
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Long ping, Yuen Long, New teritori.
Di jendala kamar di kediamanan dari kakek dan nenek Queeneira. Ada Gavriel, yang sedang berdiri dengan kepala menengadah, melihat langit malam di atas sana.
Langit kota Long Ping, dengan udara dingin berbeda yang di hirupnya saat berada di negara asalnya.
Saat ini ia masih belum bisa menghubungi kedua orang tuanya, yang sedang berada dalam pesawat menuju kota paris sana.
Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam, namun ia masih terjaga dari tidurnya.
Ia menoleh ke arah belakang sana, tepatnya ke arah ranjang susun, tempat sepupunya yang kini sudah tertidur pulas.
Sehabis dari kamar sahabat perempuan serta adiknya, mereka segera beristirahat untuk besok memulai liburan mereka.
Pikirannya masih melayang, kebeberapa waktu yang lalu, tepatnya saat ia dan sepupunya melihat-lihat foto masa kecil sahabat perempuannya, Queeneira.
Entah kenapa, semenjak waktu itu, tepatnya saat ia melihat kedekatan sahabat dan kakak kelasnya, ia merasakan perasaan berbeda, saat memandang sahabatnya.
Dulu, ia merasa biasa saja, meskipun jantungnya berdebar, tapi sekarang lebih nyata. Jantungnya juga berdebar, saat ia bersama teman perempuan satunya, tapi rasa debarannya berbeda.
Gavriel pov on
Saat ini aku sedang memandang langit di atas sana, langit dengan warna hitam tanpa bintang, sambil menenangkan pikiran yang entah kenapa menjadi kacau.
Bukan kacau, tapi entah lah, aku pun tidak dapat menjelaskannya.
Aku malu, saat aku mengingat kejadian di meja makan, tepatnya saat aku dengan percaya diri memuji hasil masakan lezat, yang aku kira adalah hasil dari Nenek Nena, nenek dari sahabatku.
Sumpah demi apapun, aku merasa seperti sedang menggali kuburanku sendiri, saat aku mendapatkan siulan menggoda dari sepupuku, belum lagi dari kakek sahabatku yang santai memberiku restu.
Aku bukannya marah akan siulan itu, jusrtu aku tidak enak dengan sahabat perempuanku, bagaimana kalau dia ternyata tidak menyukaiku, terlebih aku sendiri sedang tidak fokus akan perasaanku.
Sudah aku bilang, jika aku ingin membuktikan dulu keyakinan akan perasaanku, jadi saat aku yakin jika salah satu di antara mereka adalah debaran nyata yang selama ini aku cari, maka dengan atau tanpa mereka menyukaiku, aku akan memperjuangkan rasa itu.
Aku bukannya tidak tahu akan kode yang selalu di layangkan untukku, aku hanya tidak ingin persahabatanku dengannya berubah, karena rasa pribadi yang belum tentu abadi.
Aku takut jika saat aku mengikuti kode itu, ternyata perasaanku kepadanya bukan lah rasa yang seperti mereka harapkan. Aku juga takut justru aku hanya akan menyakiti hati sahabatku, jika aku memaksakan kehendak akan perasaanku yang belum jelas ini.
Saat di dalam kamarnya pun, sebenarnya aku belum siap untuk bertemu muka dengannya, tapi sekali lagi aku berpikir. Jika aku menghindarinya, hanya karena masalah di meja makan, aku takut ada kesalahpahaman lagi, yang akan terjadi jika aku menghindarinya.
Cukup saat aku kesal akan ucapan candaannya saja, aku jadi bodoh dan marah, sehingga berbuat seenaknya, dengan rencana seenaknya pula.
Menghindarinya hanya untuk meyakinkan perasaan pribadi, sedangkan aku sendiri marah saat di hindari olenya, oh Tuhan ... Egois sekali aku.
Huft ...
Entah sudah berapa kali aku menghela napas, yang pasti aku sendiri enggan untuk menghitungnya.
Oke, yang perlu aku lakukan adalah lupakan masalah di meja makan, aku tidak ingin acara jalan-jalan besok terganggu, karena canggung dari kami dan berujung dengan canggung di antara adik serta sepupuku.
Lalu, soal pujianku. Itu sebenarnya berasal dari alam bawah sadarku, murni karena hatiku. Karena apa, karena memang dia adalah perempuan paling cantik, yang dari dulu hingga sekarang menempati posisi penting di hatiku.
Shining ...
