Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Memang Seharusnya Jujur


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Exo__Sweet Lies.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA S


Di sepanjang lorong yang di lalu oleh Queeneira dan Ge, tidak hentinya Ge berbincang akrab dengan adik kelasnya.


Queeneira pun menerimanya, ia terbuka dengan Ge yang menurutnya seseorang yang hangat, seseorang yang cocok untuk dijadikannya kakak.


Meskipun Queeneira hanya akan menanggapi sesekali, entah itu dengan kekehan atau juga jawaban singkat, namun bagi seorang Ge semuanya sudah lebih dari cukup.


Sebenarnya Ge juga tahu, jika adik kelasnya ini sedang tidak terlalu bersemangat, saat tadi sekilas ia melihat senyum kecut dari bibir mungil adik kelasnya.


Penyebabnya sudah sangat jelas apa, tapi ia tidak ingin membuat Queeneira juga merasakan tidak enak dengannya. Dengan ia bertanya kenapa dan ada apa, sudah pasti jika Queeneira akan mengelak lalu berujung dengan kecanggungan, antara ia dan adik kelasnya.


"Oh iya! Lu udah dengar belum, tentang acara bakti sosial" tanya Ge, saat ingat jika dirinya akan sangat sibuk dengan persiapan acara tahunan sekolah.


"Bakti sosial? Belum kak, tapi emang ngapain aja, waktu bakti sosial nanti?" tanya Queeneira antusias, saat ia sendiri suka ke panti asuhan bersama Gavriel serta keluarga Wijaya, untuk melakukan santunan setiap tahunnya.


"Kita pergi ke lapangan gitu, gabung dengan beberapa sekolah lainnya. Nah ... Nanti, kita bantu pemerintahan daerah gitu, mengatur pembagian barang pokok."


Ge menjelaskan dengan semangat, saat tahu jika adik kelasnya juga semangat mendengarkan setiap penjelasannya. Ia bahkan baru ini melihat ekspresi semangat, yang tentunya ekspresi tanpa paksaan, saat tadi ia melihat sendiri ekspresi muram dari Queeneira.


"Benarkah kak? Kapan? Aku mau ikut! Pasti seru sekali."


Meskipun Queeneira bertanya dengan beruntun dan juga dengan nada, yang biasanya tidak disukai oleh Ge jika dari orang lain, Ge tetap sabar menjawab dan menjelaskannya satu per satu.


Senyum dengan gelengan kepala takjub adalah hal yang pertama Queeneira liat, sehingga Queeneira pun menampilkan cengiran canggung, saat ia sadar jika ia sudah menjadi cerewet tanpa disadarinya, di hadapan kakak kelasnya yang diam-diam merasa bersyukur.


Bersyukur, saat akhirnya adik kelasnya tidak malu lagi menjadi ceriwis di hadapannya, di minggu ke tujuh kedekatannya.


Tujuh minggu ... Ah! Seketika Ge merasa bersyukur dengan semuanya. Akhirnya ada juga perempuan yang membuatnya betah dan merasa nyaman, meskipun hanya sebatas kakak-adik kelas. Dulu ia pernah merasa jika ia tidak akan bisa dekat dengan perempuan, karena ia terlalu malas mendengar celotehan, sehingga ia lebih memilih menjadi jahil dan gelo, ketimbang menjadi tampan dan cool.


"Yup benar! Terus, kapannya sih belum dijelaskan lagi, masih harus rapat dengan sekolah lain. Lalu, kalau soal siapa orang yang akan ikut, pihak sekolah dan OSIS yang menentukan. Kemudian untuk keseruan, itu sudah pasti. Soalnya, gue sudah pernah ikut ini satu kali."


Queeneira menatap Ge lekat, mendengar penjelasan kakak kelasnya dengan mata berbinar senang.


Jika ia dipilih ikut, tentunya ia akan menerima ini tanpa pikir panjang. Tapi, saat mengingat jika bukan hanya ia murid di sekolah ini, ia menjadi ciut seketika.


