
Seoson dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Sepulang sekolah
Saat ini di parkiran sekolah ada Gavriel, Ezra, Queeneira dan tentu saja Selyn, Si bawel seoson dua dari turunan Sang Mommy.
Mereka saat ini sedang berunding, maksudnya membicarakan tentang Gavriel, yang tidak bisa mengantar Adiknya pulang, karena harus menghadiri rapat Osis dengan Ezra.
"Mas, pesenin Ko-jek aja yah, bagaimana?" ujar Gavriel menatap adik bawelnya meminta pengertian.
Selyn yang di tatap seperti itu oleh Sang kakak menghela nafas, mengerti dengan kesibukan Mamasnya, yang terkadang masih di recoki dengan kegiatan ekstra kulikulernya.
"Ok-
"Oit ... Gimana kalau motornya, Aku saja yang mengendarai? Jadi Aku nggak perlu minta jemput Baba, bagaimana?"
Queene, yang berdiri di sebelah Selyn menyela dengan cepat, ucapan Adik dari sahabatnya. Ia melihat ketiga orang di depannya dengan alis naik-turun, serta senyum yang membuat Ezra dan Gavriel kompak menggeleng tanda menolak.
"Tidak."
"No."
"Atau barengan sama Unkel Faro?"
"Aish!"
Queene mendengus kesal, saat mendapat penolakan kompak dari dua sahabat sepopokya, apalagi usulan agar naik mobil dengan Babanya yang terkadang telat jemput.
Niatnya kan baik, ingin mengantar pulang Adik mereka selamat sampai rumah.
"Ya ... Sekalian sih, he-he," Batinnya terkekeh.
"Aku tahu apa yang ada di fikiran Kamu, Que-que," ujar Gavriel menatap sahabat perempuannya datar, membuat yang di tatap berdecih dan mengangkat dagu menantang.
"Apa? Coba katakan?"
"Eleh ... Kamu mau eksperimen lagi, kan? Kemarin belum cukup?"
Bukan Gavriel yang menjawab pertanyaannya melainkan Ezra, Dia merinding dengan kelakuan sahabat perempuannya, saat mengingat kejadian minggu kemarin.
"Is ... Nggak kok, bener, ini murni niat antar El pulang." elak Queene.
"Serius!" Lanjutnya menegaskan, saat menerima tatapan mencurigakan dari dua remaja laki-laki di depannya, beda dengan Selyn yang menatap ketiga Kakaknya dengan kening berkerut tidak mengerti.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Selyn penasaran.
Gavriel menoleh ke arah Selyn, lalu menggeleng menjawab pertanyaan penasaran dari Adiknya, yang Ia jaga kepolosannya agar tidak terkontaminasi oleh kejamnya dunia.
"Tidak ada, Queene kemarin lagi-lagi malak di pasar dekat kompl-
"Ouch!!!"
Ucapan ngawur dari Gavriel berganti dengan pekikan sakit, saat Queene memukul bahunya dengan kekuatan seribu tangan.
"Sembarangan, gigit nih!" seru Queene tidak terima, matanya melotot kesal ke arah Gavriel yang terkekeh kecil.
"Berubah lagi jadi guguk, yah?" goda Gavriel dengan tangan menepuk-nepuk kepala Queene iseng.
"Akh ... Singkirkan tangan penuh dosa, dari kepalaku, Tav!" seru Queene, menampik tangan Gavriel yang semakin iseng mengacak rambutnya.
"Don't call Me Tav, Que!" seru Gavriel, Ia semakin iseng mengerjai sahabat perempuannya.
"Tidak akan!"
Mereka berdua tetap melakukan kegiatan, tanpa tahu jika dua orang sisanya melihat mereka dengan helaan nafas.
"Haih!"
Tidak ingin lelah berdiri sambil menonton kegiatan sudah biasa di depannya, El dan Ez pun duduk di jok motor milik Ez, sambil taruhan berapa lama waktu hingga keduanya berhenti.
"Mas Ez, kali ini berapa jam?" bisik Selyn, sambil menyandarkan kepalanya di punggung beranjak remaja milik Ezra yang terasa nyaman, sama seperti punggung Mamasnya.
"Taruhannya apa?"
"Kerjain Pr Mas, bagaiman- ouch!"
"Yah ... Kok di cubit Mas?"
