Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kronologi


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Di sebuah gedung tua


Seorang lelaki dengan luka di sekujur tubuhnya, tampak tertidur lelap. Balutan kain kassa apa adanya, melilit di kepala serta kaki-nya yang memiliki luka.


Helaan nafas teratur terdengar dari hidungnya, dada-nya naik turun seiring dengan hirupan nafasnya.


Di ruangan itu bukan hanya ada seorang lelaki tidur, melainkan beberapa orang yang menunggu-nya siuman.


Flasback on


Kejadian setelah jatuh ke jurang.


Mobil Lamborghini yang jatuh berguling itu, sampai di permukaan tanah hutan dengan posisi terbalik.


Benturan keras yang berulang, membuat Dirga kehilangan kesadarannya, dengan Airbag aktif. Sehingga melindungi kepala Dirga, namun tidak dengan Kedua kaki-nya yang terhimpit.


Saat tugas dari Si pengeksekusi selesai, ternyata sudah ada anggota lainnya yang menunggu jatuh-nya target. Meskipun lokasi agak jauh dari perkiraan, tapi untunglah Dirga berhasil di keluarkan sebelum mobil mahal itu terbakar dan meledak. Menciptakan kobaran api, yang menghasilkan suara serta asap hitam membumbung tinggi.


" Untung Lu nggak mati hangus terbakar, ck ... Kalau aja itu cewek nggak tergila-gila sama wajah Lu yang biasa ini, Gue ogah banget," Gumamnya. Membanting tubuh orang yang tidak sadar kan diri, yang ternyata adalah Dirga.


Dia melihat lagi ke arah mobil, yang sungguh membuat-nya ngeri sendiri, apalagi ledakan-nya yang luar biasa.


" Gue yakin kalau ini orang, nggak cepat-cepat di bawa keluar udah jadi mayat bakar," Gumamnya horor.


Puk


" Sudah beres, jejak-nya juga sudah hilang. Kita harus cepat pergi dari sini, suara ledakan bisa menarik perhatian warga," ujar Seseorang yang tadi menepuk bahu.


" Iya, Gue juga udah bawa target ke luar. Rich Lu yakin udah nggak ada sisa jejak?" tanya Seorang kapada yang lainnya, yang ternyata adalah Richard.


" Di mobil-nya udah beres, lagian mobil hangus terbakar. Jejak pasti hilang, Lu tenang aja Bro!" seru Richard yakin.


" Yuk, Kita pindahin ini orang. Nyusahin banget, pake acara di selamatin segala. Padahal tinggal buat mati, perusahaan bisa bangkit lagi," gumam Richard kesal. Sedangkan temannya yang di panggil Bro, hanya terkekeh keji.


" Lu bisa siksa Dia sampe ****** Rich, bukannya lebih menyenangkan?" sahut Bro.


Flasback off


Di sini lah ternyata Dirga, yang di keluarkan sebelum mobil terbakar dan meledak. Dengan pengobatan seadanya, Dirga yang pingsan seharian menjadi tontonan bagi mereka.


Apalagi seorang Wanita, yang tidak beranjak sedikit pun dari sisi Dirga. Ia senantiasa mengusap keringat dingin yang mengalir di dahi Dirga, efek luka yang tidak di obati dengan benar.


Bibir yang biasanya selalu mengeluarkan kalimat sarkas ini pucat, layaknya mayat karena memang Dia kehilangan darah yang cukup banyak.


Luka yang paling parah ada di bagian kaki, tepatnya kedua paha-nya yang terkena pecahan kaca mobil, meski terhimpit untungnya bukan hal yang serius.


" Hey cate, betah sekali menemani Pria sombong itu!" seru Richard meledek. Tapi sayang, Caterine hanya mengacungkan jari tengah-nya, menuai kekehan seram dari Richard.


" Urus saja langkah selanjutnya, secepatnya Wanita itu harus ada di sini. Aku nggak mau tahu, Aku sudah banyak keluarin uang banyak untuk rencana ini," balas Caterine sinis.


Ia kembali lagi menghadap Dirga, yang masih pingsan dengan pandangan penuh obsesi.


