Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Sakit karena ....


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Queeneira pov on


Saat ini aku sedang duduk menunggu giliran, untuk praktik lari jarak pendek.


Lari bukan masalah untukku, aku bisa lari bahkan sampai ratusan meter.


Aku lagi sombong, jangan di timpukin.


Ukh!


Sebenarnya jika perutku tidak sedang dalam keadaan sakit, aku bisa saja lari keliling lapangan untuk pemanasan.


Di sebelahku ada Gavriel, yang duduk dengan sesekali melihatku khawatir.


"Ada apa?" bisiknya ditelingaku, membuatku ikut melihat ke arahnya.


Jarak kami sangat dekat sekali, aku yakin jika ada orang di belakangku dan iseng menyenggolku, aku pastikan wajah kami akan saling beradu.


"Sakit," bisikku lirih, membuat dia yang mendengar lirihanku, semakin khawatir, itu terlihat sekali dari raut wajahnya.


"Apa perlu kita ke UKS?" tanyanya dengan raut wajah cemas.


Dia pasti khawatir, sebab aku tidak pernah seperti ini.


Tentu saja, aku bahkan tidak meringis saat jatuh dengan lutut berdarah.


"Tidak, tidak perlu, ak-


"Baiklah, giliran absen berikutnya!"


Ucapanku terpaksa aku telan lagi, saat Pak Daniel memanggil murid berikutnya sesuai urutan absensi.


Dia pun berdiri saat dia merasa dia adalah selanjutnya, dia menetapku sekilas, yang aku jawab dengan kepala mengangguk mengizinkan.


"Aku nggak apa-apa, percaya deh," ujarku meyakinkan.


Dia pun mengangguk, meski aku masih melihat ekspresi khawatir darinya.


"Baiklah, kalau ada apa-apa, kasih tahu aku," balasnya.


"Ada apa?" tanya seseorang dari arah belakangnya, dia pun menoleh dan menemukan sepupunya yang berjalan dengan keringat di wajah.


"Huft .... Capek," gumam Ezra saat sudah sampai di samping dia.


"Ez."


"Heum?"


"Titip Queene, sepertinya dia kur-


"Gav ... I'm oke, It's gone be alright!"


Aku menyela dengan cepat, saat merasa jika sahabatku terlalu berlebihan.


Gavriel dan Ezra kompak menoleh ke arahku, yang saat ini memandang mereka seakan memberitahukan jika aku tidak apa-apa.


Kedua sahabat laki-lakiku menghela napas, kemudian mengangguk saat aku tersenyum.


"Baiklah, ingat apa kataku tadi," ujar Gavriel dengan nada tidak terbantahkan, seperti biasa membuat aku mau tidak mau mengangguk.


Sahabatku yang sangat posesif, sahabatku yang paling aku .....


"Iya, aku mengerti," balasku pelan.


"Ez," gumamnya yang di angguki kepala mengerti oleh sepupunya.


"Aku ambil air hangat, kamu bilang Pak Daniel," balas Ezra sebelum meninggalkan aku dan dia, setelah dapat anggukan kepala darinya.


"Aku ke lapangan dulu," ujarnya ke arahku, yang aku balas anggukan kepala mengerti.


"Iya ... Semangat Gav!"


"Pasti," balasnya dengan senyum tipisnya.


Senyum mahal dengan segelintir orang beruntung, saat mendapatkan senyum darinya.


Terdengar berlebih, tapi itu adalah kenyataan yang tidak bisa di tampik olehku.


Buktinya saja teman sekelasku, yang saat ini menatap ke arah dua orang di depanku, yang saat ini sedang berbincang akrab.


Aku bukan hanya sedang menahan rasa sakit pada perutku, tapi juga menahan diri agar tidak cemburu, rasa yang selalu mampir, saat aku melihat sahabatku dekat dengan yang lain.


"Ukh! Perutku," gumamku lirih menahan perih.


Seseorang datang tidak lama, lalu duduk dengan tangan mengulurkan segelas air putih ke arahku.


"Nih, Que!"


Ah! Ezra ternyata.

__ADS_1


Aku tidak menyahutinya, saat sakit di perutku semakin menjadi, aku pun semakin menenggelamkanku wajahku di antara lututku.


"Queene, hei! Queene jawab aku!"


Ezra memanggilku dan menepuk bahuku, namun aku masih belum menyahutinya.


Perutku sakit sekali.


Puk! Puk!


"Qu-


"Ukh!"


Aku bisa merasa jika sahabatku semakin panik, saat mendengar ringisan dariku.


Aku juga mendengarnya memanggil Gavriel dengan seruan keras, dengan teman-teman yang lain ikut menghampiriku.


"Gavriel! Cepat kemari!"


Ya ampun Ezra, kenapa kamu memangg-


Oh tidak ... Aku tidak bisa menahannya lagi, ini sungguh sakit sekali.


Ukh!


Sahabatku Ezra masih menepuk-nepuk bahuku cemas, karena aku sama sekali tidak menyahutinya.


Aku tidak bisa bernafas, saat teman sekelasku bergerombol, mengelilingi aku dengan Ezra yang meminta untuk tidak mengerumuni kami.


"Kalian minggir dulu!"


Teman-temanku sama sekali tidak menyingkir, justru semakin bertanya tentang keadaanku.


Sahabatku saja tidak aku jawab, apalagi mereka yang bertanya layaknya dengungan lebah.


"Minggir!"


Akhirnya dia datang, dengan suara khasnya yang terdengar dingin, tapi tidak bagiku.


Aku juga bisa mendengar, Pak Daniel memerintahkan dia untuk membawaku ke UKS.


"Cepat bawa ke UKS!"


