
Maaf bila typo mengganggu saat membaca
Dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
5 Bulan berikutnya
Kediamanan Wijaya Muda
Hari ini tepat usia 5 bulan Baby Gav, teman seperbayiannya juga sudah lahir, Gav mendapat teman perempuan dari pasangan Yiyi dan Suk-suk atau juga Onty Elisa dan unkel Faro. Sedangkan dari Onty Selebor dan Unkel Kampret sedang Otewe lahir kedunia.
Gav juga sudah bisa berceloteh dengan bahasa bayi, membuat keluarga besarnya tertawa gembira. Di saat Eyang, Omah dan yang lainnya asik menertawakannya, Gav hanya bisa memandang mereka dengan tatapan polosnya.
Kalau saja Gav bisa membatin, sudah pasti Ia akan julid kearah Kakek, Nenek serta Buyut nyetriknya. Gav harus terima nasib, saat pipi gembil serta bokong gembulnya di aniaya oleh mereka.
Belum lagi Daddy Toyyibnya yang hanya ada seminggu sekali di rumah, pergi pagi di saat Ia bobok tamvan dan pulang di saat Ia bobok tamvan pula, Padahal Sang Daddy Toyyib sudah berjanji akan bermain dengannya.
Lusa adalah pernikahan antara unkel Kai dan Onty Fania, Gav lagi asik nemplok di dada bidang kekar milik Sang Daddy toyyib, yang cuti beberapa hari untuk persiapan pernikahan Onty Fania, karena acaranya akan di adakan di luar kota, kota asal omah Sarah di kota B yang jaraknya lumayan jauh, jadi semua keluarga berencana menginap hingga acara berakhir.
" Sayang, apa semua sudah beres?" tanya Dirga. dengan tangan yang setia mengusap Gav, yang sedang dalam mode Manja efek jarang di gendong Sang Daddy toyyib.
" Sudah, tinggal nunggu Anita aja." balas Kiara, yang saat ini sedang memasukan perlengkapan Pumpingnya, kedalam Tas khusus.
" Oke, Aku sama Gav ke ruang tamu dulu, nemenin yang lain" ujar Dirga, yang di balas anggukan kepala dari Kiara.
Di ruang tamu, sudah ada Kakek Bakrie dan Kakek Bagus. Menyambut Cicitnya dengan senyum merekah.
" Cicitku / Pipitku" seru Keduanya kompak.
" Please deh, baru juga gendong bentaran udah di ganggu" batin Dirga kesal, saat melihat gesture Sang kakek, seakan meminta Gav yang asik ngunyel wajah di dadanya untuk di turunkan, agar duduk di Baby Bouncher di tengah ruang tamu.
Saat akan di turunkan, Dirga melihat lagi wajah putranya yang menatapnya sayu, seakan menyampaikan pesan khusus untuknya berupa
" Daddy tamvan, peyuk akyu jangan yepaskan"
Duh, Dirga jadi nggak kuat menahan rasa gemasnya. Jadi, tanpa memandang dua Kakek yang misuh-misuh di depannya, Ia dengan langkah ringan, duduk dengan Gav yang terkekeh girang di pelukannya.
Sepertinya, Si Gav kecil sedang memuaskan hasrat rindunya pada sang Daddy. Dirga mendudukan dirinya di single Sofa, dekat dengan Eyang putri yang langsung gercep menoel-noel pipi gembilnya.
Resiko Cucu dan Cicit pertama, jadi harus menerima saat menjadi Wayang Uwong, oleh Sang Eyang Hendri, yang saat ini sedang mengulurkan tangannya, minta giliran menggendong Gav.
" Kemari Cucuku sayang, Eyang kakung kangen loh sama Gav" ujar Hendri, segera mencium pipi Gav gemas.
Untunglah, Opa dan Omanya sedang tidak ada di sini, jika mereka sudah kumpul maka Dirga pastikan sudah ada perang, antara Mertuanya Fandi dan Papanya Hendri, dalam memperebutkan Gav dalam hal memangku.
Seenggaknya, Dirga tidak perlu memisahkan antara Papa dan Mertuanya, jika terjadi perang di antara keduanya.
Baby Gav yang sedang di pangkuan Eyang Kakungnya meronta, minta di bebaskan dari kukungan gemas Sang Eyang. Antara tega dan tidak tega sih, tapi melihat wajah menggemaskan dari Putranya yang meminta tolong membuatnya iseng.
