
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya Muda
Hari ini sudah lewat tiga hari dari pertaruhan antara Daddy Dirga dan buntalan Anak bernama Gav.
Saat ini mereka sedang duduk santai, lesehan dengan buah semangka di tangan masing-masing.
Gav yang sudah bisa memegang apapun sekarang ingin selalu mau makan, dengan tangannya sendiri yang memegang. Bahkan saat Sang Mommy berniat menyuapinya, Ia akan dengan tegas menolak dan melengoskan kepalanya.
Kiara sebagai Mommy merasa sedih, di umurnya yang baru menginjak satu tahun, Gav putra kesayanganya sudah menunjukan bibit songong khas Sang Daddy.
Ini di mulai sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya saat mereka sedang mendampingi Dirga, yang seperti biasa belajar berjalan di gazebo belakang rumah dan Dirga dengan resehnya meledek Gav yang saat itu sedang makan di suapi oleh Kiara.
Meskipun tidak setiap saat tapi Ia merasa sedih, Anaknya punya fikiran dewasa sebelum waktunya.
"Makan yang benar Kid, lihat basah semua!" seru Dirga sambil terkekeh lucu.
Ia mengambil tissue di sebelahnya dan menyeka area dagu Gav yang basah oleh air semangka.
"Syah, asyah, Dadd asyah!"
"Bukan Daddy, tapi Gav yang basah," sahut Dirga mendengus geli.
"Tav, asyah?"
"Iya Kid, Kamu yang basah. Hi-hi ... Dasar!" seru Dirga sambil terkikik kecil. Ia menggelengkan kepalanya, saat Gav memberikan cengiran khasnya.
Dua gigi kecil milik Anaknya akan seperti Sang Mommy bila sedang tersenyum maksudnya nyengir polos.
Setelah dagu Sang anak bersih dan kering, Dirga memberikan lagi potongan semangka yang lainnya.
Cuaca yang panas memang cocok makan semangka, apalagi di nikmati bersama kesayangan dan angin sepoi-sepoi menyapa wajah.
"Oi yuhuu ... Ada orang hidup di sana?"
Dirga dan Gav saling memandang dengan ekspresi bertanya, lalu melihat ke arah pintu dari arah ruang tamu, dimana ada Raka dan Ez yang berjalan dengan santai ke arah mereka.
"Yo ... Mau numpang makan semangka, Ez juga bawa tuh yang warna biru!" seru Raka dengan cengirannya.
Dirga mendengus dengan mata berotasi, merasa terganggu padahal Ia dan Sang anak sedang menikmati quality time mereka.
"Ngapain? Numpang makan semangka? Makan sendiri sana di rumah Lu!" seru Dirga kejam.
"Pret ... Masih sensi aja Lu, Gue kecup beneran nih!" balas Raka terkekeh kecil.
Ia masih ingat saat Sahabatnya menelpon dirinya, yang saat itu sedang siap-siap tidur hanya untuk mendengar kalimat makian.
"Lagian di khawatirin kok malah marah," batin Raka kesal.
"Najis," balas Dirga sewot.
Tapi tidak lama kemudian Ia terkekeh, saat melihat Anaknya melonjak semangat menyambut kedatangan sepupunya.
"Es, es!"
"Ez Kid, ingat Wijaya selalu sempurna," sahut Dirga edan.
"Eh bangke, anak Lu masih piyik di suruh sempurna, Gue slepet juga nih ah!" seru Raka sewot sendiri.
Dirga terkekeh saat mendengar gerutuan dari sahabat kampretnya, sudah lama sekali mereka tidak saling memaki saat bertemu.
"Eh kampret, anak, anak Gue. Sibuk aja Lu!" seru Dirga minta di tampol.
"Sial, jangan sampai keponakan Gue mirip bapaknya," gumam Raka minta di gampar.
Dirga yang mendengarnya melotot, Ia melempar kulit semangka ke arah Raka yang langsung terkekeh keras.
"Sialan Lu, anak Gue ya mirip Gue lah. Bangke," ujar Dirga sewot.
Raka duduk lesehan dengan Ez di pangkuannya, kemudian menepuk kepala Gav pelan.
"What's up Kiddo, ingat apa yang ungkel bilang. Jangan samp- Akh ... Sakit oy!"
Kalimat ngaco dari Raka berhenti, di gantikan dengan pekikan sakit, saat Dirga menampol kepalanya lumayan keras.
"Diem aja Lu, mau Gue lempar nih kruk ke muka Lu, heum?" ujar Dirga santai.
__ADS_1
Tangannya sudah ancang-ancang memegang kruk yang Ia letakkan di sampingnya.