"Kamu fikir, Mas bodoh? Mas masih masuk rangking sepuluh besar, tahu!" seru Ezra tidak terima.
Ia yang gemas dengan taruhan konyol dari Selyn, mencubit pelan tangan Adik sepupunya yang melingkar di lehernya.
Enak saja ... Gini-gini Ia adalah murid dengan prestasi di bidang olah raga, masa pekerjaan rumahnya di kerjakan oleh Adik kelas.
Harga dirinya sebagai Kakak kelas tampan ternodai guys ....
"Yah ... Terus apa dong? El misquen Mas, belum bisa cari uang sendiri seperti Mas Gav. Hanya otak yang di berkahi Gusti nu Agung, yang saat ini El andalkan," ujar Selyn merendahkan diri, padahal apa yang di katakannya berbanding terbalik dengan kenyataan.
Ew .... Bahkan tanpa uang saku dari Daddynya, Ia mampu membeli sekeranjang snack pokky, snack kesukaannya dan Sang Mommy.
(Kemarin Author liat El jual foto Mas Gavriel, ah ... Jangan di kasih tahu dong!)
"Eleh ... Sok misquen, sumpahin nih!"
"Eh kok git-
Oke mari Kita tinggalkan Ez dan El, yang sama-sama suka berbicara panjang kali lebar saat berdebat.
Kita kembali pada Gav dan Queene, yang sibuk dengan perdebatan tidak berfaedah, jika sudah bersinggungan.
Gavriel pov on
Hn .... Perke-
(Sudah pada kenal. Ais)
Oke ... Nggak usah perkenalan.
Saat ini Aku sedang melakukan kegiatan biasa, maksudnya kegiatan yang sudah biasa Kami lakukan.
Dari dulu Kami berempat tidak berubah, selalu bersama dan selalu bertengkar, tentunya pasangan adu bacod Aku adalah Queene.
Aku harap tidak akan ada yang berubah dengan Kami dikemudian hari.
__ADS_1
Tolong di Aminkan, terima kasih.
"Tav, lepaskan tanganmu dari leherku!"
Ew ... Ini seruan kesal Dia, yang saat ini lehernya ada dalam apitan lengan di antara ketiakku.
Aku suka sekali saat Dia menjerit frustrasi seperti ini.
"Tidak akan, hirup dulu aroma terapi ini hingga meresap kedalam qolbu. Baru kemudian Aku lepas, sesuai keinginan."
Rasakan ... Kebetulan sebelum pulang, Aku bermain basket dulu, melepas rindu saat Aku harus fokus dengan ujian kelulusanku.
"Hoek ... Gavriel, lepaskan!"
Ah ... Jika Dia sudah menyebut namaku dengan benar, artinya Dia menyerah dengan gelud Kami kali ini.
"I win, always win!" Seruku senang.
Aku pun melepaskan pitingan lenganku, dengan Dia yang langsung menampolku berulang di iringi seruan kesal.
"Belum mandi berapa abad, iyuh!"
Aku terkekeh ... Karena jujur saja, ekspresinya sungguh lucu saat seperti ini.
Tapi jangan harap kalian akan melihat ekspresi kesal, di hari-hari biasa tanpa gelud.
Ekspresi darinya hanya ada wajah gahar layaknya pereman pasar, belum lagi kalau sedang marah saat menolak pernyataan cinta anak bau jahe, di sekolah maupun di tempat biasa Kami latihan Karate.
Nah ... Ini yang membuat kelakuannya layaknya pereman, di saat anak perempuan lainnya ambil Eskul memasak atau pun menari.
Nah ... Sahabat antikku ini lebih memilih kegiatan menguji adrenalin.
Karate, semua orang memang tidak masalah, tapi Queene ikut semua yang menguji adrenalin.
(Maksudnya yang tadi malak di pasar. Hais, sembarangan)
Contohnya saja Si cantik tapi tombol-
(Tomboy, oit)
Iya maksudnya tomboy.
kalau saja Onty Elisa tidak melarang, pasti Dia ambil Eskul boxing juga, selain Karate.
Saat Kami tanya, kenapa Dia tidak ikut Eskul masak atau apa pun yang berhubungan dengan perempuan, Dia dengan santai bilang alasan simple, namun membuat Kami kompak ingin menggunduli rambutnya.