Ingatan-nya melayang, saat Ia menelpon Dirga yang malah mengacuhkannya. Membuat-nya frustrasi, dengan kamar sebagai korban amukannya.


Saat itu (episode persiapan belum matang)


Caterine pov on


Caterine Wilson adalah Aku, Anak keluarga kaya dari Jerman yang kebetulan tinggal lama di kota S.


Aku saat ini sedang berada di kamar, memegang Handphone dengan perasaan senang.


Kenapa senang? Sebab Aku akan menelpon lelaki yang sangat Aku sukai, siapa kah dia ... Dia adalah seorang pengusaha muda yang sukses, lelaki dengan segala kesempurnaan-nya. Sehingga membuat Aku, anak satu-satunya keluarga Wilson, bertekuk lutut di hadapan-nya.


Sikap-nya yang dari dulu dingin, membuat-ku semakin menyukai-nya. Aku mengenalnya saat ada pesta, yang di adakan partner kerja Papa Ku.


Di antara yang lainnya, hanya Dia yang memukau. Aku tidak bercanda, apalagi tatapan tajam-nya sungguh membuatku melting.


Tut Tut Tut


Aku menunggu dengan sabar panggilan Ku di terima.


Klik

__ADS_1


" Hn,"


Wow ... Dengar suara dinginnya, membuat Ku semakin menyukainya.


" Dirga sedang apa? Uhhhh Aku sangat merindukanmu ... " ujar Ku dengan nada manja.


" Sudah selesai bicaranya? sebaiknya Lu gak usah telpon kalau nggak ada keperluan"


Tut Tut Tut


Nada datar dari-nya membuat Ku semakin semangat, tapi sayang saat aku akan menjawab, Dia sudah memutuskan panggilan dari Ku. Membuat Ku kesal dan membanting semua barang, yang ada di dalam kamar Ku.


" Sial ... Apa kurangnya Gue . Dirga Mahesa Lu bakal jadi milik Gue, apapun caranya," gumam Ku dengan senyum sinis.


Caterine pov off


Normal pov


Flasback off


Jika mengingat-nya sungguh Caterine merasa marah sekali, tapi saat melihat lagi wajah tidak berdaya, dari Orang arogan di sampingnya membuatnya senang.


" Coba kamu ingat Aku, pasti nggak akan begini kan!!!" gumam Caterine emosi. Tangannya tidak tinggal diam, menelusuri dada bidang yang tidak tertutup kain. Kemeja yang di pakai Dirga robek sana-sini, dengan bercak darah menghiasi.


" Oke, sebentar lagi Dokter tiba. Kamu akan sehat lagi sayang, tapi janji yah setelah siuman dan sehat jangan tinggalkan aku?" gumam Caterine bertanya. Namun sayang, yang di tanya hanya bisa diam, karena memang Dia masih terlelap di tidurnya.


" Oke, bagus sayang," lanjut Caterine. Layaknya orang gila, membuat Richard dan Andrew yang baru saja tiba, mengangkat alis bingung.


" Wanita gila," batin Keduanya.


" Oi Cate, Dokternya di luar tuh!" seru Richard.


" Oke,"


3 hari berlalu


Mansion Wijaya


Saat ini di ruang kerja milik Hendri, telah berkumpul keluarga serta sahabat dari Dirga. Duduk melingkar, dengan ekspresi wajah kaku.


Terlebih bagi Hendri, Papa dari Dirga yang sengat terpukul saat mendengar kenyataan sesungguhnya.


Di meja ada Foto jejak yang di ambil Raka dari TKP, serta beberapa foto jejak gesekan ban mobil yang sengaja di telusuri oleh Raka, Faro dan Kaisar.


" Tapi kenapa pihak penyidik, tidak menemukan apa-apa?" tanya Hendri dengan nada emosi. Ia melihat sahabat dari Anaknya, yang saat ini mengangguk ke arah Faro.


" Dugaan sementara dari Kami, ada pemain dalam Tim penyidik. Ini pasti berhubungan dengan Jaya Dharma, jelas karena hanya mereka yang berani melakukan tindak nekat seperti ini!!!" ujar Raka menahan emosi.


