, ia akan mengikuti apa kata Gavriel. Tapi kalau ia memikirkan apa yang akan dirasakan Queeneira, ia hanya akan tetap menjadi kakak kelas yang melindungi dari belakang.


Sial, kenapa lebih sulit dari ujian Matematika.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya.


Untuk yang sudah komentar di kolom give away, di periksa masing-masing komentarnya ya. Yang ada balasan dari author berarti dialah yang akan author kirim give awaynya.


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2