
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Ruang Kesehatan Sekolah
Di depan UKS ada seorang siswi, paras cantiknya membuat ia menjadi siswi paling cantik dan terkenal di kalangan siswa.
Ia berdiri dengan raut wajah gelisah, saat dirinya tidak punya alasan untuk masuk ke dalam.
Ia masih mengingat dengan jelas, bagaimana ekspresi teman laki-lakinya, saat menggendong sahabat perempuannya.
Ya ampun .... Bahkan seruan pertanyaan darinya pun tidak di jawab.
"Semoga dia tidak apa-apa," gumamnya khawatir.
Cukup lama ia berdiri sendiri seperti orang bodoh, padahal ia bisa saja masuk dan ikut dengan dua teman laki-lakinya tadi.
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka, mengalihkan atensinya.
Ia pun menolehkan wajahnya segera dan menemukan dua teman sekelasnya yang tadi Ia ikuti, keluar dengan ekspresi bingung yang kentara.
"Mereka kenapa?" tanyanya dalam hati.
"Gav, Ezra!" serunya memanggil.
Gavriel dan Ezra yang merasa namanya di panggil pun kompak menoleh, mereka melihat teman sekelas mereka, yang berjalan menghampiri mereka.
"Kei!"
"Gav, Ezra. Bagaimana keadaan Queene?" tanyanya Kei khawatir.
"Queene sedang istirahat," balas Ezra mewakili.
"Kamu dari tadi ngikutin kami? Kenapa tidak masuk?" tanya Gavriel.
"Emh ... Itu, aku takut ganggu kalian," balas Kei dengan senyum canggung.
Gavriel menggeleng kepala, tidak habis pikir dengan pikiran rumit perempuan di depannya.
Mengganggu bagaimana, jika dia khawatir terhadap sahabat perempuannya, bukannya ia dan sepupunya juga senang dan tidak melarang.
"Ganggu bagaimana sih, Kei," ujar Gavriel gemas, namun masih dengan nada datarnya.
"Emh ... Ah! Lupakan, lalu bagaimana dengan Queene?" tanya Kei mengalihkan pertanyaan Gavriel.
"Queene sudah baik, sedang istirahat. Kami tidak boleh menunggu dia sampai sadar," balas Ezra menjelaskan lagi.
"Syukurlah," gumam Kei senang.
"Lalu sakit karena apa?" tanya Kei masih belum puas.
Apa semua perempuan seperti ini? Selalu ada pertanyaan berikutnya, jika sudah ada jawaban di pertanyaan sebelumnya.
"Em ..."
Kedua sahabat ini sama-sama bergumam, saat mengingat nama penyakit yang membuat Queene sampai seperti ini.
"Apa yah .... Desmaina, desember, desas-des-
Gumaman ngaco dari sepupunya membuat Gavriel, sebagai pendengar gerah seketika apalagi saat nama ibu kantin mereka dulu di bawa-bawa.
Ia pun dengan sadar menampol belakang kepala sepupunya, menuai pekikan sakit dari si korban yang tidak terima.
Pletak!
"Ouch! Ah! Gavriel bangke, sakit oy!"
Gavriel si pelaku hanya memandang sepupunya datar, sebelum bergumam bodoh pelan, menuai gerutuan panjang dari Ezra, yang tidak bisa membalas lagi.
Kei yang melihatnya tersenyum kecil, melihat bagaimana dua pria incaran sekolah, yang saat ini sedang saling menyumpah serapah.
Ia merasa beruntung bisa melihat langsung, jika biasanya mereka hanya akan menampilkan wajah khas mereka.
"Dia beruntung yah," batinnya ingin juga.
Hi-hi!
Gavriel dan Ezra yang mendengar kikikan kecil dari depan, kompak menoleh dan melihat teman perempuan baru mereka, yang saat ini sedang terkikik lucu.
Kikikan yang terdengar imut, membuat keduanya melihat dan juga tidak merasa keberatan.
Merasa di perhatikan oleh orang di depannya, Kei pun berdehem guna meredakan kikikannya.
"Ehem ... Sorry, Aku ngga-
"Biasa saja, kami tidak marah kok," sela Gavriel cepat, menuai kernyitan dahi dari Ezra, saat mendengar nada santai dari sepupunya.
"Kan, mulai lagi," batinnya curiga.
