
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Disneyland resort, Hong Kong.
Masih di Disneyland resort, Hong Kong. Rombongan dengan jumlah dua belas orang ini, masih sibuk mencari mana tempat yang harus mereka kunjungi terlebih dahulu.
Small world adalah pilihan Selyn, sedangkan Alice maze adalah pilihan Intan, dan ini membuat yang lainnya ikut berpikir ingin memilih yang mana diantara keduanya.
"Kalau kata aku, kita keliling maze dulu, lebih seru," usul Intan, sambil melihat map peta wahana yang disediakan untuk pengunjung.
"Tapi di dunia kecil lebih seru Mba, nanti bisa naik perahu, keliling dunia bawah tanah gitu," tandas Selyn tidak setuju dengan keinginan teman dari Mamasnya.
Ia bersedekap tangan, memasang pose tidak terbantahkan.
Seorang Selyn Wicaksono, bungsu dari Dirga dan Kiara ini mana mau mengalah, dan sudah dipastikan jika yang menang siapa, saat tiga kakak kelas dengan tangan terangkat menyebut pilihan Selyn, yang mereka pilih sebagai pilihan pertama.
"Tapi kak-
Intan baru saja ingin protes, tapi sayang Keineira lebih dulu menginterupsinya dengan kode gelengan kepala, sehingga Intan pun mau tidak mau mengangguk, dengan ekspresi sedikit kecewa di wajahnya.
"Oke, ke Small world dulu, lalu kita bisa sama-sama ke maze setelah ini," lanjut Intan menyetujui.
"Tapi sebenarnya, kalau Mba mau ke sana duluan nggak apa-apa loh. Kita pisah jadi beda kelompok kan bisa, Mba bisa dengan rombongan Mba, El sama Mas Gav, Mas Ez dan Mba Que, hum ... Mas kakak kelas juga boleh gabung. Iya kan Mas, bagaimana menurut Mas?"
Selyn menatap sang kakak dengan kedipan mata juga senyum polos, saat mengucapkan kalimat penuh dengan maksud tersembunyi. Sehingga Gavriel yang ditanya, terdiam menoleh ke arah teman sekelasnya yang menganga, mungkin tidak habis pikir dengan jalan pikir adiknya yang aduhai.
Sebelum menjawab Gavriel menghela napas diam-diam, kemudian memasang senyum tenang, menghadap ke arah adiknya yang masih menatapnya dengan senyum polos, mata berkedip minta dicolok.
"Kita bersama-sama aja yah, biar lebih seru. Got it?" putus Gavriel, menepuk kepala adiknya sayang, tidak tahu saja dalam hati adiknya sudah hampir menjedutkan kepalanya ke tembok.
Maksudnya kan, biar mereka tidak usah bersama-sama, biar liburan mereka aman sentosa dan tidak ada yang cari perhatian dengan sang kakak. Tapi baca saja, Mamasnya malah memberi jawaban, yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Is ... Mamas nggak peka nih," dumel Selyn dalam hati, tapi karena ia tidak ingin membuat sang kakak curiga, ia hanya bisa mengangguk dan memeluk lengan kakaknya, agar sang kakak tidak kemana-mana.
"Got it."
Akhirnya, setelah menetapkan jika small world adalah tempat pertama yang akan mereka lihat, mereka pun sama-sama berjalan memasuki area bermain.
Small world berbentuk castle / kastil, dengan jam besar layaknya di dunia Disney. Di dalam sana ada aliran sungai buatan, juga perahu yang berjalan dengan mesin di jalur seperti kereta.
Perahu ini yang akan membawa pengunjung untuk mengelilingi dunia kecil atau small world, yang menampilkan hampir seluruh karakter disneyland dalam bentuk mini, juga musik ceria dan semangat.
Berbaris dengan teratur, Gavriel berdiri di belakang sahabatnya, sedangkan adiknya ada di depan sahabatnya, dengan Ezra yang menjaga dari depan, saat depan sekali adalah rombongan kakak kelasnya. Kemudian di belakangnya ada Keineira, Intan dan Raiya.
Jadi jika di urutkan maka seperti inilah urutannya, Susan, Didi dan satunya, kemudian Ardan, Ge, Ezra, Selyn, Queeneira, Gavriel, Keineira, Intan dan Raiya.
Satu per satu mereka naik, sesuai dengan urutan antrian. Namun sayang sekali, perahu yang di tumpangi Selyn berbeda dengan Mamasnya, saat penumpang sudah memenuhi semua kursi, dengan ia yang duduk di samping sepupunya, Ezra.