Adalah julukan dariku untuk dia, dia yang selalu bersinar di hadapanku. Sinar yang entah bisa atau tidak aku gapai untuk diriku sendiri, tanpa bisa di bagi atau pun di lihat orang lain.
Hanya untukku.
Oh iya ... Sudah pukul berapa ini?
Coba aku lihat ...
Sepertinya aku terlalu lama melamun, sampai tidak terasa waktu mendekati pukul dua dini hari.
Sebaiknya aku tidur, besok aku harus bisa memasang topengku sebaik mungkin, jangan sampai dia merasa aneh, saat dia ingat perkataan dariku pagi tadi.
Gavriel pov end
Normal pov
Skip
Pagi hari tiba dengan cepat, suhu negara Hong Kong di pertengahan tahun sedikit panas, saat beberapa bulan yang lalu suhu hampir di bawah 19°.
Di kamar dengan berisikan dua remaja perempuan, ada salah satu dari mereka yang sudah terbangun dari tidurnya.
Matanya berkedip, saat bangun dari tidurnya dan melihat ke samping, tepatnya ke arah adiknya yang masih lelap dalam tidurnya.
Tidak ingin membangunkan adik, Selyn. Queeneira yang lebih dulu bangun, bangkit dari rebahan nya, kemudian berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar.
Angin dengan udara hangat menyapa wajah ayunya, senyum manis terukir di bibirnya saat ia membisikkan salam. Ia berdoa kepada Tuhan, untuk bukan hanya paginya yang akan cerah, tapi hari-harinya ke depan saat liburnya bersama mereka pun akan selalu cerah.
"Cou san, Hong Kong. (Selamat pagi, Hong Kong)"
Queeneira pov on
Pagi ini sangat cerah, dengan udara hangat menyapa, menerpa wajahku dengan semilir angin sepoy-sepoy.
Sampai detik ini aku belum bisa menghubungi Baba dan Mama, sebab perjalanan mereka lebih lama di bandingkan aku.
__ADS_1
Huft ... Aku harap mereka baik-baik saja, selamat sampai tujuan, juga bisa menikmati liburan sama seperti diriku, yang menikmati kebersamaanku dengan orang aku sayangi.
Langit cerah di atas sana, mengingatkan aku akan warna kesukaan seseorang, ayo coba tebak siapa.
Dia.
Betul sekali, warna biru langit adalah warna favoritnya, warna yang aku jadikan warna favoritku juga.
Jika memikirkan dia, aku jadi sedikit khawatir saat nanti aku mengalami patah hati, tapi saat mengingat perilakunya akhir-akhir ini, boleh kah aku selalu berharap.
Berharap akan perasaanku dan perasaannya sama.
Tadi malam aku sungguh kaget akan pujian darinya, yang tiba-tiba saja keluar dari lisannya. Padahal selama ini dia tidak pernah memuji seseorang, tapi elakkannya juga membuatku muram disaat bersamaan.
Oke lupakan, yang penting aku tahu, jika dia menganggapku perempuan yang cantik. Titik.
Hari ini aku tidak boleh membuat suasana canggung, hanya karena kejadian semalam. Aku harus membuat liburan kami menyenangkan, apalagi ini adalah perdana kami libur tanpa pengawasan.
Aku tidak mau suasana yang seharusnya menyenangkan, berubah canggung hanya karena masalah pribadiku dan pribadinya.
"Oke, sebaiknya aku cuci muka dan menyiapkan sarapan."
Aku pun melangkahkan kakiku, ke arah kamar mandi untuk mengganti baju tidurku.
Tidak butuh waktu lama bagiku mencuci muka dan mengganti bajuku, kemudian keluar dan menemukan Selyn yang duduk dengan wajah bantalnya.
"Selamat pagi, Selyn!" sapaku ceria.
Aku melanjutkan langkah kakiku, ke arah cermin untuk merapihkan rambutku.
"Pagi, Mba Que. Sudah cantik saja, El bahkan masih bau iler."
Aku hanya terkikik saat mendapatkan balasan, dengan nada serak dari adik sahabatku.
"Kalau begitu cuci muka, lalu ganti baju. Hari ini kita ke taman strawberry. Bagaimana, setuju?"
Aku bisa melihat Selyn yang mengangguk dengan semangat, dari pantulan cermin di hadapanku saat ini.
"Tentu saja setuju! Kalau begitu, El cuci muka dan ganti pakaian dulu. Oke Mba!"
"Oke," sahutku, kemudian aku mendengar debaman pintu dengan Selyn yang memasuki kamar mandi dengan semangat.
