Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Grow Up ~ Ezra Benedict


__ADS_3

Seoson dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Benedict


Pagi-pagi sekali di halaman belakang rumah keluarga Benedict, sudah ada sepasang Daddy dan Son, sedang sparing adu kekuatan dengan Sang Anak yang kualahan, saat Sang Daddy dengan ganas menyerangnya tanpa ampun.


"Eleh ... Mana yang katanya kuat, baru juga segini sudah tumbang!" seru Sang Pipi atau juga Raka, dengan nada meledeknya saat melihat Anaknya ngos-ngosan.


"Diam Pak tua, perhatikan saja tiap seranganmu!" balas Sang anak atau juga Ezra, dengan suara terputus-putus.


Adu serang dan tangkis saling melayangkan pukulan terjadi, antara Pipi dan anak ini, hal yang setiap pagi mesti tidak setiap hari, pasti mereka berdua lakukan untuk sparing seperti ini.


Bukan untuk adu kekuatan, tapi hanya mengukur kemampuan Anaknya dalam hal bela diri. Bukan juga di pakai untuk hal yang tidak benar, ini hanya untuk perlindungan diri saat Anaknya mengalami kesulitan, menghadapi bahaya di luar sana.


"Pih!" seru Ezra, dengan tangan mengayun ke samping kiri.


Pats!


"Heum?" gumam Raka menangkis, lalu memblock serangan yang di arahkan, di bagian perutnya dengan mundur selangkah.


"Sahabat dan wanita, pilih siapa?" tanya Ezra di tengah-tengah perlawanannya.


"Heh! Tumben sekali pertanyaannya seperti itu? Lag- wow! Mulai bisa nangkis yah!"


Ucapan Raka berganti dengan pekikan kaget, saat tiba-tiba Anaknya hampir mengenai pipi sebelah kanannya, Ia tersenyum saat melihat perkembangan Anaknya.


"Come on Pipi, Kita sudah sering sparing. Jadi Aku tahu sela Pipi!" seru Ezra bangga.


Grep!


Brukhhh!


Akhh!


Raka tersenyum miring saat Anaknya yang sedang memamerkan kesombongan, sehingga Ia bisa melihat sela dan mengambil kesempatan untuk menangkap tangan, lalu membanting tubuh Anaknya, membentur matras tempat mereka sparing saat ini.


Ezra pun tumbang dengan Sang Pipi, yang memitingnya, menahan gerakan berontak darinya.


"I win, Kiddo!" seru Raka meledek Sang anak.


"Akh! Pipi selalu tahu titik lemahku!" seru Ezra tidak terima.


Raka pun melepas pitingannya, duduk di samping anaknya yang mengatur nafas, dengan badan masih terngkurap, posisi saat Ia di kalahkan Sang Pipi.


"Pelajaran pertama sudah jelas Kamu tahu, jangan lengah saat lawan memujimu, janga-


"Jangan bangga sebelum lawan jatuh di bawah kaki kita, jangan memandang lawan rendah, karena lawan yang terlihat lemah adalah yang terkuat," ujar Ezra menyela ucapan Sang Pipi dengan menyebutkan, peraturan-peraturan yang sudah di hafalnya di luar kepalanya.


"Itu tahu," balas Raka dengan kekehan menyebalkannya.


Keduannya pun terdiam, saat masing-masing masih menetralkan deru nafas mereka.


"Jadi .... Maksud Kamu apa, bertanya antara sahabat dan wanita?" tanya Raka penasaran.


"Kamu masih kecil, jangan memikirkan hal yang nggak penting seperti itu," lanjut Raka memperingati.


"Ah! Elah Pih ... Siapa juga yang lagi mikirin soal begituan, Aku 'kan hanya bertanya, emang salah?" balas Ezra sewot.


Raka yang mendengarnya terkekeh, lucu juga saat mengetahui fakta jika umurnya sekarang sudah tidak lagi muda.


"Perasaan kemarin baru ulang tahun yang ke-17," batin Raka tidak tahu diri.


(17 tahun sisanya, sembarangan Author edan)


Yah ... Tidak terasa waktu berlalu begitu saja, ini sudah menginjak 15 untuk umur Anak semata wayangnya.


Perasaan baru kemarin, Ia dan Istrinya memandikan Sang anak bersama-sama, menggendong Anaknya di atas pundaknya, menyuapi dan menggantikan popok Sang anak.


