Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Baikan, Belum Tentu Benar-benar Baik


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Masih di kamar dengan cat biru langit, ada Gavriel yang duduk di kursi kerjanya, dengan mata melihat layar handphone, yang menampilkan pesan singkat dari seseorang.


Tadi malam, tepatnya setelah ia selesai mandi dan makan malam bersama keluarganya, ia kembali ke kamar setelah berpamitan untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.


Disaat ia sedang membuka lagi file dokumen di laptopnya, ia iseng melihat handphone dan mendapati pesan singkat dari teman perempuannya.


Sedang apa?


Itu adalah isi pesan pertama yang ia terima, selanjutnya ia memutuskan untuk membalas seadanya, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


Hari ini adalah hari pengambilan raport, hasil kerja keras mereka selama seminggu, mengerjakan ulangan untuk menguji kemampuan IQ, sampai mana dan sejauh mana mereka serius dalam hal pelajaran.


Saat ini Gavriel sedang bingung, dengan apa yang sudah ia lakukan.


Padahal kemarin ia susah berbicara dengan sepupunya, berjanji akan menjemput sahabat perempuan mereka, untuk berangkat bersama ke sekolah.


Tapi ... Kenapa tadi malam ia dengan mudahnya, mengiyakan permintaan tolong teman sekelasnya, untuk berangkat bersama ke sekolah hari ini.


Ia memukul kepalanya pelan, saat ia merasa seperti orang bodoh, yang mudah mengingkari janji sendiri.


Padahal ia ingat dengan jelas perkataan sang Daddy, yang mengatakan jika seorang wijaya pantang mengingkari janji, apalagi yang dibuat sendiri.


"Ck ... Bodoh," umpat Gavriel untuk dirinya sendiri.


Disaat ia sedang berpikir, terdengar ketukan pintu dari arah luar kamarnya, membuatnya sedikit tersentak dan penasaran, namun tidak lama saat suara imut adiknya memasuki indra pendengarannya.


"Mas! El boleh masuk!"


Ia pun berjalan ke arah pintu, membuka daun pintu kamarnya sedikit lebar, di mana ada selyn yang sudah berpakaian rapih dengan seragam sekolahnya.


Cengiran cerah terbit di bibir tanpa polesan seorang Selyn Wicaksono, namun tetap terlihat merah alami turunan sang Mommy.


"Mas! Dadd bilang, El berangkat bareng Mas aja," ucap Selyn dengan semangat, tanpa tahu jika sang kakak tambah stres akan ucapan semangatnya.


"Astaga."


Gavriel membatin dengan hati dan otak lelah, saat ada tiga pilihan tidak sulit, karena ia bisa saja memilih sang adik dan mengorbankan yang lainnya.


Tapi jangan salah, kalau sampai adiknya tahu ia mengorbankan acara jemput Mba kesayanganya, karena harus mengantarnya sekolah, ia jamin jika ia akan menerima hukuman lebih berat dari sang adik nanti.


Bukan kah sudah ia bilang, apapun jika itu ada adiknya di antara pilihan, maka ia dengan segera dan tanpa berpikir, akan memilih sang adik ketimbang yang lainnya.


"El ... Bagaimana ini," gumam Gavriel memandang sang adik, dengan raut wajah bingung yang kentara, dan itu membuat Selyn penasaran.


"Bagaimana, apanya?" sahut Selyn bertanya balik, membuat sang kakak melihatnya dengan helaan napas lelah.


"Ada apa sih, Mas?" lanjut Selyn, saat kakaknya menghela napas, alih-alih menjawab pertanyaan darinya.


"Begini El, sini deh kamu masuk dulu," balas Gavriel, mengajak sang adik memasuki kamarnya, kemudian menutup pintu pelan.


Gavriel menatap sang adik, yang balik menatapnya dengan bibir mengerucut lucu, penasaran dengan apa yang membuat Mamasnya bingung seperti itu.


Biasanya, bila sang kakak sudah bingung seperti ini, itu artinya ada ia dan Mba kesayanganya, dalam masalah kakaknya pagi ini.


"Ada apa sih, Mas?" tanya Selyn tidak sabar, membuat Gavriel mengacak rambutnya, bingung dan malu saat ia merasa, jika ia seperti bocah bertanya kepada bocah yang adalah adiknya sendiri.


"Is ... Bagaimana ini El, Mas sih pilih antar El sekolah. Tapi Mas sudah janji jemput teman Mas, tapi Mas juga sudah bilang dengan Mas Ezra untuk jemput Queene. Mas harus bagaimana? Sedangkan Mas mengendarai motor, yang hanya bisa mengantar satu orang."