Selyn menoleh ke arah sang kakak tanpa berkata apa-apa, ia memandang dengan sorot mata khawatir, yang disadari oleh Gavriel yang tersenyum ke arah Selyn dengan senyum menenangkan.
"Tidak apa-apa, nanti kita ketemu di pintu keluar. Oke," ucap Gavriel dengan hanya bibir yang bergerak.
Puk!
Selyn menoleh ke arah Ezra, yang menepuk kepalanya pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kan ada Mas," ujar Ezra menenangkan, sehingga mau tidak mau Selyn pun mengangguk dan menoleh ke arah Kakaknya lagi.
"Sampai jumpa, Mas."
Selyn melambaikan tangannya, dengan bibir bergerak mengucapkan perpisahan.
Gavriel terkekeh kecil dengan kelakuan adiknya yang sungguh menggemaskan. Padahal mereka hanya tidak bertemu selama perjalanan di wahana ini, tapi adiknya sudah berlagak seperti pisah dalam waktu yang lama.
"El takut," bisik Queeneira, yang diam saja menyaksikan kelakuan adik sahabatnya. Ia sedikit memundurkan kepalanya, hingga jika orang lain melihat mereka akan menyangka, jika ia sedang bersandar pada Gavriel, tapi nyatanya tidak.
"Padahal ada Ezra," balas Gavriel ikut berbisik, ikut memajukan wajahnya, hingga ia ada di sisi wajah Queeneira, yang untungnya saat ini sedang memandang lurus ke depan. Jika saja ia menoleh mungkin ia bisa mengecup pipi sahabatnya sendiri.
"Sayang sekali, tidak bisa lihat kehebohan El di dalam," canda Queene dengan kekehan kecilnya, membuat Gavriel pun terkekeh. Sehingga seseorang yang ada di belakangnya kesal, melihat dengan hati cemburu saat keduanya terlihat saling menempel.
"Isk ... Bisa tidak sih, tidak usah nempel gitu," batin Keineira sebal.
"Gavriel," panggil Keineira dengan suara pelan, namun cukup jelas di pendengaran Gavriel, yang memiliki telinga sensitif.
"Hm?"
Gavriel pun sedikit menjauh dari Queene, menoleh ke arah belakang dengan tatapan bertanya.
"Menurut kamu di dalam sana, apa akan seru?" tanya Keineira dengan penasaran, memasang senyum manis miliknya.
"Entah, aku juga baru ini masuk di permainan anak-anak," balas Gavriel dengan bahu terangkat, kemudian tersenyum kecil.
"Aku juga baru ini, mengunjungi small world," timpal Keineira, berusaha memperpanjang obrolan saat Gavriel ingin menoleh ke arah depan.
"Benarkah? Kalau begitu sama, kita lihat saja nanti di dalam seru atau tidak, oke," balas Gavriel.
"Mudah-mudahan seru yah, eh! Tapi nanti boleh di rekam gitu nggak sih?" tanya Keineira.
"Hum ... Sepertinya boleh, yang lain juga sampai bawa handycam," jawab Gavriel dengan mata melihat sekeliling, di mana ada barisan lainnya yang juga sedang menunggu, dengan pengunjung yang membawa handycam.
"Bisa foto, kamu mau foto sampai baterai handphone kamu low juga bisa, Keineira. Tapi di dalam pencahayaannya kurang bagus, bisa dibilang remang-remang."
Queeneira yang bosan dengan pertanyaan klasik teman sekelasnya akhirnya buka suara juga, ia menyela tanpa berbalik badan menjelaskan dengan nada tenang, saat ia merasa teman sekelasnya butuh pencerahan.
"Eh! Seperti itu ya," timpal Keineira dengan nada canggung, menatap punggung Queene dengan tangan saling meremas. Kesal saat sesi obrolannya dengan Gavriel disela tiba-tiba.
"Iya, aku sudah pernah ke sini. Jadi kalau mau bertanya sama aku saja, kalau kamu bertanya dengan yang tidak tahu percuma saja, Keineira. Iya kan, Gavriel?" sahut Queene, kali ini ia menoleh ke arah Keineira, menatap Keineira dengan senyum manis, lalu menoleh ke arah sahabatnya dengan senyum lebar.
Gavriel mengangguk mengiyakan perkataan sahabatnya, karena apa yang di katakan oleh sahabatnya benar adanya.
