Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Hidup rasa mati


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Dokter telah memeriksa lagi keseluruhan dari keadaan kiara.


Saat ini kiara sedang tidur kembali, karena pengaruh obat yang di suntikan di dalam cairan infus yang tersambung di tangan kiara.


Itu juga agar kiara bisa tidur nyenyak dan kembali bangun di pagi hari,karena pasca siuman kiara tanpa bicara hanya diam namun dengan air mata mengalir di sudut matanya tanpa henti dan suara, membuat dirga nggak kuat melihat nya.


Dirga yang melihatnya tentu saja merasa terpukul, serasa ada ribuan ton beban yang menimpah kepalanya.


Dirga lebih baik melihat kiara yang marah dan mengomeli nya panjang layaknya kereta dari pada melihat kiara yang diam namun airmata nya terjun bebas tanpa isakan.


Dirga menangis dengan raka dan faro sebagai saksi, 29 tahun hidup nya dirga tidak pernah menangis layaknya balita bahkan waktu kecil sekalipun ia tidak pernah menangis.


Dirga menatap nanar kedua tenang nya, lalu meremas kuat rambut kepalanya dengan furtasi.


Jika saja ia tidak membiarkan kiara pergi begitu saja tanpa ada ia yang menamani, pasti kiara saat ini akan tersenyum lebar dengan berita kehamilannya.


Puk


" ga.." panggil faro dengan tangan menepuk punggung nya pelan, lalu ikut menatap kiara yang saat ini tidur pulas dengan sisa jejak air mata di pipi nya.


"...."


" Lu belum ngisi perut lu malam ini, seenggaknya meski beberapa suap lu harus makan ga, kiara bakal sedih ngeliat badan lu yang kurus gitu ga" lanjut faro saat dirga sama sekali tidak menggubris perkataan nya.


Malahan dirga semakin menundukkan kepala lebih dalam dengan tangan meremas rambut frustasi.


" Lu liat sendiri ro, gimana tadi kondisi kiara gue" gumam dirga tanpa menjawab perkataan faro.


"...."


" Gue liat dengan mata kepala gue sendiri faro, kiara hidup tapi seakan mati.


Nggak ada binar kehidupan lagi di mata nya lagi, bahkan saat gue panggil jangankan nyaut... Nengok juga nggak" lanjut dirga meracau tentang keadaan kiara


"...."


" Bagaimana gue menghadap papa mertua gue, sedangkan gue sendiri udah janji untuk menjaga kiara dengan segenap jiwa raga gue. Sekarang apa... Bahkan calon anak gue juga nggak bisa gue jaga dengan benar"


Faro mendengar perkataan dirga tanpa sedikitpun menyela, ia tahu dirga sedang mencurahkan isi hatinya tanpa meminta solusi, jadi yang ia lakukan adalah menepuk bahu dirga sebagai ganti kata ucapan sabar dan belasungkawa.


Pagi datang dengan matahari bersinar cerah, di ranjang pasien yang luas milik kiara ada dirga yang tidur di samping kiara dengan tangan menggengam tangan kiara tanpa niat melepas.


Faro tidur ranjang sebelah dan raka tidur di sofa, untungnya ruangan vip ini luas dan juga dirga mendapat izin untuk tambahan orang untuk menjaga kiara sehingga sahabat nya bisa ikut menjaga.


Kiara mengedip ngedipkan mata membiasakan cahaya matahari dan menghirup aroma lembut kesukaannya yang berasal dari arah samping.


Hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan dengan rahang tegas milik suami nya namun ia memperhatikan lagi ada kantung mata hitam yang melingkar di bawah mata suaminya.


Kemudian ia juga melihat ada sedikit bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar janggut dirga meski tidak kentara.


Tangan nya yang di genggam dirga sangat erat jadi ia tidak bisa menggerakkannya sedangkan yang sebelah nya kaku karena ada jarum infus yang tertancap.


Kedip... Kedip.. Kedip..


Kiara melihat bagaimana bulu mata panjang milik suami nya berkedip sebelum benar-benar terbuka dan memandang nya dengan raut terkejut diiringi mata berkaca-kaca.


" kiara " bisik dirga pelan seakan jika ia bersuara keras sedikit saja maka kiara akan hilang dari pandangannya.


"...." kiara tidak membalas namun hanya memandang dirga dengan tatapan kosong, tanpa kehidupan di dalam nya.


" Sayang... Kamu sudah bangun, perlu sesuatu?" tanya dirga lembut saat panggilan nya tidak mendapat jawaban


"...."


" Apa kamu haus? Atau kamu mau cuci muka? Bagaimana kalau aku lap badan sama ganti baju pasti kamu sudah gerah ya?" tanya dirga beruntun saat kiara sama sekali tidak menyahut hanya melihat nya dengan hampa.


"...."


"...."


Dirga akhirnya ikut diam memandang kiara dengan sedih, lalu bangkit dari tidur nya dan melihat ke samping ranjang dan sofa yang di tempat sahabat nya sudah kosong dan rapih.