Raka tertawa alih-alih takut, baginya Dirga yang ngamuk itu lebih baik dari pada Dirga yang lainnya.
"Ha-ha-ha .... Santai ae, mending kit-
"Ada apa sih, berisik sekali?"
Dirga dan Raka menoleh ke arah suara, dimana ada Kiara dan Amira yang berjalan dengan sepiring tahu goreng dan nampan berisi jus jeruk di tangan.
"Kalian berisik sekali, padahal cuma dua orang dewasa dan dua anak kecil. Tapi sudah seperti orang sekampung saja!" seru Amira mendengus kecil.
Ia tahu resikonya jika abang sepupunya kumpul dengan Suaminya, maka keributan lah yang akan tercipta.
"Nggak ada Kita,nggak rame Dong!" seru keduanya bareng. Lalu bertos ria dengan senyum meledek di bibir masing-masing.
"Huem!" dengus Amira geli.
"Kompak sekali, sudah baikan nih ceritanya?" ujar Kiara menggoda.
Ia duduk di samping Suaminya, lalu memangku Gav yang sedang mencoba mengambil mainan milik Ez.
Alamat menangis jika sampai Gav berebut mainan dengan Ez, Ponakannya yang tidak mau mengalah dan Anaknya yang mau menang sendiri.
Benar-benar perpaduan yang sempurna, semoga sewaktu besar nanti mereka berdua bisa saling melengkapi. Tapi tenang, mungkin ini alasannya kenapa ada Queene di antara keduanya, sebab jika ada Si amui anak dari Faro di tengah mereka, maka Gav serta Ez akan akur dan saling menyayangi.
"Siap yang baikan?" tanya Dirga dengan alis terangkat sebelah.
"Kalian," balas Kiara cepat.
"Kapan Kita berantem?" tanya Raka terkikik geli.
"Setiap saat," sahut Amira cepat.
Keduanya terkekeh saat mendengar jawaban dari pertanyaan, mengenai persahabatan mereka. Emang jika orang luar yang lihat, persahabatan mereka aneh menjurus seperti saling membenci, tapi jangan salah justru dengan begitu persahabatan mereka teruji klinis.
"Biasa aja tuh," ujar mereka hampir bersamaan.
Kemudian kikikan datang dari Sang anak yang merasa lucu, saat kedua orang tua masing-masing saling mengobrol santai.
"Momm, kan, ngka"
"Tidak, sudah terlalu banyak!" seru Kiara melarang.
"Ug,"
"Dadd, ngka, au!"
"Tidak sayang, sudah cukup!" sahut Dirga ikut melarang.
Mendengar penolakan dari kedua orang tuanya, Gav mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya, apalagi kalau bukan menangis. Tadinya sih ingin seperti itu, tapi saat di depannya terulur potongan semangka hampir hancur yang berasal dari Ez, Gav langsung berbinar dan mengambilnya segera.
"Hi-hi!"
Kedua pasang orang tua yang melihat kejadian barusan menggeleng kepala, antara gemas dan bingung. Bagaimana bisa anak kecil yang umurnya bahkan belum genap satu tahun, sudah mengerti apa itu larangan dan berbagi.
Mereka sama-sama merasa bangga, memiliki anak yang cerdas dan lucu seperti Gav dan Ezra.
"Oke ... Satu potong lagi, got it?" ujar Dirga melihat anaknya yang menatap dirinya, dengan mulut penuh dengan semangka.
"Tu?"
"Iya satu, tidak lebih!" seru Dirga dengan tangan menyeka dagu basah Sang anak.
Obrolan ringan terdengar setelahnya, pertanyaan kabar dan lain sebagainya mengalir begitu saja. Di iringi dengan kekehan renyah Sang anak dan keponakan, juga tangisan saat kedua anak laki-laki beda usia itu bertengkar.
Skip
Tidak terasa sore datang, pasangan Raka dan Amira serta ponakannya Ezra sudah waktunya undur diri. Mereka, Dirga dan Kiara mengantar hingga halaman depan, sampai mobil yang di tumpangi sepupunya keluar dari gerbang rumahnya.
"Pelan-pelan sayang!" seru Kiara khawatir. Di gendongannya ada Gav, yang ikut melihat Sang Daddy dengan pandangan khawatir.
"Tidak apa-apa, Aku sudah bisa berjalan meski pelan," balas Dirga dengan senyum kecil.
Jika kemarin sebelum terapi Dirga sangat sulit berjalan, maka sekarang lain cerita. Ia sudah bisa berjalan dengan satu kruk, sedangkan satu yang lainnya Ia sengaja tinggal.