" Sialan, lihat saja jika ini terbukti, bukan penjara yang akan kalian terima," batin Raka marah.


Sahabatnya songong-nya bukan orang yang mudah di kalahkan, Ia yakin saat ini Dirga sedang menunggu kedatangan Mereka.


" Tunggu Gue, Ga," batin Raka dengan tekad kuat.


" Jadi maksudnya, ada orang yang melakukan konspirasi di dalam penyelidikan?" tanya Bakrie datar. Ia merasa marah, saat ada orang melakukan ini kapada Cucunya.


" Benar, kita juga sudah memulai mencari petunjuk , yang mungkin saja bisa menuntun Kita ke tempat Dirga berada. Raka yakin Dirga ada di suatu tempat, terlebih mendengar ucapan Kiara kemarin, membuat Raka semakin yakin jika Dirga belum meninggal," ujar Raka panjang lebar.


" Papa juga yakin Dirga belum meninggal, bukan hanya karena tidak ada mayat di dalam mobil, tapi juga ada yang ganjil dengan kecelakaan ini," sahut Fandi.


Mereka yang ada di ruangan, kompak melihat ke arah Fandi karena mendengar pernyataan-nya.


" Saksi bilang jalanan sepi, nyaris hanya ada mobil Dirga dan sebuah mobil Box angkel. Lalu kenapa bisa jalanan yang lebar begitu, membuat mobil Box itu mengambil jalur balik, Jika sebenarnya jalur pergi kosong?" ujar Fandi menjelaskan.


Kemudian Ia melihat ke arah semuanya, yang saat ini menampilkan ekspresi sama yaitu berfikir.


" Bahkan pihak penyidik bilang ini kecelakaan tunggal, lalu kenapa saksi yang menyatakan ada mobil lain yang terlibat?" lanjut Fandi.


" Karena sudah pasti, ini ada permainan di dalamnya," sahut Hendri marah.


Tok ... Tok ... Tok


Pembahasan serius mereka terganggu, saat mendengar ketukan dari luar pintu. Handri Si pemilik ruangan mengizinkan masuk, pintu terbuka di susul oleh Dani yang membawa dokumen tabal. Membuat orang di dalam tersenyum, artinya ada lagi bukti untuk mereka.


" Bagaimana?" tanya Bakrie singkat.


" Semuanya ada di dalam rekaman CCTV dan Berkas ini," balas Dani singkat. Ia mengulurkan Flasdisk serta berkas, yang di bawa-nya kepada Bakrie.


" Kita lihat rekamannya sama-sama," ujar Bakrie. Ia memberi kode kepada Dani, yang segera di laksanakan.


Melalui layar Laptop milik Hendri, mereka semua memperhatikan bagaimana kronologi dari kejadian. Mulai dari keluar-nya mobil milik Dirga dari kantor Wijaya , hingga Dirga keluar dari kantor Rekan bisnisnya.

__ADS_1


Semua nampak biasa saja, kecuali saat mobil Dirga keluar dari kantor Rekan bisnis. Terlihat ada sebuah mobil, yang ikut bergerak namun dalam jarak lumayan jauh.


" Apa mobil itu sudah di periksa?" tanya Bakrie. Ia melihat ke arah Dani, Asisten satu-satunya kepercayaan Cucunya.


" Sudah, milik keluarga Wilson. Dan yang lebih mengejutkan bisa di lihat, di laporan yang beberapa hari ini saya selidiki," balas Dani kalem.


Meskipun dalam hati ingin memaki, di depan orang yang kejam melakukan ini kepada Bos songong merangkap Sahabat-nya. Nyatanya, wajah Dani masih biasa saja, lama bekerja dengan Dirga membuat Dani belajar cara menampilkan ekspresi wajah.


" Sialan, Wilson dan Jaya Dharma bagaimana bisa bersatu," batin Dani emosi.


Wilson bukan asli penduduk kota S, jangkauan bisnis-nya tidak sehebat Jaya Dharma. Tapi kalau mereka bersatu, besar kemungkinan bisa melakukan segala cara.


