
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya Muda
Sudah seminggu berlalu dari kepulangan Tuan rumah di Kediamanannya sendiri.
Saat ini Sang pemilik bangunan megah, sedang duduk di halaman belakang di temani oleh Putranya, yang ikut duduk di kursi bayi menghadap ke arahnya.
"Mam!"
"Yes kid, Kamu makan yang banyak!" sahut Dirga tersenyum kecil.
Di sampingnya ada Sang istri, Kiara Wijaya yang sedang menyuapi Gav makan paginya.
"Luka di paha sudah mengering sayang, terapi Kamu bisa di mulai setelah Kamu tidak risih lagi," ujar Kiara sesekali melihat ke arahnya dan Gav bergantian.
"Sebenarnya sudah tidak sih, Aku bisa kok menaha-
"Tidak sayang, harus benar-benar tidak merasakan nyeri saat berdiri. Baru Aku mengizinkan Kamu terapi!" seru Kiara cepat menyela ucapan nekat Suaminya.
Ia tahu seberapa besar keinginan Sang suami untuk bisa berjalan normal kembali, tapi jika itu membuat Suaminya merasakan sakit, lebih baik tidak usah.
"Tapi sayang, Aku ingin-
"Aku tahu ..."
Kiara lagi-lagi menyela perkataan Dirga, Ia meletakkan mangkuk bubur milik Gav di meja sampingnya, lalu benar-benar menghadap Sang suami.
"Aku memang ingin sekali melihat kamu bisa berjalan normal sayang, tanpa bantuan tongkat ataupun kursi roda. Tapi Aku akan sangat sedih, jika saat Kamu mencoba melangkah Kamu merasakan sakitnya," ujar Kiara mencoba membujuk.
Dirga terdiam mendengar perkataan istrinya, memang benar beberapa hari ini jika Ia memaksakan diri untuk berjalan dengan bantuan tongkat, rasa nyeri di tulangnya akan semakin terasa.
Luka jahitan memang sudah kering bahkan sudah sembuh total, tapi luka dalamnya masih terasa. Ngilu serta rasa nyeri selalu datang saat Ia mencoba melangkah.
"Baiklah, tapi Aku benar-benar ingin bisa berjalan. Aku ingin bisa mengajari Gav berjalan, serta bisa menggendong Kamu lagi," ujar Dirga sedih.
Nyut!
Hati Kiara seakan tercubit, saat mendengar nada sedih dari Sang suami.
Tidak ingin membuat Dirga sedih, Ia jongkok di depan Suaminya, lalu memegang kedua pipi Suaminya lembut.
"Suamiku bukan orang yang menunjukan kelemahannya kepada orang lain, aku tahu itu. Apapun akan di lakukannya, meskipun ada halangan di depan sekalipun itu tembok beton menjulang, Dia akan menerobosnya tanpa ampun,"ujar Kiara lembut.
Ia menatap suaminya sayang, dengan senyum manis terpatri di bibir.
"Dan Dia bukan orang yang membuat kesayanganya khawatir, apapun itu alasannya. Jadi sayang, Aku mohon untuk menundanya sebentar lagi, jika Kamu benar-benar belum siap," Lanjutnya meminta.
Luluh ... Seketika hatinya luluh saat mendengar permintaan dari Sang Istri.
Selama ini Ia berusaha untuk melakukan apapun itu sendiri, berjalan dan mendudukan diri di kursi roda dengan sok kuat, tanpa tahu ternyata Sang istri memperhatikannya dalam diam.
"Kamu tahu?" gumam Dirga lirih.
"Aku tahu, tapi Aku sengaja tidak memprotesnya karena Aku tahu, jika itu cara Kamu mempertahankan harga diri Kamu," balas Kiara mengerti.
"Maaf bukan maksud Ak-
"Terima kasih sayang, Aku tahu Kamu berusaha tetap menghargai Aku. Selanjutnya Aku akan mengikutsertakan Kamu, di setiap apapun yang Aku lakukan!" seru Dirga menyela ucapan Kiara dengan senyum kecilnya.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang!" balas Kiara senang.
"Dadd!"