__ADS_1


Sepertinya sahabat nya lebih dulu bangun, lalu dirga melihat jam tangan nya yang menunjukkan pukul 7 pagi lebih 22 menit.


Biasanya mama dan mertua nya akan datang di jam segini.


Ceklek..


Benar saja Pintu terbuka dan memunculkan mama serta mertua nya, dengan senyum hangat nya saat melihat ia yang susah bangun dengan kiara yang juga...


" Kiara sayang kamu sudah bangun?" pekik mama sarah senang dan terburu berjalan mendekati ranjang kiara di ikuti mama putri yang juga berseri seri


" Sayang.... Gimana perasaannya" tanya sarah dengan senyum harunya saat melihat kiara sudah siuman dan sedang di bantu dirga duduk menyender dengan bantal di belakang tubuhnya.


"....."


" Dirga kenapa kiara nggak nyahut?" tanya putri takut


" Dari semalem begini mah, dokter bilang kiara masih mengalami syok pasca trauma(PTSD) tapi kiara masih belum tahap parah hanya di antara sadar dan tidak.


Sehingga kiara hanya diam tanpa bicara, tadi malam kiara bahkan menangis tanpa suara sehingga dirga harus memberi injeksi agar kiara tertidur " ujar dirga menjelaskan kepada kedua mamanya.


Mama putri terpukul apalagi sarah, tapi sarah menguatkan diri agar tidak kembali pingsan.


" Kalau gitu kiara kita mandiin dulu ya sayang, kamu tunggu di luar atau mandi juga.


Ada faro dan raka di depan, mama juga bawa makanan buat kalian yang mama titip pada mereka berdua" ujar mama putri lembut, mendorong dirga keluar agar sarapan terlebih dulu sedangkan mereka mengelap tubuh kiara dan mengganti pakaian yang di pakai kiara kemarin sore.


" Um.." gumam dirga pelan dan keluar kamar menuruti perkataan mama nya.


Blam..


Putri kemudian melihat ke arah di mana ada sarah yang sedang menanyai kiara dengan isakan lirihnya.


Puk


" Kamu jangan menangis, kiara akan ikut menangis kalau melihat kamu bersedih.


Saat ini jiwa kiara sedang tidak di sini meski mata nya menatap kita lurus" ujar mama putri menepuk bahu sarah berbagi kekuatan.


Ia menatap nanar kiara yang menatap mereka dengan pandangan kosong dan hampa.


Seperti hidup namun tanpa jiwa, dan itu membuat hatinya terluka dengan garam memperparah rasa perihnya.


" Tersenyum dan ceria adalah hal yang terbaik saat berhadapan dengan kiara saat ini" lanjutnya saat sarah mencoba menahan isakan dan laju air matanya lalu mengangguk paham


Senyum sedih saat melihat bekas lebam yang hampir menghilang di sudut bibir kiara, lalu saat melihat bagian lengan yang di perban menutupi luka sayatan dengan bekas jahitan yang pasti berbekas setelahnya.


Sarah pastikan jika tidak ada luka sedikitpun yang akan berbekas di tubuh kiara akibat insiden kemarin, jika awal nya saja mulus akan menjadi mulus seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Mereka berdua mengelap dengan penuh kelembutan setiap permukaan kulit putih milik kiara tanpa terlewat sedikit pun, dan menggantikan segera baju yang kiara pakai dari kemaren sore dengan pakaian baru dengan harum pelembut pakaian yang wangi sehingga kiara pun segar dan cantik kembali meski belum ada senyum di bibir nya.


Sekarang sudah berkumpul keluarga besar di ruang inap kiara yang untungnya bisa menampung semuanya, elisa serta raka dan faro tidak ketinggalan.


Mereka duduk dengan di selingi candaan dengan kiara di pusat nya, seakan mereka sengaja mengajak kiara berinteraksi agar merespon obrolan mereka.


Meski gelak tawa yang di keluarkan adalah suara tercekat tapi mereka berharap kiara akan merespon nya.


Dirga ada di samping kiara, menemani kiara di atas ranjangnya dengan tangan tidak henti mengusap sayang lengan kiara.


Sedangkan kiara sendiri yang melihat dan mendengar bagaimana keluarga serta sahabat nya yang mencoba untuk menghibur nya hanya bisa terdiam, seakan ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya sehingga suara nya tidak bisa keluar.


Bahkan hingga hari berlalu, dari siang berganti menjadi malam ia masih belum bisa mengeluarkan suara meski ia sudah memaksa.


Saat ini ia hanya berdua dengan dirga yang menemani nya tanpa bosan dan juga dirga yang bertransformasi dari si dingin dan irit bicara jika di kantor menjadi dirga yang berceloteh menggantikan posisi nya yang suka berceloteh.


Entah sudah berapa kisah yang di ceritakan dirga dengan ia sebagai pendengar setia tanpa menyela, hingga di mana ia mendengar suara tercekat milik suaminya yang terasa menyayat hatinya.


" Kamu tahu... Seumur hidup aku, pertemuan kita adalah anugerah terindah .