"Kejahatan dimana-mana, Aku sebagai Kakak wajib melindungi El dari kejahatan. Jadi, kalau ada yang macam-macam dengan El, Aku bisa menghajar mereka semua."
Lalu apa gunanya Kami, kalau melindungi mereka berdua saja tidak bisa.
Hanya rambut panjangnya lah, yang membuatku tidak khilaf menganggap Dia laki-laki.
Coba, kalau potongannya sama seperti rambut vokalis band rindu, mungkin tiap sparing karate Aku tidak akan segan, mengeluarkan kekuatanku saat sedang melakukan jujutsu.
"Emangnya kenapa? Harum, kan?" Balasku dan membawa kembali wajahnya kedalam ketiakku.
"Nyoh ... Rasakan sensasinya!" Lanjutku dengan nada semangat.
"Akh ... Gavriel, bau, iyuh. Lepaskan Aku sekarang juga!"
Ah ... Aku ingin kehidupan Kami seperti ini terus, tanpa ada masalah, apalagi kalau sampe persahabatan Kami renggang.
"Mimpi!"
Aku semakin terkekeh saat mendengarnya, ya ampun ... Aku semakin bersemangat, bersemangat mengerjainya, tentu saja.
"Mas, ulu-lu-lu-lu-lu! Kapan El pulang?"
Kegiatan Kami terpaksa berhenti, saat Kami mendengar seruan protes, dari Adikku yang paling Aku sayangi.
(Iya lah ... Nggak punya Adik lain. Iw, tahu saja)
Kami pun melihat ke arah El, yang duduk di atas motor Ez, dengan ekspresi wajah kesal dan bibir mencebil lucu.
Wajah kesal El dengan rupa Daddy versi perempuan memang menggemaskan, tapi kenapa wajah kesal Daddy versi asli malah bikin jengkel yah.
(Ga, Gavriel minta di slepet mulutnya. Ssst! Diem aja Thor)
"Iya-iya, Mas pesani-
"Gav ... Ayolah, izinkan Aku!"
Kalimatku terpaksa harus Aku telan kembali, saat mendengar nada suara memohon darinya.
Aku menundukkan wajahku menatap wajahnya, yang saat ini sedang menampilkan raut wajah memohon.
Deg!
"Ya Tuhan, kenapa lucu sekali." Batinku.
"Aku janji, tidak akan kebut-kebutan. Ciyus," Ujarnya dengan mata berkedip merayuku.
Huft ... Terpaksa deh, jadi Aku mau tidak mau mengangguk, menuai pekikan senang darinya serta pelukan erat darinya.
"Yey ... Ulu-lu-lu, Gavriel kalau begini tampan sekali!" Serunya senang.
Aku pun menggeleng kepala, heran sekali dengan kelakuan uniknya.
Ini salah Unkel Faro kenapa Dia tidak di belikan motor juga, jadi Kami bisa balapan liar bersama.
Bercanda!!
"Kunci, mana kunci? Kunci, kunc- humphh!"
Seruan ceriwisnya berubah menjadi gumaman tidak jelas, saat dengan sengaja Aku membekap mulutnya, Aku tidak tahan mendengar seruan tidak sabarnya.
"Shut up, nggak jadi nih."
Dia menggelengkan kepalanya dan terkekeh dengan renyah, tanpa memikirkan rasa gemasku saat ini.
"He-he! Jangan dong!"
"Hn," Gumamku, sambil merogoh saku jaket yang Aku gunakan saat ini.
"Nah, ini kuncinya. Ingat janji Kamu, got it?" Lanjutku menyerahkan kunci motorku kepadanya, yang di sambut dengan pekikan senang, tidak ketinggalan tangannya menyambar cepat kunci yang Aku ulurkan.
"Of course, honey!"
__ADS_1
"Panggil honey kalau ada maunya," Ujarku mendengus kesal, namun Dia hanya menjulurkan lidah ke arahku.
"Hanya orang yang akan jadi kekasihku, yang Aku panggil honey. Blee!"
"Dan itu artinya mustahil, blee!"
Aku membalas ledekan darinya, dengan kalimat sarkas nan menyindirku.
Bagaimana ceritanya mau dapat kekasih, kalau ada yang menyatakan cinta saja, Dia langsung pasang muka ala-ala sumo siap tempur.
(Emang Gav sudah punya pacar? Masih kecil, Momm bilang tunggu sudah pegang perusahaan. Lantas kenapa Queene di hujat? Errr!!!)