__ADS_1
"Terima kasih, oh iya ... Jadi Queene sakit apa?" tanya Kei penasaran, setelah tersenyum malu saat salah satu dari keduanya melihat ke arahnya.
"Oh Que, dia sakit perut katanya Dismenore," balas Gavriel saat mengingat nama penyakit yang di derita sahabat perempuannya.
Entah itu apa, tapi yang jelas pasti sakit sekali, sehingga membuat sahabat strongnya kesakitan seperti itu.
"Oh! Itu sih sudah biasa," ujar Kei dengan menggembuskan napas lega.
Dua laki-laki ini lagi-lagi kompak mengernyit, saat lagi-lagi telinga mereka mendengar nada santai dari seorang perempuan.
Oh ... Itu sih sudah biasa.
Apanya yang sudah biasa sih, sakit seperti itu kok biasa.
Ini pikiran keduanya, sehingga Kei yang melihat pun canggung sendiri, saat melihat ekspresi tidak paham dari Gavriel dan Ezra.
"Err ... Jangan-jangan kalian tidak tahu yah, apa itu Dismenore?" tanya Kei tepat sasaran, menuai gelengan kepala dari keduanya kompak.
"Tidak!"
"Kalian belajar Biologi tidak?" tanya Kei lagi.
"Tentu saja belajar!"
Jawaban kompak dari Gavriel dan Ezra, membuatnya bingung sendiri.
Mereka belajar Biologi, tapi tidak tahu apa itu Dismenore.
Masa iya .... Ia harus menjelaskan dengan keduanya, saat dirinya sendiri malu ketika dapat di kali pertama kepada sang Mama.
Wajah Kei yang merona salah tingkah, membuat Gavriel dan Ezra heran.
"Ada apa?" batin keduanya kompak.
"Apa Queene, memberitahukan sesuatu hal pada kalian?" tanya Queene masih dengan salah tingkah.
"Sesuatu hal?" tanya mereka berdua kompak.
"Iya ... Yah, misalnya apa gitu," balas Kei dengan nada canggung.
Kedua laki-laki ini diam, sebelum menjawab kompak dan itu membuat Kei tertawa canggung.
"Maksudnya itu."
"Ha-ha-ha."
"Kenapa?" tanya Gavriel heran, kenapa dengan Kei kenapa salah tingkah seperti itu.
"Tidak ada apa-apa, sebaiknya kalian tanya dengan Queene langsung. Aku tidak ingin membahasnya," balas Kei menghindar.
Jika saja pertanyaannya lain dan bukan privasi seperti ini, mungkin ia akan menjelaskannya dengan gamblang.
"Loh kok gitu?" tanya Ezra tidak puas.
"Ya bisa dong. Udah yuk kita kembali ke lapangan," ajak Kei membalikkan tubuhnya cepat-cepat.
Ia tidak mau wajah tersipunya di lihat oleh Gavriel, ia memegang kedua pipinya dan menepuknya pelan.
"Astaga," batin malu.
"Kenapa sih?" tanya Ezra menuai jawaban berupa bahu di angkat, dari Gavriel yang berjalan lebih dulu.
"Sebaiknya aku bertanya dengan siapa?" gumam Ezra pusing sendiri.
Di depan sana, Ezra melihat dari belakang, bagaimana kedua pasang laki-laki dan perempuan yang adalah teman dan sahabatnya jalan bersama.
"Kei yah."
Di saat bersamaan, di sisi Gavriel dan Kei, yang berjalan bersisihan.
Kei yang jalan lebih dulu tidak tahu, jika teman sekelasnya berjalan di belakang dan akhirnya sampai di sampingnya.
Ia tersentak kaget, namun berubah menjadi senyum saat tahu siapakah gerangan orang tersebut.
"Gav," gumam Kei lirih, menyembunyikan rasa senangnya.
"Hn."
"Kok apa? Kamu nggak bareng Ezra?"
Gavriel mengangkat sebelah alisnya, saat mendengar pertanyaan dari orang di sebelahnya, padahal tadi ia hanya bergumam kenapa Kei mengerti jika ia bilang apa.
"Ezra? Tuh," balas Gavriel singkat, mengendikkan dagunya ke belakang, menunjuk keberadaan orang yang di tanya.
"Oh," gumam Kei singkat.
Keduanya pun jalan bersama, hingga sampai di lapangan yang tetap melanjutkan pelajaran.
"Kamu masih mau belajar start?" tanya Gavriel tiba-tiba, saat mereka sudah sampai di pinggir lapangan, tempat mereka melaksanakan praktik olahraga.
