Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Oy Ubrek ... Kamu kenapa?


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Taman belakang


Queeneira yang lagi-lagi kesal dan kecewa lebih memilih pergi, menghindar dan tidak ingin melihat kejadian apa lagi yang akan terjadi di lapangan sana.


Sekarang ia tahu, sekarang ia mengerti , kenapa dan mengapa sahabatnya menjauhi dirinya.


Ini pasti karena Gavriel ingin berdekatan dengan dia, tanpa diketahuinya dan tanpa ingin direcoki olehnya.


Tapi apa harus seperti ini?


Bukankah bisa saja dengan tetap memberi tahukannya, tanpa membuangnya seperti ini, tanpa membuatnya merasa seperti disingkirkan.


Kenapa sahabatnya sangat jahat dengannya, apakah perhatian sahabatnya juga selama ini hanya perhatian semata, tanpa ada perasaan didalamnya.


Queene memutuskan untuk duduk di bangku panjang taman, menghadap ke arah tanaman yang di tanam pihak sekolah, dengan mata memandang kosong, saat pikirannya terbagi bukan hanya karena satu masalah.


Apakah seorang Queeneira menangis?


Tentu saja, ia juga seorang manusia terlebih ia adalah seorang perempuan, dengan hati sensitif seperti perempuan lainnya.


Disaat sedang melamun, Queene tidak menyadari jika di belakangnya ada seseorang, yang berjalan pelan dan akhirnya berdiri tepat di belakang tubuhnya.


"Dasar, awas aja kalau aku sudah tidak suka lagi."


Queene mendumel dalam hati, masih belum menyadari jika ada seseorang berdiri dengan tangan di udara dan akhirnya mendarat di bahunya, membuatnya tersentak kaget lalu melihat ke arah belakang, dengan mata mendelik kesal.


"Akh! Sialan," umpat Queene, kemudian berdiri dari duduknya untuk mengacungkan tinju, ke arah si penepuk bahu, yang malah tergelak alih-alih menyesal dan takut.


"Ha-ha-ha!"


Melipat wajahnya kesal, Queene kembali duduk dengan gerakan bar-bar, tangannya bersedekap di atas perutnya kemudian mendengkus kesal, kepada seseorang yang ternyata adalah kakak kelas, merangkap ketos gelo, siapa lagi kalau bukan Rajendra Glen Saputra atau sebut saja Ge.


Ge masih tergelak saat mendapatkan reaksi lucu dari adik kelas ubreknya.


Tanpa permisi ia duduk dengan percaya diri, Ge melihat dengan santai, wajah Queene yang terlihat lucu dihadapannya.



"Oy ... Ubrek, kamu kenapa?" tanya Ge, sok kenal dan sok akrab, lengkap dengan senyum meledeknya.


Hell!


Queeneira kesal seketika, berbalik lalu memunggungi si ketos gelo dan itu semakin membuat Ge tergelak, karena lagi-lagi ia mendapat reaksi tidak diduga.


"Lucu sekali," batin Ge geli.


"Ha-ha-ha!"


Queene kembali menghadap ke arah si ketos, mendelikkan matanya semakin tajam, dengan bibir mencebil lucu.


"Diam! Mati baru tahu rasa," hardik Queene masa bodo.


Iya, masa bodo, mau dibilang tidak sopan kek, durhaka sama yang tua kek, tekek kek, ia tidak peduli.


Yang pasti, saat ini ia sedang kesal dan tambah kesal saja, waktu melihat tampang minta dislepet kakak kelasnya.


"Jahat banget, cewek bukan sih?" tanya Ge dengan watadosnya(Wajah tanpa dosa), membuat Queene yang mendengarnya pun kesal berkali lipat.


Wah! Ngajak sparing, apa penampilannya tidak cukup dibilang seperti perempuan.


"Kak, kalau kakak mau ngajak gelud, jangan sekarang deh. Aku lagi nggak mood," dengkus Queene mencoba sabar.


Ge lagi-lagi tergelak saat ajakan gelud di terimanya lagi, adik kelas ubreknya tidak bisa ya bersikap manis sedikit saja dengannya.


"Astaga ... Kamu ini sensian terus, emang siapa sih yang mau ajak belut," jawab Ge dengan candaannya, mendapat balasan cepat dari Queene yang merasa kesal dengan jawaban ketos gelonya.