"Dasar, selalu semangat."
Aku pun bergegas menyisir rambutku, kemudian keluar kamar dan harus terdiam, saat di depan kamarku ternyata ada dia.
"Selamat pagi, Que!" sapanya seperti biasa.
Dia tersenyum dengan senyum tipis seperti biasa pula, tapi bagiku itu adalah senyum paling mempesona, di pagi hari perdanaku di negara Hong Kong.
Dia mendekatiku dan berdiri di hadapanku, dari sini aku bisa menghirup aroma khasnya, aroma maskulin kesukaanku.
"Queene."
Aku terdiam saat dia memanggil namaku dengan bisikan lembut seperti itu, membuat sesuatu dalam dadaku serasa ingin melompat, sangking lembutnya dia memanggil namaku.
Aku bergeming, saat dia mengangkat tangannya ke arah kepalaku, lalu menyematkan rambutku ke belakang telingaku.
"Sisir yang rapih, aku suka rambutmu," bisiknya, kemudian berbalik memunggungiku.
Deg!
Apa ini?
"Dan jangan lupa bawa ikat rambut, oke," lanjutnya dan meninggalkanku, berdiri sendiri di depan kamar dengan jantung berdegub berlebih.
"Gavriel."
Aku hanya bisa berbisik lirih, melihatnya yang semakin berjalan menjauhiku.
Baju hitamnya, membuat penampilannya semakin memukau.
Astaga!
Aku yakin jika wajahku saat ini berwarna merah, aku pun memegang pipiku dan memejamkan mata sejenak.
"Jangan begini, aku takut jika aku tidak bisa melepasmu."
Queeneira pov end
Normal pov on
Sarapan sudah mereka lalui bersama, seperti biasa dengan suasana ceria, saat nenek dan kakek Queeneira senang, ketika meja makan mereka ramai karena kehadiran empat remaja sahabat dari cucunya.
Di depan pintu rumah, mereka berdiri menghadap dua orang paruh baya, untuk berpamitan pergi ke tempat tujuan pertama mereka.
"Amuy, masih ingat naik teng-teng nomor berapa nanti?" tanya Nena kepada Queeneira yang mengangguk kepala kecil.
"Masih Nek, hanya melewati beberapa stasiun, terus sampai deh!" seru Queeneira ceria, membalas pertanyaan sang nenek.
"Tunggu di stasiun Hong Lok road, jalan kaki sebentar dari sini," ujar Nena mengingatkan sang cucu.
"Hai lah, Bobo. Ngo cito, (Iya, Nek. Saya tahu)" sahut Queene dengan senyum geli.
Ia tahu sang nenek sangat mengkhawatirkan mereka, sehingga perkataan pagi ini selalu di ulang-ulang.
__ADS_1
"Ya sudah, selamat bersenang-senang!"
"Tentu saja, Bobo!"
Dengan begitu mereka pun memulai perjalanan mereka, dengan tujuan kebun strawberry yang ada di *** Thong Sang road, Yuen Long.
Setelah berjalan kaki sekitar lima belas menit, akhirnya mereka sampai di stasiun Hong Lok road, menunggu kereta kecil (teng-teng), yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
Suasana stasiun yang ramai, membuat mereka yang baru pertama kali melihat, memandang dengan heran sekitar. Bukan hanya karena ramainya pejalan kaki, tapi juga kecepatan mereka saat berjalan menyebrangi penyeberangan jalan, untuk sampai di stasiun yang ada di seberang sana.
"Di sini, kalau jalan lelet, bisa di tabrak oleh pejalan kaki lainnya," ujar Queene tiba-tiba, saat sahabatnya melihat sekitar bingung.
Mereka terkejut saat mendengar ucapan Queene, yang membuat mereka melihat sekitarnya lagi.
"Seperti itu Mba?" tanya Selyn takjub.
Ia jarang berjalan kaki, selalu memakai kendaraan saat bepergian, bersama Mamas, Daddy atau sopir pribadinya, jadi baru ini ia jalan menggunakan kedua kakinya sendiri .
"Hum .... Masyarakat sini, jalannya cepat mereka tidak suka orang lelet, dalam hal apa pun, baik saat berjalan maupun saat bekerja."
Selyn mengangguk mengerti, kemudian tersentak keget saat sang kakak menariknya, ketika ada pejalan kaki yang hampir menabraknya.
"Perhatikan depanmu, El," bisik Gavriel, membawa tubuh sang adik di dalam lindungannya.
