Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Ketahuan


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Sebelumnya


" An, kamu bersihin kamar aja." ujar Kiara memerintah Anita.


" Iya nyonya."


Anita pun segera pergi meninggalkan ruang makan, menuju belakang untuk menyiapkan peralatan.


Anita pov


Hari ini Tuan ada di rumah, tadi juga aku melihat Tuan olahraga bersama Tuan kicik.


Pasangan Ayah dan Anak yang serasi, Aku melihatnya dari kejauhan sambil membersihkan sofa.


Kebetulan sekali, dinding ruang tamu terbuat dari kaca transparan, menghadap ke luar halaman belakang dimana Tuan sedang olahraga.


Tuan sangat mempesona, kicik juga bahagia. Bahkan saat Tuan lari, dengan kicik yang di putari semakin membuat aku terpesona.


Aku berjalan ke arah lantai atas, menaiki tangga dengan hati senang. Tentu saja senang, aku bisa melihat isi kamar Tuan lagi.


Ceklek


Aku membuka pintu, seketika aroma jeruk dan maskulin tercium. Aku sampai heran, bagaimana bisa aromanya tertinggal. Sedangkan orangnya tidak ada di ruangan tempat aku berdiri sekarang , apa karena minyak wanginya mahal, sehingga tahan lama? Entah lah ...


" Humb" Gumamku, saat melihat sekitar.


Aku melangkahkan kaki, memulai pekerjaan dengan membereskan ran ...


" Ini ...


Di atas ranjang ada Foto Tuan, sendirian tanpa nyonya. Memakai seragam kantor, memandang ke arah kamera dengan tatapan datar tanpa senyum, dengan sorot mata tidak tersentuh. Beda sekali dengan foto yang ada di dinding khusus foto, apalagi saat Tuan sedang berfoto dengan nyonya.


Aku mengangkatnya, membawa ke arah wajahku. Memandanginya lekat, seakan sedang memandang orangnya langsung.


Aku tahu ini salah, seharusnya aku tidak boleh memiliki perasaan ini. Tapi apa aku salah, jika menyukai majikanku sendiri?.


" Tuan, kenapa Tuan tidak pernah tersenyum ke arah ku? ....


.


.


.


Di saat bersamaan Di ruang makan, setelah kepergian Anita.


" Kamu katanya curiga?" gumam Dirga pelan, bertanya kepada Istrinya setelah kepergian Anita. Ia melihat ke arah Istrinya, yang tersenyum aneh.


" Kamu mau kopi?" seru Kiara , tanpa membalas pertanyaan. Membuat Ia menghela nafas, menyerah.


" Hn, seperti biasa." balas Dirga, berusaha membiarkan apa yang akan di lakukan Sang Istri.


Kiara membuatkan kopi untuknya dengan semangat, bersenandung senang dengan bibir penuh senyum. Pemandangan yang sangat indah menurutnya, hingga Ia pun tersenyum melihatnya.


Trak


Lalu meletakkan secangkir kopi di meja makan pelan, menimbulkan bunyi beradu dari keduanya. Uap mengepul di atas permukaannya, dengan aroma khas yang membuatnya rileks.


" Arigatou hime ( terima kasih permaisuriku )" ujar Dirga lembut, mengusap rambut basah Istrinya sayang.


" Doitashimashite otou-sama ( kembali, Daddy )" balas Kiara.


Mereka memulai acara sarapan, di selingi obrolan yang melibatkan anak mereka di dalamnya.


" Emh ... Sayang, Aku ke kamar sebentar yah. Ada yang mau Aku pastikan, kalau udah selesai sarapan nanti ke ruang bermain aja. Nggak apa-apa kan?" ujar Kiara, melihat Suaminya, yang saat ini sedang menyeruput Kopi pahitnya.


" Mau periksa apa?" tanya Dirga Penasaran, namun Kiara hanya memberikan senyum. Senyum yang menyimpan rahasia, tapi Ia berusaha membiarkannya.


" Okey, nanti Aku ajak Baby ke ruang bermain. Kalau sudah selesai sarapannya, tapi kamu ke sini dulu aja. Sarapan kamu belum habis loh sayang, got it?" ujar Dirga, yang di jawab anggukan kepala dari Istrinya. Kemudian Kiara melenggang pergi, meninggalkan Dirga dan Gav yang saling pandang.


.


Kiara saat ini sedang berjalan, ke arah kamarnya berada. Berjalan menaiki anak tangga dengan langkah pelan, Ia juga sebenarnya sudah menyiapkan sesuatu, untuk membuktikan kecurigaannya.