"Gelud kak, bukan belut," sewot Queene, yang tentu saja ditanggapi santai oleh Ge.


"Lah ... Mulut-mulut aku, repot amat," dengkus Ge pura-pura cuek, namun dalam hati sudah tertawa ngakak, saat adik kelasnya tambah menampilkan wajah super kesal.


"Kak, mendingan kakak pergi aja deh dari sini," usir Queene judes, menghentakkan kakinya kesal saat melihat ekspresi santai dari kakak kelasnya.


"Yee ... Emang ini taman sekolahan punya kamu? Seenaknya saja usir orang," sahut Ge semakin menjadi.


Queene melotot kesal, saat mendapat balasan reseh dari ketosnya, ia akui ia salah dan bukan haknya mengusir, karena ini adalah tempat umum dan lagi bukan miliknya.


"Tapi kan banyak tempat yang lain," tandas Queene keras kepala.


Ge menggelengkan kepala, pasang wajah masa bodo dan bersikap cuek saat Queene lagi-lagi kesal kepadanya.


Hell ... Ia curiga jika adik kelasnya sedang mencari mangsa, untuk menumpahkan segala jenis amarah yang terpendam.


Ge memicingkan mata dan menatap Queene curiga, membuat Queene yang dipandang seperti itu, ikut melotot garang ke arah ketos gelonya.

__ADS_1


"Apa! Minta dicolok itu mata!" sembur Queene untungnya tidak pake kuah, sehingga Ge tidak perlu merasakan spesialnya kuah khas, saat seorang amuy sedang kesal.


"Buset dah Queeneira, galak amat sih. Aku kan cuma mau menghibur kamu," dengkus Ge akhirnya menyerah.


Deg!


Jantung Queene seketika seperti berhenti, saat mendengar perkataan kakak kelas, yang saat ini menatapnya serius.


Tidak ada lagi raut wajah bercanda, yang ada hanya raut wajah tegas khas seorang pemimpin murid, raut wajah yang pernah ia lihat saat masa orientasi, itu juga saat sedang tidak mengerjainya.


"Ap-apa maksudnya, siapa juga yang butuh dihibur," balas Queene gugup diawal kalimatnya.


Sekarang giliran Ge, yang mendengkus saat mendengar kalimat klise sebagai sangkalan, dari adik kelasnya yang tiba-tiba jadi gugup.


"Mudah sekali dibaca," batin Ge geli.


"Siapa yang bilang kamu butuh, nggak tuh. Aku cuma bilang mau, mau kan belum tentu dibutuhkan," kilah Ge memancing Queene dengan permainan kata.


"Ck, apa sih kak. Pokoknya aku nggak butuh dihibur, syuh-syuh ... Pergi sana," elak Queene, kemudian mengusir kakak kelasnya layaknya seekor kucing.


"Dih .... Ngeyel, dibilang nggak mau kok, aku nggak akan pergi dari sini. Asal kamu tahu, taman belakang ini adalah markas aku, tempat aku kabur dari kenyataan," jelas Ge tidak peduli, saat Queene memandangnya seperti orang aneh.


"Ih! Siapa yang bertanya sih, ngapain kakak jelasin hal yang nggak penting seperti itu," timpal Queene masih memandang kakak kelasnya, dengan pandangan seakan Ge adalah mahluk luar angkasa.


"Nggak ada yang tanya, makanya aku jelasin, biar kamu tahu. Oke, udh deh jangan berisik. Kalau kamu kamu pergi, syuh sana pergi," ujar Ge cuek, gantian mengusir Queene yang mengepalkan tangan kesal.


"Oke! Aku pergi!" putus Queene kesal.


Ia bersiap untuk berdiri dari duduknya, tapi sayang Ge yang melihatnya segera ambil tindakan.


Ge dengan sigap menarik tangan Queene lancang, membuat Queene mendelik dan menghempaskan tangannya tidak suka.


Grep!


Bats!


"Kak! Apa-apaan sih, kok jadi nggak sopan gitu!" seru Queene menatap Ge marah.


Ge tidak balik marah, justru ia tersenyum kecil dan meminta maaf dengan tulus, membuat Queene pun terdiam melihatnya.


