Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Adakah Aku Di Hatimu, Gavriel.


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Souqy__Jelas sakit.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA


Hari ujian sudah selesai dilalui oleh para murid SMA Trisakti, sekolah tempat Gavriel dan lainnya menuntut ilmu.


Hari ini juga tepat hari pembagian hasil kerja keras murid selama satu tahun. Tapi bukan itu yang ingin dibahas, melainkan sepasang sahabat yang berdiri saling berhadapan.


Keduanya saat ini sedang ada di taman belakang, lagi-lagi taman yang membuat keduanya ingat kejadian tempo lalu.


Memang tempat ini adalah tempat indah untuk memanjakan mata, namun entah kenapa menjadi tempat buruk juga bagi keduanya, yang punya ingatan suram dengan penyabab yang sama pula.


Gavriel berdiri dengan jantung berdegub kencang, sama seperti apa yang saat ini sedang dirasakan Queeneira.


Ya sepasang sahabat itu adalah Gavriel dan Queeneira, dengan Gavriel yang awalnya menolak menjadi pasrah, saat melihat tatapan mata sedih dari sahabat perempuannya.


Obrolan keduanya tidak seperti drama, saat hanya dengan satu kalimat pernyataan, dengan Queeneira yang terdiam ketika Gavriel meninggalkannya sendiri, setelah selesai mengucapkan kalimat yang panjang untuk dirinya.


"Jangan dibahas lagi, Queeneira. Aku harap kamu mengerti itu."


Dan itu adalah kalimat terakhir dari Gavriel, sebelum Queeneira jatuh terduduk di tanah tidak kuat menahan kenyataan.


Kediamanan Wardhana


Di kamar dengan harum khas si pemilik, ada si empunya kamar yang sedang duduk di kursi tempat biasa ia belajar.


Suara lagu yang mengentak terdengar keras, sebagai peredam dari suara tangisannya, agar selain dirinya tidak ada orang yang mendengar suara isakannya.


Wajahnya bersembunyi di antara lipatan lengannya, dengan tubuh berguncang menahan tangisan saat ia ingat jelas, jawaban sahabatnya tentang perasaan yang dia miliki saat ini untuknya.


Mengapaku terus mengimpikanmu,


Mengapa aku menangis untukmu


Mengapaku selalu tersakiti


Mengapa aku berharap padamu


Seharusnya ia tidak menanyakan ini, jika akhirnya ia mendengar sendiri, bagaimana sahabatnya menjawab pertanyaan dengan tegas.


Jelas-jelas kau tak memikirkan aku


Jelas-jelas kau tak menginginkan aku


Jelas-jelas kau tak pernah menganggapku ada


Tapi meskipun begitu, ia tetap saja memaksakan diri untuk bertanya sehingga akhirnya ini lah yang didapat olehnya, sebuah kehancuran disaat hatinya masih hancur.


Mungkinkah ini sudah jalan takdirku


Mungkinkah ini memang yang terbaik untukku


Setelah Kenyataan ini, apa yang harus ia lakukan.


Ah! Benar juga, ia harus mengubur rasa sayangnya.


Namun tak kuasa aku, bila terus-terus begini. Aku tak sanggup, sungguh aku tak sanggup


Flasback on


Queeneira pov on


Setelah pembagian raport, aku yang melihat sahabatku hampir pergi meninggalkan sekolah, segera mencegahnya dan memintanya untuk ikut denganku.


Awalnya dia menolak dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya, tapi aku memaksa dan melihatnya dengan memohon, sehingga dia pun akhirnya pasrah dan menuruti keinginanku.


Kami jalan dengan dia yang membuntutiku, biasanya dia akan jalan di sampingku dan memeluk leherku, bercanda dan tertawa bahagia bersama.


Tapi kali ini berbeda, dia sengaja memberi jarak antara kami sehingga aku merasakan sakit, namun sebisa mungkin aku tahan.