Dirga pura-pura tidak mengerti, apa arti tatapan dari Puppy Eyes sang anak yang di turunkan sang Mommy untuknya . Ia lalu melengoskan wajahnya, mengajak Sang Mama untuk membahas masalah pernikahan, dengan mata sesekali melirik Gav yang mengulurkan tangan ke arahnya.
Ao wa wa ngih
Dirga hampir saja terkekeh saat mendengar seruan protes dari sampingnya, bibirnya bergetar menahan tawanya, hingga colekan Dari Mamanya menyudahi aksi jahilnya.
" Oke fine, ada apa heum? Eyang kan bilang kangen Bocil ?" tanya Dirga mengalah, sedangkan Gav terkekeh sambil menampol wajahnya saat ia mengangkat dari pangkuan Eyang Kakungnya. Ia menciumi pipi gembil Gav dengan kecupan ringan, lalu kekehan khas bayi pun terdengar memenuhi ruang tamu rumahnya.
" Kiaranya, apa masih lama Nak Dirga?" tanya Kakek Bagus, yang memperhatikan Cicitnya, sedang dalam mode manja di pangkuan Cucu menantunya.
Bagus mengerti sih, jarangnya Dirga di rumah membuat Gav kecil rindu akan pelukan Sang Daddy. Ia ikut terkekeh, saat tubuh Cicitnya
Melonjak-lonjak senang di pangkuan dirga.
" Kasihan juga, sekali kerja bisa melebihi waktu seharian." batin Bagus prihatin. Tapi mau bagaimana lagi, Ia sudah tidak kuat menghandle Hotelnya kalau hanya berdua dengan anaknya, Fandi.
Semenjak hotel di adakan Marger, banyak peningkatan pada nilai sahamnya. Bukan hanya berdampak pada tamu yang datang, tapi juga beberapa sponsor banyak yang meminta kerja sama. Ia dan Fandi bahkan selalu mengangguk setuju, saat ada ide dari Dirga di bagian pemasaran.
Tu tu ta ngih bhuu
Seakan menjawab pertanyaan dari Sang Buyut, Gav bergumam dengan tangan Melambai ke arah tangga di mana ada Kiara, yang sedang turun dengan Anita di belakangnya, membawa Tas khusus untuk keperluan Baby.
" Gavnya Mommy tahu yah, Mommy dateng" seru Kiara dari ujung tangga, menuruni tangga dengan langkah semangat.
__ADS_1
Bhu yah
Melihat Bocil di pangkuannya, yang kini sibuk membuka tutup tangannya minta di gendong Sang istri, Dirga pun berdiri dan menghampiri Kiara. Membuat Anita yang di belakangnya mundur dan melihat ke arahnya gugup. Sampai sekarang Ia tidak tahu, kenapa asisten rumah tangganya gugup jika ada dekatnya.
" Kamu masukin Tasnya di bagasi, Pisahin yang perlu aja." ujar Kiara, memerintah Anita yang mengangguk mengerti.
" Iya Nyonya" balas Anita, lalu meninggalkan tangga. Berjalan cepat ke arah pintu keluar, melakukan perintah majikannya.
" Yank, nanti yang lainnya duluan atau berangkat bareng?" tanya Kiara ke arah Dirga, mereka menuruni tangga dengan langkah santai.
" Em, Faro sama Elisa mungkin bereng, tapi kalau Selebor sama Raka pas acaranya." balas Dirga seadanya.
" Sudah siap semua nih, yuk kita berangkat " seru Kakek Bagus, yang di angguki kepala semuanya.
Jam masih menunjukan pukul. 07:30 wks. Matahari pagi sudah ada di tengah, hangat menyapa wajah Dirga saat melangkahkan kakinya keluar dari rumah, menuju mobilnya terparkir. Gav ada di gendongannya, tidak mau pisah, padahal tadi sudah pindah ke gendongan Istrinya.
Cuaca agak dingin, Dirga memakai coat panjangnya, begitu pula dengan Kiara. Yang tampil apa adanya dengan rambut di kincir asal, bahkan di wajahnya tidak terpoles Make-up apapun.
Saat menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari pintu rumah, Dirga menyempatkan diri untuk mengambil Fotonya formasi lengkap dengan latar matahari terbit.
" Foto yuk, nanti kirim ke Oma Sarah, biar mereka tahu Cucunya Otewe ke kota B" seru Dirga, yang tentu saja di angguki semangat oleh Kiara dengan segera.
" Kuy yank" balas Kiara semangat.
" siap" tanya Dirga, Kiara mengangguk lalu mendekat ke arah dirga, dengan Baby Gav di gendong dirga yang menoleh juga ke arah kamera.
