Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Manisnya Strawberry, Tidak Semanis Senyummu.


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Visual hari ini


Gavriel Wijaya



Selyn Wicaksono



Queeneira Wardhana



Ezra Bennedict



T@i Tong sang road


Taitong Ecopark, nomor 11.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, teng-teng dengan nomor 610 ini sampai juga di stasiun T@i Tong sang, keempat remaja ini turun diikuti beberapa penumpang lainnya, yang sepertinya juga hendak menuju taman strawberry.


Di antara para penumpang yang turun, mereka juga bisa membedakan penduduk pribumi dan pendatang, bukan hanya dari cara mereka berbicara, bentuk fisik pun benar-benar bisa membuat mereka tahu dengan cepat.


"Kita masih harus berjalan, untuk sampai di gerbang taman," ucap Queeneira saat mereka sampai di stasiun.


"Kalian tidak lelah, kan?" lanjutnya melihat satu per satu sahabatnya.


Selyn menggelengkan kepala dengan senyum lebar, sedangkan Gavriel dan Ezra hanya menjawab dengan gumaman singkat.


"Berapa lama?" tanya Gavriel menatap sekeliling, dengan binar senang di kedua bola matanya.


"Sekitar sepuluh menit, nanti kita bisa lihat balihonya," jawab Queeneira, ikut melihat sekitar dengan senyum lebar, tidak sabar melihat lagi kebun strawberry, yang dulu sempat ia lihat bersama nenek dan kakeknya.


"Kalau begitu ayo Mba, kita jalan sekarang. El sudah tidak sabar lihat strawberry di sini," ajak Selyn dengan semangat, sambil menarik tangan sepupunya alih-alih Queeneira sebagai orang yang tahu, letak lokasi dari taman strawberry tujuan mereka.


"Mas Ez sama El, biar Mas Gav sama Mba. Oke?" lanjut Selyn memutuskan pasangan secara sepihak, namun bagi Ezra itu adalah strategi paling yahud, untuk membuat dua sahabatnya berjalan bersama.


"Yuk!" seru Ezra, balik menarik tangan adik sepupunya di genggamannya.


"Hei! Kalian tahu tempatnya?" seru Queene bertanya dengan nada geli, saat sahabat dan adik dari sahabatnya, lebih dulu berjalan meninggalkannya, berjalan menuruni tangga dengan sesekali bercanda.


Keduanya pun menoleh ke belakangan, memasang wajah sok tahu dan menunjuk papan dengan gambar dan tulisan, yang menunjukkan lokasi taman strawberry.


"Tuh!" sahut Selyn dan Ezra kompak.


Queeneira menggelengkan kepala, saat melihat dua orang di depan sana kompak menjawab dan berjalan lagi meninggalkannya. Ia pun menolehkan wajahnya ke arah samping, tepatnya ke arah sahabatnya yang tetap setia berdiri di sampingnya.


"Kita di tinggal, awas saja mereka sampai nyasar," ucap Queene dengan nada geli, menatap sahabatnya yang tersenyum kecil.


"Kalau begitu jangan di tolong, biar mereka tahu rasa," timpal Gavriel bercanda, menuai kekehan kecil dari Queene saat merasa sahabatnya, sepertinya sudah melupakan kejadian semalam dan berusaha rileks saat ini.


"Kamu jahat sekali, mau di keluarin dari silsilah keluarga Wijaya? El kan anak kesayangan unkel," seloroh Queene menggoda sahabatnya, yang hanya mengangkat bahu tak acuh.


"Tanpa nama Wijaya, aku sudah punya segalanya," sahut Gavriel mulai ketularan sisi arogan sang Daddy.


"Ih ... Sombong sekali, di cabut kekuasaannya, baru tahu rasa kamu, jadi jatuh misquen," timpal Queene dengan gelengan kepala pelan, kemudian berjalan meninggalkan Gavriel yang tersenyum tipis di belakangnya.


Gavriel pun menyusul sahabat perempuannya, yang sudah beberapa langkah di depan sana, ia berjalan sedikit cepat dan berdiri di samping sahabatnya, mengikuti langkah sedikit lebar dari seorang Queeneira.


"Kalau aku jadi misquen, apa kamu tidak mau kenal dan dekat dengan aku lagi, Que?" tanya Gavriel tiba-tiba, membuat Queene terkejut hingga ia berhenti dari acara jalannya.


Gavriel ikut berhenti, berdiri memunggungi sahabatnya yang diam, setelah mendengar pertanyaan spontannya.


"Astagfirullah, apa yang aku katakan barusan."


Gavriel hampir saja mengusap wajahnya frustrasi, tapi tidak jadi saat mendengar jawaban sahabatnya, yang membuat jantungnya terasa terpompa.


