Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Benci


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA S


Queeneira berlari meninggalkan tempat tadi ia merasakan kecewa teramat, meninggalkan dan menulikan pendengarannya, saat sahabatnya memanggil namanya khawatir.


Hatinya sakit saat menyaksikan sendiri sahabat yang sangat dicintainya, lebih memilih dan percaya dengan teman sekelasnya alih-alih dirinya, yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri.


Sahabat yang tumbuh bersama-sama selama enam belas tahun. Padahal mereka sudah menghabiskan waktu dari kecil hingga remaja seperti ini, tapi kenapa sahabatnya kali ini tidak percaya kepadanya, bahkan mengacuhkannya dan mengusirnya pergi tanpa mendengar penjelasannya terlebih dulu.


Air mata yang jatuh ia usap kasar, berlari tak tahu arah saat dirinya sendiri bingung ingin kemana.


Ia hanya mengikuti langkah kakinya, yang membawanya ke taman belakang sekolah, tempat pertama kali ia menyendiri saat hatinya sakit, dengan penyebab orang yang sama, siapa lagi kalau bukan sahabatnya__Gavriel.


🥀🥀🥀🥀


Sementara Queeneira berlari menuju taman belakang, Ge yang saat ini sedang merapihkan rumput sesuai dengan perintah pak Somad.


Ge memegang sebuah gunting rumput, jongkok dan sesekali akan mengembuskan napas lelah, apalagi matahari sedang terik di atas sana. Seakan mengejeknya saat tenggorokannya merasakan kering, ditambah ia pun lupa membeli minuman sebelum ke taman belakang.


"Aish! Bodoh sekali lu Ge, handphone nggak dibawa, minum nggak punya. Yakin dah gue, ketampanan gue sebentar lagi luruh, terbawa oleh keringat yang mengalir," gumam Ge, mengeluh dan merutuki kebiasaannya yang sembarangan.


Salahnya juga, sudah tahu jika di kelas sedang ada pak Somad yang baiknya minta di gampar, tapi malah seenaknya bacod pake suara toa.


"Ini semua salah si Ardan, ngapain juga itu anak ngajak ngomong, sudah tahu ada pak Somad di depan."


Ge terus misu-misu, dengan tangan tetap setia menggerakkan gunting rumput, memotong habis rumput tetangga yang lebih hijau, dibandingkan rumput rumah tetangganya yang lain.


Lelah berjongkok, Ge pun menegakkan tubuhnya kemudian merenggangkan tulang punggungnya yang mengeluarkan bunyi khasnya.


Matanya iseng berkeliling melihat sekitar, kemudian harus terpaku dengan sekelibat bayangan, yang berlari cepat ke arah sebuah pohon tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Bukan masalah jika orang lain yang berlari, tapi yang membuatnya terpaku adalah karena seseorang itu orang yang ia kenali siapa.


Berlari dengan tangan sesekali mengusap bagian matanya, membuatnya seketika merasakan perasaan tidak enak.


"Queeneira," gumamnya, sebelum membuang begitu saja gunting di tangannya, kemudian lari menyusul Queeneira yang sudah jauh menuju tepi danau sana.


Ada apa, kenapa Queeneira menangis?


Ge tidak bisa tenang, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Perasaannya yang tidak enak terbukti, dengan adanya kejadian yang baru saja ia lihat.


Tap! Tap! Tap!


Bunyi sepatu yang berlarian terdengar, saat suasana belakang taman sunyi. Ge mengedarkan netranya mencari keberadaan Queeneira, karena ia kehilangan jejak dari adik kelasnya.


Adik kelasnya tidak mungkin berlari lebih jauh dari ini, karena saat ini di depannya adalah danau sebagai tanda ujung taman belakang ini.


"Kemana, Queene," gumam Ge cemas.


Ia memasang mata dan telinganya awas, untuk melihat sekitar juga mendengar siapa tahu ada langkah sepatu. Tapi tidak ada, ia membalikkan tubuhnya, memutar lagi kiri dan kanan namun tak kunjung ketemu.


Baru saja ia ingin beranjak pergi mengelilingi danau, telinganya tiba-tiba mendengar suara isakan kecil dari belakang pohon, yang ada beberapa langkah dari tempatnya berdiri saat ini.