"Sembarangan, kalau Aku mau, mantanku sudah banyak tahu!"
Lihat semburan lahar dinginnya, muncrat sampai kena pipiku.
"Ck ... Elah, nyembur nih!"
"Wah ... Ngajak gelud nih Bap-
"Haloo!! Uvo sudah mendarat dengan sempurna,"
Eww ... El sudah mulai gerah, sebaiknya Aku sudahi atau akan ada sesuatu, yang pastinya akan membuatku jantungan.
"Oke, stop here honey."
"Nah ... El, Kamu pulang sama Quene. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Mas. Got it?" Ujarku, menuai anggukan kepala mengerti dari Adikku.
"Got it, Mas!"
Aku pun berjalan menghampiri Adikku, yang tersenyum lebar saat senang bisa pulang dengan Mbanya.
Tap!
"Hati-hati, oke."
Aku melepaskan jaket yang Aku pakai, lalu memakainya di tubuh mungil Adikku dan menarik sletingnya hingga dagu.
"Hubungi Mas, kalau sudah sampai," Ujarku menepuk sambil kepala Adikku sayang.
"Ung!"
Setelahnya, Aku pun berbalik menuju Queene, yang sudah nangkring di atas motorku, dengan posisi siap.
Aih ... Ada yang lupa.
"Oi ... Que-que, turun dulu!" Tegurku, membuatnya melihat ke arahku dengan ekspresi kesal.
"Apa lagi, akh!" Serunya kesal, tapi Aku tidak perduli.
"Turun!"
"Kenapa? Kan sud-
"Turun, sekarang, juga."
Aku menekan setiap kalimatku, membuatnya mengikuti perkataanku, namun di sertai delikan mata darinya.
Di sampingku ada Ezra, yang geleng kepala dengan kelakuan perempuan di hadapanku saat ini.
"Queene, tolong di kondisikan."
"Apa sih?"
Saat ini gantian Aku yang melihat Ezra dan Queene beradu argumen, Aku juga bisa melihat Ezra yang membuka tas sekolahnya, menarik sesuatu dari dalam dan berjalan menghampiri Kami.
"Nih ... Ganti dulu, baru naik motor lagi. Mau pamer kempol? Mending kalau berisi, enak di pandang. Nah ini, kurus layaknya kempol ayam kampung. Ganti gih!"
Seketika Aku ngakak saat mendengar seruan nyinyir, dari sepupuku yang entah kenapa tahu apa maksudku.
Ya ampun .... Aku geleng kepala, saat Queene mengambil celana training panjang milik Ezra, dengan wajah merah dan di tekuk kesal.
"Reseh ih!"
Dan Dia pun meninggalkan Kami setelahnya.
Gavriel pov end
Skip
Normal pov
Setelah melihat sendiri Adik dan sahabatnya pergi, meninggalkan lapangan parkir untuk pulang ke Kediamanan Orang tuanya.
Kini Gavriel dan Ezra pun berjalan ke arah luar gerbang, untuk bertemu dengan anggota Osis lainnya, yang sudah berjanji bertemu di kafe samping sekolah untuk membahas masalah Persami.
Persami atau juga perkemahan sabtu-minggu, yang akan di laksanakan terakhir kalinya bagi anggota Osis kelas tiga, dengan peserta murid kelas satu dan dua.
Hanya anggota Osis kelas tiga, sedangkan kelas tiganya sendiri tidak di anjurkan.
Keduanya pun berjalan ke arah kafe, dengan sesekali mengobrolkan masalah kelanjutan sekolahnya atau juga masalah seputar remaja laki-laki pada umumnya.
Di pertengahan jalan menuju kafe, Gavriel yang berjalan dengan sesekali melihat handphonenya tidak fokus melihat ke arah jalan di depannya.
Ia tidak sengaja menabrak seorang, sehingga terjadilah tabrakan dengan keduanya jatuh saling tumpang tindih, karena keduanya memang sedang dalam posisi tidak siap.
"Gav! Awas!"
Brug!
"Ukh!"
"Aww!"
"Kalian berdua tidak apa-apa?"
"Maafkan Aku!"
"Sorry!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ada apa dengan adegan tabrakan ini?
Lalu siapakah kira-kira yang di tabrak Gavriel?
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya ....
Sampai babai.