"He-he-he, maaf Mas," gumam Selyn dengan kekehan kecilnya.
Gavriel mendengus saat mendengar kekehan tanpa dosa, dari adiknya yang kini menggengam tangannya erat.
"Pegangan sama El Mas, biar nggak kesasar," lanjut sang adik, membuatnya geleng kepala akan ucapan terbalik adiknya.
"Bukan kah kamu, yang takut tenggelam dalam lautan manusia di sini, heum," timpal Gavriel, namun tetap membalas genggaman tangan sang adik.
Selyn terkekeh, kemudian mempercepat laju langkahnya saat Mbanya, juga sepupunya sudah menyebrangi jalanan, dan menaiki tangga menuju stasiun.
Siu ce (Kereta) nomor 610 adalah kereta kecil yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan.
Biasanya orang-orang menyebutnya dengan sebutan teng-teng, karena saat kedatangannya akan menimbulkan suara dengan bunyi teng-teng, itu sebabnya Siu ce lebih sering di di panggil dengan sebutan teng-teng.
Teng! Teng!
Mereka bersiap setelah menscan kartu kendaraan mereka (Patadong), kartu sebagai pengganti uang saat mereka akan menaiki kendaraan umum.
Kereta kecil namun bersih ini, nyaman dengan air conditioner, yang terasa dingin di kulit mereka.
Penumpang yang ramai juga, membuat mereka harus rela berdiri, berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit, untuk mereka sampai di tempat tujuan mereka.
Stasiun demi stasiun mereka lewati, tanpa mempermasalahkan saat mereka harus lelah, jika sepanjang perjalanan mereka bisa melihat pemandangan kota Yuen Long dengan puas.
Bangunan tinggi dominan di sepanjang jalan, dengan pepohonan yang rindang, juga ramainya pejalan kaki di luar sana, menjadi pemandangan asing di penglihatan mereka.
Di antara penumpang yang menaiki kereta 610, Gavriel dan yang lainnya berdiri bersisihan dengan masing-masing memegang pegangan tangan, di tiang yang ada di atas mereka.
Selyn yang berhadapan dengan sepupunya, tidak henti menunjuk luar sana, karena kebetulan mereka menghadap jendela, sehingga mereka bisa dengan puas melihat ke arah luar.
Sedangkan Queene dan Gavriel, berdiri dengan Gavriel yang menjaganya dari belakang, sehingga jika di lihat dari belakang, mereka seperti sedang berpelukan.
Kereta yang berhenti dan berjalan, membuat Queene terkadang terdorong ke depan maupun ke belakang. Tapi untunglah ada Gavriel yang menahan tubuhnya, sehingga Queene yang merasakan pelukan tidak menempel dari sahabatnya pun, harus menahan diri agar ia tidak terdorong lebih dari ini.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gavriel berbisik lirih, saat merasa sahabatnya yang hampir saja terjatuh jika ia tidak sigap menahannya.
"Tidak apa-apa," balas Queene berbisik, ia menolehkan wajahnya ke belakang untuk melihat ekspresi sahabatnya, yang juga melihat ke arahnya.
"Terima kasih," lanjut Queeneira dengan senyum lembut, yang membuat Gavriel ikut tersenyum lembut.
"Tidak masalah, bersandar padaku. Jika kamu takut jatuh," sahut Gavriel masih dengan berbisik, sehingga hanya Queene yang mendengarnya pun salah tingkah, diikuti dengan jantung berdetak kencang.
"Bolehkah?"
"Tentu, karena kamu-
Teng! Teng! Teng!
"Kamu apa, Gav?" tanya Queene penasaran, saat ucapan Gavriel berhenti ketika pintu kereta terbuka lagi.
"Tidak ada, sebaiknya kamu menghadap ke depan," elak Gavriel dengan melengoskan wajah ke arah lain, membuat Queene merasakan penasaran dan rasa senang di saat bersamaan.
"Bolehkah aku berharap kalimat kelanjutan adalah karena aku perempuan spesial di hatinya?" batin Queeneira tersenyum kecil, saat menghadap ke arah depan menuruti perkataan sahabatnya, yang saat ini sedang menjaganya dari belakang.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Contoh gambar kartu di atas adalah salah satu, yang sering di pakai oleh masyarakat Hong Kong.
Ada juga yang memakai kartu debet, atau kartu pengenal lainnya.
Kartu kendaraan juga bisa di pakai sebagai akses keluar-masuk halaman hunian Apartemen, sesuai registrasi.
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Sampai babai.