"Walaupun kamu hanya seorang Gavriel tanpa Wijaya di belakang namamu, aku akan selalu ada untuk seorang Gavriel. Karena bagiku, Gavriel adalah Gavriel. Selamanya akan seperti itu."


Queeneira pun berjalan mendekati sahabatnya, kemudian mengambil tangan besar milik sahabatnya untuk di gengggamnya.


"Lanjut yuk! Nanti mereka benar-benar kesasar," ajak Queeneira, kemudian menarik Gavriel untuk melanjutkan langkah jalan mereka. Tanpa tahu, jika sahabatnya kini sedang memandangnya, dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Apa ini, kenapa seperti ini, kenapa aku tidak bisa menahan senyumanku."


Gavriel tidak mengerti dengan alasan, mengapa senyum muncul di bibirnya tanpa bisa di tahan, hanya karena ia mendengar sendiri jawaban tulus sahabatnya, ia menjadi salah tingkah seperti ini.


"Oh Tuhan, beri tahu aku," lanjutnya masih dalam hati.


"Wah! Mereka akhirnya menunggu kita."


Gavriel tersentak kaget dari acara melamunnya, ikut melihat ke arah depan sana, tepatnya ke arah dua orang yang duduk menunggu mereka, sambil saling menyakiti pipi. Kemudian ia juga melihat sahabatnya yang berjalan di depannya, lalu melihat ke arah tangannya yang di genggam oleh sahabatnya.


"Hangat," batin Gavriel sebelum membalas genggaman tangan sahabatnya, menariknya balik untuk berjalan bersisihan.

__ADS_1


Deg!


Queeneira yang merasakan balasan genggaman dari sahabatnya tersentak, kemudian menoleh ke arah samping dengan sahabatnya yang berdiri di sisinya.


"Gavriel," batin Queene menatap sahabatnya dengan perasaan senang.


"Ayo! Jalannya jangan lelet," gumam Gavriel, tanpa melihat ke arahnya. Ia meneruskan langkah kakinya, dengan Queene yang tersenyum di sampingnya.


Disaat bersamaan, di tempat duduk umum sana, ada Ezra dan Selyn yang menunggu sepupu dan sahabatnya, saat mereka merasa jika mereka sudah jauh meninggalkan keduanya.


"Mas, mereka lama sekali," gerutu Selyn kepada sepupunya, yang duduk di sebelahnya.


"Haus," lanjut Selyn merengek.


"Kamu sih jalannya kecepata-


"Kan semangat Mas," sela Selyn cepat saat sepupunya balik menggerutu menanggapi rengekannya.


"Ya-ya-ya ... Kamu semangat dan sekarang haus," sungut Ezra gemas, ia mencubit kedua pipi milik adik sepupunya, yang juga balas mencubit pipi kakak sepupunya sama gemasnya.


"Mas Ez, ih sakit," rengek Selyn, namun belum cukup membuat sepupunya melepaskan tangannya, dari pipi chubbynya.


"Mas juga kesakitan," timpal Ezra sambil merasakan nyeri di pipinya.


Adik sepupunya tidak tanggung-tanggung saat menganiaya pipinya, beda dengannya yang hanya menempelkan jari jempol dan telunjuknya tanpa tenaga.


"Lepas dulu."


"El yang lep-


"Sebaiknya kalian hentikan atau kalian kami tinggal."


Sepasang sepupu ini akhirnya melepaskan cubitan mereka, kemudian melihat ke asal suara dengan binar mata senang.


"Mas! Lama sekali!" seru Selyn berdiri dari duduknya, untuk menghampiri Mamas tampannya. Ia berdiri di samping Mamasnya, untuk bergelayut manja di sebelah kiri bagian kosong, sedangkan bagian kanan ada Mbanya.


Ia berpura-pura tidak melihat tangan Mamas dan Mbanya yang saling bertaut, tidak ingin membuat keduanya melepas dengan ujung canggung.


"Kalian yang jalannya terlalu semangat," tukas Gavriel dengan nada gemas, apalagi adiknya hanya membalas dengan cengiran lebarnya.


"El yang ajakin," timpal Ezra, memasang wajah polos tidak mau di salahkan.


"Ye! Enak saja!" bantah Selyn tidak terima.


"Ye! Emang iya."


"Is! Buk-


"Oke guys, sekarang lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita," lerai Gavriel menatap adik dan sepupunya bergantian, namun untunglah keduanya tidak benar-benar berdebat, sehingga kekehan kecil terdengar setelahnya.


Selyn pindah bergelayut, kepada Ezra yang balas dengan tepukan sayang di kepalanya.


"Lain kali kita tinggalin lagi, ya Mas," bisik Selyn saat ia menyandarkan kepalanya di bahu sepupunya, sambil berjalan dengan Gavriel dan Queeneira di belakang mereka.


