
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Fania Pov
Fania menjalani harinya dengan biasa, menjalani aktivitas untuk cover majalah atau berjalan di atas Catwalk sebagai model. Kehidupannya sangat Monoton, tapi sejak bertemu dengan sahabat dari Suami Mba sepupunya semua berubah. Hidupnya sedikit berwarna, tapi sayangnya dia bukan jodoh Fania, dia sudah dulu memasang pagar sebelum Ia masuk di hatinya.
Di sekelilingnya, emang banyak cowok Seprofesinya yang menyatakan cinta. Tapi sayang, Ia tidak tertarik dengan cinta ala pasangan selebriti. Kehidupan modelingnya saja sudah penuh dengan gosip, apalagi di tambah pacaran sesama artis.
Maka dari itu, sejak bertemu dengan sahabatnya Mas Dirga yaitu Bang Raka. Fania merasakan apa itu suka. Ia melihat, jika Raka adalah lelaki yang baik meskipun Blangsakan.
Puncaknya sewaktu acara 7 bulan, padahal ini pertama kali Ia merasakan suka. Tapi langsung hancur, saat tahu jika sepupu dari Mas Dirga yaitu Amira juga menyukai Raka dan sialnya lagi ternyata Dia juga suka dengan Amira.
Dan yah ... Seperti yang kalian tahu, lebih baik Ia mengalah dari pada memisahkan 2 orang saling mencintai. Lucu juga sih melihatnya, bahkan Ia juga membantu menyatukan mereka. Memasang senyum palsu yang sudah terlatih dan tertawa ceria, saat dia tersenyum lebar bercerita bahwa misinya sukses, ketika lamaran yang di susunnya untuk Amira di terima oleh selebor yang saat ini juga sedang mengandung.
Itu sudah lama, tidak ada kesedihan yang tersisa. Karena Ia sadar, ternyata rasa sukanya dengan Raka bukan cinta, itu semata hanya karena mengagumi Raka yang apa adanya.
Siang itu, Ia mengunjungi Mba sepupunya yang habis melahirkan Babyboy. Karena jadwal Pemotretanya sedang padat, jadi ia putuskan untuk menjenguk sebentar Baby yang ternyata mirip sekali dengan Mas Dirga.
Di situ Ia bertemu seorang laki-laki, tampan dan juga berantakan. Iya berantakan, karena Mba Kiara bilang jika mereka habis rebutan kucing tetangga. Ia bingung, kenapa ada kucing di dalam ruang VVIP yang di tempat Mba Kiara?. Nah, pas waktu mata kami bertatapan, aku merasakan lagi debaran yang dulu pernah aku rasa ke Bang Raka.
Kami mengobrol bersama, tertawa bersama dan sesekali mata kami bertemu. Aku malu tentu saja, wajahnya tampan tidak ada cela. Meskipun Mas Dirga lebih tampan ataupun Bang Raka cool dengan gayanya, tapi dia cukup membuat aku merona.
" Aku rasa aku suka deh sama Dia."
Sudah lama kami mengobrolkan segala hal, ini waktunya aku undur diri dan ternyata dia juga undur diri. Di situ lagi-lagi aku mengetahui sesuatu yang membuat hatiku sakit.
Melihat bagaimana Dia memperlakukan Mba Kiara dengan lembut, bahkan saat ada Suaminya pun Ia tetap cuek dengan candaannya.
" Maaf sayang / Maaf chaby"
Tunggu, kalau Mas Dirga aku tahu sering memanggil Mba Kiara sayang tapi kenapa dia memanggil Mba Kiara chaby?.
" Sepertinya Mas Kai ada apa-apa deh sama Mba Kiara"
Pulangnya aku di antar sama Dia, di perjalan kami mengobrolkan banyak hal. Dia juga ternyata baik dan nyambung waktu di ajak ngobrol. Aku merasakan nyaman, lebih nyaman dari pada Bang Raka. Dari situ kami mulai dekat, waktu aku di rumah baru menyambut Baby Gav juga kami saling berbalas pesan.
Kami juga semakin dekat, sering berkirim pesan ataupun bertelepon ria bahkan makan siang bersama. Tapi aku rasa ada yang salah, Dia tidak melihat aku sebagai Fania.
" Ada apa ini?"
Siang itu, Aku mengajak Dia berkunjung ke rumah Baby Gav dengan Bang Raka, Amira, Bang Faro dan tentu saja Mba Elisa yang tinggal menghitung minggu untuk kelahiran Baby Girlnya.
Seperti biasa, Mas Dirga menyambut dengan sapaan songongnya saat melihat Dia. Aku juga bingung kenapa. Nggak lama mereka Para lelaki, izin untuk berbicara di atas. Jangan kira aku nggak tahu apa yang terjadi sebelum mereka ke atas. Aku sempat mendengarnya, dan itu membawa-bawa nama Mba Kiara dan Aku tentunya.