Saat ini Ia sudah ada di depan kamarnya, dengan pintu yang tidak tertutup. Sesuai perintahnya jika membersihkan kamar miliknya pintu harus terbuka,sebenarnya itu juga ada sejak kejadian baju jatuh.


Kiara mengintip, dari sela pintu sehingga jika orang yang di dalam tidak jeli. Maka keberadaannya tidak akan di ketahui, lalu Ia memperhatikan dengan seksama.


Ia memicingkan matanya, saat melihat Anita yang mengangkat sebuah figura foto. Samar Ia mendengar suara Anita, walaupun tidak jelas Ia bisa mengambil kesimpulan dari apa yang di ucapkan oleh pembantunya.


Tangannya mengepal, hatinya tidak terima. Tidak ingin ketahuan sedang mengintai, Ia pun segera pergi kembali ke arah dapur, saat Ia melihat pembantunya mulai membereskan ranjang .


.


Di dapur


Sesampainya Kiara di dapur, Ia mendengar Suara Suaminya. Sedang mengajak Gav bicara, yang di balas oleh Gav dengan semangat.


Kiara pov on


" Ternyata mer ...


Ucapanku terhenti saat mendengar isi pembicaraan Suamiku, yang di tanggapi Anakku dengan semangat.


" Heum, Mommy juga perempuan. Bawel dan tukang gigit!"


Bhuu


" Apa maksudnya?" Batinku Penasaran. Aku mendengarnya dari pintu masuk dapur.

__ADS_1


" Hum hum ... Betul, sejenis macan betina."


" Kenapa bawa-bawa macan?" Lanjutku bertanya, masih dalam batin.


Bhu tu tu nuuuuuu


Kesal dengan omongan Suamiku yang semakin ngawur, Aku pun menghampiri Suamiku. Berdiri di belakang Suamiku yang masih belum sadar akan kehadiranku.


" Mommy lagi pergi, jadi nggak denger sayang, Baby tenang saja."


Tu tu ahi hihi


" Bagus, anak sendiri di ajak julid." Batinku emosi. Aku pun bersiap, di belakang Suamiku. Mengeluarkan suara bernada horor, dengan tangan menarik telinga suamiku yang langsung ketakutan.


Gyuttt


" Siapa sayang yang macan betina, heum?"


Aku menarik telinga Suamiku kuat, yang langsung memohon ampun dengan kekehan kecilnya. Saat melihat Sang anak, malah tertawa dengan gurihnya.


" Aaaggg ... Ya ya ya ampun sayang, Aku cuma lagi diskusi sama Baby. " Seru Suamiku menahan sakit, sesekali Suamiku juga terkekeh saat melihat Gav memberi semangat untukku.


" Yah Gav, tolong Daddy dong."


Ahihi bhuuuu da da


Gyutt


" Aaakkh ... Sayang, jangan di situ. Yah yah sakit!" seru Suamiku , saat dadanya juga Aku cubit ganas.


" Heumb" Dengusku.


Lalu Aku pun melepaskan cubitan dan duduk kembali, dengan wajah di tekuk kesal.


Aku merasa di khianati oleh suami sendiri , di belakangku ternyata Dia menggosipiku, lebih parahnya bersama Anakku yang masih polos.


" Hehe ... Maaf sayang, cuma bercanda kok."


Bujuk Suamiku , saat Melihatku cemberut.


Tapi tidak lama, saat Aku ingat sesuatu. Lalu Aku depan cepat menampilkan raut wajah serius menghadap Suamiku. Menuai tatapan Penasaran Dari Suamiku , sepertinya Dia merasakan ada sesuatu yang terjadi tadi.


Kiara pov end


Normal pov


" Yank" panggil Kiara, melihat dengan sorot mata serius.


" Hum?" Gumam Dirga menjawab penggilan Sang Istri, alisnya mengernyit saat melihat sorot mata serius Kiara yang berubah drastis.


" Sepertinya ada yang salah" Lanjutnya dalam hati.


" Aku tadi melihatnya" ujar Kiara tiba-tiba, membuatnya mengangkat alis sebelah gagal paham.


" Hah?"


" Iya, kenapa?" balas Dirga belum paham.


" Kamu tahu, apa yang tadi aku lihat?" seru Kiara bertanya, yang tentu saja di jawab gelengan kepala oleh Dirga.


" Lah, gimana Gue mau tahu. Kan gue nggak lihat?" batin Dirga bingung sendiri.


" Kamu tahu nggak, alasan Aku letakkan foto kamu di atas ranjang? " lanjut Kiara bertanya, yang lagi-lagi di jawab gelengan oleh Dirga.


" Lama-lama, kepala Gue putus dari tadi geleng mulu." batin Dirga gemas.