Sesekali memang langkah Dirga akan seperti orang linglung dan Kiara dengan sigap mengamit lengannya.
"Terima kasih sayang," ujar Dirga lembut. Ia mengusap sisi wajah Istrinya sayang, yang di balas senyum manis oleh Kiara.
__ADS_1
Saat ini mereka sudah kembali kedalam kamar, sementara ini mereka menempati kamar tamu yang ada di lantai dasar, akan sangat merepotkan jika mereka bolak-balik atas-bawah saat keadaan Dirga tidak memungkinkan.
Dirga naik ke lantai atas, Hanya saat akan mengerjakan dokumen di kantor pribadinya, tepatnya di sebelah kamarnya dan istrinya.
Dirga duduk di tepi ranjang, sedangkan Gav Kiara letakkan di matras tempat biasa Gav berguling-guling.
"Minggu depan Gav ulang tahun!" seru Dirga memulai pembicaraan.
Kiara yang sedang mengambil beberapa mainan menoleh ke arahnya, lalu mengerutkan kening bertanya.
"Iya, apa mau di rayakan? Sedangkan-
"Tentu saja, walaupun Aku seperti ini, Aku akan tetap membuat pesta ulang tahun pertama untuk Gav yang meriah. Bagaimana menurutmu?" tanya Dirga cepat. Ia menyela perkataan Istrinya, yang sudah bisa Ia tebak arah dan tujuannya.
"Baiklah, Aku setuju!"seru Kiara sambil tersenyum kecil.
"Sayang!" seru Dirga memanggil.
"Iya?"
"Kalau Aku bisa berjalan, bagaimana kalau kita jalan-jalan, bertiga dengan Gav?" ujar Dirga meminta.
Kiara tersenyum saat mendengar permintaan Sang suami, Ia tentu saja ingin menghabiskan waktu dengan dua lelaki kesayanganya, apalagi setelah kejadian buruk yang menimpah mereka dengan bertubi-tubi.
"Tentu saja, Aku mau, Gav juga mau!" balas Kiara semangat.
"Aku senang!" seru Dirga dengan senyum kecil.
"Aku lebih senang, lebih bahagia. Jadi karena Kamu ingin menghabiskan waktu dengan Kami, secepatnya Kamu harus bisa berjalan yah, sayang!" seru Kiara.
"Jangan pernah menyerah, karena menyerah tidak ada di dalam kamus seorang Dirga Mahesa, seorang Suami serta Daddy dari Anakku!" ujar Kiara semangat
"Iya kan sayang?" Lanjutnya bertanya saat matanya melihat Sang anak.
"Um, Dadd angat!"
"Aha-ha .... Tentu saja Daddy akan semangat, demi Kita. Oke?" balas Dirga setelah terkekeh geli.
Celotehan Anaknya yang memberi semangat sangat berarti untuknya, jadi Ia harus bisa secepatnya berjalan normal tanpa bantuan alat penopang jalan.
"Kamu mau mandi?" tanya Kiara.
"Iya ... Kali ini biar Aku saja, Kamu temani Gav, oke?" ujar Dirga menolak lebih awal, sebelumnya Kiara menawarkan bantuan.
"Ih ... Aku kan mau bantu, masa-
"Tidak, Kamu nanti intip Aku mandi!" sela Dirga cepat berpura-pura marah.
Padahal bibirnya sudah berkedut ingin tertawa, saat melihat wajah memerah dari Kiara.
"Dih reseh!"
"Emang reseh .... Ya sudah, Aku mandi dulu!" seru Dirga.
Ia berjalan masih dengan menggunakan kruknya, lalu menutup pintu kamar mandi dengan debaman kecil.
"Daddy usil sekali, padahal siapa juga yang mau ngintip!" seru Kiara melihat Gav, yang balik menatapnya dengan bingung.
"Dadd!"
"Iya Daddy Kamu," sahut Kiara cepat. Ia seperti menemukan teman gibah, saat Anaknya menimpali ucapannya.
"Hi-hi, Dadd!"
"Ah ... Lupa, Kamu kan sekongkol sama Daddy. Mana mungkin Kamu belain Mommy!" seru Kiara kesal.
Lalu sesudahnya hanya kikikan yang terdengar, dengan Kiara yang mendengus geli dan tersenyum lebar khasnya.
Sedangkan di kamar mandi, Dirga yang masih berdiri menggunakan kruk melihat pantulan dirinya di cermin.
Di sana ada wajahnya dengan raut wajah berbeda, Ia menatap tidak percaya ke arah sesuatu, yang membuat Ia merasa campur aduk seketika.
"Tidak mungkin,"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
__ADS_1