"Maaf, Queeneira. Aku cuma mau membuat kamu tidak menampilkan raut wajah seperti itu lagi," ucap Ge tulus, menatap Queene dengan sorot mata serius.


Queeneira tersentak kaget, saat kakak kelasnya berkata seperti itu dengan nada lembut.


Apa maksud perkataan dari kakak kelasnya.


Ge menarik tangan Queene pelan, untuk kembali duduk di sampingnya. Queeneira pun menurut, tidak melawan saat ia sama sekali tidak merasa keberatan.


"Duduk dulu, kamu ini bisa tidak sih tidak curiga dan sensi dengan aku?" tanya Ge pelan, saat ia berhasil membujuk adik kelasnya untuk kembali duduk di sampingnya.


"Suruh siapa kak, diawal pertemuan sudah reseh dan bikin kesal," sahut Queene dengan nada jengkel.


"Reseh bagaimana sih," timpal Ge tidak mengerti.


"Ya reseh kak, kakak tuh seneng banget hukum aku," sembur Queene seketika kesal, saat mengingat masa orientasinya.


Masa orientasi yang isinya hukuman aneh semua, dari ketos gelo yang saat ini malah terkekeh kecil.


"Malah ketawa," lanjutnya masih dengan semburan kesal.


"Ha-ha-ha, aduh-duh perut aku sakit," erang Ge sambil memegang perutnya yang sakit, efek kebanyakan tertawa.


Baru ini ia bisa tertawa hanya karena seorang adik kelas, bukan masalah adik kelasnya sih, adik kelasnya bahkan tidak melawak, tapi entah kenapa ekspresi kesal yang ditampilkan seorang Queene, mampu membuatnya terkekeh dengan santainya.


"Syukurin, kejang-kejang dah sana sekalian," dengkus Queene tidak perduli.


Ia melengoskan wajahnya ke arah lain, melihat bunga indah di taman sana, dengan warna merah dan kuning mendominasi.


"Jahatnya, masa nyumpahin aku sampai kejang-kejang," sewot Ge setelah selesai dengan kekehannya.


"Baru disumpahin segitu, belum sumpahin yang lainnya," dumel Queene tidak perduli.


"Dih ... Emang selain kejang-kejang ada sumpahin aku apa lagi?" tanya Ge pura-pura takut.


"Jomblo seumur hidup," sahut Queene cepat, tanpa pikir panjang dengan nada sinis.


"Astagfirullah! Kejam banget dah, bagaimana kalau ada Malaikat lewat, lalu mendengar perkataan kamu," ucap Ge dengan nada kelewat berlebih, membuat Queene memutar bola mata bosan.


"Lebay," celetuk Queene pelan.


Diam .... Suasana pun menjadi hening, setelah obrolan ngawur mereka.


Queeneira merasa sedikit bisa melupakan kekesalannya, saat kakak kelas reseh dan gelonya, bisa sedikit mengalihkan suasana hatinya menjadi lebih rileks.


Walaupun cara yang dipakai oleh kakak kelasnya reseh dan tidak elit sama sekali, tapi Queene merasa sedikit lega, saat beban di pundaknya seperti terangkat secara perlahan.


Diam-diam baik Queene maupun Ge sama-sama tersenyum, meskipun senyumnya masih disembunyikan, tapi setidaknya mereka sudah tidak saling sewot lagi.


"Jadi, sudah nggak kesal nih," celetuk Ge tiba-tiba, membuat Queene melihatnya dengan kening berkerut tidak mengerti.

__ADS_1


"Kesal bagaimana?" tanya Queene lupa.


"Kesal, karena penglihatan kamu di dalam tadi," jelas Ge kembali mengingatkan, sehingga membuat Queene lagi-lagi menekuk wajah kesal meski dalam hati, namun pura-pura biasa saja di luarnya.


"Penglihatan apa, sotoy deh," elak Queene pura-pura baik-baik saja.


"Dih ... Kamu tidak tahu ya, aku ini seorang cenayang," timpal Ge pura-pura tersinggung, membuat Queene refleks menampol lengan kakak kelasnya.


"Gundulmu, mana ada tampang wajah seperti kamu ini, cenayang."


Ge lagi-lagi tidak marah, saat kembali mendengar nada sewot dari adik kelasnya, ia kembali tertawa membuat Queene mendesah frustrasi.