" Huft ... "


Oke , Dirga mulai curiga. Pasti ada sesuatu yang membuat Istrinya cemas dan nggak senang, jika sudah ada helaan nafas seperti ini.


" Fine ... Kita bicarakan ini dengan serius, ikut aku ke ruangan kerja sekarang. " putus Dirga, menyudahi acara geleng kepalanya. Ia lebih baik membahas ini hingga tuntas, dari pada membuat Ratu hatinya galau.


Sebelumnya, Yang Kiara dengar di kamar tidurnya.


" Tuan, kenapa Tuan tidak pernah tersenyum ke arah ku?"


" Apa Tuan membenciku?"


" Tuan kamu sungguh tampan, andai saja kamu tersenyum sekali untukku."


" Jika Aku bilang, Aku menyukai Tuan. Apa Tuan akan marah?"


" Tapi Tuan, Aku tidak ingin menghancurkan kepercayaan Nyonya besar."


" Aku juga bukannya tidak suka dengan Nyonya Kiara, Dia sangat cocok jadi pasangan Tuan. "


" Tentu saja, Aku tidak ada apa-apanya dengan Nyonya Kiara. "


" Tapi Tuan bolehkah Aku, mencintaimu dalam diam? Karena melihatmu dan mencium wangimu bagiku sudah cukup. "


Anita berbicara panjang lebar, seakan Ia berdiri di depan Sang majikan. Tapi tanpa gugup, karena jujur saja ... Jika Ia sudah di hadapan Sang Tuan, maka tubuhnya akan gugup dengan sendirinya.


Puas memandangi Foto Sang Tuan Ia pun mengusap Foto itu,lalu mengecupnya pelan.


Mengembalikan figura ke atas nakas, di mana ada Handphone milik kedua Majikannya.


Ruang kerja Dirga


" Jadi begitu?" gumam Dirga, setelah mendengar cerita dari Sang Istri.


Kiara diam dengan perasaan aneh, bukan Ia bukannya marah. Karena menyukai seseorang itu hak semua orang, cinta tidak tahu kepada siapa akan berlabuh.


Tapi Ia tidak habis fikir, apa yang di fikirkan Anita. Sehingga Dia berani mencintai Suaminya, bahkan dalam diam sekalipun.


Ia merasa di khianati, orang yang sudah Ia beri pekerjaan. Ternyata menginginkan kepunyaanya, menginginkan Suaminya.


Dirga melihat ke arah Kiara, yang diam dengan raut wajah keruh. Di tengah-tengah mereka ada Gav, yang tertidur di Baby Bouncer.

__ADS_1


Dirga menghela nafas lelah, pusing kalau sudah terlibat masalah hati. Ingin melarang bukan haknya, perasaan suka milik semua orang sekalipun seorang pembantu.


" *Huft , gini caranya mending punya pembantu ibu-ibu semua*." Batinnya lelah.


" Lalu, kamu maunya bagaimana sayang?" tanya Dirga mengalah. Kalau Ia sih mending main pecat, beres masalah, nggak perlu panjang cerita.


" Menurut kamu bagaimana sayang?" tanya balik Kiara, memandang Suaminya dengan sorot mata sedih.


Gav Anaknya suka dengan Anita, nyaman saat bermain dan Anita juga menyayangi Anaknya.


Tunggu ...


" Apa jangan-jangan, Dia sayang sama Gav karena Dirga juga?" batin Kiara sadar.


" Kenapa?" tanya Dirga, saat melihat perubahan raut wajah Istrinya.


" Apa selama ini, jangan-jangan Anita membayangkan mencium kamu melalui Gav?" ujar Kiara, membalas pertanyaan Dirga. Membuat Dirga tersentak , refleks mengumpat karena kaget.


" Fu*k, gila sih sialan." umpat Dirga, lupa siapa yang ada di hadapannya saat ini.


" Yank, bahasa kamu. "


" Refleks sayang maaf" ujar Dirga, saat melihat Istrinya melotot kaget. Ia meminta maaf dengan cara memukul bibirnya sendiri pelan, lalu mengecup pelipis Kiara merayu.


" Untung Gav lagi bobok." dumel Kiara, melotot ke arah Suaminya yang malah cengengesan.


" Hehe ... Khilaf sayang, cius ... Maaf yah." rayu Dirga, yang di balas dengan gembungan pipi imut dari Istri bawelnya.


" Hum ... Jangan ulangi."


" Oke" balas Dirga cepat.


" Terus, kamu bisa menuduh seperti itu dari Mana sih yank? Masa iya Dia membayangkan Gav itu Aku?" lanjut Dirga, saat Kiara diam melihatnya.