Queeneira, di sana kah, kamu?


Melangkahkan kakinya pelan, menuju belakang pohon besar itu, Ge akhirnya melihat seseorang sedang duduk meringkuk, dengan wajah tenggelam di antara lutut.


"Queeneira," panggil Ge dengan suara pelan, namun cukup untuk membuat Queeneira mengangkat wajahnya, melihat Ge kaget dengan wajah kusut juga air mata berlinang.


Ge tentu saja panik dan tanpa pikir panjang menghampiri Queeneira, membawanya masuk ke dalam pelukan erat, dengan hati serasa di remas saat melihat bagaimana wajah kesukaan adik kelasnya berantakan.


Air mata yang keluar dari kedua mata Queeneira, membuat Ge hampir ikut meneteskan air mata, tapi Ge tetap berusaha menahannya.


"Que, kenap-


"Benci."


Deg!


Ge menelan kembali apa yang ingin ia ucapkan, saat mendengar gumaman serak dari Queeneira, yang belum membalas pelukan darinya.

__ADS_1


"Queene, kam-


"Benci, aku membencinya. Aku kecewa kepadanya. Kenapa dia tidak percaya kepadaku, kenapa dia lebih memilih Keineira dibandingkan aku. Apa karena aku bukan siapa-siapa baginya, kenapa dia ..."


Mendengar dengan hati yang dikuasai amarah, Ge diam-diam mengepalkan tangannya, saat Queeneira meracau tentang betapa dia benci dan marah dengan laki-laki, adik kelasnya yang juga adalah sahabat adik kelas yang disayanginya.


"Aku tidak ingin melihatnya lagi, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Apa aku kurang baik selama kenal dengan-


"Ssssttt ... Cukup, cukup, Queene. Menangislah, lu boleh menumpahkan segala macam kemarahan lu sama gue. Tapi janji yah, setelah ini jangan menangis lagi."


Menyela dengan cepat apa yang diracaukan oleh Queeneira, Ge semakin memeluk adik kelasnya membagi kekuatan, kepada Queeneira yang akhirnya membalas pelukannya, menenggelamkan wajahnya di dada Ge yang menerimanya suka cita.


Hiks! Hiks!


"Ssstt ... Gue di sini, gue akan selalu ada buat lu, Que. Jangan takut," gumam Ge menenangkan dengan kata-katanya, mengusap dengan lembut rambut dan punggung Queeneira, yang hanya bisa menangis terisak di dadanya.


Hati gue hancur saat melihatnya seperti ini, gue bahkan baru ini melihatnya sedih dengan air mata berderai. Queeneira bukan perempuan lemah, dia akan tersenyum dengan lebar sekali pun dia sedang merasakan sedih. Tapi gue rasa ini sudah lebih dari membuatnya sedih, gue yakin ini ada hubungannya dengan Gavriel. Cuma Gavriel yang bisa bikin dia seperti ini, apa mungkin Gavriel lebih memilih perempuan lain dari pada Queeneira.


Queeneira gue harus apa, gue terlalu menyukai lu, sampai rasanya hati gue sakit banget waktu liat lu begini.


Mereka berpelukan hingga beberapa saat, sekitar sepuluh menit kemudian barulah Queeneira mengurai pelukannya, mengusap wajahnya dan menutupnya agar tidak dilihat oleh Ge. Tapi kakak kelasnya tidak membiarkannya dan dengan segera menangkap tangannya, mencegahnya yang ingin menghapus sisa air mata.


Grep!


"Kenapa, apa yang terjadi, Queene?" tanya Ge, dengan lembut mengusap pipi dan sudut mata Queeneira, yang tidak mengelak dan membiarkan Ge menghapus air matanya.


Diam.


Queeneira tidak menjawabnya langsung, melainkan hanya menatap tanah yang diinjaknya, masih dengan air mata yang sesekali keluar dari bola matanya.


"Que," panggil Ge lirih.


"Kak, aku nggak mau cerita," jawab Queeneira setelah keterdiamannya, sehingga Ge pun menghela napas kasar. Ia melepas tangannya yang ada di bahu Queeneira, mundur dengan gerakan marah dan menendang batu hingga terpental ke arah danau sana.


