
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Mansion wijaya Muda
Besok adalah hari perayaan ulang tahun Gavriel yang pertama.
Berbagai persiapan di lakukan oleh keluarga, serta panitia dari event organizer yang di tunjuk langsung oleh Hendri sebagai Kakek dari Gavriel.
Bisa di bilang Gav adalah Royal Baby, bayi dengan segala kemewahan serta kekayaan melimpah.
Bukan hanya dari Sang Daddy maupun Wijaya tapi juga dari warisan Wicaksono, karena bagaimana pun Gav adalah penerus dari garis keturunan Wicaksono asli.
Bisa di bayangkan, Dirga tanpa nama Wijaya saja kekayaannya tidak terhitung, di tambah dengan Wijaya dan Wicaksono.
Tidak usah di hitung karena author pun yakin, jumlahnya tidak akan terkira.
(Khik ... Author comeback. Yo apa kabar thor)
Di ruang tamu terlihat Gav, yang sedang berkumpul dengan teman sepermainannya. Mereka bertiga sedang duduk dengan di kelilingi mainan yang berserakan, sedangkan Para Mommy duduk di sofa, memperhatikan tingkah laku anak masing-masing.
"Ra, apa EO sudah melapor sampai mana persiapan mereka?" tanya Elisa melihat Kiara yang sedang asik mengetik sesuatu di Laptopnya.
"Sudah, em ... Mereka bilang sudah tujuh puluh persen, hanya tinggal Kami crosscheck. Sebenarnya Aku juga sudah bilang, apa pun yang penting terbaik," balas Kiara melihat ke arah Elisa, lalu kembali ke arah Laptopnya.
Amira yang duduk di sampingnya, melihat ke arah Laptop dengan dahi mengernyit penasaran.
"Mba Yaya lagi apa sih? Sibuk sekali," tanya Amira.
Kiara kali ini melirik ke arah Amira, lalu tersenyum singkat.
"Pemindahan hak milik perusahaan di Eropa, Dirga bilang Aku yang handle karena sekarang akan di alihkan atas nama Gav. Aku sampai heran, apa anak Aku sendiri yang punya perusahaan, bahkan di umurnya yang masih di angka satu tahun!" seru Kiara mendengus kecil.
"Hah ... Serius Mba? Bang Dirga kasih Gav sebuah saham di perusahaan, apa ini hadiah ulang tahun?" tanya Amira beruntun.
Kepalanya menggeleng tidak percaya, saat mendengar keponakannya punya perusahaan di usia satu tahun.
Kiara mengangkat bahu acuh, lalu terkekeh kecil saat melihat sahabatnya dan sepupu iparnya melihat ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.
"Bukan hadiah ulang tahun, tapi ini taruhan konyol antara mereka. Dirga bilang akan memberikan perusahaan, jika salah satu di antara mereka menang," balas Kiara santai.
"Pertaruhan konyol gimana Ra?" tanya Elisa tidak mengerti.
"Pertaruhan yang sangat konyol, siapa yang lebih dulu bisa berjalan,Dia yang akan mendapatkan perusahaan di Eropa," balas Kiara sambil mendengus.
"Percayalah, Aku sendiri bahkan sampai geleng kepala. Jangan heran, Dirga dan kelakuannya, siapa yang akan tahu!" lanjut Kiara santai.
Ia sudah tidak heran dengan kejutan yang di berikan Dirga, Dia saja memiliki aset pribadi dari Suaminya, apalagi Sang anak.
Selain mobil dan villa di pulau jeju, ada perusahaan pabrik coklat di Eropa juga, ah ... Ia bahkan tidak bisa menyebutkan satu per satu, apa saja yang sudah di berikan Sang Suami untuk dirinya.
"Benar-benar khas Bang Dirga yah, Am sih sudah tidak heran, Amira saja dapat saham di perusahaan kartu telepon," ujar Amira dengan kepala menggeleng kecil, lalu terkekeh saat mengingat bagaimana bisa sepupunya memberikan kepemilikan saham untuknya.
"Amira juga dapat, ha-ha .... Bagaimana dengan calon menantu kalian nanti yah!" seru Elisa terkekeh penasaran.
"Calon menantu? Masih lama kali Sa," sahut Kiara kemudian ikut terkekeh.
