Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
My Turn ~ Ada Yang Malu


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA S


Hari berlalu dengan cepat, persiapan demi persiapan pun dilakukan dengan terorganisir, saat ketua OSIS mengatur bawahannya dengan serius dan fokus.


Di tengah kesibukan sebagai ketua OSIS__Rajendra Glenn Saputra atau juga Ge, ia masih menyempatkan diri untuk menemani adik kelas kesayanganya, yang ikut menawarkan diri membantu mempersiapkan acara nanti.


Seharusnya apa yang dikerjakan oleh Ge dan Queeneira tidaklah sama, tapi Ge dengan keras kepala ingin menemani Queeneira, sedang mendata barang-barang yang disumbangkan oleh murid di sekolahnya.


"Kak, serius deh. Aku nggak apa-apa periksa data ini sendiri, aku bisa kok," ujar Queeneira dengan nada gemas, saat Ge tetap memeriksa tulisan dari masing-masing ketua kelas, yang nantinya akan disalin Queeneira ke dalam Microsoft Excel.


Saat ini keduanya ada di perpustakaan, saat yang lainnya sudah pulang atau juga sedang melakukan kegiatan tambahan(Eskul) di lapangan dan ruang klub.


"Bawel, biar cepat selesai, lagian tadi dia mau dekatin lu tapi nggak jadi," jawab Ge santai, kemudian melanjutkan dalam hati saat ia tidak sengaja melihat seluit orang yang hendak mendekati adik kelasnya, namun tidak jadi saat ada ia berjalan cepat menghampiri Queeneira.


"Lagian, gue kan udah bilang, mau bantuin lu. Masa lupa," lanjut Ge mendengkus saat Queeneira menatapnya jengah.


"Bantuin apa sih kak, bantuin periksa tulisan aja mah percuma. Aku juga bisa," timpal Queeneira salah paham.


Ge tidak menjawab, hanya mendengkus dan merangkul bahu Queeneira santai, dengan Queene yang hampir saja protes namun berhenti, saat mendengar gumaman pelan dari kakak kelasnya.


"Sorry, tapi Gue rasa, cara ini lebih baik."


Mengernyit adalah yang Queeneira lakukan, semakin gagal paham mendengar pernyataan kakak kelasnya.


"Apa sih, kak?" tanya Queeneira kemudian memindahkan tangan Ge, yang betah nemplok di bahunya.


"Nanti juga lu ngerti, tapi satu yang harus lu tahu ..."


Ge dengan sengaja menghentikan ucapannya, mendekatkan wajahnya ke telinga Queeneira, sehingga jika di lihat dari jauh mereka seperti sedang berciuman nyatanya tidak.


"Semua yang gue lakuin, itu semua untuk kebaikan lu."


"Hah?" Queeneira mengalihkan wajahnya, menatap Ge yang juga sedang menatapnya.


Saat ini keduanya sedang saling berpandangan, dengan Ge yang tersenyum dan mengetuk dahi Queeneira pelan.


Tuk!


Ouch!!


"Nanti juga tahu."


"Kak, sakit!" pekik Queeneira, memukul bahu Ge kuat, sehingga Ge pun tergelak alih-alih kesakitan.


"Sengaja! Enak kan?" goda Ge dengan alis naik-turun.


"Gundulmu kak," sewot Queeneira kesal. Namun sayang, Ge tetaplah pada kelakuannya, tetap tergelak santai saat Queeneira mencebilkan bibirnya, kesal dengan kelakuan kakak ketos gelo di sampingnya.


Kegiatan keduanya, di saksikan dengan jelas oleh seseorang yang sengaja juga mengambil foto saat Ge sedang berbisik dengan Queene. Sehingga menghasilkan foto yang apik, tentunya akan membuat seseorang marah, jika melihat foto yang di ambilnya saat ini.


Niat hati ingin berjalan menuju stadium basket, hendak berlatih dengan klubnya. Ia justru mendapat pemandangan yang menurutnya bagus, maksudnya bagus untuk kelangsungan rencananya.


"Queeneira aku nggak nyangka, kamu berani berbuat tidak terpuji di sekolah," gumam seseorang itu, nada yang digunakannya memang sedih, tapi tidak dengan bibirnya yang tersenyum miring.


Ia pun meninggalkan perpustakaan, berjalan ke arah stadium dengan langkah semangat, saat memikirkan jika ia bisa berdekatan dengan laki-laki yang disukainya selama latihan nanti.