" Kamu masih ingat kan, semalam kita bahas apa?" tanya Kiara, membuat Dirga mengangguk. Sebenarnya bukan curcol yang Ia ingat, tapi kejadian setelahnya yang langsung nyangkut di ot ...


Plak


" Yah, bukan kegiatan setelahnya yang lagi kita bahas sayang. Tapi curcolan kita sebelumnya, kamu ingat kan? " seru Kiara sewot , tepat sasaran. Jangan kira yah Ia tidak tahu, apa yang ada di fikiran suami mesumnya.


Dirga terkekeh, saat fikiran ena-ena nya ketahuan. Istrinya semakin hari semakin menggemaskan, kalau lagi ngambek soal itu.


" Oke, Sorry Dear. Jadi yang kamu maksud Dia cium Baby Gav berlebihan, karena ngebayangin lagi cium Aku gitu?" ujar Dirga bertanya, dengan sungguh-sungguh. Sudah waktunya membereskan masalah nggak penting, sepele dan gampang di selesaikan seperti ini.


" Iya"


" Kalau gitu pecat saja, beres kan?" Lanjutnya, saat mendapat jawaban singkat dari Istrinya.


" Tapi nanti Mami nanya, kenapa Anita di pecat?" seru Kiara bertanya. Biar bagaimana pun para pembantu di sini, Sang Mami yang menyeleksi.


" Ya tinggal bilang alasannya, nggak perlu di tutupi kalau kita nggak nyaman. Mami juga pasti ngerti kok, apalagi berhubungan dengan rumah tangga kita." balas Dirga, jelas dan to the point. Ia tidak suka bertele-tele, kalau nggak suka ya langsung aja.


Perusahaan reseh saja Ia bantai langsung , apalagi cuma seorang pembantu. Anggap Ia kejam, tapi siapa orang yang mau rumah tangganya di rusak oleh orang luar. Walaupun Dia bukan pembantu, anak presiden sekalipun, baginya sama saja benalu tetaplah benalu.


Kiara terdiam, memikirkan perkataan Suaminya yang benar adanya. Lebih baik mengambil tindakan tegas, dari pada di biarkan semakin menjadi.


" Oke yank, kita pecat saja. Nggak perlu ada lagi pengganti, Aku sanggup, aku bisa sendiri." ujar Kiara, setelah berfikir.


" Hn" gumam Dirga, mengusap sayang rambut Kiara yang melihatnya dengan senyum.


" Tapi, kamu begini bukan takut kalah saing kan?" seru Dirga tiba-tiba, menggoda Sang Istri. Membuat Kiara auto menggigit tangan Sang Suami, yang sedang mengusap rambutnya saat ini.


Krauck


" A a a aggggg ...


" Sembarang, ya enggak lah. " ujar Kiara sewot, setelah melepas gigitan pada tangan Suaminya. Ia mendengus sebal, saat melihat senyum meledek dari Suaminya.


" Ya kalau nggak, nggak usah di gigit juga kali sayang." Sahut Dirga, mengusap telapak tangannya yang sakit.


" Suka banget gigit Gue, kalau di tempat lain sih ora opo-opo." Batinnya, saat melihat wajah Kiara yang melengos ngambek.


" Hemb"


" Oke, kita panggil Anita sekarang. Kamu tunggu di ruang tamu, aku siapin uangnya dulu." ujar Dirga, membuat Kiara menoleh ke arahnya dengan pandangan terkejut.


" Tapi yank, apa harus di pecat?" tanya Kiara, plin plan. Saat mendengar ucapan suaminya, entah kenapa sebagian harga dirinya merasa jatuh.


" Kalah sama pembantu? Yang bener saja." Batinnya tidak terima.


" Lah terus kamu maunya apa?" tanya Dirga, dengan kening berkerut bingung. Tadi minta pendapat, setelah di kasih solusi malah bingung sendiri.


" Ya aku kepikiran sama ucapan kamu, aku bukannya takut kalah sama pembantu sendiri. Tapi Aku nggak nyaman, Gav kan sering main sama Dia. Aku takut Gav yang kenapa-napa, Aku nggak mau Dia jadiin Gav sebagai pengganti kamu." ujar Kiara, dengan tampang bingung.


Dirga Sekali lagi menghela nafas, menyerah sama pemikiran mahluk Betina yang sungguh kompleks. Seperti labirin, bercabang dan sebagainya.


Intinya padahal sepele, pecat beres.


" Buset, mending menangani perusahaan reseh kalau gini caranya." Batinnya lelah.


" Jadi kamu maunya apa?" tanya Dirga menyerah.


" Bagaimana kalau ...."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya...


Jangan lupa komentar dan klik jempolnya yaaa...


Vote dukunganya juga gaes..


Sampai babai


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2