Aku kira aku nggak akan jatuh cinta lagi, nyata nya aku bahkan hampir mati saat aku hampir kehilangan cinta ku.


Jika aku memang harus mengorbankan seluruh kehidupan aku untuk mengembalikan senyum di bibir cinta ku aku rela.


Rasa sesal atas ketidak mampuan aku menjaga cinta ku membuatku seperti hidup namun juga mati di saat bersamaan.


Kiara cinta ku aku mohon kembali ke pelukan aku, demi tuhan aku sangat merindukan senyum indah mu, aku sangat merindukan binar mata bahagia mu, aku merindukan segala sesuatu yang ada padamu.


Tanpa mu aku mati, lalu kenapa tidak biarkan aku mati sekalian.


Kiara aku mohon " ujar dirga lalu memeluk pinggang kiara menyembunyikan wajah yang biasanya angkuh kini di penuhi air mata.

__ADS_1


Deg..


Hari kiara sakit mendengar nya, rasa cinta dirga terlalu dalam untuk nya.


Ia mengingat lagi perkataan malaikat kecil cantiknya, yang menginginkannya melanjutkan hidup dengan bahagia agar papanya juga bahagia.


Dendelion bunga rapuh namun mampu bertahan di saat badai datang sekalipun.


"dirga maaf..."


Deg...


Tangisan dirga berhenti seketika saat merasakan usapan pada kepala nya yang saat ini sedang berada di pelukan perut kiara.


" dir... Ga..."


Dirga segera mengangkat wajah nya, melihat wajah kiara yang pipi nya di hiasi air mata berlinang menatap dengan mata bergerak gelisah.


Bahkan tubuh kiara pun bergetar takut, memanggil nama nya seperti orang ketakutan


Grep...


Dirga segera membawa Kiara kepelukan menenangkannya,mengusap rambut dan punggung kiara dengan lembut saat isakan dan suara Kiara memanggil nama nya terdengar lagi


" dir.... Dirga... Hu..hu..hiks..dirga"


" Sssstttt.... Aku di sini sayang, aku di sini.


Nggak ada lagi yang akan menyakiti kamu"


Ruangan yang tadinya sunyi kini di penuhi isakan dari kiara yang memanggil nama dirga berulang dan suara dirga ya tercekat menenangkan kiara yang bergetar di pelukannya.


PTSD (gangguan stres pascatrauma), iya kiara sedang mengalami nya setelah seharian terdiam tanpa bicara.


Di luar ruangan raka, faro dan elisa melihat nya dari pintu yang terbuka sedikit, mereka tadinya mau masuk saat mendengar suara tangisan kiara tapi melihat dirga yang sepertinya butuh ruang berdua bersama istrinya membuat mereka mengurungkan niat dan memilih melihat dari jauh kemudian menutup pintu tidak mengganggu.


" Syukurlah kiara sudah sadar, menangis dalam diam lebih sakit di banding dengan menangis bersuara, karena akan lebih melegakan jika emosi keluar" ujar elisa menatap sedih pintu ruang inap vip milik kiara.


Di mana ia masih mendengar kiara menangis dengan menyebut nama dirga dengan nada takut namun pilu di saat bersamaan.


" Semoga dirga cepat menenangkan kiara" ujar faro tulus, memeluk kekasih nya yang juga sudah terisak sejak melihat pemandangan menyedihkan di dalam sana.


" Dirga dan kiara kuat, tenang aja sa" ujar raka menimpali perkataan faro, ia sendiri menepuk bahu faro dan di balas rangkulan bahu sehingga kini faro ada di tengah kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Kiara jatuh tertidur lagi setelah lelah menangis, namun dirga sedikit lega karena ada senyuman dari kiara di tidur nya kali ini.


Ceklek..


Pintu terbuka dan di ikuti faro, raka dan tentu nya elisa yang menenteng kantung keresek


Berisi makanan dan minuman yang di letakan di meja kemudian memanggilnya dengan maksud.


Yah... Nggak ada yang bisa di tutupi jadi dirga pun mengulangi lagi cerita dari kiara saat belum jatuh tertidur di pelukannya.


Setelah meletakkan kiara dengan posisi enak untuk tidur, dirga berjalan ke arah


Sahabat nya yang sudah memandang nya dengan binar Penasaran yang tinggi alias kepo, membuat nya pun mendengus pasrah dan duduk di depan mereka setelah membuka sekaleng kopi.


" hah....kopi emang paling enak"


Desah nya dalam hati saat merasakan pahit manis caramel rasa kopi kalengan yang di bawa sahabatnya tadi.


" kenapa?" tanya dirga sok pura-pura nggak tahu, meletakkan Kaleng kosong di meja sehingga menimbulkan bunyi tak sedikit kuat.


" Jadi..." tanya raka singkat dan ambigu


Namun dirga mengerti dan mulai membuang nafas nya, lalu mulai bercerita.


" Jadi kiara bilang...."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya..


Jangan lupa loh tinggalkan jejak komentar dan klik jempol nya


Serta vote dukunganya...

__ADS_1


Sampai babai


Terimakasih


__ADS_2