Na-na-na🎶


Sepanjang perjalanan, ia bergumam senang, serta bibir yang tidak hentinya tersenyum senang. Hingga semua murid laki-laki, yang berpapasan dengannya di sepanjang koridor pun memandangnya terpesona.


Stadium olahraga


Bunyi pantulan bola menggema, memenuhi setiap sudut stadium. Di lapangan sedang diadakan latihan rutin, anggota klub basket bersama pembina mereka yaitu pak Daniel.


Prit!


Dug! Dug!


"Oper sini!"


"Tangkep!"


Bukan hanya suara pantulan bola, tapi juga bunyi peluit dan suara bersahutan dari anggota basket pun ikut terdengar.


Semua tampak bersemangat saat bermain, terkecuali Gavriel yang kurang fokus sehingga operan bola yang dilempar oleh Ezra, malah berakhir dengan perut Gavriel yang terkena lemparan. Sehingga Gavriel pun mengaduh kesakitan, dengan Ezra dan anggota lainnya menghampiri Gavriel segera.


"Gavriel! Kamu nggak apa-apa?" tanya Ezra khawatir, berjongkok di samping sepupunya, merasa bersalah kepada Gavriel yang menggeleng kepala sebagai jawaban.


"Nggak, aku nggak apa-apa, Ukh!" balas Gavriel dengan ringisan di belakangnya.


"Nggak apa-apa bagaimana, kamu kesakitan begitu," tandas Ezra gusar.

__ADS_1


"Bawa ke UKS, kamu antar Gavriel, Ezra," perintah pak Daniel, yang segera dilaksanakan oleh Ezra.


"Baik pak!"


Ezra pun membawa Gavriel dengan menyampirkan tangan sepupunya di bahunya. Kemudian melangkah dengan hati-hati, takut sepupunya meringis sakit lagi.


"Sorry, Gav. Aku-


"Nggak Ez, aku yang sedang tidak fokus."


Menyela dengan cepat apa yang ingin diucapkan oleh sepupunya, Gavriel pun menarik tangannya dari bahu sepupunya, kemudian berdiri tegak meski sesekali terdengar ringisan dari belah bibirnya.


"Gav!"


"It's ok, Ez. Kalau cuma segini, Daddy sering kasih kok," sahut Gavriel mencoba berkelakar, agar sepupunya tidak khawatir lagi kepadanya.


"Ck, bikin khawatir aja," dengkus Ezra kemudian melanjutkan langkahnya, menuju ke arah ruang UKS berada.


Saat sedang berjalan bersama, keduanya mendengar suara seorang perempuan memanggil nama Gavriel dari belakang, membuat keduanya pun menoleh dan menemukan Keineira yang berjalan ke arah keduanya berdiri.


"Gavriel!"


Aih, ngapain lagi dah ini manusia, batin Ezra sebal.


Gavriel dan Ezra pun berhenti dari jalannya, menunggu hingga Keineira tiba di depannya, dengan wajah khawatir yang tercetak jelas di raut wajah Keineira.


"Gavriel, aku dengar kamu kena lemparan bola. Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Keineira cemas, menatap Gavriel dengan mata memeriksa kondisi fisik Gavriel.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," balas Gavriel apa adanya, memberikan senyum tipisnya saat melihat ekspresi khawatir dari teman sekelasnya, dengan tujuan menenangkan hati Keineira yang diam-diam menghela napas lega.


"Yokatta (Syukulah), aku khawatir sekali," desah Keineira lega.


"Kalau begitu, biar aku bantu obati luka kamu," lanjut Keineira menawarkan bantuan, namun sayang Ezra menolaknya mentah-mentah, dengan Gavriel yang diam saja.


"Tidak perlu, Keineira. Kamu sebaiknya kembali berlatih dengan klubmu, biar aku yang menangani ini," tukas Ezra dengan nada datar, membuat Keineira yang mendengarnya menampilkan wajah kecewa.


"Aku hanya ingin membantu," cicit Keineira dengan nada sedih, berharap akan mendapat bantuan dari Gavriel, namun sayang lagi-lagi Ezra yang mengambil alih.


"Terima kasih, karena ini salahku. Biar aku yang tanggung jawab. Kami pergi."


Ezra pun dengan segera membawa Gavriel pergi, sebelum sepupunya membuka suara dan berujung dengan bertambahnya kekacauan.