Di kursi sebelahnya ada seorang Anak terlupakan, Ia memanggil Sang ayah minta perhatian dan berhasil. Senyum dengan dua gigi imutnya terpampang, membuat Dirga terkekeh saat melihatnya.
"Heum ... Ada yang tidak di perhatikan? Cemburu yah, Daddy di monopoli Mommy?" ujar Kiara menggoda.
"Momm,hi-hi!"
"Ndong!"
Dirga terkekeh saat dua buah tangan bantet terlurur di hadapannya, meminta di gendong dengan raut wajah merayu.
"Minta gendong siapa? Mommy atau Daddy?" tanya Kiara menggoda.
"Dadd!"
"Hah? Tuh kan Gav seperti itu, sekarang ada Daddy, Gav maunya sama Daddy. Mommy di tinggal, sebel!" seru Kiara pura-pura marah.
Kikikan Sang putra terdengar gurih, apalagi lesung pipinya turunan darinya terlihat jelas.
Dua gigi kecilnya sudah tumbuh, persis seperti kelinci mirip gigi kelinci sepertinya, itu menurut Sang suami sih.
Pagi hari yang indah jika saja tidak ada kesedihan ikut serta di dalamnya.
Hari selanjutnya ....
Sesuai perkataan Kiara, Dirga mulai pagi beberapa hari yang lalu benar-benar mengikuti apa kata istrinya. Ia tidak lagi malu untuk meminta pertolongan Kiara, maupun pertolongan Bima saat akan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kaki.
Seperti saat ini, saat dimana Dirga harus pindah dari sofa ke kursi rodanya.
Kiara dengan sigap membantu dirinya, mendekatkan kursi rodanya sedangkan Ia mengangkat beban tubuhnya.
"Pelan-pelan,sayang!" seru Kiara dengan tangan memegang lengan Suaminya.
"Iya,Kamu jangan khawatir, Aku bisa kok!" balas Dirga menenangkan.
Perlahan tapi pasti, akhirnya bokongnya mendarat dengan selamat di kursi rodanya. Ia tersenyum bangga, merasa jika Ia sudah baik-baik saja.
"Lihat, Aku sudah tidak meringis lagi. Itu artinya Aku sudah bisa menahan sakitnya," ujar Dirga bangga.
"Tentu, Kamu hebat sayang. Jika seperti itu, bagaimana besok Kita mulai terapinya? Aku akan menemani Kamu, biar Gav Aku titipin sama Mami?" ujar Kiara bertanya dengan nada semangat.
Matanya berbinar senang saat melihat Suaminya tersenyum dan mengangguk tidak kalah semangat darinya.
"Tentu saja, Aku setuju sayang!" balas Dirga.
Skip
Klinik Fisioterapi Ortopedi
Di depan mereka saat ini ada ahli fisioterapis rekomendasi dari Papa Hendri, bernama Celia Wong.
Fisioterapis dari negara Hongkong ini membuka cabang di kota S dan namanya juga sudah terkenal di negara asalnya.
"Bagaimana perasan anda, Tuan Wijaya?" tanya Celia membuka pembicaraan.
"Baik, terima kasih!" balas Dirga singkat.
"Baiklah saya langsung jelaskan, apa saja yang akan di lakukan untuk proses penyembuhan Tuan," ujar Celia lalu berhenti saat melihat pasiennya mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Ada beberapa cara untuk proses kedepannya, di antaranya ada pijatan pada area sendi, lalu ada terapi di dalam air hangat, untuk otot anda rileks dan juga ada terapi manual, Saya akan membantu anda saat berjalan atau Istri anda berdiri di sebelah anda untuk mensuport kelangsungan belajar berjalan anda. Apa sampai sini ada yang belum di pahami?" tanya Celia ramah.
Kiara menggelang kepala, sedangkan Dirga hanya bergumam, membuat Celia tersenyum senang.
"Kalau begitu, Saya akan mulai pertama dengan pijatan. Nah .. Tuan Wijaya, silakan berbaring di sana akan ada seorang asisten yang akan membantu anda berdiri dan Saya sendiri yang akan memijat sendi kaku anda," ujar Celia memulai pekerjaannya.
"Che tolong di bantu!" Lanjutnya memerintah Anak buahnya.
