
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Seminggu lagi adalah hari pertandingan persahabatan, yang akan dilaksanakan di SMA Trisakti dengan peserta dari beberapa sekolah SMA sekota S.
Acara ini juga disponsori beberapa perusahaan ternama, salah satunya adalah perusahaan Wijaya dengan Gavriel langsung yang menghandle.
Dirga sendiri tidak mempermasalahkannya, saat ia sendiri dulunya adalah murid di sekolah tersebut.
Ia memerintahkan Gavriel sebagai penerima, karena ingin tahu pandangan sang anak, terhadap segala macam pengajuan, apakah subjektive atau objektif.
Saat ini, di aula tempat dulu mereka melaksanakan masa orientasi, sedang diadakan gladiresik untuk acara sambutan.
Meski hanya berdiri dan memberi tamu undangan sebuah souvenir, nyatanya dua anak Adam Hawa ini tetap harus melakukan percobaan, saat berdiri dan juga saat berjalan berdampingan dengan kepala sekolah nanti.
Didampingi dengan penanggung jawab acara, yaitu Pak Daniel serta ibu guru muda bernama Jasmine. Gavriel dan Kei berdiri bersisihan, mengikuti instruksi dari dua penanggung jawab ini dengan serius.
"Jadi, nanti Gavriel dan Keineira berdiri di samping kanan-kiri Pak kepala sekolah. Lalu, saat penutupan juga membawa baki untuk penyerahan medali untuk para pemenang. Apa sampai sini paham?"
Pak Daniel dengan lugas memberikan instruksinya, yang dijawab anggukan kepala oleh dua murid yang terlibat.
"Mengerti, Pak!" seru keduanya kompak.
"Bagus, kalian latihan sekali lagi. Saya dan Bu Jasmine ada perlu, kami harus melihat panitia yang lain juga," ujar Pak Daniel sebelum meninggalkan aula, tempat mereka melakukan latihan.
"Baik, Pak!"
"Setelah selesai latihan, dan kalian merasa cukup. Kalian boleh pulang, karena kalian juga anggota penting pertandingan nanti, saya harap kalian bisa membuat sekolah lebih bangga. Paham?" tanya Pak Daniel, menatap dua muridnya berharap.
"Paham Pak, akan kami usahakan," balas Gavriel dengan nada biasa, namun tegas disaat bersamaan.
"Kami akan melakukan yang terbaik," sahut Kei semangat, ikut menimpali perkataan yakin teman sekelasnya.
"Baiklah, saya tinggal dulu. Yuk! Bu Jasmine," ajak Pak Daniel saat dirasa cukup.
"Kalian semangat ya, Ibu sangat berharap dengan kalian. Kami berdua tinggal dulu yah, selamat latihan!" seru Jasmine dengan kepalan tangan di udara.
"Terima kasih, Bu jasmine!" seru mereka kompak.
Sepeninggalnya dua guru pembina mereka, Gavriel dan Keineira pun melanjutkan sesi latihan mereka.
"Jadi nanti, aku yang pegang bunga dan kamu yang pegang medali, gitu kan Gav?" tanya Keineira memastikan.
Gavriel mengangguk, menjawab dengan gumaman kecil. Setelahnya, mereka melakukan lagi latihan terakhir, sebelum hari H.
"Latihan terakhir H-1, kan?" tanya Kei tiba-tiba, membuat Gavriel yang sedang duduk di sampingnya, menoleh dengan alis mengernyit.
"Hn, kenapa?" tanya Gavriel biasa.
"Nggak apa-apa, aku hanya senang bisa berdiri disamping kamu seperti ini," balas Kei dengan senyum kecil.
Gavriel meski tidak tersenyum, sebenarnya juga suka saat merasakan kedekatan dengan teman perempuan barunya.
"Seperti itu?" tanya Gavriel menatap Kei, yang mengangguk semangat, membuat Gavriel terkekeh kecil dengan jawaban antusias teman barunya.
"Tentu saja!"
"Dasar," dengkus Gavriel refleks mengusak rambut Kei pelan.
Deg!
Seketika jantung Kei berdegub kencang, saat akhirnya bisa merasakan usakan rambut oleh Gavriel, hal yang baru ini ia rasakan sejak kedekatan mereka beberapa minggu ini.
Sedangkan Gavriel, ia tidak sadar jika perbuatannya membuat seseorang disana, mengepalkan tangan menahan kesal.
Ya ... Di depan pintu aula sana, ada Queene yang berniat untuk membawakan Gavriel minuman.
Tapi saat melihat sendiri bagaimana kedekatan keduanya, membuat ia merasa kehadirannya hanya akan mengganggu.
Ia baru saja ingin membalikkan tubuhnya, tapi seseorang yang tidak diduganya berdiri di belakangnya, sehingga ia pun tidak sengaja menabrak dada bidang seseorang itu, dengan ia yang terdorong ke belakang sedikit.
Brugh!
"Ouch!"