Sahabatku Ezra hendak membawaku di gendongannya, tapi tiba-tiba aku mendengar suaranya masih dengan nada mutlaknya.


Gavriel dan rasa posesifnya terhadapku.


Membuatku selalu salah sangka dan merasa cemburu, saat ada yang lain berada di dekatnya.


Sepupunya yaitu Ezra tidak melawan, Ezra tentu mengerti apa yang harus di lakukannya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah ada di gendong hangatnya.


Hup!


Aku pun bisa merasakannya, bagaimana dia menggendongku di depan dengan ekspresi khawatir.


Aku pun menenggelamkan wajahku di dadanya, dengan tangan meremas baju yang di pakainya, saat rasa sakit melilit datang menghampiriku lagi.


"Sakit!" bisikku lirih.


"Sabar Que, sebentar lagi sampai!"


"Gav, perlu kasih tahu Yiyi dan Suk-suk?"


"Jangan! Nanti saja."


Aku bisa mendengar percakapan keduanya, tapi aku tidak ikut serta di dalamnya.


Yang aku tahu adalah aku semakin mencengkram baju bagian dada milik dia, dengan sesekali meringis saat aku merasakan lagi rasa sakit di daerah perutku.


Ini pasti karena bulananku.


Tapi aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Tidak lama, kami pun sampai di ruang kesehatan.


Dia masih dengan ekspresi khawatir, memanggil petugas jaga yang segera menyahutinya.


Dia juga meletakkan aku dengan hati-hati, di atas ranjang UKS, lalu mengusap peluh yang bercucuran di dahiku.


Wajahnya terlihat sekali khawatir, saat mengusap peluh dingin dariku.


Ya Tuhan ... Aku senang, saat melihatnya khawatir seperti itu.


Tapi, bukankah tadi dia sedang dengan si itu?


Apa artinya aku masih yang spesial di matanya?


"Ukh!"


Sakitnya datang lagi, sehingga dua sahabatku semakin khawatir.


"Dokter, tolong sahabat saya!"

__ADS_1


"Kalian minggir dulu. Beri ruang untuk bernapas!"


Aku bisa merasa genggaman tangannya dan Ezra perlahan terlepas, di gantikan dengan stetoskop yang di letakkan di dadaku, serta tekanan pada perutku.


"Apa ini sakit?"


"Ya Dok," balasku lirih.


"Kalian tunggu di luar saja, kami butuh privasi."


Aku membuka mataku, melihat kedua sahabatku yang masih menatapku khawatir.


"Aku tidak apa-apa, kalian tunggu di luar saja," perintahku, dengan senyum kecil yang akhirnya di turuti keduanya.


Ah .... Apa aku bilang.


Dasar, kenapa bikin khawatir saja.


Tapi ini yang pertama, saat bulananku rasanya sakitnya bisa seperti ini.


Kemudian setelahnya adalah aku yang di periksa oleh Dokter jaga, lalu aku pun tertidur saat Dokter selesai memeriksaku.


Aku harap setelah ini, perutku baik-baik saja.


Queeneira pov end


Normal pov on


Di luar ruangan yang di tempati Queene, ada Gavriel dan Ezra, menunggu dengan ekspresi cemas saat Dokter sekolah belum juga muncul.


Srek!


Bunyi tirai yang di sibak, membuat dua remaja ini segera menoleh ke sumber suara.


Di sana mereka bisa melihat Dokter sekolah, melepas stetoskop yang di kembalikan di sakunya.


"Dokter! Bagaimana keadaan Queene?" tanya keduanya kompak.


Dokter dengan nametag Fadya itu tersenyum kecil, seorang Dokter muda yang baru beberapa bulan lulus dari jurusannya.


Ia berjalan menuju meja kerjanya, sebelum menjawab pertanyaan kompak bernada khawatir dari dua remaja di depannya.


"Jadi namanya siapa?" tanya Dokter Fadya.


"Queeneira!"


Lagi-lagi keduanya menjawab kompak, membuat Fadya hampir terkekeh saat merasa lucu, ingat akan ia di masa SMA dulu.


Dua laki-laki tampan dan satu perempuan, beruntung sekali. Pikirnya, tapi sayang sekali ini hanya salah paham.


Ups ... Tidak juga sih.


"Kelas berapa?"


"10 IPS 1!"


"Astaga, kompak sekali," batin Dokter Fadya gemas.


"Jadi, bagaimana keadaan Queene, Bu Dokter?" tanya Gavriel khawatir.


"Kalian tidak perlu khawatir, ini biasa di alami oleh semua perempuan."


Gavriel dan Ezra kompak melongo, saat Dokter di depan mereka malah berbicara dengan santai.


Elah ... Yang lagi di bahas ini sahabat preman kesayangan mereka, bagaimana bisa mereka tidak khawatir.


"Maksudnya apa, Bu Dokter?" tanya Ezra.


Dokter Fadya menggeleng kepala, saat melihat ekspresi tidak mengerti dari dua remaja laki-laki di depannya.


Astaga ... Apakah ia harus menjelaskan juga, apa sebab sahabat perempuan mereka sakit seperti itu.


"Ya kali, ck ... Dasar remaja zaman sekarang," batinnya dengan kepala menggeleng kepala.


"Desmenore!"


"Apa?"


"Kalian cari tahu sendiri saja, oke? Sekarang kalian balik ke pelajaran, jangan membolos."


"Tapi!"


"Sekarang!"


"Baik Bu!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.


Nyeri haid atau dismenore adalah nyeri atau kram di perut bagian bawah, yang muncul sebelum atau sewaktu menstruasi. Pada sebagian wanita, dismenore dapat bersifat ringan, namun pada sebagian lain, dismenore bisa berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2