Rasa penasaran menyerang hati dan fikiranku, jadi aku putuskan untuk iseng bertanya dengan Mba Kiara tentang hubungan mereka semua. Dari sekian banyak cerita, hanya 1 yang sampai sekarang aku ingat yaitu kenyataan jika ternyata Dia adalah satu-satunya mantan Mba Kiara.
Mungkin kalau cuma mantan aku akan biasa saja, tapi melihat sendiri bagaimana Dia memandang Mba Kiara, dengan tatapan yang sama ke arahku membuat aku seketika sadar.
" Aku hanyalah pelarian, karena Aku dan Mba Kiara sedikit mirip " gumamku, saat melihat pantulan wajahku di cermin di dalam kamarku saat ini.
Hanya tahi lalat ini yang membuat Aku dan Mba Kiara berbeda. Tidak, bukan berbeda lagi tapi memang Aku dan Mba Kiara jauh berbeda dalam segala hal. Mba Kiara yang cantik, mampu membuat siapapun menyukainya, termasuk Dia yang saat ini mulai aku cintai.
Sejak kepulangan dari rumah Baby Gav, aku masih seperti biasa, mengajak ngobrol dan berkirim pesan. Aku sudah bertekad akan membuat Dia menyukai aku sebagai Fania dan bukan sebagai pengganti Mba Kiara.
Hari selanjutnya kami ada janji untuk nonton bersama di apartemennya, syukurlah aku ada waktu luang. Jadi aku menerima ajakannya, kita berdua menonton Film thriller dan horor. Film kesukaan Mba Kiara dan kebetulan aku juga suka, Dia juga menikmati filmnya dalam diam.
Di saat itu ada gumaman pelan, tapi aku cukup mendengar namun aku diam saja.
Aku fikir aku harus lebih bersabar saat lagi-lagi Dia teringat sama masa lalunya.
__ADS_1
" Si chaby apa masih suka yah film horor"
Chaby itu Mba Kiara kan?
" Tenang Fania, anggap saja ini proses".
Aku mencoba meyakinkan diriku, mungkin hari ini belum.
Lalu keesokan harinya, kami bertemu saat makan siang, kebetulan lokasi Pemotretanku ada di dekat restoran tempat Ia meeting jadi kamu makan bersama. Lalu obrolan mengalir lagi, kami banyak menghabiskan waktu dengan bercanda dan menanyakan tentang masing-masing pribadi kami.
Aku cukup kaget saat Dia bilang jika Ia hampir jadi gembel karena ulah Mas Dirga, Aku sih tahu apa penyebabnya. Tapi bukan itu fokusku, melainkan tatapan mata Dia yang mulai berubah saat memandangku meski sedikit tapi sudah mulai terlihat dan aku cukup senang.
Keesokan harinya, Dia menjemput aku di lokasi Pemotretan sesuai janjinya pada saat kami makan siang bersama.
Tampilannya yang rapih membuatnya terlihat tampan, Dia menelepon ku di seberang parkiran dan aku melihatnya. Aku melambaikan tangan saat Ia bertanya aku dimana?.
Aku menghampirinya, dan Ia juga menghampiriku dengan langkah tergesa dan tiba-tiba Dia memakaikan aku Jas yang tadi di pakainya.
Grep
" Pakai Jasnya, Gue nggak mau Lu di lihat sembarangan orang"
Deg ... Deg ...
Itu bunyi suara jantung aku atau Dia?
Aku tidak tahu, karena aku sendiri sedang menenangkan degub jantungku sendiri. Aku saat ini ada di pelukannya, saat Dia tiba-tiba memakaikan Jas miliknya. Aku yakin pasti wajahku sudah memerah, karena bisa menghirup aroma maskulin darinya.
" Astogeh ... Hayati hampir aja lepas kendali"
Aku hampir saja jadi orang mesum, tapi untungnya aku segera melepaskan pelukan posesif darinya.
Aku membawanya ketempat istirahat, dan aku memintanya menungguku sebentar, untuk menyelesaikan Take terakhir dan Dia mengiyakan.
Jujur saja, aku sedikit tidak fokus karena aku merasa di perhatikan oleh Dia. Tapi untunglah Pemotretan sukses dan aku bangga karena kru fotografer dan semuanya puas dengan kerjaku hari ini. Selesai Take aku kembali menghampirinya dan izin untuk mengganti pakaian.
" Semoga kamu lihat aku dengan tulus yah. Bukan pengganti" gumamku lirih saat melihat ke arah Dia yang sedang menungguku di luar ruang properti.
Normal pov
" Mas, maaf yah lama! " ujar Fania tidak enak, melihat Mas kaisar, iya benar Dia adalah Mas Kaisar mantan Kiara dengan sorot mata menyesal.
" Nggak apa-apa, lagian juga Lu nggak lama kok" balas Kai tersenyum tipis.
Fania melihatnya dengan senyum kecilnya, kemudian menjadi senyum malu saat Kai menggengam tangannya lembut. Menariknya untuk mengikuti langkah Kai menuju mobilnya terparkir.
" Mau makan apa?" tanya Kai lembut saat mereka sampai di dalam mobil.