__ADS_1


Gavriel, kenapa kamu seperti ini.


Tidak lama akhirnya kami sampai di tempat yang kemarin menjadi saksi saat aku menangis, dengan sebab orang yang saat ini berdiri di belakangku.


Aku pun berhenti, kemudian berbalik ke arahnya dan akhirnya kami pun berdiri berhadapan.


Di depanku sahabatku melihatku dengan tatapan lurus, dingin dan berbeda.


Gavriel, benarkah kamu tidak menyukaiku sedikit pun.


"Ada apa, Queeneira?" tanyanya to the point, seperti biasa pula dengan datar andalannya.


Aku pun menundukkan wajahku, saat sebenarnya aku sama sekali belum siap, untuk mendengar kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginanku.


"Gavriel."


"Hn."


Kata apa yang harus pertama kali aku ucapkan, karena jujur saat ini aku sedang gugup ketika matanya menatapku lurus.


"Gavriel, bolehkah aku bertanya?"


Akhirnya aku memberanikan diri menatap matanya, yang masih saja menatapku datar.


Aku ingin melihat hangatnya tatapan matamu yang dulu, Gavriel.


"Hn. Apa? Aku haru-


"Adakah aku di hatimu, Gavriel."


Aku menyela ucapannya cepat, dengan pertanyaan yang akhirnya bisa aku ucapkan lancar.


Diam.


Aku menanti jawabannya dengan hati berdegub, saat aku sama sekali tidak mendengar sepatah kata darinya.


Kenapa kamu diam seperti ini, Gavriel. Jawab aku, cepat.


"Gavriel, kenapa diam saja."


"...."


"....."


Akhirnya aku memilih diam, melihatnya yang akhirnya menghela napas dengan wajah biasa.


Apa Kamu benar-benar tidak menyukaiku?


"Queeneira, aku menyayangimu."


Seketika aku tersenyum mendengar ucapannya, aku bahkan hampir saja mengucapkan aku lebih menyayangimu, tapi terpaksa harus aku telan lagi saat mendengar kalimat selanjutnya.


"Tapi sebagai sahabat, tidak lebih."


"..."


Aku menatapnya nanar saat dia dengan cepat melanjutkan kalimatnya.


*Apa!


Benarkah hanya sebagai sahabat*?


"Kamu dan aku, tumbuh bersama dari kecil sampai sekarang. Tentu saja kamu ada di dalam hatiku."


Jantungku semakin berdetak dan rasanya aku ingin menghentikan ucapannya, tapi aku tidak bisa mengatakannya.


"Tapi sekali lagi, kita adalah sahabat, Queene. Kamu ngerti kan, jadi menurut aku, kamu lebih baik lupakan perasaan itu. Karena aku tidak punya rasa yang sama denganmu."


Tidak-tidak ... Bukan perkataan ini yang ingin aku dengar darinya.


"Tapi Gavriel,


"Apa lagi, Queene," selanya cepat, dengan aku yang menatapnya berkaca-kaca.


"Tapi Gavriel, aku-

__ADS_1


Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya membelakangiku, kemudian tanpa menoleh lagi ke arahku dia lagi-lagi menyela ucapanku.


"Jangan dibahas lagi, Queeneira. Aku harap kamu mengerti itu."


Aku hanya bisa terdiam saat Gavriel meninggalkanku, padahal aku sama sekali belum menyatakan rasaku dengan sungguh-sunggah, tapi dia dengan seenaknya meninggalkan aku.


Flasback end


Aku bahkan tidak sempat melihat tatapan matanya, saat dengan cepat dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan aku, tanpa memberiku kesempatan untuk bertanya lagi tentang perasaannya.


Jika seperti ini, apakah artinya aku harus menyerah.


Aku mengangkat wajahku, menghapus air mata yang mengalir dari kedua bola mataku.


"Bodoh, bukan kah ini yang ingin kamu dengar. Pernyataan jika dia hanya menganggap kamu adalah sahabatnya dan tidak lebih. Kenapa kamu malah menangis seperti ini."


Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, jika ini adalah yang terbaik untukku. Jadi saat nanti kami bertemu, aku bisa menjadi Queeneira yang dulu, Queeneira yang bersahabat dengan seorang Gavriel.


"Yah! Aku sudah tahu dan sekarang aku harus benar-benar melupakanmu. Baba maaf, Que sudah melanggar larangan dari Baba."


Aku merasa bersalah kepada Baba, padahal beliau sudah memperingatkan aku untuk melepas dan melupakannya. Tapi aku masih saja memaksakan diri, sehingga aku lagi-lagi menyakiti hatiku sendiri.


"Baiklah, besok aku harap aku melupakan semuanya. Aku sudah tahu apa yang ingin aku ketahui, seharusnya aku puas. Iya kan," gumamku menghibur diri sendiri.


Untunglah besok adalah hari libur, jadi aku bisa menghindari pertanyaan Baba dan Mama, kalau-kalau mereka melihat kelopak mataku yang bengkak.


Di samping ranjang tempatku tidur ada meja dengan sebuah bingkai foto, foto berisikan aku dan dia ketika kami masih kecil dulu.


Aku berjalan menghampirinya dan membawanya untuk aku lihat lebih jelas.


Senyum cerah khas anak-anak, senyum polos tanpa beban yang membuat aku seketika ingat, jika kehidupan kami dulu ternyata lebih menyenangkan, dibandingkan kehidupan kami yang sekarang.


Bisakah aku kembali ke zaman aku dan dia masih kecil, aku merindukan senyum itu, sungguh, aku benar-benar merindukanmu, Gavriel.


Mengembalikan bingkai itu, aku berjalan ke arah speakerku berada, speaker yang saat ini sedang memutar lagu kenangan aku dan dulu, tepatnya lagu dengan kami yang bernyanyi.


Lagu yang sama dengan lagu yang kami putar di mobil, saat dia menjemputku untuk meminta maaf kepadaku.


Aku kira permintaan maafnya saat itu adalah permintaan maaf terakhir, tapi nyatanya setelah itu kami lagi-lagi terlibat salah paham.


Gavriel, meskipun kamu tidak bisa menjadi milikku, aku akan tetap menyimpan rasa ini untukmu. Aku akan melupakanmu, tapi bukan menghilangkan kamu dari hati ini.


Berjalan lagi ke arah pintu balkon, aku melangkah keluar dan menengadahkan kepalaku untuk melihat langit malam di atas sana.


Langit malam penuh bintang, langit malam kesukaanku, tepatnya langit malam penuh bintang kesukaannya, karena bagiku apapun yang disukai olehnya aku juga akan menyukainya.


Apa yang saat ini sedang kamu lakukan Gavriel.


Langit yang kita pandangi memang sama, hanya hati kita lah yang tidak sama.


Iya kan.


Dan Gavriel, maaf .... Meskipun aku bilang aku akan melupakanmu, tapi bisakah aku tetap menyimpanmu di hatiku.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Sedangkan di tempat lainnya, tepatnya di kediaman Wijaya.


Suasana ruang tamu kediamanan Wijaya yang biasanya ceria, tiba-tiba sunyi saat salah satu dari anggota keluarga paling muda melihat keluarganya dengan tatapan menuntut.


Selyn Mahesa Wicaksono, melihat Daddy, Mommy dan sang kakak yang duduk di hadapannya dengan ekspresi kaget dan kecewa, saat ia tidak sengaja mendengar obrolan ketiganya, di ruang kerja pribadi sang Daddy ketika hendak jalan ke kamarnya.


"Jelaskan, jelaskan apa maksud dari kalimat yang El dengar tadi, Dadd."


Dan keluarganya pun akhirnya bercerita, karena ini juga memang susah saatnya anak bungsu mereka tahu.


"Jadi sebenarnya ...."


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya.


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2