"Benar juga! Nah, Kei. Jika ada pertanyaan tentang wahana, kamu bertanya dengan Mbahnya saja ya. Queeneira kebetulan sudah pernah ke sini," ujar Gavriel menjelaskan dengan polos, tanpa tahu jika apa yang dikatakan olehnya, membuat dua perempuan ini mengeluarkan ekspresi berbeda.
Queeneira yang harus menahan kekehannya, lalu Keineira yang sekali lagi hanya bisa speechless.
"Astaga, kelihatan sekali," batin Queeneira geli sendiri.
Yah, untunglah Gavriel adalah Gavriel, si jenius dalam bidang pelajaran dan urusan kantor, tapi nol besar dalam hal kepekaan.
"Enak saja aku Mbahnya, sembarangan."
"Kan kamu tahu segalanya tentang Hong Kong, Que-Que. Emang salah aku di mana?" balas Gavriel, menyebut nama sahabatnya dengan panggilan sayangnya, membuat Queeneira mendengkus saat nama zaman dulu keluar lagi.
"Tapi Tav, aku baru dua kali, bukan berarti aku tahu semuanya, isk," sewot Queene, ikut memanggil nama sahabatnya dengan panggilan sayang yang tidak disukai oleh Gavriel.
"Tetap saja, kamu lebih tahu dari pada aku," tandas Gavriel dengan pendiriannya.
"Kamu juga tahu desa Nuan lebih dari aku," balas Queeneira tidak nyambung.
"Karena aku anak pemiliknya, Que-Que."
__ADS_1
"Lah ... Salah aku di mana?"
"Que!!"
"Aha-ha-ha ... Ada yang kesal."
Kalau tadi Keineira yang berusaha memonopoli Gavriel dengan obrolan klasik, sekarang giliran Queeneira, yang memonopoli Gavriel dengan candaannya, saat Gavriel menyebutnya mbah dari wahana.
Candaan keduanya terlihat natural, sehingga Keineira dan dua temannya yang lain merasa asing, mereka bertiga merasa jika dunia antara Gavriel-Queene tidak mampu mereka ikuti arahnya kemana.
"Lihat saja nanti," batin salah satu di antara ketiganya sebal.
Sepuluh menit kemudian perahu mereka pun datang, mereka naik satu per satu sesuai dengan urutan.
Dan sepertinya tuhan sedang baik hati dengan Keineira, karena saat giliran Queeneira naik ke perahu. Queeneira harus bersebelahan dengan yang lain, sehingga Gavriel pun satu tempat duduk dengan Keineira yang tersenyum sumringah, sedangkan Queeneira harus tahan untuk tidak memutar kedua bola matanya bosan.
"Seneng banget," batin Queeneira sebal.
Perahu pun jalan dengan kecepatan pelan, memasuki wahana, hingga akhirnya ruangan gelap dengan musik ceria menyambut mereka, membuat senyum di bibir pengunjung terbit dengan mata berbinar kagum.
Puk!
Ia merasakan seseorang menepuk bahunya dari belakang, seseorang yang ia ketahui adalah dua temannya. Memundurkan sedikit tubuhnya ke arah belakang, ia pun berbisik saat dua temannya memberi semangat.
"Ayo Kei, kamu pasti bisa."
"Kalian ini, jangan ngaco."
Maskipun ia bilang seperti itu dengan nada malu, nyatanya dalam hati ia senang saat mendapat dukungan dari kedua temannya. Ia pun menoleh ke arah Gavriel, yang memandang sekitar dengan mata berbinar senang.
"Gavriel," panggil Keineira dengan tangan menarik kaos biru yang di pakai oleh Gavriel pelan, sehingga Gavriel pun menoleh dan menatap wajah Keineira yang tertimpa cahaya remang-remang.
"Hn?"
"Gavriel, kita fot-
"Tav, liat itu! Simba!" seru Queeneira menyela dengan cepat ucapan Keineira, saat ia melihat miniatur simba, sambil menghadap ke belakang lengkap dengan ekspresi berbinar senang.
"Simba! Kamu dong," ledek Gavriel, mengusak gemas rambut Queeneira yang balas dengan pipi menggembung lucu.
"Kamu lah!"
"Ye ... Kamu kali."
"Kamu!"
Keineira lagi-lagi terdiam, menatap keduanya dengan tangan mengepal menahan rasa kesal, saat melihat bagaimana serunya obrolan keduanya, padahal ia hampir saja ingin mengobrol seperti itu dengan Gavriel.
"Isk ... Menyebalkan," batin Keineira, melihat dengan kesal ke arah Queeneira yang sama sekali tidak melihatnya.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih dan sampai babai.
__ADS_1