"Kira-kira berapa orang perwakilan kak, yang akan dikirim oleh sekolah?" tanya Queeneira penasaran.


"Hum ... Tahun kemarin sih sekitar lima, tapi tidak tahu sekarang. Aku dengar akan ada perusahaan besar, yang ikut andil dengan kegiatan sosial ini," jelas Ge setelah mengingat akan ada sedikit perubahan, dalam acara bakti sosial ini.


"Perusahaan besar," beo Queeneira, seketika pikiran langsung menuju ke seseorang, yang saat ini sibuk mengerjakan pekerjaannya di kelas.


"Apa perusahaan unkel Dirga," lanjut Queeneira dalam hati.


"Iya ... Entah perusahaan mana, tapi aku punya firasat, jika itu perusahaan yang pastinya paling besar di kota ini."


Queeneira terdiam, meski bibirnya tersenyum agar kakak kelasnya tidak tahu dengan apa yang saat ini ia pikirkan. Lalu, tidak lama kemudian, keduanya pun memutuskan untuk kembali ke kelas masing-masing, dengan Ge yang mengantar Queeneira hingga depan kelas.


"Sampai jumpa, oh iya! Pulang sekolah nanti, jadi pulang bareng gue?"


Queeneira mengangguk, saat ingat jika Ezra pulang sekolah akan langsung ke kantor, sehingga hari ini ia meminta tumpangan dengan kakak kelasnya, untuk pulang bersama.


"Jadi kak!"


"Oke! Sampai jumpa," sahut Ge, menyempatkan diri mengacak rambut Queeneira, sehingga ia tergelak saat adik kelasnya protes akan apa yang dilakukannya.


"Is! Reseh banget sih, kak!" seru Queeneira dengan suara keras, membuat perhatian beberapa teman sekelasnya teralihkan ke arahnya.


"Biarin, blee!"

__ADS_1


"Reseh!"


"Ya-ya-ya, bye Queeneira!"


"Bye."


Queeneira melihat kakak kelasnya yang berjalan sambil melambaikan tangannya, baru kemudian melihat ke arah sekitar, untuk melempar senyum ramah kepada teman sekelasnya, yang balas dengan siulan menggoda ke arahnya.


Kejadian ini tentu saja disaksikan juga oleh Gavriel, Ezra dan Keineira. Karena memang dari awal istirahat, ketiganya hanya duduk dengan pekerjaan masing-masing, tanpa ada obrolan meskipun terkadang akan terdengar diskusi antara Gavriel dan Ezra tentang pekerjaan mereka. Sedangkan Keineira memperhatikan dengan seksama, bagaimana ekspresi serius dari Gavriel yang terlihat keren di penglihatannya.


Ezra menatap ke arah Gavriel yang diam saja, namun tidak dengan aura yang dikeluarkan, terasa lebih dingin dari biasanya. Aura yang juga sebenarnya dirasa oleh Keineira, namun Keineira berusaha untuk tidak peduli, saat ia hanya perlu mengalihkannya dengan memandang Gavriel dan memanfaatkan suasana hati Gavriel nantinya.


Manusia cenderung lebih ceroboh, melakukan apa saja tanpa pikir panjang, saat sedang merasa tertekan dan marah.


"Gav!" panggil Ezra, namun sayang Gavriel hanya meliriknya dan bergumam singkat, kemudian melanjutkan kegiatannya.


"Hn."


"Kamu ...."


"Hn?"


"Ah! Tidak, tidak jadi," lanjut Ezra bingung, saat melihat Gav menatapnya dengan kening terangkat sebelah.


Sementara itu, Queene yang merasa tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kakak kelas, berlalu begitu saja tanpa tersinggung dengan siulan menggoda dari teman-temannya. Baginya percuma jika ia mengelak, bukannya mereda yang ada mereka akan semakin semangat menggodanya.


Melangkah pelan ke arah dua sahabatnya, Queene pun harus ekstra menahan tangannya, agar tidak menggaruk wajah seseorang, saat melihat sahabatnya (Gavriel). Ditempeli sedemikian rupa, oleh perempuan yang saat ini sedang duduk di samping sang sahabat (Gavriel).