Selyn melongo, mendengar perkataan panjang kali lebar dengan banyak kata tapi, dari Mamasnya lengkap dengan ekspresi bingung yang sungguh terlihat lucu di matanya saat ini.


Astaga .... Kenapa kakaknya un-Wijaya sekali saat ini, kemana kakaknya yang selalu kalem saat menghadapi masalah di kantor.


Dalam hati ia bersiul takjub, untuk dua perempuan yang berhasil membuat kakak tampannya blingsatan, hanya karena bingung memilih siapa yang akan dijemput nanti.


Ia menggelengkan kan kepalanya, sebelum menjawab pertanyaan dengan jawaban simple, namun rumit untuk Mamasnya yang sampai sekarang belum peka.


"Mas," panggil Selyn dengan nada geli, membuat sang kakak, yang merasa jika sang adik sedang menahan tawa mengerutkan kening tidak suka.


"Hn? Jangan tertawa," sungut Gavriel, membuat sang adik akhirnya tertawa kecil juga.


"Mas, Mas, El sampai bingung deh sama Mas," ucap Selyn dengan nada meledek, menatap sang kakak dengan gelengan kepala pelan.

__ADS_1


"Hn."


Gavriel yang merasa salah tempat bertanya pun mendengkus, saat sang adik malah meledek dengan santai ke arahnya, alih-alih memberikan ia solusi untuk masalah sepelenya.


"Mas ini, sebenarnya tahu kegunaan kendaraan roda empat tidak sih, masa gitu saja tidak kepikiran. Mas tadi bilang, mau antar El, tapi ada janji jemput dua kakak perempuan kesayangan Mas to? Lalu kenapa repot, Mas kan hanya perlu mengendarai mobil, done. Semua bisa di antar Mas, disaat yang bersamaan."


Penjelasan Selyn yang panjang dan cepat, membuat Gavriel tersentak, ia menepuk keningnya pelan merasa bodoh, saat pikirannya tidak sampai ke arah sana.


Bagaimana mungkin adiknya memikirkan ini sampai sana, sedangkan dirinya masih bingung memikirkan siapa yang harus diutamakan.


Sepertinya otaknya terlalu berpikir hal yang rumit, hingga hal yang sungguh simple saja ia sampai tidak kepikiran.


"Ah! Iya juga yah," gumam Gavriel pelan, membuat sang adik mendengkus saat merasa kakaknya terlalu bodoh, tapi herannya selalu jadi juara di sekolahnya.


"Makanya Mas, kalau ada masalah jangan di pikirkan terlalu rumit. Buat simple aja lah, yang penting beres," sindir Selyn apa adanya, membuat Gavriel merasa tertohok akan ucapan adiknya yang memang benar kenyataannya.


"Maksudnya El, apa?" tanya Gavriel pura-pura tidak mengerti, alhasil adiknya hanya menjawabnya dengan melengoskan wajah serta decakan sebal, sebelum meninggalkannya sendirian di dalam kamar.


Blam!


Tidak ketinggalan dengan debaman pintu lumayan keras.


"Ya Tuhan, sepertinya El sudah sadar dengan semuanya," gumam Gavriel menyesal, kemudian ia mengambil kunci mobil yang lama sekali tidak ia pakai, saat dirinya lebih suka mengendarai motor hasil kerja kerasnya sendiri.


Tidak lama kemudian, ia pun turun dari kamarnya, menuju belakang rumah untuk pamit dengan Mommy kesayanganya, yang saat ini sedang sibuk dengan tanaman di taman kecil milik Sang Mommy.


Dari sini ia bisa melihat adiknya, yang juga sedang berpamitan dengan sang Mommy. Ia pun dengan santai berjalan menghampiri keduanya, lalu mengecup pipi kiri sang Mommy, dengan sang adik yang menjulurkan lidah meledek ke arahnya.


Ini lebih baik dari pada lengosan wajah, yang berujung akan panjang jika ia tidak meminta maaf segera.


"Sudah siap, sayang?" gumam Kiara lembut, mengusap kepala putra sulungnya sayang.


"Sudah Momm," balas Gavriel, sambil menganggukkan kepalanya pelan, kemudian tersenyum tipis.


"Nanti Dadd, yang akan mengambil laporan hasil belajar kalian. Awas yah ... Jangan sampai nilai kalian anjlog. Terutama kamu sayang, pokoknya Momm akan bilang ke Daddy, untuk memberhentikan kamu dari perusahaan. Got it?" acam Kiara, menuai senyum sombong khas suaminya, terbit dengan indah di bibir anaknya.


"Momm tenang saja," sahut Gavriel percaya diri.


"Oke, Momm. El dan Mas berangkat dulu yah, sampai babai. Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, hati-hati saat berkendara, sayang."