Dan sekarang lihat ... Anaknya sudah sebesar ini saja, mana pakai acara bertanya sahabat atau wanita lagi, membuat Ia seakan tua di umurnya yang baru menginja-


(Umur rahasia negara, jangan di umbar. Iya dah, dari pada gaji Author di potong!)


"Lalu, apa maksudnya pertanyaan Kamu?" tanya Raka penasaran, baru kali ini Anaknya berbicara masalah seperti ini.


Biasanya Sang anak hanya akan membahas masalah game, serta dua sahabatnya yang membuat Ia geleng kepala tidak heran, sebab Ia tahu masa lalu dari kedua ayah sahabat Anaknya.


"Iseng lah Pih, Aku hanya ingin tahu tanggapan Pipi seperti apa," balas Ezra.


Ia duduk dari tengkurapnya dan menyeka keringat di dahinya.


"Jadi, bagaimana menurut Pipi?" Lanjutnya, melihat kearah Sang Pipi dengan penasaran.


Raka diam sejenak saat mendapat pertanyaan simple namun sulit, jika harus di jabarkan dengan kata-kata, sebab antara keduanya ini adalah hal yang sensitif.


"Heum ...."


Ia bergumam panjang, memikirkan kata-kata yang tepat, agar Sang anak mengerti dengan apa yang akan di jelaskannya.


"Gini yah, Kiddo. Sebenarnya, antara sahabat dan wanita itu dua-duanya sangat penting." ujar Raka.


Ia menjeda kalimatnya saat melihat Sang anak, memperhatikannya dengan pandangan penasaran yang kentara.


"Sahabat itu akan selalu ada di samping Kita, di saat apapun dan kapanpun Kita membutuhkan," lanjut Raka melihat Anaknya, yang saat ini sedang menganggukkan kepala membenarkan.


"Bener tuh, Pih!"

__ADS_1


"Sedangkan wanita atau juga pacar atau juga-


"Pih ataunya kebanyakan, nanti di marahin loh!" sela Ezra memperingati.


"Maap dah!" seru Raka terkekeh kecil.


"Preett!" dengus Ezra.


"Lanjut nih?"


"Lanjoooot dah!"


"Kalau pacar, mungkin adakalanya menghibur Kita di saat jenuh, menyuport Kita di saat butuh dan juga tentu saja, kalau pacar kan bisa Kita sentuh, iya nggak?" ujar Raka menaik-turunkan alisnya, saat merasa nasihatnya adalah nasihat paling yahud.


Awalnya Ezra sebagai anak memandang Sang Pipi kagum, bangga dan juga takjub saat mendengar penjelasan Pipinya yang sangat bijaksana.


Tapi semua berubah, saat negara api menyeran-


Bukan oy ...


Tapi semua berubah, saat Sang Pipi mengucapkan satu kalimat ngaco, yang membuatnya speechels segera, memandang Sang Pipi dengan mata seakan bilang.


Halooo ... I'm fiveteen years old, I'm not understand, what you talking about.


"Kenapa?" tanya Raka saat Sang anak memandangnya dengan aneh.


"Minta di colok matanya?" Lanjutnya sewot.


(Anak Lu itu oy. Iye tahu, diem aja dah!)


"Pih, yang bener aja sih. Bilangin Mimi nih, Pipi ajarin Ez yang tidak-tidak. Masa pacar di sentuh-sentuh!" seru Ezra tidak terima, sebenarnya lebih malu sendiri saat membayangkan dirinya suatu saa-


"Akh! Hentikan fikiran aneh itu!" batin Ezra berseru kesal.


"Lah ... Bagian mana, yang tidak-tidak?" tanya Raka dengan senyum gelinya.


Eleh ... Ia tahu anaknya sedang malu, karena saat ini mereka sudah membicarakan hal, yang tidak pernah mereka bahas.


"Itu sentuh-sentuh! Ih ... Emang benar yah kata Mimi, Pipi itu playstation cap badak**!" seru Ezra sewot, meledek Sang Pipi dengan sebutan yang biasa Miminya ucapkan.


"Haih! Sentuh-sentuh bagaimana dulu, Ezra yang katanya tampan sekomplek. Kamu kali yang fikirannya ngaco!" sembur Raka tidak terima.


Ini kerjaan Istrinya yang selalu memanggilnya playstation cap badak, jika sedang saling ledek dan menjahili.