"Nackal sekali, tapi boleh deh," balas Ezra dengan kekehan di belakangnya, kekehan yang membuat Gavriel merasa tidak beres.


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Gavriel sedikit menaikan volume suaranya, membuat dua orang di depannya menoleh segera.


"Ada deh!"


"Kepo!"


Gavriel mendengkus saat mendapt jawaban kompak, dari adik dan sepupunya yang kembali terkekeh dengan gelak tawa mencurigakan.


"Biasanya, kalau sudah tertawa seperti itu, mereka sedang membicarakanku," batin Gavriel curiga.


"Kenapa, Gav?" tanya Queeneira, membuat Gavriel menoleh dengan gelengan kepala sebagai jawaban.


"Tidak apa-apa, apa masih lama?" elak Gavriel bertanya.


"Sebentar lagi kok," balas Queeneira dengan semangat.


Mereka pun berjalan lagi, melanjutkan perjalanan yang kata Queeneira sebentar lagi.


Beberapa saat kemudian.



Seperti yang di katakan oleh Queeneira, kini di depan mereka berempat ada sebuah gapura dengan tulisan huruf, yang asing sekali bagi tiga di antara keempatnya.


TaiTong Organic Ecopark


Taman organik yang buka dari pukul 08:00-18:00 ini adalah taman tempat strawberry tumbuh subur, berada di T@i Tong sang road, Long Ping, Yuen Long.


Bukan hanya strawberry yang ada di taman ini, ada juga kebun binatang yang ramai di kunjungi oleh wisatawan, baik dari lokal maupun mancanegara.


Kali ini tujuan mereka adalah taman atau kebun strawberry, sedangkan kebun binatang bukanlah list dalam liburan hari ini.


Perjalanan yang memakan total waktu empat puluh lima menit ini, tidak menyurutkan semangat mereka. Justru, saat mata mereka di sajikan dengan indahnya warna hijau dan merah, mereka maksudnya Selyn dan Queeneira, dengan semangat menghampiri petugas yang sedang memetik buah dengan rasa manis-asam tersebut.


"Huwoo! Ayo Mba, kita ikut petik strawberry!" seru Selyn sebelum menarik tangan Queeneira, mengikuti jejak langkah kakinya.


"Pelan-pelan, El!"

__ADS_1


Selyn tidak mendengar ucapan dari Queene, ia semakin semangat saat melihat ranumnya buah, yang sebenarnya sering ia lihat juga di desa, tepatnya di taman blueberry kepunyaan sang Daddy yang saat ini menjadi miliknya.



Keduanya meninggalkan para laki-laki, yang hanya bisa menggelengkan kepala tidak heran, saat melihat bagaimana semangatnya adik kesayangan mereka.


"Mereka selalu semangat," ujar Gavriel tiba-tiba, membuat sepupunya yang tadi melihat sekitar, menolehkan wajahnya menghadapnya dengan senyum kecil.


"Karena, kalau mereka tidak semangat. Aku yakin, aku juga tidak akan semangat," sahut Ezra kemudian mengalihkan pandangannya, ke arah sana lagi, maksudnya ke arah dua perempuan yang saat ini sedang sibuk membantu seorang pekerja, memetik buah strawberry yang sudah masak.


"Kamu benar," gumam Gavriel ikut melihat adik dan sahabatnya, yang saat ini sedang mencicipi strawberry siap makan, dari seorang pekerja lainnya yang membawa khusus strawberry sudah di cuci.


Selyn dan Queene yang asik dengan icip-icip buah strawberry, sampai lupa dengan kehadiran dua orang lainnya. Mereka tetap asik memakan, kemudian terkejut saat mereka mendengar deheman dari suara yang mereka kenali dengan sangat.


Keduanya menoleh kompak, kemudian terkekeh saat mendapati tatapan datar dari Gavriel dan Ezra yang bersedekap tangan, pose ngambek andalan Mommy yang menurun kepada anaknya.


"Mas Gav, Mas Ez, mau coba makan strawberry juga?" tawar Selyn dengan senyum kaku, saat melihat Mamas tampannya menatapnya datar.


"Hn."


Jawaban kompak dari keduanya, membuat Selyn tidak habis ide. Ia segera menghampiri dua Mamasnya, dengan dua buah strawberry di tangannya. Kemudian mengulurkan dengan senyum imut, kepada Gavriel dan Ezra, lengkap dengan rayuan andalannya.


"Strawberry khusus untuk Mamas tampan, di makan yuk. Sini El suapin."


Mendengar rayuan serta kerlingan mata imut dari adik kesayanganya, Gavriel dan Ezra pun tidak kuasa untuk tidak tersenyum, dengan Ezra yang terkekeh kecil.