Pekikan sakit terdengar dari Queene, tapi sayang, yang ditabrak tidak merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Kamu ini yah, selalu ceroboh dengan tindakan kamu. Bisa tidak sehari saja tidak ubrek?"
Queene yang tadinya sibuk menggosok hidungnya dengan menunduk, seketika mengangkat wajahnya.
Ia menampilkan ekspresi kesal dengan mata melotot dan bibir mencebil lucu, saat melihat kakak ketos gelo, yang semenjak ia masuk selalu mengusilinya.
"Apa sih, kakak tuh, yang nggak usah reseh sama aku kali ini aja. Lagian suruh siapa berdiri di belakang aku? Suruh siapa heum?" sembur Queene, sekalian mengeluarkan emosi yang dari tadi dipendamnya.
Kebetulan yang sungguh menyenangkan.
"Lah kok aku, kamu yang nggak lihat-lihat saat berbalik, aku juga yang disalahkan. Dasar perempuan, maunya menang sendiri," balas kakak ketos itu sama sewotnya.
"Wah! Ngajak gelud nih," tantang Queene sambil menyingsing lengan bajunya.
Mode preman on.
Ketos atau juga kakak kelas, dengan nama Rajendra Glen Saputra alias Ge ini, melihat adik kelasnya dengan tatapan geli.
Astaga! Ia tidak menyangka, akan mendapatkan reaksi seperti ini.
Baru kali ini ia menemukan adik kelas unik, seperti adik kelas didepannya, yang saat ini sedang menyingsing lengan baju dan jangan lupa ekspresi wajah kesal lucunya.
Biasanya ia akan mendapatkan pandangan malu, tatapan salah tingkah dan segala macam, dari adik kelas bergender betina.
Tapi lihat ... Ia saat ini malah di ajak gelud.
Bolehkah ia menari hula-hula saat ini juga?
"Boleh, siapa takut," balas Ge menatap Queene dengan dengkusan geli.
Keributan yang terjadi didepan pintu aula, membuat Gavriel dan Keineira yang sedang berbincang, menoleh ke arah asal suara.
Gavriel mengernyit saat melihat seorang perempuan, yang sangat ia kenali sedang berdiri dengan sikap garang, siapa menerkam kakak kelas dihadapannya.
"Queene," gumam Gavriel kemudian berjalan dengan langkah lebar, menghampiri pintu tempat sahabatnya berdiri.
Meninggalkan Kei, yang lagi-lagi merasa kesal, saat ditinggal begitu saja sendiri.
"Jangan menyesal yah, kalau wajah sok kamu itu berwarna-warni!" seru Queene tidak takut.
Ge hampir saja tergelak dengan reaksi unik adik kelasnya, dan baru saja ia ingin membalas perhatian adik kelas ubreknya, seseorang adik kelas lainnya, menginterupsi dengan tangan menutup mata si adik kelas ubrek, Queene.
"Ada apa?" tanya Gavriel menatap kakak kelasnya datar.
"Gavriel," bisik Queene saat matanya ditutup lembut oleh sahabatnya.
Seketika Queene merasa aneh, saat merasakan atmosfer yang dikeluarkan oleh sahabatnya.
"Tidak ada apa-apa, santai saja," balas Ge balik menatap Gavriel tidak takut.
"Kalau begitu lupakan, jika Que punya salah,"ujar Gavriel menatap kakak kelasnya masih dengan ekspresi awal.
Ge mengangkat sebelah alisnya, saat melihat reaksi berlebih pada adik kelas laki-laki, yang ia ketahui adalah sahabat dari adik kelas ubreknya.
"Segitu overprotektivnya," batin Ge tidak suka.
Ia tiba-tiba tersentak, saat sadar akan pikiran tidak sukanya.
"Untuk apa?" Pikirnya bingung.
"Oke, Gue nggak masalah. Gue lupain semuanya," balas Ge dengan bahu terangkat tak acuh.
Bahkan ia tidak sadar, berbicara dengan bahasa lain dihadapan adik kelas laki-lakinya.
Ia hanya merasa tidak perlu lembut, jika itu bukan seseorang yang ia ingin atau yang ia suka.
"Hn."
Ge hampir saja berdecih kesal, saat mendengar balasan berupa dua huruf, dengan arti yang sama sekali tidak dimengertinya.
"Kita masuk," ajak Gavriel menggenggam tangan sahabatnya lembut, yang dituruti dengan segera tanpa protes dari yang digenggam.
Sepeninggal dua adik kelasnya, Ge pun ikut meninggalkan pintu aula, menuju pintu yang lainnya, tepatnya pintu ruang OSIS, tempat anggota OSIS akan mengadakan rapat.
"Kok gue nggak suka yah, lihat mereka gitu," gumam Ge, kemudian menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala pikiran anehnya.
"Terserah aja dah," lanjutnya dengan bahu terangkat.
Kembali pada Queene dan Gavriel, yang saat ini sedang jalan menghampiri Kei.
