
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Hari berganti dengan cepat, setelah kejadian memalukan bagi Queene dengan tersangka seorang Ezra.
Kini ia sudah kembali sehat, saat itu sudah di laluinya.
Aish! Ia sungguh malu luar biasa, saat sahabat laki-lakinya bertanya dengan polos, apa itu dismenore lengkap dengan wajah tidak berdosanya.
Oke ... Lupakan itu semua, ia malu tapi senang juga, saat melihat cap merah di kening, ketika sahabatnya terkena lemparan telak darinya.
Ia saat ini sedang jalan menuju kantin, sendirian, saat dua sahabatnya ada kegiatan kumpul ekskul yang mereka pilih.
Hari sabtu hanya belajar setengah hari, sisanya akan di habiskan dengan kegiatan ekstra kulikuler lainnya.
Ia juga sedang ada kumpulan, tapi pembina dari ekskulnya sedang di panggil dan mereka diizinkan untuk membeli makanan atau minuman.
Emh ... Sebenarnya ia tidak benar-benar sendiri, ada temannya yang juga satu ekskul serta satu kelas juga dengannya, ikut setelah ia mengizinkan dia jalan dengannya.
Ia juga memiliki beberapa teman perempuan, tapi hanya sekedar kenal, karena ia selalu menghabiskan waktu dengan dua sahabat laki-lakinya.
Tapi, semenjak merek aktif dengan kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah, ia jarang bersama dua sahabat laki-lakinya seperti dulu.
Baik Gavriel maupun Ezra, setelah pulang sekolah akan lanjut bekerja di perusahaan keluarga masing-masing.
Apalagi Gavriel yang di percaya magang di kantor milik Opa Fandi, di hotel milik keluarga Wicaksono.
Belum lagi sahamnya yang sudah mulai ia kendalikan, tepatnya saham yang ada di Eropa di pabrik coklat.
"Queeneira!"
"Queene." sahutnya cepat.
"Hah?"
"Panggil aku Queene saja, terlalu panjang jika kamu panggil aku Queeneira. Oke?" jelas Queene dengan senyum bersahabat.
"Baiklah, panggil aku Syasa saja. Oke?" sahutnya balas dengan senyum senang.
"Tentu saja, Syasa!"
"Em ... Ngomong-ngomong." gumam Syasa ragu.
"Ya?" tanya Queene penasaran, saat mendengar nada ragu dari teman barunya.
"Itu ... Kamu tahu tidak, kabar kedekatan Gavriel dan Keineira?" tanya Syasa tidak enak.
Biar bagaimana pun orang yang sedang ia ajak bicara adalah sahabat, dari orang yang akan dibahasnya.
Ia melirik sebentar ke arah Queene, yang mengerutkan kening berpikir.
"Kedekatan bagaimana?" tanya Queene penasaran.
Ia melihat Syasa yang juga melihatnya, Syasa ikut berhenti di depan pintu kantin, saat Queene menghentikan langkahnya.
"Ya dekat, ini di mulai saat olahraga sih. Waktu kamu sakit itu," balas Syasa menjelaskan.
Deg!
Ia ingat saat itu, saat ia melihat sendiri bagaimana sahabatnya dan juga teman sekelasnya berdiri bersisian, sebelum ia di bawa ke UKS oleh sahabatnya pula.
"Emang kenapa?" tanya Queene tidak siap, tapi tetap bertanya dengan jantung berdetak kencang.
Ia meminta, jika apa yang akan di dengarnya bukan lah hal yang begitu penting.
"Mereka kelihatan akrab sekali, padahal yang aku perhatikan selain kamu, tidak ada siswi lain yang bisa dekat dengannya."
Perasaan cemburu mampir lagi dengan kurang ajar, di dalam hati dan pikirannya saat mendengar penjelasan teman di hadapannya.
"Apa menurutmu seperti itu?" tanya Queene mencoba untuk biasa saja.
"Em... Semua murid di sekolah, malahan ada yang mendukung hubungan keduanya, yah meski ada juga yang tidak sih," balas Syasa memberitahu lagi satu fakta, yang entah kenapa ia sendiri belum tahu.
Emang sih ia perhatikan jika keduanya dekat akhir-akhir ini, terlebih basket dan cheerleaders tidak bisa di pisahkan.