"Eh! Em ... Maksudnya, iya mau!" seru Kei semangat, setelah kaget dengan pertanyaan Gavriel.
"Ya sudah, yuk."
__ADS_1
"Yuk!"
Gavriel dan Kei pun belajar berdua, setelah melakukan praktik lari mereka yang ketinggalan.
Sisa waktu masih panjang, Pak Daniel memerintahkan untuk melanjutkan pelajaran, dengan tema apa saja, yang pasti mereka melakukan olahraga di lapangan.
"Jadi seperti ini, Gav. Posisi kakinya?" tanya Kei saat melakukan start awal.
"Hn."
"Oke .....
Dan selanjutnya adalah obrolan ringan dengan percakapan banyak hal, selain olahraga dan sebagainya, sesekali terdengar Kikikan geli saat Kei merasa senang.
Meskipun Gav hanya tersenyum tipis, ia sudah senang sekali.
Keakraban keduanya, menuai berbagai macam ekspresi, tidak perlu di jelaskan karena pasti kalian tahu, bahkan teman dari Gavriel maupun Kei enggan mengganggu.
Mereka merasa keduanya sedang tidak ingin di ganggu.
Kegiatan kedua terlihat seru, hingga tidak terasa jam pelajaran olahraga pun habis, di gantikan oleh waktu istirahat.
Di jam istirahat, Gavriel dan Ezra lebih memilih menghabiskan waktu mereka dengan menemani sahabat perempuannya, yang saat ini sedang istirahat pasca membuat mereka khawatir.
Srek!
Mereka menyibak tirai pembatas ranjang dengan pelan, takut menganggu Queene yang ternyata sedang duduk menyandar, memainkan handphone lalu menoleh ke arah mereka.
"Gavriel, Ezra!" seru Queene semangat.
Ia rindu dengan dua sahabatnya padahal baru tidak bertemu sekitar satu jam, tapi kenapa serasa satu abad baginya.
"Que, sudah mendingan?" tanya Gavriel berjalan cepat ke arah Queene, yang balas tersenyum saat Gavriel tersenyum lega ke arahnya.
"Queene, aku kira kamu kenapa-napa!" seru Ezra sama leganya.
"He-he! Aku sudah tidak apa-apa kok. Aku sudah membaik, sehabis ini aku akan ik-
"Tidak bisa!" tolak keduanya cepat.
"Loh kok gitu, kan ak-
"Tetap tidak bisa!"
"Astaga, aku sudah sehat."
"Tetap tidak, titik."
"Akh! Serah dah," dengus Queene sebal.
Gavriel dan Ezra kompak terkekeh saat Queene menyerah.
Gavriel duduk di sebelah kanan sedangkan Ezra di sebelah kiri.
Gavriel mengusap sayang rambut sahabatnya, dengan senyum lega terpasang di bibir.
"Jangan seperti ini lagi yah, Que. Aku khawatir," gumam Gavriel lirih.
"Iya, maafin aku yah. Gav, Ez," balas Queene melihat dua sahabatnya menyesal.
Gavriel dan Ezra kompak menggeleng, lalu bilang 'bukan apa-apa', membuat Queene tersenyum dengan senyum lebar.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka, dengan Queene yang bertanya tentang pelajaran setelah ia absen.
Hingga di saat keduanya hendak kembali ke kelas, Ezra yang dari sananya memiliki tingkat penasaran tinggi pun berbalik badan lagi, menatap Queene yang balas menatapnya dengan alis terangkat.
"Queene."
"Apa?"
"Boleh aku tahu sesuatu?"
"Apa?"
Gavriel yang memiliki firasat tidak enak pun mundur teratur, saat sepupunya mulai bertanya.
Gavriel sudah tahu apa yang akan di tanyakan sepupunya.
Karena ia merasa sudah tahu jawabannya apa, dan kenapa bisa membuat teman perempuannya malu, ia pun lebih baik kabur sebelum di amuk oleh Quene yang saat ini benar saja sudah siap untuk mengamuk.
"Ezra! Dasar tidak tahu malu!"
"Jangan berisik, ini bukan taman bermain!"
"Maafkan aku Bu Fadya!"
"Dasar kalian ini."
"Astaga Ezra, ada Google buat apa." gumam Gavriel tidak habis pikir.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya .....
Sampai babai.