Kalimat demi kalimat dari laporan mereka baca dengan seksama, hingga titik terang jika ada pemalsuan identitas saat nama seorang di sebut dalam laporan tersebut.


" Ceterine Wilson, bukan kah wajah-nya tidak asing?" gumam Bagus bingung.


" Sepertinya ini alasan data perusahaan tercuri," sahut Bakrie.


" Lupakan Caterine, Dani apakah sudah ada petunjuk di mana Dirga?" seru Hendri. Ia tidak perduli dengan masalah perusahaan, saat ini keberadaan Anaknya lebih penting.


" Masih dalam pencarian, Tim FCA dan Bima sudah mulai menelusuri lokasi. Kami juga sudah menyebar anggota, untuk berjaga di sekitar rumah Jaya Dharma," balas Dani.


" Tapi sepertinya ada yang terlewat, mengingat ada 1 orang lainnya yang belum di mata-matai. Bagaimana jika kita mengirim seseorang, untuk memeriksa di sana juga?" sahut Raka.


" Benar, meskipun kecil kemungkinan berhasil. Setidaknya kita melakukan banyak upaya," balas Kaisar angkat bicara. Ia hanya bisa mempelajari masalah ini, sehingga baru bisa mengemukakan pendapatnya.


Semua mengangguk membenarkan perkataan Kaisar, sekecil apa pun usaha mereka jika mereka yakin pasti akan berhasil.


Gedung Tua


Sudah tiga hari Dirga tertidur, Dokter pun sudah memberinya pengobatan yang meskipun telat, untung-nya berguna.


Setidaknya keringat dingin dan demam, sudah tidak di alami Dirga lagi. Bibirnya pun sudah kembali berwarna, berkat bantuan infus dengan selang yang menancap di tangan kanan Dirga.


" Sudah di kirim Foto-nya? Pastikan tidak ada yang mengikuti-nya saat Dia datang kemari, Aku ingin Dia memohon, sujud di kaki Ku!!!" seru Caterine memerintah. Senyum keji-nya muncul, saat membayangkan wanita sombong yang berani memarahinya dulu.


" Wanita sialan itu, berani sekali ingin memiliki Dirga sendirian," batin Ceterine emosi.


Bayangan romantis dari keduanya, mendadak membuatnya mual. Apalagi saat harus pura-pura polos, saat Dia bertanya ini dan itu kepada sosok-nya dulu.


" Sudah terkirim, seharusnya Dia akan panik dan terpancing," balas Richard senang.


" Bagus, kita berdua bisa ...


Mansion Wijaya


Kiara yang tidak di izinkan tinggal di rumah sendiri, di boyong oleh Mertuanya untuk tinggal di Mansion Wijaya.


Keadaan-nya yang kacau, membuat Kiara hanya bisa mengangguk pasrah. Terlebih Gav yang tidak bisa berhenti merengek, mencari keberadaan Sang Daddy, semakin membuat Kiara sedih.


Ia berdiri di ujung tangga dengan mata menatap sayu Sang anak , yang saat ini sedang ada di gendongan Eyang Putri. Bermain dengan orang tua, serta Anak dari sahabatnya.


Ting


Kiara tersentak kaget, saat merasakan getaran pada Handphone di tangannya. Sepertinya Ia melamun, hingga getaran pelan pun, membuatnya kaget.


" Siapa kirim pesan?" gumam Kiara penasaran.


Ia pun membuka pesan dan seketika mata-nya melotot dengan tubuh bergetar.


Deg


" Tidak mungkin,"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Airbag / Supplemental Restraint System (SRS) adalah perangkat keselamatan berupa suplemen untuk sabuk pengaman dengan pretensioner. Kedua fitur itu hanya berfungsi sekali pakai untuk menghindari penumpang dari kematian atau cedera serius di bagian kepala dan dada.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jika masih ingat ...


Jadi, sudah jelas kan siapa wanita yang menelpon Dirga, jauh sebelum Dirga bertemu Kiara?


Ikuti kisah selanjutnya ...


Jangan lupa sertakan komentar dan klik jempolnya yaaa...


Serta vote dukunganya ...

__ADS_1


Sampai babai


Terima kasih


__ADS_2