"Buat El aja, Mas tidak makan strawberry," ujar Gavriel sambil menepuk kepada adiknya sayang. Ia menatap ke arah belakang, ke arah sahabatnya yang juga memegang buah strawberry di tangannya.


"Oke, satunya buat El. Mas Ez, mau?" ucap Selyn senang, kemudian bertanya kepada sepupunya, yang mengangguk semangat karena ia adalah pemakan segalanya.


"Tentu saja, yang banyak dong!"


Selyn berpindah ke hadapan sepupunya, kemudian memberikan dengan segera buah di tangannya. Namun tidak itu saja, lagi-lagi Selyn menarik Ezra seenaknya untuk mengikutinya, menuju bagian lain dari taman strawberry.


"Mari kita berjelajah!" seru Selyn sebelum menghilang dengan Ezra turut serta, menyisakan Gavriel yang terdiam melihat Queeneira, yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Kamu juga mau jalan-jalan?" tawar Gavriel bertanya dengan nada ragu.


Queeneira mengangguk, kemudian tersenyum tipis dan menghampiri Gavriel yang tetap berdiri di tempatnya.


"Mau melihat cara menanam dan membedakan strawberry manis yang bener, kamu sudah pernah lihat belum?" tanya Queeneira saat sudah sampai di hadapan Gavriel.


"Sudah sering. Belum, yuk," balas Gavriel menjawab pertanyaan sahabatnya dalam hati di awal, namun tetap mengiyakan ajakan sahabatnya, tidak ingin membuat suasana canggung.


"Yuk!"


Queeneira pun dengan semangat, berjalan di samping sahabatnya yang berjalan santai mensejajarkan langkahnya.


Keduanya jalan bersama dengan sesekali berhenti, untuk melihat para pekerja yang melayani pengunjung lainnya, kemudian melanjutkan perjalanan mereka lagi dan berhenti di tempat penanaman bibit strawberry.


Mereka yang menjadi dua kelompok, masing-masing melakukan aktivitas berbeda. Ezra-Selyn yang sibuk dengan memetik banyak strawberry, sedangkan Gavriel-Queene melihat cara penanaman bibit strawberry.


Tidak terasa waktu cepat berlalu, acara melihat penanaman bibit strawberry sudah selesai. Kini saatnya Gavriel-Queene, memperhatikan cara membedakan buah masak yang benar.


Queeneira mengikuti cara membedakan buah strawberry masak sesuai yang di ajarkan salah satu pekerja, kemudian tersenyum sumringah saat berhasil membedakankannya.


"Lihat! Aromanya harum, daunya berjarak dan bijinya semakin terbenam. Ini pasti manis sekali, cobalah!" seru Queeneira semangat, sambil mengulurkan buah yang di petiknya kehadapan sahabatnya, yang melihatnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.


Diam.


Gavriel tidak segera menyambut uluran buah dari tangan sahabatnya, ia malah menatap Queene dengan buah yang di tangan sahabatnya bergantian.


Melihat keterdiaman dari sahabatnya, Queene pun sadar saat ia ingat jika sahabatnya tidak terlalu suka buah strawberry, berbeda dengan Selyn dan Onty Kiara yang sangat menyukai buah beri tersebut.


"He-he ... Aku lupa, kalau kam-


Grep!


Hup!


Kunyah-kunyah


Kalimat yang akan Queeneira ucapkan terpaksa berhenti, saat sahabatnya segera menangkap tangannya, yang hendak ia tarik kembali.


Matanya melotot kaget, saat dengan santainya Gavriel memakan buah strawberry dari tangannya langsung tanpa di ambil lagi. Ia juga melihat dengan jantung berdetak dua kali lipat, saat melihat sahabatnya mengunyah dengan santai buah itu, sambil melihat matanya dalam.


"Manis," gumam Gavriel tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tapi, manisnya strawberry, tidak semanis senyumanmu," lanjut Gavriel, kemudian melepas tangan Queeneira, saat telinganya mendengar seruan dari jauh memanggil namanya.


"Mas! Lihat! El, petik buah banyak!"


Ia pun menolehkan wajahnya ke asal suara dan menemukan sang adik, yang menenteng beberapa keranjang buah strawberry di tangannya.


"Banyak sekali," sahut Gavriel, membalikkan badan dan menghampiri adiknya, menginggalkan Queeneira yang menatap tangannya tidak percaya.


"Lagi-lagi kamu seperti ini, please, Gavriel. Jangan seperti ini, jika kamu masih menginginkan yang lain," batin Queeneira menatap dalam diam sahabatnya, yang mengambil alih keranjang dari tangan Selyn, untuk di bawanya kebagian kasir.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan dan bantuannya.


Sampai babai.


__ADS_2