Sudah cukup beberapa hari ini Queeneira yang ditempeli kakak kelas, dengan Gavriel yang uring-uringan. Ia tidak ingin menjadi ajang balas dendam, saat Queeneira mengetahui jika Gavriel pun berdua-duaan dengan Keineira apalagi di ruang UKS.


Gavriel hanya bisa pasrah, diseret begitu saja oleh sepupunya. Karena jujur saja, ia saat ini sedang tidak fokus antara satu dengan yang lainnya.


Ia bukan hanya memikirkan masalah sekolah, perusahaan, persahabatan dan juga perasaan pribadinya.


Keineira yang ditinggalkan begitu saja tentu saja kesal, tapi ia tidak memperlihatkan itu. Ia melihat dengan tangan mengepal menahan emosi, saat ia hanya bisa melihat dari belakang punggung laki-laki yang ia sukai.


"Ezra, kenapa kamu juga begini. Apa kamu tidak suka, saat Gavriel bahagia nanti denganku," gumam Keineira dengan wajah menunduk sedih.


Kemudian ia pun membalikkan tubuhnya, berusaha menenangkan diri dan berjalan kembali ke tempat dimana anggota klubnya berada.


Ruang UKS


Ezra yang tadi sempat mengirim pesan kepada sahabatnya menunggu dengan kepala menoleh kanan-kiri. Menanti kedatangan Queeneira, yang sampai saat ini belum juga kelihatan batang hidungnya. Dan itu membuat Gavriel yang melihat tingkah sepupunya mengernyit, penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sepupunya.


"Kenapa, Ez?"


"Eh! Nggak, nggak apa-apa. Tadi aku kirim pesan buat Queeneira, bilang kamu di UKS. Tapi dia belum balas, belum datang juga," sahut Ezra menjelaskan apa adanya, kepada Gavriel yang mengangguk.


"Sepertinya tidak akan datang, dia sibuk sama kerjaannya," gumam Gavriel dengan perasaan bercampur jadi satu.


"Pasti data-


"Gavriel! Gavriel, kamu tidak apa-apa?"


Ezra menelan lagi ucapannya, saat mendengar suara khas sahabatnya, yang datang tergopoh lengkap dengan ekspresi khawatirnya. Membuat Gavriel diam-diam mendesah bahagia, tersenyum dengan detak jantung menggila, saat melihat raut wajah khawatir sahabatnya.


Queeneira menghampiri Gavriel yang duduk menyadar di dinding di atas ranjang UKS. Ia dengan segera memeriksa setiap inci wajah sahabatnya, menatap Gavriel dengan tangan memegang kedua sisi wajah Gavriel.


"Que," lirih Gavriel melihat dengan ekspresi senang, saat Queeneira menghampirinya dan memeriksanya dengan wajah masih khawatirnya.


Mengetahui jika sepupunya perlu waktu, untuk berdua dengan sahabatnya, Ezra pun melangkah mundur tanpa membuat suara dam menutup tirai kemudian duduk di sofa yang ada di ruang UKS.


"Gavriel, kamu ceroboh sekali. Masa lemparan bola dari Ezra tidak bisa kamu tangkap, payah. Biasanya kalian juga saling adu kepalan, sparing segala macam, tapi kenapa sama bola karet saja tidak bisa menghindar."


Queeneira dengan beruntun memarahi sahabatnya, yang hanya bisa menahan senyum geli, apalagi saat ia melihat ekspresi khawatir dari sahabatnya.


"Payah ih, apa karena jarang main basket, kamu jadi lengah gini?" lanjut Queeneira, tanpa tahu jika Gavriel diam-diam merekam semua yang dilakukan olehnya.


Gavriel saat ini hanya bisa memendamnya sendiri, ketika ia merasa jika tidak akan ada lagi lain kali, saat ia tahu jika waktu tidak akan berputar dikejadian yang sama.


Aku, ingin selamanya begini, tapi tidak bisa.


Gavriel menghentikan ucapan sahabatnya, dengan menutup bibir mungil milik Queeneira menggunakan telapak tangannya, kemudian mengadu dahinya dengan dahi sahabatnya, yang menatapnya kaget.

__ADS_1


Hup!


Dug!


"Gavriel," gumam Queeneira lirih, menatap Gavriel yang balas menatap matanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Bawel," bisik Gavriel kemudian terkekeh kecil, kekehan yang membuat Queeneira merasa jantungnya berhenti, untuk kemudian berdetak dengan tempo yang semakin menggila.