"Gavriel, aku takut ganggu latihan kamu," bisik Queene, saat ia di tarik menuju Kei, yang melihat ke arahnya dan Gavriel bergantian.
Ia tahu jika anak perempuan seumuran dengannya ini pasti memiliki rasa, terhadap sahabatnya yang memang memiliki sejuta pesona.
__ADS_1
Bahkan ia juga mulai menyadari perasaan anehnya adalah perasaan suka, bukan suka terhadap sahabat, tapi suka dengan lawan jenisnya.
Queene mencoba melepaskan genggaman tangan sahabatnya, saat melihat jika teman perempuannya, masih menatap ke arahnya dengan pandangan aneh.
Ia perempuan, ia tentu tahu apa maksud tatapan itu, karena ia pun terkadang mengeluarkan tatapan itu, saat sahabatnya dekat dengan orang yang sedang menatapnya saat ini.
Gavriel, yang merasa sahabat perempuannya ingin melepaskan genggaman tangannya, tentu saja tidak membiarkannya.
Ia berhenti dari jalannya, untuk mendudukkan sahabatnya yang menurut saja, sedangkan ia sendiri segera berjongkok, dihadapan sahabatnya yang balik menatapnya.
"Kenapa?" tanya Gavriel tidak mengerti.
"Apanya, yang kenapa?" tanya Queene sama tidak mengertinya.
Ia menatap dengan kening berkerut, membuat Gavriel pun menghela napas saat sahabatnya ternyata bingung.
"Kenapa kamu mencoba melepas genggaman tangan aku?" tanya Gavriel dengan satu kali tarikan napas.
Seketika ia merasa tidak suka, saat sahabatnya tidak menginginkan genggaman tangannya.
"Aku bisa berjalan sendiri," balas Queene dengan sikap tenang.
"Seperti tidak biasa saja," tandas Gavriel menatap tajam sahabatnya.
Apa yang salah dengan genggaman tangannya, apa Queene tidak suka lagi dengan genggaman tangan darinya.
"Maaf," gumam Queene takut, saat mendengar nada tajam dari sahabatnya.
Baru ini, ia mendengar nada berbeda dari seorang Gavriel dan entah mengapa, ia takut jika ia salah sangka lagi.
Gavriel sendiri kaget, dengan sikapnya yang berbeda dengan sahabatnya.
Seharusnya ia tidak mengeluarkan kata-kata dengan nada tajam, sehingga membuat sahabatnya takut seperti itu.
"Maaf, bukan maksud aku seperti ini. Tapi aku tidak suka, saat kamu mencoba melepasnya. Bukankah kita sudah biasa seperti ini?" tanya Gavriel dengan sorot mata menyesal.
"Sudah biasa yah," batin Queene salah paham.
Jadi sebenarnya, jika bukan karena sudah biasa, sahabatnya tidak akan menggenggam tangannya seperti tadi.
Seketika hatinya sedih, saat ia merasa jika Gavriel menegaskan hubungan mereka.
"..."
Diam ... Seorang Queeneira tidak bisa menjawab perkataan sahabatnya, saat ia merasa jika nanti perasaannya hanya akan menyiksanya.
Sedangkan Gavriel sendiri bingung dengan emosinya, biasanya ia akan lembut dan memperlakukan sahabatnya biasa.
Tapi ini apa, ia bahkan marah dengan kedekatan biasa saja, dari sahabat dan kakak kelasnya.
"Sebenarnya ada apa denganku," batin Gavriel bingung.
"Queene, lupakan yang tadi oke. Tadi kamu kenapa?" lanjut Gavriel saat tidak ada jawaban dari sahabatnya.
"Tidak ada apa-apa," balas Queene berbohong.
"Que, jangan berbohong didepanku," ujar Gavriel tegas.
Tidak ingin membuat sahabatnya semakin mencurigainya, Queene pun menepuk pipi sahabatnya lembut, sebagai pengalihan dari rasa penasaran seorang Gavriel Wijaya.
Ini adalah cara yang sama, saat sang Mommy mengalihkan pembicaraan dengan sang Daddy.
Tidak banyak yang tahu, bahkan Queene pun sebenarnya hanya refleks melakukannya.
"Tidak ada apa-apa, percayalah. Aku tadi hanya sedikit kesal dengannya," gumam Queene menatap lembut sahabatnya, yang akhirnya mengangguk.
Sebenarnya ini adalah rasa luluh, yang belum disadari oleh keduanya.
"Baiklah .... Tapi, kalau ada apa-apa, kasih tahu aku, yah," balas Gavriel mengalah, dengan perasaan aneh, saat ia begitu saja luluh akibat tepukan lembut pada pipinya.
"Perasaan apa ini?" batin Gavriel bertanya.
Keineira melihatnya dengan hati terbakar, meskipun nampak biasa saja diluar, dengan raut wajah biasa pula.
Nyatanya .... Tangannya mengepal, untuk menetralkan rasa cemburunya.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah selanjutnya ...
Sampai babai.
__ADS_1