"Ck ... Nempel, sudah seperti lintah," batin Queeneira sebal, iritasi seketika, saat melihat teman sekelasnya santai menempel ke arah Gavriel, dengan alasan melihat layar laptop, sesuai dengan apa yang didengarnya dari sini.


"Gavriel, keren. Bagaimana bisa buat kerangka bangunan seperti ini?"


"Ck .... Sok manis," lanjutnya berdecak sebal masih dalam hati, kemudian duduk di samping Ezra yang memperlihatkan layar laptopnya.


"Sudah tahu ini? Kami juga ikut loh," jelas Ezra antusias, dengan Queeneira yang menatap Ezra antusias.


"Sudah! Tapi ini serius?" tanya Queeneira semangat, dengan Ezra yang mengangguk.


"Ada apa sih? Sepertinya seru sekali."


Ketiganya pun melihat ke arah Keineira, yang tersenyum namun ekspresinya penasaran, membalas tatapan Gavriel dengan senyum, melupakan sekitar saat Ezra dan Queeneira pun saat ini sedang melihat ke arahnya.


"Hn. Belum saatnya kamu tahu," jawab Gavriel apa adanya. Karena ini memang masih pembicaraan antara pihak yang berkaitan, lagian ia bukan orang yang akan menjelaskan, jika itu menyangkut masalah pekerjaannya.


Pfftt ...


Belum saatnya kamu tahu.


Queeneira mencibir dalam hati, saat melihat wajah canggung dari teman sekelasnya, yang mendapat jawaban sesuai dugaannya, jika itu Gavriel saat ditanya pekerjaan kantor.


"Eh, em, maaf," cicit Keineira sedikit kecewa, tidak tahu saja saat ini sedang ditertawakan dalam hati oleh Queeneira. Tidak seperti Ezra yang terang-terangan tersenyum miring dengan gelengan kepala.


Giliran Queeneira yang tanya langsung dijawab. Pikir Keineira sebal.


Mengalihkan kembali wajahnya ke arah Queeneira, Gavriel pun melihat sahabatnya dengan ekspresi datar andalannya. Menebak dalam hati, jika Queeneira tahu pasti dari dia, siapa lagi kalau bukan kakak kelasnya.


"Kamu tahu?" tanya Gavriel dengan Queene yang mengangguk mengiyakan.


"Dari siapa?"


"Kak Ge."


"Oh .... Sudahku duga," sahut dan lanjut Gavriel dalam hati.


Tidak lama kemudian, bel pelajaran pun berbunyi lagi, disusul masuknya guru yang mengajarkan mereka ilmu ekonomi.


"Selamat siang semua! Kumpulkan tugas minggu kemarin!"

__ADS_1


Dengan begitu pelajaran pun dimulai, hingga tidak terasa waktu pun berjalan cepat dan waktu pulang pun akhirnya tiba juga.


Teng! Teng! Teng!


Bel pulang berbunyi, siswa-siswi pun dengan semangat keluar kelas bersama teman, bergerombol ataupun sendiri, pulang ke rumah masing-masing, mengistirahatkan otak dan tubuh setelah seharian belajar di sekolah.


Ezra yang tidak bisa berlama-lama di sekolah lebih dulu pamit, saat Pipinya telah menunggu kedatangannya di ruang meeting. Menyisakan Gavriel dan Queeneira, yang berjalan dengan Keineira turut serta, yang menyusul mereka setelah berpamitan dengan dua temannya.


"Kamu langsung pulang, Gavriel?" tanya Queeneira, berjalan santai di sisi kanan sahabatnya.


"Tidak, aku harus ke kantor Daddy," jelas Gavriel singkat.


"Ngomongin yang tadi?" tanya Queeneira berhenti dari langkahnya, menunggu kakak kelasnya sesuai tempat janjian, membuat Gavriel mengernyit saat Queeneira tidak melanjutkan langkah kakinya.


"Hn," gumam Gavriel ikut berhenti.


"Lalu, kenapa berhenti?" lanjut Gavriel bertanya dengan ekspresi tidak terbaca.