"Eleh! Ngeles aja Pipi mah!" seru Ezra memutar bola matanya bosan.


"Ck! Makanya, otak itu di pasang cleaning aplikasi, jadi nggak ngaco saat ada kata-kata ambigu seperti ini." sembur Raka.


"Ya salah sendiri," balas Ezra keras kepala.


Pasangan Daddy dan Son ini memang seperti ini, bicara santai tanpa ada batas di antara keduanya.


Jadi begini lah jika mereka berdua saling bercengkrama ... Mereka berdua terlihat seperti kakak-adik, sama rupa beda umur.


(Yups ... Gue adiknya. Ngaco)


"Kamu ini, kalau belum di jelasin nggak paham, seperti Si anu." dengus Raka.


"Nih! Dengar baik-baik, penjelasan Pipi." Lanjutnya.


"Oke!"


"Yang Pipi maksud dengan sentuh itu, ya ... Semacam skinship. Berpegangan tangan, menepuk kepala atau juga mengusap pipi. Emang Kamu bisa, melakukan itu dengan sahabat Kamu?" ujar Raka menjelaskan.


"Bisa!"


"Siapa?"


Seketika Ia merinding saat membayangkan Anaknya, sedang menepuk-nepuk kepala Gavriel atau sahabat laki-laki sejenisnya.


"Queene!"


Gubrak!


Wew ... Bolehkah Ia salto sekarang juga, saat melihat sendiri bagaimana polosnya sang anak, menganggap sahabat wanitanya bukan wanita?


Iyey ... Ia gemas sendiri, ingin memakan orok ayam saat ini juga.


Sebenarnya disini siapa yang salah, pertanyaan atau penjelasannya?


"Eh! Elah ... Emang dasar bocah, masih bocah bertanya seperti ini. Ya Gue juga yang salah, udah tahu Anaknya masih bocah, malah di jelasin hal seperti ini," gumam Raka mendumel sendiri, suaranya persis seperti dengungan lebah, sehingga Ezra yang mendengarnya melongo alih-alih mengerti.


"Pih, lagi ngomong apa sih?" tanya Ezra bingung.


"Nggak ada, sudah yuk, masuk dan mandi. Sudah hampir siang ini, Kamu kan harus sekolah!" ujar Raka tanpa memjawab pertanyaan anaknya.


"Ye ... Pipi marah yah? Lagian kan seharusnya dari awal Pipi jelasin, sentuhan seperti itu. Kan Aku tidak perlu nuduh yang macam-macam," ujar Ezra meledek Pipinya yang hanya bisa mendengus.


"Eleh!"


"Yuk! Pipi harus ke kota sebelah, ada urusan sama kantor cabang," lanjut Raka, bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Sang anak, yang segera menerimanya dengan semangat.


"Sore ini, Ez ada rapat Osis Pih. Jadi nggak bisa bantu," ujar Ezra, berdiri di samping Pipinya setelah di tarik dengan Sang Pipi.


"No prob, Kamu akan lebih sibuk, saat SMA nanti. Mulai belajar manage waktu, belajar sama Gavriel tuh, oke?" ujar Raka mengerti.


"Siap deh!"


Mereka berdua pun berjalan memasuki rumah mereka, setelah selesai melakukan sesi curhat antara Daddy dan Son.

__ADS_1


Mereka berdua dengan tambahan Sang Mimi, sarapan layaknya keluarga lainnya, mengobrol berbagi pengalaman saat berada di luar.


Skip


Hai!


Perkenalkan ... Namaku Ezra Ferdinant Benedict, umurku saat ini 15 tahun.


Saat ini Aku sedang ada di halaman sekolah Kami, tepatnya di area parkir sekolah, duduk di atas motorku bersama El, sedang menyaksikan kelakuan biasa dari dua sahabatku.


"Mas Ez, kali ini berapa jam?" bisiknya, sambil menyandarkan kepalanya di punggungku.


"Taruhannya apa?" Balasku.


Heum ... Ini bukan pertama Kali Aku dan El taruhan, sebab Kami selalu melihat hal yang seperti ini.


Seru sih ... Karena mereka berdua selalu imbang, meskipun Queene selalu kalah juga.


"Kerjain Pr Mas, bagaiman- ouch!"


"Yah ... Kok di cubit Mas?"


Aku pun mencubitnya gemas.


"Kamu fikir, Mas bodoh? Mas masih masuk rangking sepuluh besar, tahu!" Seruku.