"Seperti itu? Aku malah tidak tahu," ujar Queene apa adanya.
__ADS_1
Ia kembali melanjutkan jalannya, memasuki kantin dan memesan makanan sesuai seleranya.
Sebenarnya ia tidak ingin makan ini, tepatnya ia tidak berselera setelah ia mendengar fakta baru, tapi entah kenapa ia memesannya dan tetap memakannya meski tidak habis.
Di tempat lain, tepatnya di stadium olahraga indoor milik sekolah Trisakti, sedang di adakan latihan biasa dengan anggota baru.
Kali ini Gavriel dan Ezra menjadi anggota untuk tim kelas 10, dengan Gavriel dan Ezra mengisi posisi wing.
Pertandingan ini tidak lah serius, hanya untuk mengukur kemampuan anggota baru.
Pak Daniel selaku guru olahraga dan pembina basket, tentu sudah dulu melihat potensi yang dimiliki pasangan sepupu ini.
Maka saat pertandingan selesai, dengan segera Pak Daniel memasukan Gavriel dan Ezra sebagai pemain.
Ezra yang merasa keberatan tentu saja protes, sudah ia katakan sebelumnya jika ia hanya ingin bermain biasa, tapi jika sesekali dan bukan lomba yang memakan waktu lama, ia akan setuju saja.
Untunglah setelah penjelasan singkat darinya, Pak Daniel mau menerima alasan, begitu juga dengan Gavriel yang mengikuti jejak sepupunya.
Tapi Gavriel tidak bisa membantah, ketika diminta untuk mengisi posisi small forward, saat pertandingan persahabatan antar sekolah, bulan yang akan datang.
Sedangkan di sisi lainnya, ada anak-anak anggota cheersleader yang juga berlatih, dengan anggota baru kelas satu pilihan.
Di antara para anggota baru ada Kei, yang memperlihatkan kepiawannya dalam hal atletik.
Dengan lentur ia mengangkat kaki hingga mencapai dahi, lalu mengangkat kebelakang hingga tubuhnya melengkung.
Tentu saja ia bisa melakukannya, baginya gerakan ini adalah gerakan dasar, saat ia menampilkan rolling belakang dua kali di sekolahnya dulu.
Kegiatan para cheersleader ini di saksikan bukan hanya oleh murid yang sengaja, melainkan anggota klub basket, yang bisa istirahat saat pelajaran mereka selesai hanya menunggu waktu pulang.
Gerakan-gerakan energic yang di tampilkan para anggota, membuat tepuk tangan dan juga siulan semangat bergema, di stadium indoor milik sekolah mereka.
Gavriel dan Ezra juga turut melihat, saat teman yang di kenalnya tampil memukau.
Mereka melihat dengan ekspresi kagum, saat Kei menampilkan akrobatnya sekali lagi sebagai penutup dari gerakan.
Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan tidak hentinya berkumandang dengan nama Queen mereka, yang saat ini sedang mengelap keringat di lehernya dengan gerakan, yang mengundang siulan dari para siswa fansnya.
"Astaga, lelaki zaman sekarang," gumam Ezra menuai dengusan dari sepupunya.
"Emang kamu bukan lelaki?" tanya Gavriel sarkas, menuai jawaban cepat dari Ezra yang tidak terima.
"Nah! Artinya kamu sedang mengejek diri sendiri," balas Gavriel santai, kemudian berdiri dari duduknya, berjalan pelan menuju tas olahraganya berada.
Ia membuka tasnya, hendak mengambil handuk kecil miliknya.
Saat ia menunduk, dari arah samping terulur minuman isotonik ke arahnya, dengan tangan putih yang memegangnya.
Ia pun segera menoleh dan menemukan teman sekelasnya, yang tersenyum kecil ke arahnya.
"Buat kamu!"
"Thanks!"
Gavriel pun menerimanya, lalu kembali mengambil handuk dan segera mengelap keringat di lehernya.
Ia membuka minuman tersebut, kemudian mendesah lega saat tenggorokannya segar tersiram air dingin dari minuman kaleng yang tadi dibukanya.
"Kamu hebat," gumam Kei, masih berdiri di depan Gavriel, yang meminum minuman darinya santai.