" Em ... Mas Kai sendiri, mau makan apa? " tanya balik Fania
" Yang Lu makan aja deh" balas Kai balik berpasrah dengan pilihan Fania.
" Bagaimana kalau risotto aja Mas, Mas suka makanan Italy nggak?" tanya Fania, setelah mengemukakan pendapatnya.
" Suka kok, apa aja kalau Lu suka, Gue juga suka. " balas Kai santai, tidak tahu jika efeknya serius untuk Fania yang mendengarnya.
" Kalau gitu kita restoran Italy dekat sini aja yah, nggak apa-apakan? Kamu udah lapar belum?" lanjutnya bertanya.
" Um ... Sedikit hehe ... " balas Fania terkekeh kecil, membuat Kai yang mendengarnya ikut terkekeh. Tangan Kai mampir di rambutnya dan membelainya mesra, lalu tersenyum memandang ke arah Fania yang merona salah tingkah.
" Pandangan Mas kai berubah" batin Fania senang.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, suasana yang aneh menurut Kai, karena biasanya Fania akan selalu mengajaknya berbicara dengan segala ceritanya.
" Ada apa?" tanya Kai tiba-tiba
__ADS_1
" Ada apa, kenapa Mas Kai?" ujar Fania balik bertanya.
" Biasanya Lu nggak pernah diam? Kok sekarang sepi banget nih mobil?" balas Kai menjelaskan maksudnya
" Eh ... Nggak apa-apa kok mas, masa mau seperti Beo melulu sih. Nanti Mas Kai nggak nyaman lagi" ujar Fania dengan senyum canggung.
" Nggak apa-apa kok, Gue suka mobil Gue jadi ramai. Apalagi karena suara dari Lu, Gue suka waktu Lu cerita ini itu. Berasa hidup nih mobil, nggak bosen" balas Kai panjang lebar, namun tanpa melihat ke arah Fania. Ia tetap fokus melihat arah depan, mengendarai mobilnya dengan santai ingin menikmati waktu lebih lama dengan Fania.
" Ye ... Kalau mau ramai mobilnya sewa pengamen aja mas, lebih ramai tahu" seru Fania bercanda, sehingga Kai pun terkekeh. Tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh Fania, benar-benar lucu.
" Haha ... Ada-ada aja sih lu Fan, nggak sekalian Gue sewa Dorling biar ada biduannya juga! " balas Kai mengikuti candaan Fania di sela-sela kekehannya.
Sumpah baru ini Kai, lihat cewek yang lagi-lagi selain Si Chaby nggak termakan sama gombalan, di saat ciwi-ciwi di luar sana langsung klepek-klepek sama gombalan, lah Si Fania malah ngajakin bercanda.
" Ahaha ... Ada biduannya? Goyang nanti Mas mobilnya! " sahut Fania dengan kekehan renyahnya, Ia tertawa saat candaannya ternyata di balas oleh orang di sampingnya.
Kai menoleh kesamping, mendengar dan melihat bagaimana Fania, cewek yang akhir-akhir ini dekat dengannya sedang tertawa renyah karena candaannya. Melihat tawa tanpa malu dari Fania, yang lagi-lagi sama seperti Dia, tapi juga tidak di buat-buat terkesan alami, terbukti saat Ia melihat air mata di sudut mata miliknya, sungguh membuat perasaannya gembira.
" Seneng banget, nih air matanya sampai keluar" ujar Kai dengan tangan menghapus lembut air mata yang menggantung di sudut mata Fania.
Deg ... Deg ...
Fania tersentak kaget, di ikuti oleh degub Jantungnya yang menggila. Tubuhnya tiba-tiba kaku dan itu di sadari oleh Kai, Ia buru-buru melepas tangannya.
" Ketawa kok nggak ada anggun-anggunnya" ujar Kai pura-pura cuek, dengan tangan mengusak rambut Fania gemas, yang di balas gerutuan sebal oleh yang punya rambut.
" Yah, Mas Kai jahil banget. Lihat rambut aku acak-acakan nih, Mas mau aku cubit heum?" seru Fania dengan gesture tangan seperti ingin mencubit, di hadapan Kai yang malah tambah terkekeh.
" Cubit aja, nanti Lu Gue cium. mau heum?" balas Kai tanpa sadar
1
2
3
" Mampus Gue ngomong apa barusan"
Kai menoleh ke samping, di mana Fania sedang melihatnya kaget, melotot tidak percaya ke arahnya di sertai rona merah di pipinya.
" Mas Kai kenapa bilang seperti itu enteng banget, ya ampun Aku malu" batin Fania dengan jantung berdetak kencang malu.
Puk
" Becanda elah Fan, jangan di ambil hati" lanjut Kai setelah menepuk kepala Fania pelan. Lalu Ia kembali fokus menyetir dan suasana menjadi hening lagi.
" Mas kai" panggil Fania
" Oit"
" Mas Kai, Mas kai masih suka yah sama Mba Kiara?"
Deg
" Apa"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ...
Jangan lupa sertakan komentar dan klik jempolnya yaaah ...
Serta vote dukunganya loh
Sampai babai
__ADS_1
Terimakasih