"Faro bilang, mereka sudah merencanakan perjodohan antara anak-anak kita. Tidak perduli sama siapa, tapi mereka ingin ada ikatan di antara anak Kita kelak!" seru Elisa.
"Ada-ada saja," Lanjutnya mendengus geli.
"Dirga juga pernah bilang begitu. Tapi entah lah Sa, bukannya Aku nggak mau ada ikatan kekeluargaan di antara kita. Mengingat jika dulu Aku dan Dirga juga hasil perjodohan, akan ada pro dan kontra di dalamnya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana ceritanya, iya kalau keduanya saling suka seperti Kami. Kalau tidak bagaimana?" ujar Kiara panjang lebar.
Ia melihat ke arah sahabatnya dengan senyum tidak enak, jujur saja Ia sangat menginginkan itu terjadi, tapi sekali lagi cinta tidak bisa di paksakan dan demi tuhan Gav bahkan baru berumur satu tahun.
"Oh ... Sepertinya Aku terlalu memikirkan ini dengan berlebihan," batin Kiara geli sendiri.
Elisa tertawa lepas saat melihat sendiri kegelisahan dari Nyonya Wijaya, yang saat ini sedang geleng kepala dengan tangan memukul dahinya sendiri. Sepertinya sahabatnya baru menyadari apa yang di ucapkannya tadi.
"Kamu kebiasaan, terlalu memikirkan hal yang masih lama. Lagian anak-anak masih terlalu kecil, masih terlalu dini membicarakan hal seperti ini. Aku yakin jika memang di antara mereka ada yang berjodoh, tanpa di paksa pun akan bersama," ujar Elisa bijak.
Ia melihat ke arah Anak-anak berada, di mana mereka sedang berbicara layaknya orang dewasa, namun dengan bahasa bayi yang sedikit bisa Ia pahami.
"Lihat ... Bicara saja mereka belum benar, ha-ha-ha!" lanjut Elisa tertawa lagi.
Kiara dan Amira yang melihatnya pun ikut tertawa, apalagi saat Queeneira memarahi kedua bayi pria yang hanya bisa diam.
Sepertinya Gav dan Ez berbuat ulah, sehingga Queeneira yang terkenal ceriwis semakin ceriwis, jika sudah di tengah-tengah keduanya.
Sedangkan di sisi Para bayi, mereka bertiga main dengan saling berkomunikasi menggunakan bahasa, yang hanya bisa di mengerti diri mereka sendiri.
Kira-kira seperti ini isi percakapan mereka.
__ADS_1
Gav: Es, Es, ndak oyeh.
Ez: Tav, Es au.
Queen: No.No. Mam no, no.
Adakah yang mengerti itu artinya apa?
Bahkan Google translate pun akan bingung, jika di tanya apa arti sebenarnya dari percakapan mereka.
Gav: Que, Que, Es au atan. Nda oyeh!
Ez: Tav, uh tan tuh!
Queen: No. ( dengan kepala menggeleng)
Dirga, Raka dan Faro yang berjalan bersama dari arah ruangan yang lain, seketika terdiam dengan bibir bergetar menahan tawa.
Sumpah demi apa, percakapan di depan mereka bahkan lebih susah di artikan, di bandingkan dengan bahasa di dunia ini.
Jika itu masih bahasa inggris, Spanyol atau Jerman sekali pun, mereka yakin masih bisa mengertinya. Tapi ini dengar saja sendiri, bahkan tingkah ketiganya membuat mereka gemas, ingin mencubit takut anak mereka nangis.
"Ha-ha-ha!"
Jika Para Daddy harus menahan tawa mereka, beda lagi dengan Para Kakek dan Nenek yang juga menyaksikannya, Mereka bahkan tanpa menutupi tertawa dengan kerasnya.
"Astaga, kenapa mereka lucu sekali!" pekik Putri heboh. Ia menghampiri ketiganya, duduk dengan segera bibirnya menyosor satu per satu pipi cucu-cucunya.
Padahal jarak antara ruang tamu dan arah mereka lumayan, tapi kecepatan Para nenek luar biasa, bisa lebih dulu sampai di banding mereka yang hanya beberapa langkah dari Para anak.
"Lucu sekali kalian, Oma jadi pengen cubit!" seru Sarah heboh, Ia mencubit gemas lengan orang di sebelahnya pada saat bilang ingin mencubit.
"Aakh, sakit Mah!" seru Fandi sakit sebagai korban dari pencubitan.