"Aku?" tanya Gavriel menuai anggukan dari Kei sebagai jawaban.
"Tapi menurutku, kamu lebih hebat. Jago," ujar Gavriel memuji, meski nada suaranya sama sekali tidak berubah.
"Ah! Itu tidak ada apa-apanya," elak Kei dengan tangan terayun cepat.
"Tidak, bagiku itu hebat," ujar Gavriel meyakinkan.
"Ha-ha-ha, kamu bisa saja."
Kei yang mendapat pujian dari laki-laki di depannya, tertawa renyah dan tersenyum salah tingkah, membuat Gavriel ikut tersenyum kecil.
"Oh iya, bagaimana kabar pacar kamu?" tanya Kei tiba-tiba, membuat Gav tersedak dan Kei yang segera menepuk punggung Gavriel khawatir.
Uhuk!
Puk! Puk! Puk!
"Gav, hati-hati!"
__ADS_1
Uhuk!
Di sisi berbeda, Ezra yang di tinggal sepupunya sendiri memilih untuk duduk saja, saat ia melihat teman perempuan sekelasnya, menghampiri sepupunya.
Ia tidak ingin mengganggu, apalagi saat melihat keduanya santai dan terlihat akrab.
Ezra yang menghadap sang sepupu tidak sadar, ada seseorang yang berjalan ke arahnya dan menepuk punggungnya pelan.
Puk!
"Akh!"
"Que!"
Ezra kaget seketika, saat sahabat perempuannya ada di belakangnya.
Ia segera meliha ke arah Gavriel yang saat ini sedang di tepuk-tepuk punggungnya oleh teman sekelasnya, lalu kembali melihat sahabat perempuannya, yang juga melihat ke arah sepupunya dengan pandangan yang sulit di artinya.
Dalam hati ia sudah merapalkan mentra pengusir hantu, saat melihat tatapan aneh dari sahabatnya, si preman kesayangan mereka.
"Que."
"Aku sebaiknya kembali ke klub, sampai jumpa nanti Ezra. Kita bareng yah."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ezra pun hanya mampu terdiam saat Queene meninggalkannya, melihat antar Queene dan sepupunya bergantian.
"Ah! Apa lagi ini," gumamnya pusing sendiri.
Kembali pada Gavriel, yang saat ini sudah selesai dengan tersedaknya.
Ia sama sekali tidak mengetahui kedatangan sahabat perempuannya, karena ia sendiri posisinya sedang memunggungi kedua sahabatnya.
"Kamu sudah baikan?" tanya Kei khawatir.
Gavriel mengangguk dan mengayunkan tangan tanda tidak apa-apa, lalu berdehem untuk menghilangkan sakitnya.
Ehem!
"Iya, aku sudah tidak apa-apa."
"Syukurlah," desah Kei lega.
"Kamu kenapa bisa sampai tersedak gitu?" tanya Kei penasaran.
Gavriel hanya menggelang kepala, alih-alih membalas pertanyaan dari Kei.
Ia merasa lucu, saat ada seseorang yang percaya akan tingkah usil adik kesayanganya.
"Lalu?"
Gavriel baru saja akan menjawab, tapi sayang ucapannya harus di telan lagi saat pembina mereka memanggil, karena waktu istirahat habis.
"Seb-
Prit!
"Kumpul semua!"
"Ah! Aku harus segera pergi," lanjut Gavriel melirik klub dan Kei bergantian.
"Tapi ..."
"Nanti lagi yah, kamu bisa kirim aku pesan. Oke?" ujar Gavriel sebelum meninggalkan Kei yang tersenyum kecil.
"Baiklah," balas Kei melihat ke arah dimana Gavriel pergi dengan bahagia.
Ia di perbolehkan menghubungi Gavriel, bagaimana ia tidak senang.
"Bisakah aku dekat dengannya," batinnya kembali pada perkumpulan klubnya.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Note:
Wing adalah istilah yang digunakan untuk menyebut pemain basket yang berposisi di parimeter area. Biasanya pemain di posisi ini dihuni oleh dua tipe pemain yakni Small Forward dan Shooting Guard.
♦️♦️♦️♦️
Bagaimana dengan Queene?
__ADS_1
Ikuti terus kisah selanjutnya ....
Sampai babai.