Seorang Asisten berumur menghampiri mereka berdua, mempersilakan dengan ramah dan membantu Dirga pindah ke kursi santai untuk proses pemijatan.
Celia duduk di samping Dirga dan memulai pijatan, menekan titik saraf yang membuat Dirga hampir memekik sakit namun masih di tahannya.
"Eh buset, ngeliatnya enak banget cuma takan-tekan aja. Tapi kok sakit gini yah!" batin Dirga sambil menahan rasa aneh di hatinya.
"Bagaimana, Tuan? Apa ada yang berbeda?" tanya Celia tiba-tiba. Membuat Dirga berjengkit kaget dan menuai Kikikan dari Kiara.
"Peng a, tanhai le. Goi wui em pei Lei ci. Cece Celia! (sakit, tapi Dia tidak akan memberitahu Kamu, Mba Celia) " sahut Kiara menjawab pertanyaan Celia.
"Hai meh? Hou lah, mo em keitak wo, pei Ngo ci yugo yau Peng, (benarkah? Baiklah jangan lupa kasih tahu Saya loh, jika ada sakit,)" balas Celia sambil tersenyum. Namun tidak lama saat tiba-tiba Ia merasa aneh, karena Ia berbicara dengan bahasa negaranya dengan santai kepada keluarga pasien.
"Eh ... Nyonya Wijaya tadi pakai bahasa saya?" tanya Celia terkejut.
"He-he ... Saya belajar dari sahabat Saya,jadi saya bisa sedikit bahasa kantonis!" balas Kiara terkekeh kecil.
"Wah ... Saya berasa ada keluarga, jika ada orang yang mengerti bahasa saya!" seru Celia senang.
Obrolan di antara mereka terus berlanjut, hingga pemijatan kedua kaki Dirga pun selesai.
Butuh waktu lama bagi Celia Si terapis, membuat otot dan sendi milik kaki Dirga membaik, Dirga juga merasakan perbedaan sebelum dan setelah pemijatan.
Celia duduk lagi di kursi kebesarannya, dengan Kiara dan Dirga yang mendengarkan perintah selanjutnya.
"Jadi pemijatan pertama sangat lama, tapi nanti selanjutnya tidak akan memakan waktu. Kita juga akan melakukan latihan berjalan di tempat yang sudah Kami sediakan. Lalu saya juga sudah memasang kinesio tape, bagaimana perbedaan sebelum dan sesudah pemijatan dan pemakaian kinesio tape? " tanya Celia.
"Sudah lebih baik dan Saya juga merasa terbantu, dengan pemasangan alat ini. Saya lebih bisa merasakan lutut Saya seperti di tekan, bisa menunjukan aktivitas otot saat saya bergerak dan tadi saat saya berdiri," balas Dirga menjelaskan.
Celia mengangguk dan menyarankan Dirga mengkonsumsi vitamin D, untuk pemeliharaan tulang, yang di angguki kepala mengerti dari keduanya.
"Jadi rajin minum vitamin D yah, baiklah terima kasih atas bantuannya, Cece Celia!" seru Kiara senang.
"Sama-sama, kembali kasih!" balas Celia ramah.
"Kami permisi, emkoy sai lei!" pamit Kiara lalu berterima kasih.
"Emsai hakhe**! (tidak perlu, sama-sama!)" balas Celia ramah.
Kiara dan Dirga meninggalkan klinik milik Celia, untuk menuju Mansion Wijaya menjemput Anak kesayangan mereka di sana.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Sedikit notes:
Kinesio tape adalah plaster terapi yang digunakan untuk mengurangi cedera, mengatasi rasa sakit, risiko bengkak, serta menambah performa gerak di bagian tubuh seperti bahu, lutut, siku, punggung dan perut.
Fisioterapi adalah perawatan yang dilakukan untuk membantu mengembalikan fungsi dan gerakan bagian tubuh seseorang akibat luka, sakit, atau hilangnya kemampuan tubuh.
Terapi fisik ortopedi membantu mendiagnosis, mengendalikan, dan mengobati gangguan serta cedera pada sistem muskuloskeletal. Selain itu, terapi fisik ini juga membantu proses penyembuhan setelah operasi ortopedi (tulang).
__ADS_1
Terapis adalah panggilan untuk seseorang yang ahli terapi.