Sarah berfikir lebih baik Ia mencubit Suaminya, dari pada mencubit cucu-cucunya.
"Sengaja Hubby, dari pada Cucuku yang jadi korban!" seru Sarah santai.
Ia mengikuti jejak besannya yaitu putri, yang sudah lebih dulu gabung bermain dengan para balita, yang saat ini sedang sibuk memberikan mainnya kepada Putri.
Para Kakek, beserta Daddy berjalan ke arah sofa, lalu duduk nyaman di sisi pasangan masing-masing.
"Sudah selesai?" tanya Dirga ambigu. Namun Kiara sebagai orang yang di tanya mengangguk menjawab pertanyaan Suaminya.
Dirga berfikir sebentar apakah pantas atau tidak jika melalui acara informal, lalu mengangguk menyetujui.
"Oke ... Nanti sewaktu sambutan saja, sekalian ada yang mau Aku tunjukkan," balaa Dirga misterus.
"Apa?" tanya Kiara penasaran.
Dirga tersenyum kecil, lalu menepuk kepala Kiara sayang.
"Nanti juga tahu, sabar yah!" bisik Dirga lalu mengecup pipi Kiara tanpa malu. Membuat Fandi yang melihatnya mencibir kelakuan Sang menantu.
"Serasa ngontrak uey, yang lain anggap aja tidak ada," dengus Fandi meledek.
Kiara tersenyum malu sedangkan Dirga balas mendengus ke arah Mertuanya, lalu ia melirik ke arah anak-anak yang saat ini sedang bermain dengan kedua neneknya.
"Kamu ngerti nggak, tadi mereka ngomongin apaan?" tanya Dirga penasaran.
Ia melihat Kiara, Elisa dan Amira yang tertawa, dengan kekehan geli yang membuatnya semakin penasaran.
"Iya ... Sampai sekarang Aku baru sedikit mengerti, jika Ez atau Gav dan queene sedang berceloteh," sahut Raka ikut penasaran yang di angguki oleh Faro.
Faro juga penasaran dengan arti dari percakapan ketiga anak di sana, Bisa-bisanya mereka berkomunikasi dengan bahasa yang tidak ada di kamus besar bahasa.
"Kalian mau tahu?" ujar Elisa dengan kekehan kecil. Sebagai seorang ibu tentu saja Ia mengerti apa maksud dan mau keinginan anaknya.
Mereka bertiga mengangguk menjawab pertanyaan dari Elisa, mereka penasaran bagaimana bisa ibu lebih mengerti apa mau anak di banding mereka Para ayah.
"Padahal bahasa mereka mudah di pahami, masa tidak mengerti. Dasar .... Daddy apaan tuh," sahut Amira mengejek.
"Ye ... Bukannya Kami tidak mengerti, tapi Kami hanya takut salah mengartikan!" seru Raka tidak terima.
Emang sih terkadang Ia mengerti apa ucapan Ez anaknya ,yah ... meski kebanyakan tidak mengertinya, tapi Ia terkadang tahu apa keinginan Sang anak.
"Ngeles aja," ledek Amira menggoda Sang suami.
Raka yang mengerti candaan dari Sang Istri membalas dengan cubitan di hidung, yang di balas kekehan dari keduanya.
"Dasar selebor," gumam Raka mendengus kecil.
"Blee ..."
__ADS_1
Sedangkan Faro dan Elisa yang melihatnya hanya bisa menggeleng kepala, ikut bahagia saat melihat sahabatnya memiliki kehidupan rumah tangga harmonis.
"Gue nggak nyangka, Raka yang Gue kenal playboy, bisa sayang gini sama Amira," batin Faro ikut bahagia.
Dan Dirga sendiri yang melihat sepupunya bahagia dengan sahabatnya ikut bahagia, Ia merasa tidak salah membiarkan Raka dan Amira bersama.
"Jodoh, maut, musibah dan segalanya siapa yang akan tahu," batin Dirga.
"Jadi apa artinya?" ujar Dirga mengulangi pertanyaan.
Sebelum menjawab Kiara terkekeh kecil, lalu menepuk punggung tangan Suaminya, yang saat ini ada di genggamannya.
"Jadi intinya, Ez mau makan mainan dan Gav melarang, lalu Queene ikut memarahi keduanya. Sepertinya Queene akan menjadi penengah, di saat dua laki-laki di sana bertengkar!" balas Kiara menjelaskan.
