
Happy reading vrohh
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Penginapan Dirga
Seperti biasa pagi ini Dirga sedang berolahraga berlari santai di sekitar penginapannya.
"Udara segar, santai tanpa gangguan asap kendaraan, nikmat sekali hidup ini!" seru Dirga senang.
Jujur saja Ia jarang mendapat waktu berkualitas santai seperti ini jika ada di kota.
Merasa cukup memutari beberapa kali halaman penginapannya, Dirga memutuskan untuk istirahat sejenak dan beralih untuk melakukan kegiatan lain, seperti push-up dan angkat beban untuk melatih otot lengannya.
Hosh! .... Hosh! ....
Helaan nafas lelah Dirga yang tidak beraturan menjadi iringan di setiap gerakan nya.
"Sudah siang aja," gumam Dirga..
Matahari yang mulai naik menerangi halaman penginapan membuat Dirga menghentikan kegiatan olahraganya.
Ia berjalan ke arah meja kemudian membuka dan meminum air isotoniknya.
Dirga menyeka keringat yang mengalir di dahi hingga lehernya, ia tidak tahu jika ada Seorang pelayan yang kebetulan baru datang dan ingin lewat masuk kedalam penginapannya, sedang memerhatikannya dengan tatapan terpesona.
"Ohhh ... Tuan muda Wijaya memang paling tampan, lihat lengannya yang kekar ... aduh apa yah, yang ada di balik baju yang di pakainya. Huh andai Aku bisa menjadi wanitanya, jadi simpanan juga rela, ..." batin Pelayan itu nista.
Dirga menolehkan kepala ke arah pintu masuk dan mendapati seorang pelayan sedang melihatnya dengan tatapan lapar, dirga mengernyit dahi heran campur jijik
"Bagaimana bisa ada cewek nggak punya harga diri, dengan memandang lawan jenis seperti itu**!" batin Dirga jengkel.
Merasa cukup di pandangi dengan tidak sopan, Dirga berdehem membuat Pelayan tersebut tersentak kaget.
"Ehem ...."
"Siapa Kamu, Saya belum pernah liat Kamu sebelumnya" tanya Dirga dingin.
__ADS_1
"Selamat pagi, anu Tuan Wijaya saya Rani anaknya ibu Wati, Saya menggantikan Ibu kerja hari ini, karena Ibu sedang sakit " jawab Rani dengan nada takut kentara.
"Suaranya bikin merinding, tapi tetap saja tampan mah bebas ..." Lanjutnya dalam hati
Dirga Melihat pelayannya dari atas ke bawah, membuat Rani yang di pandangi pun menjadi salah tingkah.
"Oh Tuhan, kenapa Tuan Wijaya melihat saya seperti itu, apa Dia menyukai saya?" batin Rani narsis.
Di saat sedang melamunkan khayalannya, Rani di kagetkan Dengan deheman Dirga untuk ke dua kalinya.
" Ehem ... Kenapa Kamu melamun? "
"Kesambet nih anak orang," lanjut Dirga dalam hati
"Ah, maaf Tuan ... " ujar Rani meminta maaf lalu menundukkan kepalanya malu.
Wajahnya merona saat memandang wajah Tuannya, apalagi saat matanya tidak sengaja melihat ke arah kaos putih setengah basah karena keringat, yang sedang di pakai Sang Tuan mencetak dengan jelas perut sixpack milik Tuannya.
"Kedepannya kamu jangan berbuat tidak sopan, memandangi apa yang tidak seharusnya Kamu pandangi adalah perbuatan buruk ,saya majikan kamu. Ingat batasan kamu, hari ini saya memaafkan Kamu karena Kamu baru. Jika nanti ada kejadian yang kedua kalinya, mau Kamu anak Ibu Wati atau presiden sekali pun Saya tidak akan memaafkanya, Saya tidak suka ada orang yang melihat Saya dengan tatapan seperi itu. Sekarang Kamu masuk bersihkan secepatnya dan kemudian pergi jika pekerjaan Kamu sudah selesai. Paham!" ujar Dirga panjang lebar dengan nada dingin.
Ia merasa kecolongan karena di depan matanya sendiri, ada Orang yang memandangnya dengan tatapan menelanjangi.
"Paham Tuan ... Maafkan saya!" ujar Rani menjawab dengan terbata pertanyaan dari Dirga.
Rani merasa takut Orang tuanya akan kehilangan pekerjaan.
"Bodoh sekali, beraninya Aku berfikir yang tidak-tidak terhadap Majikan sendiri, apalagi itu Tuan muda Wijaya, orang yang di kenal dengan pribadi yang arogan dan dingin," batin Rani merutuki fikiran bodohnya.
Ia lupa akan fakta bahwa Tuannya adalah pria yang tidak tersentuh, di kenal tidak mempunyai perasaan terhadap Wanita, bahkan anak dari pejabat serta artis sekalipun tidak mampu membuat Dirga luluh.
"Ternyata ini bukan hanya gosip belaka," batin Rani merinding.
Sambil menahan laju air mata dan malu, Rani tergesa undur diri dan bekerja secepat dan serapih mungkin, agar Tuan muda-nya tidak marah, apalagi sampai memecat Ibunya nanti.
Dirga berbalik ke arah taman dan mendudukan diri di kursi, mengambil Handphone yang ia letakan di atas meja taman, lalu menekan tombol dial satu di mana nomor Kiara lah yang terpampang di layar Handphonenya.
Tuut! ... tuut! ...
__ADS_1
Nada sambung akhirnya terdengar, Dirga dengan sabar menunggu hingga nada panggil ke lima baru di terima.
"Halooo .. "
Suara khas bangun tidur adalah suara yang pertama Ia dengar setelah terima, Dirga tersenyum mendengarnya lalu mulai menggoda Kiara di ujung sana.
"Sepertinya Gue punya hobby baru ni ... Menggoda kucing baru bangun ... Khe-he," batin Dirga sadis.
"Kucing pemalas ,belum bangun juga,heum? " tanya Dirga meledek.
"Ehhhh!!!!"
Teriakan kaget dari Kiara, membuat Dirga menjauhkan handphone dari telinganya.
Pftttt ... Ha-ha-ha ... Dirga tertawa lepas saat mendapatkan reaksi lucu dari Kiara.
"Gemesin banget sih**! " batin Dirga senang.
Rani mengintip dari jendela penginapan karena mendengar tawa dari Tuan muda-nya.
"Siapa yang di telpon Tuan, kenapa Tuan bisa tertawa seperi itu" gumam Rani penasaran.
"Sepertinya orang spesial Tuan deh," Lanjutnya.
Rani menggelengka kepala cepat dan memukul kepalanya pelan, guna menghilangkan rasa penasarannya.
"Ah ... Terserah, Aku seharusnya tahu diri, apalah Aku cuma orang susah," Lanjutnya sadar diri.
"Siapa pun orangnya pasti dia wanita cantik dan berkelas" Batinnya.
Rani pun Melanjutkan Pekerjaannya kemudian mencoba untuk tidak melupakan dan menganggap bahwa kejadian pagi ini tidak terjadi.
"Nasib baik nggak langsung di pecat, huft ..."
\=\=\=\=
Ada dua kucing ternyata, satu yang tergoda dan satu yang di goda ahaha ...
__ADS_1
Hatur nuhun