"Aku nunggu kak Ge. Aku akan pulang dengannya," sahut Queeneira dengan nada bicara aneh, membuat Gavriel yang mendengarnya melihat sahabatnya dengan kening berkerut tidak suka.


"Kenapa tidak bilang? Kamu bisa pulang denganku, kan?" timpal Gavriel dengan nada tidak suka, menatap tajam Queeneira yang tiba-tiba merasa takut.


"Aku, aku tidak ingin merepotkanmu," balas Queeneira mencoba tenang, mengenyahkan rasa takutnya dengan mata melirik sekitar mencari keberadaan kakak kelasnya.


"Ap- ah! Terserah kamu Queeneira, aku memang sibuk sekali," ujar Gavriel menyerah, kemudian berbohong dengan kenyataan yang benar adanya. Tapi sebenarnya ia akan dengan ikhlas meluangkan waktunya, jika hanya sekedar mengantar sahabat pulang ke Kediamanan Wardhana.


"Benar kan kamu sibuk," timpal Queeneira, semakin menyulut sumbu api emosi, saat Gavriel sebenarnya sedang mencoba untuk tidak kesal.


"Ya. Aku sangat sibuk."


Keineira yang berdiri di sisi kiri mereka hanya diam saja, menyaksikan bagaimana pasangan sahabat ini saling bersikap dingin.


Semakin cepat kalian berjauhan, akan semakin bagus untuk kita kedepannya, Gavriel. Keineira tidak bisa untuk tidak tersenyum dalam hati saat melihatnya. Sungguh melihat Queeneira yang memperkeruh keadaan, membuat peluangnya akan semakin terbuka.


"Gavriel, bukankah kamu seharusnya senang. Setidaknya sudah ada yang menjamin keselamatan Queeneira saat pulang nanti," sela Keineira setelah beberapa saat keterdiaman keduanya.


"Hn. Kamu benar, Kei."


"Kalau begitu, kita sebaiknya pergi kan, Gavriel. Biar tidak mengganggu Queeneira dan kak Ge?" ajak Keineira dengan nada manis, menatap Gavriel yang dibalas Gavriel dengan anggukan kepala setuju.


"Hn."


Setelahnya, Gavriel pun berbalik berjalan lebih dulu, meninggalkan Queeneira dan juga Keineira yang saling berhadapan.


"Jadi, sebaiknya biarkan aku dengan Gavriel. Dan kamu bisa bahagia dengan kak Ge, bagaimana. Bisa kan, Queeneira?"


Raut wajah Keineira masih tetap menampilkan raut wajah bahagia, lengkap dengan senyum manis yang terlihat menyebalkan di pandangan Queeneira.


"Dalam mimpimu, Keineira. Karena tetap aku, yang akan memilikinya," tandas Queeneira percaya diri.


"Kita lihat saja, bukan kah saat ini kalian hampir jalan membelakangi yah?" timpal Keineira, mengejek Queeneira dengan pernyataan, yang membuatnya tersentak seketika.


Tidak.


Dengan cepat Queeneira melihat ke arah Gavriel berjalan, namun hanya punggungnya lah yang terlihat, lalu melihat ke arah Keineira dengan tangan mengepal erat.


"Sa na(Baiklah) .... Sampai nanti, Queeneira," ucap Keineira dengan nada manis. Kemudian meninggalkan Queeneira yang berdiri kaku, melihat bagaimana teman sekelasnya berlari cepat, menyusul sahabatnya yang berdiri di samping pintu mobilnya.


Puk!


Berjenggit kaget saat merasakan tepukan di bahunya, Queeneira pun tidak jadi menoleh saat mendengar bisikan sedih dari arah belakang, dengan suara seseorang yang akhir-akhir ini memenuhi ruang pendengarannya. Suara kakak kelasnya, yang berbisik lirih di belakangnya, tepat di dekat telinganya.


Apa gue bilang, kalau memang suka lebih baik katakan langsung. Jangan suka memendam, kalau tidak kuat menahannya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2