Queeneira terkejut dengan apa yang dilihatnya. Baru ini ia melihat kakak kelasnya yang biasanya sabar, tiba-tiba emosi seperti itu. Ia pun semakin terkejut, saat tiba-tiba Ge kembali melihatnya dan memegang bahunya dengan tepukan pelan.


Puk!


"Queeneira, gue mohon, kasih tahu gue. Jelasin ke gue, sebab dan alasan lu bisa nangis begini. Atau lu mau gue cari tahu sendiri, kala-


"Terus lu kira gue percaya? Nggak Queeneira, gue malah semakin penasaran dan marah, apalagi saat tadi lu bilang lu benci dia. Dia itu dia kan, Gavriel kan? Jawab iya Queeneira, jawab!"


Queeneira diam membisu, sama sekali tidak ingin memberi tahu kebenaran masalahnya dengan kakak kelasnya, yang sekali lagi membuang napas kasar dan kemudian menghela napas perlahan, menenangkan pikiran agar dirinya tidak lepas kendali.


"Que, gue janji, hanya perlu tahu. Dan gue akan lupakan, gue anggep tidak ada yang terjadi sama lu. Gue akan menganggap kalau gue nggak melihat lu nangis seperti ini," bujuk Ge dan akhirnya Queeneira pun mengangguk pelan, kemudian menceritakan kejadian tenang mereka yang dikira memiliki hubungan, hingga foto dengan isi mereka yang seperti sedang berciuman.


"Apa! Foto berciuman? Kapan kita seperti itu, Queene. Bahkan gue pegang tangan lu juga baru sekali," tandas Ge tidak habis pikir.


"Aku juga tidak tahu, kak."


"Terus Gavriel tahu dan melihat foto itu dan percaya sama foto itu ketimbang sama lu, begitu?" tanya Ge semakin emosi, apalagi saat pertanyaannya dijawab dengan anggukan kepala pelan dari Queeneira.


Sialan.


"Iya. Jadi sudah tahu kan kak, aku harap kakak akan melupakan ini. Karena aku juga akan melupakan semuanya. Aku akan melupakan rasa yang aku miliki. Aku tidak ingin tersakiti seperti ini lagi," tandas Queeneira dengan hati serasa diremas, saat akhirnya tiba juga waktunya untuk mengalah.


"Apa maksudnya? Apa, apa lu mau nyerah begitu saja?"


"Lalu aku harus apa kak? Dia sudah memberi selamat atas hubungan kita. Sedangkan kita sama sekali tidak ada hubungan apa-apa!" seru Queeneira menatap Ge kembali dengan tetesan kristalnya.


"Tapi-


"Tinggalin aku sendiri kak, aku ingin sendiri," sela Queeneira, mengusir Ge yang menatapnya kaget.


"Nggak, gue nggak akan meninggalkan lu di sini sendiri. Gu-


"Please kak, biarin aku sendiri dulu." lagi-lagi Queeneira menyela perkataan Ge, yang akhirnya meninggalkan Queeneira sendirian.


"Ok, kalau ini mau lu," balas Ge kemudian berlari entah kemana.


"Sorry, kak."


Queeneira pun kembali duduk meringkuk, menenggelamkan wajahnya di lutut, menangis untuk terakhir kalinya sebelum ia kembali ke kelasnya.


Di tempat lainnya, tepatnya disisi Gavriel yang saat ini ada kelasnya.

__ADS_1


Di temani oleh Ezra yang juga terdiam, Gavriel hanya duduk dengan mata pura-pura melihat barisan huruf di buku cetaknya.


Gavriel melamun dengan perasaan tak menentu, namun tertutup dengan ekspresi datarnya. Tidak ada yang tahu dengan apa yang dipikirkan Gavriel saat ini, bahkan Ezra pun tidak bisa menebaknya saat ia melihat sendiri bagaimana ekspresi kacau sepupunya, ketika Gavriel kembali dari arah taman belakang tadi.


Ia sengaja tidak mengikuti keduanya, karena ia pikir jika dengan hanya berdua, maka dua orang kesayangan bisa saling terbuka membicarakan masalah ini.