Queeneira sebisa mungkin menahan rona merah di pipinya, namun tidak mampu sehingga ia pun memilih untuk melengoskan wajahnya, kemudian berpura-pura mendengkus sebal di ledek dengan sebutan bawel.


"Apa sih, orang khawatir kok. Malah di ledek bawel."


"Tapi memang kamu bawel," timpal Gavriel setelah berhenti terkekeh.


"Seperti Momm, baw-


Seperti Mommy.


Tiba-tiba Gavriel berhenti, saat ia hendak melanjutkan acara meledek sahabatnya, yang saat ini masih melengoskan wajahnya.


Cari perempuan yang cantik, seperti Mommymu. Ingat ya Gavriel.


Dadd, ajaranmu sesat.


Yang bawel juga, jangan lupa.


Dadd!


Ucapannya dan sang Daddy seakan menggema di telinganya, hingga Gavriel pun diam melihat Queeneira dengan kening berkerut, membuat Queeneira yang tidak mendengar ucapan lanjutan sahabatnya pun merasa bingung.


Mengalihkan wajahnya ke arah sahabatnya, Queene dibuat bingung dengan perubahan ekspresi yang ditampilkan oleh Gavriel saat ini.


"Ada apa, Gavriel?" tanya Queeneira cemas, takut jika sahabatnya masih merasa sakit. Tapi sayang, Gavriel hanya diam masih dengan menatap Queeneira dengan pandangan sulit dipahami.


"Gavriel."


"....."


"Gavriel! Hei!"


"Ah! Maaf," sahut Gavriel kaget, saat merasakan tepukan pada pipi sebelah kanannya.


Queeneira menarik kembali tangannya, kemudian mendesah lega saat tahu Gavriel tidak kenapa-napa.


"Sebaiknya aku periksa perut kamu, aku takut akan ada memar."


"Eh! Apa?"


Gavriel semakin tidak fokus saat mendengar kata perut dan periksa, dari sahabatnya yang mengangguk mengiyakan.


"Iya, periksa. Apa lagi, kamu kan tadi kena lemparan bola, aku takut ada memar," jelas Queeneira, tanpa tahu jika ucapan santainya membuat Gavriel menelan salivanya gugup.


Hei! Yang luka perutnya loh.


Itu artinya ia harus membuka baju yang ia gunakan saat ini.


Dan sahabatnya yang akan memeriksa adalah seorang perempuan.


Tahu tidak itu artinya apa?


Perut kotak-kotaknya akan di lihat dan disentuh, oleh lawan jenis yang bukan mukhrimnya.


"Tid-tidak, tidak usah. Aku tidak apa-apa," tolak Gavriel dengan nada gugup, sehingga Queeneira pun yang hendak membuka krim untuk luka memar berhenti, memandang Gavriel dengan ekspresi kesal.


"Apa maksudnya tidak apa-apa. Kita lihat dulu, kalau tidak ada luka, ya sudah," tandas Queeneira keukuh, belum sadar dengan kekeraspalaannya, yang membuat Gavriel lagi-lagi menelan salivanya lengkap dengan keringat mengalir.


Kalau hanya dilihat, itu tidak masalah.


Tapi kalau dipegang, ia masih belum siap.


Lagian, hanya untuk perempuannya lah, ia akan menyerahkan dirinya.


"Queeneira, biar aku yang olesi. Aku tahu mana yang sakit mana yang tidak, oke. Nggak apa-apa kan?" pinta Gavriel dengan senyum dipaksakan, sehingga Queeneira pun akhirnya mengalah dan memberikan krim kepada Gavriel, tapi masih dengan ia yang duduk disisi Gavriel.


Oh, sepertinya Queeneira terlalu terbiasa dengan mereka yang dulu selalu terbuka, sehingga ekspresi malu dari Gavriel pun, Queeneira tidak terlalu merasakannya saat ini.


"Dasar, padahal kan aku mau bantu kamu," dengkus Queeneira asal ceplos, dengan Gavriel yang tersedak tiba-tiba.


Uhuk!


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Ezra dari luar tirai, sekuat tenaga menyembunyikan kekehannya, saat mendengar pertengkaran lucu di telinganya.


Gavriel malu? Astaga! Sudah dewasa ternyata.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya


Terima kasih dan sampai jumpa.


__ADS_2