Ini adalah kali pertama ia memakai kendaraan roda empat, meskipun tidak pernah membawa, nyatanya ia mahir dengan teknik drift, yang dipelajarinya dari sang Daddy sendiri.


Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju Kediamanan milik sahabat perempuannya, hendak menjemput Mba kesayangan dari seorang Selyn. Lalu setelahnya menjemput teman sekolahnya, yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah.


Mobil dengan aroma kopi ini sejuk, namun sunyi saat adik yang duduk di sebelahnya, hanya diam dengan mata fokus di layar handphone.


Lagu dari Heartsrting__Because i miss you, menemani keterdiaman mereka, hingga akhirnya sang kakak pun jengah saat biasanya sang adik berceloteh dengan indahnya.


"El, kamu kenapa, diam saja seperti itu?" tanya Gavriel, tanpa melihat ke arah adiknya, yang saat ini mengalihkan matanya menatapnya.


"El, nggak apa-apa. Emang kenapa?" balas dan tanya balik Selyn, kepada kakaknya yang menggelengkan kepala tidak percaya.


"Biasanya kamu tidak bisa diam," sahut Gavriel cepat, tidak puas saat adiknya menjawab dengan jawaban klise.


"...."


Selyn tidak langsung menjawab, melainkan menyimpan handphone miliknya di tas dan menghadap sepenuhnya, ke arah sang kakak yang fokus menyetir.


"Mas."


"Hm?"


Gavriel hanya bergumam saat adiknya, memanggil namanya dengan pelan, kemudian sesekali ia melihat ke arah sang adik, lalu balik lagi melihat jalanan di depan sana.


"Mas, El mau bertanya," ujar Selyn masih menatap mata sang kakak, yang mengangguk dengan tangan memindahkan persneling.


"Tanya apa?" sahut Gavriel singkat.


"Mas, kalau suatu hari nanti mas diberi pilihan, antara mencintai dan dicintai. Mas lebih pilih yang mana?" tanya Selyn menatap kakaknya serius, meskipun yang ditatap tidak menoleh ke arahnya, namun terlihat jika sang kakak menegang dengan pertanyaan spontan yang keluar dari belah bibirnya.


Gavriel terdiam mendengar pertanyaan sang adik, yang tiba-tiba tanpa tendeng alih-alih.


Apa maksud adiknya bertanya hal seperti itu kepadanya, disaat keadaan dan perasaannya sendiri pun tidak jelas.


Bagaimana ia bisa memilih, jika ia sendiri saja masih belum bisa membedakan debaran aneh di hatinya sendiri.


Selyn, yang tidak kunjung mendapatkan jawaban dari kakaknya pun mendesah pelan, ia rasa akan sangat percuma bertanya, sedangkan kakaknya berpikir masalah jemput pun masih bingung.

__ADS_1


Ia melihat ke arah depan, melihat ke arah luar sana, yang ternyata sudah memasuki kawasan perumahan dari Mba kesayanganya, hingga senyumnya pun terbit, kemudian menggelengkan kepala untuk mengenyahkan bayangan akan pertanyaannya tadi.


"Mas, tidak perlu dijawab. Anggap saja El sed-


"Nanti ya El, saat Mas sudah bisa menentukan kepada siapa Mas akan memberikan hati Mas. Mas janji akan memberikan jawaban, yang akan membuat El tersenyum lebar untuk Mas."


Selyn tertegun dengan keseriusan kalimat panjang dari sang kakak, yang biasanya hanya akan mengucapkan kalimat singkat, tanpa penjelasan seperti tadi.


Dan tadi apa katanya, kakaknya sedang dalam tahap menentukan si pemilik hati, dengan kandidat yang ia tahu jelas siapa.


"Sampai sekarang Mas juga bingung, saat tiba-tiba perasaan itu datang dengan cara berbeda. Yang jelas Mas hanya berharap, Mas tidak terlambat jika suatu saat nanti, Mas tahu hati ini untuk siapa," lanjut Gavriel tersenyum lembut ke arah adiknya, saat mobil yang di kendarainya sampai di depan halaman rumah keluarga Wardhana.


Puk! Puk! Puk!


"Sampai saat itu. El, tolong selalu ingatkan Mas yah, kalau-kalau Mas khilaf," pinta Gavriel tulus, menepuk kepala adiknya yang akhirnya memberikan ia senyum cerah nan lebarnya.


"Tentu saja, Mas. El janji, El akan selalu ada di belakang Mas, hingga ada seseorang yang berdiri di samping Mas. Asal Mas bahagia, El juga ikut bahagia," timpal Selyn semangat.