Enak saja ... Gini-gini Aku adalah murid dengan prestasi di bidang olah raga, masa pekerjaan rumahku di kerjakan oleh Adik kelas.


Harga diriku sebagai Kakak kelas tampan ternodai guys ....


"Yah ... Terus apa dong? El misquen Mas, belum bisa cari uang sendiri seperti Mas Gav. Hanya otak yang di berkahi Gusti nu Agung, yang saat ini El andalkan," Ujarnya merendahkan diri, padahal apa yang di katakannya berbanding terbalik dengan kenyataan.


"Eleh ... Sok misquen, sumpahin nih!" Sahutku


"Eh kok gitu dong Mas, he-he! Mas tampan tapi tampanan Mas Gav. Jangan marah dong!" Serunya merayu.


Dasar ... Aku paling menyayangi Queene di antara sepupu yang lain, Dia lucu dan menggemaskan, membuatku ingin selalu melindunginya.


Itu sebabnya baik Aku maupun Gavriel, Kami sama-sama overprotektif dengan El ataupun Queene, karena mereka berdua tumbuh bersama kami.


Cukup lama Kami melihat mereka berdua berakrab ria, hingga El yang sudah kesal mengeluarkan jurus andalannya, alhasil kedua meong dan guguk tersebut berhenti bertengkar.


Aku hanya berharap, tidak ada perpecahan di antara Kami, baik nanti ataupun berpuluh-puluh tahun kedepan.


Akhirnya setelah perdebatan panjang, antara Gav dan Queene terjadi, kedua perempuan diantara Kami pun pulang.


Yah ... Walaupun ada insiden konyol sebelumnya sih, saat Aku dengan nyinyirnya meledek kempol ayam kampung milik sahabat perempuanku.


Kadang Aku heran, kenapa kelakuan Dia persis layaknya pereman pasar, sehingga Kami pun selalu dengan iseng memanggilnya seperti itu.


Padahal wajah dan bentuk badan sahabat perempuanku itu sangatlah, eum ... Apa yah, yah pokoknya gitu lah, kalau kata Pipi body goals.


Entah apa maksud dari body goals, yang jelas bukan seperti kempol ayam kampung seperti kataku tadi.


Setelahnya Kami pun melanjutkan urusan Kami, berjalan menuju kafe tempat di adakan rapat lanjutan kegiatan Persami, yang akan di adakan sekolah akhir bulan nanti.


Di perjalanan Kami menuju kafe, Sepupuku yang jalan tidak hati-hati terkena sial.


Eh ... Bukan sial sih, karena sialnya nyerempet hal yang menurutku lumayan untung.


(Wah! Fikiran apa itu? Ih ... Maksudnya, Gavriel jatuh nggak sakit, sebab bukan Dia yang di timpah. Ooohh)


Aku melihatnya, melihat Dia yang tersenyum dan entah kanapa senyumnya manis sekali.


Sial ... Padahal kan, bukan Aku yang di senyumin, tapi Aku yang baper.


Kami pun berjalan menuju minimarket atas paksaan sepupuku.


Hal yang tidak pernah di lakukan oleh sepupuku adalah memaksa orang, hanya karena hal sepele seperti ini.


Dan ini membuatku sangat curiga.


Apa ini hanya kebaikan atas rasa bersalah?


Aku tidak tahu ...


Kami pun berkenalan, namanya Kei, nama yang cantik dan tentu saja orangnya juga cantik.


Tapi sayang ... Aku tahu, bukan Aku yang sedang di lihat Dia.


Aku cukup sadar, saat Dia tersenyum manis, senyum yang sangat manis sehingga Aku lebih baik mengalihkan wajahku ke arah lain, dari pada melanjutkan rasa aneh dalam diriku.


Padahal baru di omongin tadi pagi ... Udah terjadi saja.


Meski belum tentu terjadi, tapi kan jodoh siapa yang tahu.


Iya nggak tuh.


Ah! Sebaiknya Aku bersikap biasa saja, masih panjang perjalananku dan seperti kata Pipi, belum saatnya Aku memikirkan hal aneh seperti ini.


"Kei yah ... Mudah-mudah saat Kita bertemu nanti, Kita bisa berteman," Batinku, sambil menggoda sepupuku bertanya tentang bagaimana Kei menurutnya.


Ezra pov end


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kelanjutan kisahnya ....

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2