"Astaga!!" seru ketiga Daddy kompak.
Mereka tidak habis fikir, ternyata hal yang di ributkan oleh ketiga bocah di sana adalah hal seperti itu.
Lagian bagaimana bisa Anak dari hasil cocok tanam antara Raka dan Amira, memiliki niat untuk memakan mainannya sendiri.
Namanya anak-anak ... Memangnya dulu kalian tidak seperti itu, heum.
(Betul itu ... Jangan kan mainan, mungkin uang ratusan ribuan juga di kira makanan, jika orang tua tidak memperhatikan,)
"Kamu dulu juga begitu, sewaktu kecil ingin memakan apa saja yang lewat. Bahkan kecoa lewat juga di kira kurma!" seru Hendri meledek Dirga.
"Mana ada!" bantah Dirga cepat. Ia melotot le arah Papanya, yang langsung terkekeh saat menantunya bertanya dengan nada penasaran.
"Kasih tahu Pih, dulu Dirga bagaimana!" seru Kiara semangat, menuai cubitan gemas di pipinya oleh Sang suami.
"Ngaco ... Pokoknya, apa pun yang di bilang Papi nggak ada yang benar," ujar Dirga cepat.
Ia khawatir Sang Papa akan menceritakan sesuatu, yang sebenarnya Ia sendiri tidak ingat pernah melakukannya.
"Jangan ngawur Pah!" seru Dirga kepada Hendri yang terkekeh senang.
Akhirnya Ia bisa meledek Sang anak, yang di kenal kaku dan ingin terlihat sempurna di matanya.
"Siapa yang ngawur, Mama Kamu saksinya. Iya kan Mah!" seru Hendri dengan senyum menantang. Ia meminta dukungan dari Sang Istri, yang langsung mengerti maksudnya apa.
"Benar, dulu Dirga kecil kelakuannya lebih absurd, beda dengan Gav yang penurut dan mempesona!" balas Putri ikut membantu Sang suami. Ia meledek Anaknya sendiri, yang kini wajahnya memerah malu.
"Ngaco ah pada, Mama jangan ikut-ikutan Papa. Boong dosa loh!" seru Dirga malu.
"Ah ... Dari dulu Faro juga mau tahu sih, waktu kecil Dirga seperti apa!" sahut Faro ikut mengompori. Ia terkekeh kecil saat melihat Dirga yang gantian, melotot ke arahnya.
"Eh stres, diem aja deh. Jangan memperkeruh keadaan," balas Dirga sewot.
"Iya Pah, cob-
"Oi ... Ini lgi malah ikut-ikutan, Gue slepet juga nih!" sela Dirga cepat saat Raka ikut mengeluarkan bacodnya.
Raka tertawa lepas saat melihat Dirga mode sewot, seru sekali melihat muka songongnya di bantai abis sama Papa sendiri.
Dari dulu emang seperti ini, bapak sama anak tidak akur jika itu bukan tentang perusahaan, yah ... Tidak juga sih, tapi kebanyakan adu kesongongan saat bertemu.
"Ceritakan lah Hendri, Aku juga mau tahu kelakuan Dirga dulu. Apa iya, dari dulu sudah sombong. Berarti emang kesombongan yang haqiqi dong!" seru Fandi. Ia melihat ke arah menantunya yang mendengus kesal, namun Putrinya menenangkan.
"Papa ceritakan Yah ...." ujar Hendri dengan nada main-main. Alisnya naik turun, menggoda ke arah Dirga yang langsung protes.
"Berani menceritakan, siap-siap pah, Wijaya bangkrut!" seru Dirga mengancam.
"Tidak takut,"
"Jadi itu-
"Pah!!"
Tawa dari semuanya memenuhi ruang tamu setelah seruan tidak terima dari Dirga, yang terdengar fustasi.
Sepertinya Hendri memiliki dendam kepada Sang anak, sehingga saat melihat wajah memerah malu Dirga ada kepuasan tersendiri yang di rasakannya.
"Ah ... Indahnya kebersamaan," batin Hendri senang.
Satu hari lagi di lewatkan oleh keluarga besar Wijaya dan Wicaksono. Semoga kedepannya hanya kebahagiaan, yang akan mereka rasakan.
Amin.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ...
__ADS_1