Tapi yang ia lihat justru Gavriel, yang ekspresi wajahnya semakin tidak bisa ia baca.


Semakin rumit saja, tapi apa yang terjadi sebenarnya di taman belakang.


Jam istirahat pun berakhir, digantikan dengan mata pelajaran ekonomi. Queeneira sudah kembali dan mengikuti pelajaran seperti biasa, begitu juga dengan Keineira yang duduk tidak bergerak di kursinya, saat merasakan aura mencekam dari sampingnya.


Gavriel tidak pindah dari kursinya, ia tetap duduk di samping Keineira yang memandangnya dengan sedih, kemudian menundukkan wajahnya lagi.


Gavriel, aku sangat mencintaimu.


"Tapi aku tidak mencintaimu, Keineira."


Deg!


Keineira dengan segera menoleh ke arah Gavriel, yang wajahnya masih tetap fokus memperhatikan papan tulis.


"Ga-


"Aku tidak mencintaimu. Perhatikan depan, jangan lihat aku dengan tatapanmu yang seperti itu," sela Gavriel berbisik dengan nada tajam, masih fokus melihat papan tulis di depannya.


"Tapi ak-


"Quit, now."


Keineira pun mengangkat tangannya, sehingga guru yang sedang menjelaskan pelajaran berhenti penjelasannya.


"Ya, ada apa, Keineira?" tanya pak guru tersebut.


"Izin ke toilet, Pak." kemudian setelah dipersilakan, Keineira pun dengan segera berdiri dari kursinya dan berlari meninggalkan kelas menuju toilet berada.


Entah ingin apa, sepertinya ingin menangis saat cintanya ternyata tidak terbalas.


Sepeninggalnya Keineira dari kelas, sang guru pun melanjutkan sesi penjelasan materinya. Menjelaskan satu per satu ilmu yang dimilikinya, kemudian memberikan tugas kepada anak didiknya.


Di kursinya Gavriel hanya diam saja, tidak menoleh ke arah manapun, ia fokus dengan apa yang dikerjakannya saat ini. Kegiatan yang sama dilakukan oleh Queeneira, saat ia juga berusaha fokus dengan pelajaran, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gavriel, maupun ke arah Ezra yang melihat keduanya khawatir.


Huft .... Apa aku harus memberitahukan ini kepada para orang tua, pikir Ezra bingung sene.


Teng! Teng! Teng!


Bel pulang sekolah sudah berkumandang, murid-murid pun berhamburan keluar dari dalam kelas dengan perasaan senang, saat akhirnya tiba juga masa mereka untuk bisa mengistirahatkan otak dan tubuhnya.


Ezra membereskan peralatan sekolahnya, menarik sleting menutup tas sekolahnya dan segera berdiri untuk menghampiri sahabatnya, yang juga sedang membereskan peralatan tulisnya.


"Pulang sama aku yah, Queene," ujar Ezra tiba-tiba, dengan Queene yang melihat Ezra untuk mengangguk kecil mengiyakan.


"Um ... Oke!"


Setelah mendapat jawaban dari Queeneira, Ezra menoleh ke arah Gavriel yang melihatnya dengan kepala mengangguk kecil, sehingga ia pun mengangguk mengerti saat ia tahu jika itu artinya sepupunya menyetujuinya.


"Sudah yuk! Antar aku pulang," ajak Queeneira kemudian.


"Ok, yuk!"


Keduanya melewati kursi yang diduduki Gavriel, dengan Ezra yang menepuk bahu Gavriel pelan, sedangkan Queeneira berlalu begitu saja.


Lebih baik begini, batin Gavriel menerima dengan hati yang masih berdenyut sakit.


Gavriel berdiri dari duduknya, berdiri di depan kelas dan menyaksikan kepergian keduanya dalam diam.


Kemudian setelah memastikan jika keduanya sudah berjalan menuju parkiran, barulah Gavriel yang berjalan ke arah taman belakang, untuk menemui seseorang sesuai dengan janji. Seseorang yang mengirimnya sebuah pesan ajakan bertemu, seseorang yang bilang ingin mengatakan sesuatu kepadanya.


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2