Chez
Klik
" Yah yank, kelihatan banget kucelnya" seru Kiara dengan bibir mengerucut lucu, saat melihat wajahnya kelihatan tidak selaras dengan Suaminya, yang tetap tampan meski dengan wajah apa adanya.
Gyut
" kata siapa jelek heeum?" tanya Dirga, dengan tangan mencubit pipi Kiara gemas.
Kiara nyengir, lalu mengambil alih Gavnya karena Dirga harus menyetir.
" Sudah semua nyonya" balas Anita sopan. Ia melirik ke arah majikannya, kemudian menunduk lagi.
Dirga membawa sendiri mobil miliknya, sedangkan orang tua dan Kakeknya membawa sopir karena perjalanan yang jauh.
Di Perjalanan kali ini ada yang berbeda, kenapa? Karena bertambah satu suara khas dari Gav, yang berceloteh di temani Sang Mommy yang juga ikut menyahuti.
Bhu tha ngih
" Apa sih sayang, daddy nggak denger loh" sahut Dirga dengan kekehannya, sebelah tangannya mengusap kepala Gav dengan sayang,sedangkan satunya di setir kemudi.
Bhu Bhu
" Haha ... Gav bilang Dia senang sayang, jalan-jalan bareng daddy" ujar Kiara dengan kekehannya, menjaga agar bayi 5 bulan di pangkuannya tatap diam di tempat. Karena saat ini selain berceloteh, Gavnya yang sudah aktif ikut melonjak-lonjakan badannya kegirangan.
Sebenarnya Kiara tidak menyindir Dirga, tapi entah mengapa, kalimat dari Istrinya seakan cambukan tak kasat mata untuknya. Ia akui terhitung dari umur Gav 20 hari , Ia mulai beraktivitas kembali di kesibukan kantornya. Bukan hanya kantor Wijaya, Bar galaxy, ataupun usaha lainnya, tapi juga Hotel Luxury milik keluarga Wicaksono juga ikut menjadi tanggung jawabnya. Akibatnya, waktunya untuk bermain dengan Gavnya semakin tipis, padahal Ia sudah berjanji, akan menemani Gav tumbuh besar.
Haih ... Memikirkannya saja membuatnya pusing, sebenarnya Ia sedang menyeleksi lagi beberapa kandidat Manager, untuk Ia tempatkan di perusahaan cabang dan di kantor milik Wicaksono. Padahal ia kira, jika Ia memiliki kantor di rumah, maka waktunya berada di rumah semakin banyak. Nyatanya, waktu 24 jamnya hanya ada 4 jam tersisa untuk istirahat.
Dirga tidak ingin meminta maaf, bukan egois tapi Istrinya pasti merasa bersalah, kalau sampai Dia tahu ucapanya, menyakiti hati suaminya yang saat ini hanya bisa tersenyum canggung.
" Hehe ... Lain kali kita ke jalan-jalan lagi yah bertiga. Daddy janji deh, kita ke Taman atau Mall di kota, bagaimana heum?" tanya Dirga lembut, mengusap keduanya bergantian.
Di belakang ada Anita, yang hanya diam tidak bersuara, Ia canggung sendiri saat melihat adegan romantis ala film-film di depannya.
" Ya ampun, mesranya" Batinnya iri.
Skip
Sekitar 3 jam kemudian, mereka sampai di kota B. Kota asal Mama Mertuanya, kota yang berada di daerah puncak ini agak dingin, maka dari itu mereka memakia Coat agar tetap hangat.
Mereka memasuki kawasan rumah mewah, bergaya klasik bercat putih. Di halaman depan sudah ada tenda, rencananya pernikahan akan di langsungkan di gedung pada malam hari, sedangkan Akad di rumah. Acara terpisah, dengan mengundang segelintir kolega bisnis dan sahabat terdekat.
Dirga dan Kiara turun, di susul oleh Anita. Membawa Tas milik Gav, berdiri mengikuti setiap langkah Nyonya dan Tuannya.
Di depan sana ada Faro dan Elisa, yang menunggu dengan Baby Girl, berusia 3 bulan di gendong Faro.
" Yo" sapa Dirga, saat Ia sudah sampai di depan Faro. Sedangkan para Lady bersalaman ala mereka, lalu cekikikan saling menyapa, dengan suara seakan anaknya lah yang menyapa.
__ADS_1
" Queene, *Lei Ho* ( Apa kabar?) " sapa Kiara atau juga Gav yang tangan kecilnya di gerakan oleh Sang Mommy.