"Tidak, kamu salah El. Bukan asal Mas bahagia, tapi asal kita bahagia yang benar," ralat Gavriel cepat, membuat adiknya tersenyum semakin lebar, menuai kekehan geli dan gelengan kepala darinya, tidak habis pikir dengan tingkah adiknya.


Tadi saja cemberut dan melengoskan wajah, eh ... Sekarang nyengir lebar, dengan bonus kecupan sayang di pipinya, sebelum meninggalkan ia di mobil sendiri. Sedangkan si tersangka, lucifer kecil, sudah ngacir ke dalam sana dengan teriakan membahana saat menyapa keluarga sahabatnya.


"Dasar," dengkus Gavriel sebelum ikut turun, dan melihat sahabatnya yang diam terpaku saat tahu ia menjemput dia tanpa memberitahu.


"Kamu nggak bilang-bilang jemput aku? Gav," ujar Queene bertanya dengan nada kaget, sedangkan Selyn entah berada di mana saat ini.


"Kejutan," balas Gavriel singkat, berjalan menghampiri sahabat perempuannya dan menepuk kepalanya singkat.


"Maaf, kalau kemarin aku bersikap menyebalkan," gumam Gavriel dengan sorot mata menyesal. Membuat Queene tersenyum, saat mendengar suara lembut sahabatnya, disertai jantung berdegub kencang sebagai pengiringnya, akan rasa bahagianya.


Akhirnya, sahabatnya kembali seperti dulu.


Queeneira menggelengkan kepalanya, membalas permintaan maaf sahabatnya, dengan senyum tulus merekah.


Apakah ini pagi indahnya, semoga saja.


"Tidak Gavriel, kamu tidak salah. Aku-nya saja yang terlalu berlebihan, seharusnya aku tahu bukan hanya aku yang harus selalu ada di sampingmu. Seharusnya aku bisa menyampingkan rasa kekanakanku, dan seharusnya aku sadar siapa aku. Jadi Gavriel, bisakah kamu bersikap biasa saja, jika pun kamu memiliki hubungan dengannya suatu saat nanti?" pinta Queene dengan sorot mata memohon.


Ia berbicara seperti ini bukan untuk menyerah, tapi untuk membuat Gavriel sadar akan apa sebenarnya yang ia rasakan.


Ditinggalkan oleh sahabat, disaat kita sadar akan perasaan kita, bukan kah itu hal yang sangat mengecewakan untuk kita?


Deg!


Kalau tadi jantung Queene yang berdetak, sekarang giliran Gavriel yang merasakan serangan jantung mendadak, saat sahabatnya berkata dan meminta hal seperti itu.


Bagaimana bisa, sahabatnya tetap ada di belakangnya saat ia berbalik, ketika dirinya justru berjalan menjauh dan menyakiti hati sahabatnya tanpa ia sadari.


Pertanyaan sang adik menari di pikirannya, sebenarnya lebih baik mana? Mencintai atau dicintai.


Keterdiaman Gavriel membuat Queene khawatir, ia melambaikan tangannya di wajah sahabatnya, untuk menyadarkan dan seketika kaget, saat tangannya masuk dalam genggaman hangat sahabatnya.


"Maaf," bisik Gavriel lirih, membuat Queene pun balas menggengam tangan sahabatnya.


"Aku mencintaimu, Gavriel."


Ingin rasanya ia berkata seperti itu, tapi sayang yang saat ini bisa ia lakukan hanya mengusap sisi wajah sahabatnya, dengan senyum manis terukir di bibirnya.


"Tidak ada kata maaf diantara kita, ingat itu kan, Gavriel. Cintaku," balas Queeneira lembut, kemudian menyebut Kalimat terakhir cukup dalam hati.


Adegan saling memaafkan yang terjadi di halaman depan, sebenarnya di saksikan oleh tiga orang dari dalam sana.


Mereka tersenyum ketika pasangan sahabat itu akhirnya saling memaafkan, saat kemarin sempat perang dingin.


Jangan kira mereka tidak tahu, bukan kah kemarin sudah di kasih tahu. Jika ini adalah hasil kepo Selyn dengan sepupunya, yang akhirnya merambat kepada orang tua mereka.


"Selesai, hanya tinggal menunggu mereka bersama," bisik Selyn menuai gelengan kepala dari dua orang dewasa di sampingnya.


"Masih kecil, El," sahut Elisa namun berkebalikan dengan suaminya, yang mengadu kepalan tangan dengan anak dari sahabatnya.


"El memang yang terbaik!" seru Faro, kemudian terkekeh bersama anak remaja, yang dulunya sangat nakal kepadanya.


"Tentu saja."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya .....

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2