"Ah! Terserah kamu lah, kak!" seru Queene menyerah.


"Ha-ha-ha!"


Dan Ge hanya bisa semakin tergelak santai, tertawa ngakak membuat Queene sebal, namun juga sedikit lega di hatinya.


"Setidaknya aku lega, tidak terlalu memikirkan kejadian tadi," batin Queene dengan senyum kecil.


Dari kejauhan ada seseorang yang melihat keduanya, dengan tangan mengepal erat.


Seketika hatinya gerah, saat melihat ada seseorang yang tertawa dan membuat sahabatnya menampilkan ekspresi seperti itu.


Ia kesini karena mencari sahabat perempuannya, untuk merayakan kemenangan bersama.


Ia juga tahu dari beberapa temannya, setelah mencari di stadion dan kelas, ternyata tidak bertemu.


Tangannya yang tadi mengepal, perlahan memegang dada bagian jantungnya, yang berdegub kencang karena perasaan marah.


Dalam hati ia masih merasa heran.


Kenapa ritme jantungnya berbeda, saat ia ada disisi keduanya.


"Aku, jantungku kenapa sakit seperti ini, kenapa rasanya seperti ada belati," batinnya menatap dengan tatapan tidak biasa ke arah sana, tepatnya ke arah dua pasang kakak dan adik kelas, yang lama-lama bisa saling berbicara meskipun sesekali akan terdengar pekikan kesal dari si perempuan.


Tidak ingin membuat hatinya semakin marah, dengan sesuatu yang ujungnya akan ada perbuatan gegabah, ia pun berbalik dan meninggalkan taman belakang.


Pergi ke arah ruang ganti membersihkan diri, sebelum bergabung dengan yang lain untuk mengadakan pesta kecil, merayakan kemenangan tim mereka.


Skip


Selesai dengan membersihkan tubuh dan mengganti pakaian dengan setelan santai, Gavriel pun berjalan menuju loker, berniat meletakkan barang-barangnya, sebelum menemui tim basket dan cheerleaders.


Di saat ia berjalan menuju loker, ia melihat sahabat perempuannya, yang juga sedang berdiri di loker miliknya sendiri, lengkap dengan pakaian santai.


"Sepertinya aku kelamaan mandi," batin Gavriel heran saat melihat penampilan sahabatnya.


Ia ingin menegur, tapi lidahnya kelu juga ia merasa seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya, lalu akhirnya ia pun melewati sahabatnya begitu saja.


Sedangkan sahabatnya atau juga Queene, yang merasakan kedatangan seseorang, menoleh ke arah belakang dan tersentak kaget, saat mendapati Gavriel berjalan melewatinya begitu saja.


Hatinya semakin sakit, serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.


Tangannya yang semula memegang buku, dibawanya untuk memegang dadanya, dengan jantung berdenyut nyeri.


Apakah seperti ini saja, apakah mereka akan semakin menjauh.


"Gavriel," gumam Queene sedih, menyebut nama sahabat yang dicintainya.


Gumaman Queene tentu saja tidak terdengar, karena Gavriel sudah berjalan semakin jauh untuk menghampiri lokernya.


Tapi baik Queene maupun Gavriel sama-sama tidak menyadari, jika keduanya sama-sama menyebut nama, dengan perasaan sedih dan dengan hati perih disaat bersamaan.


Gavriel berpikir jika sahabat perempuannya ternyata telah menemukan laki-laki lain.


Sedangkan Queene berpikir, jika sahabat laki-lakinya sudah menemukan perempuan yang dicintai.


Dan


Gavriel yang marah dengan rasa cemburu belum jelasnya, serta Queene yang kecewa saat dirinya tidak dianggap ada oleh sahabatnya.


Brak!


"Queene," gumam Gavriel saat mendengar debaman pintu loker yang tertutup, dengan sahabatnya yang melenggang pergi meninggalkannya.


Brak!


Suara debaman lainnya menyusul, namun bukan karena pintu yang tertutup, melainkan karena kepalan tangan dari seorang laki-laki, dengan nama Gavriel yang merasa tidak senang dengan setuasi saat ini.


"Sial, apa sebenarnya mau aku," bisik Gavriel bingung, dengan kelakuan tidak jelasnya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2