Baby girl hasil cocok tanam, antara Faro dan Elisa ini copyan mereka berdua. Dengan mata khas Faro dan hidung mungil mirip Elisa, kulitnya putih turunan Elisa dan Rambutnya hitam seperti Faro, perpaduan seimbang. Tidak sepertinya, Gav mirip sekali dengannya, tapi Ia berharap hanya wajahnya saja yang mirip, perilaku apalagi sikap songongnya jangan sampai menurun.
Nama dari anak Faro adalah Queeneira Geovan Wardhana dan nama chiness pemberian kakeknya adalah Pui Chi Chen di panggil Muimui.
" Ho, Koko Gav Lei ho?" balas Elisa, dengan suara khas anak kecil, menanyakan kembali kabar anak dari sahabatnya.
" Ho ( Baik)"
Faro yang menggendong Si kecil Queene, menepuk nepuk punggung anaknya pelan, saat Queene rewel faktor lingkungan baru. Tidak seperti Anaknya yang saat ini heboh bergerak , ingin segera bertemu Oma dan Opanya.
" Cucu Oma dateng yah, mana tium duyu " seru Oma Sarah, setelah menyambut keluarganya serta Faro, yang sekarang sedang berjalan menuju ke dalam rumah.
Sarah dengan semangat, menggendong Gav yang cekikikan geli, saat perutnya di unyel-unyel gemas oleh Sang Oma.
Ngi ngih buh
" Hem, Gav mau ketemu Opa? Yuk kedalam" balas Sarah, seakan-akan celotehan Cucunya adalah ajakan menemui Sang suami, yang sering bertengkar karena berebut gendong Cucunya.
Bhu Bhu
" Haha ... Oke oke, kita kedalam Gavnya Oma, jangan ngamuk" sahut Sarah, lalu melenggang pergi meninggalkan mantu dan anaknya, di ikuti Anita yang membawa Tas milik Gav. Dengan Kiara, yang hanya bengong merasa di cuekin.
" Eh yank, kita nggak di suruh masuk?" tanya Kiara bingung , memandang Dirga yang hanya tersenyum geli, saat Istrinya merasa seperti anak tak di anggap.
Puk
" Kamu udah di buang, Mama kamu lebih sayang sama Gav dari pada kamu." balas Dirga bercanda , setelah menepuk Kepala kiara pelan.
" Yah yank, masa gitu?" tanya Kiara mengikuti candaan Dirga.
" Terus siapa dong, yang mau nampung aku?" lanjut Kiara, memandang Dirga dengan mata berkaca-kaca, tapi bibirnya bergetar menahan tawa.
" Terpaksa aku deh" balas Dirga, setelah menghela nafas pura-pura bingung.
" Tapi janji yah, jangan ngabisin beras di rumah aku" Lanjutnya jenaka, menuai kekehan lucu dari Kiara, sehingga Dirga pun ikut terkekeh.
" Apa sih, nanti saham yang ada di Eropa aku jual aja, lumayan buat biaya hidup" balas Kiara di sela kekehannya.
" Dari pada pusing, karena nggak di anggap. Mending kita ...
" Kita apa? " tanya Kiara cepat, menyela Dirga yang saat ini memajukan wajahnya ke arahnya, kemudian berbisik.
" Kita buat adik buat Gav, biar Gav ada temennya "
Setelah berbisik, Dirga mencium pipi kiara cepat dan meninggalkan kiara, yang masih memproses ucapannya. Sambil berjalan, Dirga menghitung dalam hati, menunggu respon lambat dari Istrinya.
1
2
3
" Yak, Dirga nyebelin banget "
Khe Khe Khe
" Masih aja lambat, kalau di kasih kode" gumam Dirga, setelah terkekeh geli. Tidak mendengar seruan dari Kiara, yang sibuk merutuki kejahilanya.
" Gara-gara kerjaan numpuk, jadi jarang kan olah raga, Cih ..." Batinnya sebal, tapi tersenyum saat merasakan tangan lembut, merangkul lengan kirinya mesra.
" Nyebelin" sewot Kiara, dengan wajah merona. Dirga pun melepas rangkulan kiara di lengannya, untuk memeluk bahu Kiara erat, berjalan memasuki ruang ramu, di mana Ia melihat keluarganya sedang bercanda, dengan dua Bayi beda gender dan usia, yang sengaja di tidurkan di karpet. Tapi tidak dengan Gavnya yang sibuk guling kesana- kemari.
" Ya ampun, Gav sayang"
Bhuu tu tu bhaa
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya...
Jangan lupa kirim komentar dan klik jempol serta vote dukunganya yaa
Sampai babai
Terimakasih
__ADS_1