Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Tetap Temani Aku, Sayang


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Mansion Wijaya Muda


Pagi hari ini di kediamanan Wijaya ada yang berbeda, saat keluarga besar sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan.


Setelah acara pesta perayaan ulang tahun Gavriel semalam sukses, dua keluarga ini memutuskan untuk menginap di kediamanan Wijaya muda.


Suasana di meja makan terasa hangat, saat celotehan penerus kerajaan bisnis keluarga Wijaya, terdengar tidak ada hentinya menemani acara sarapan bersama mereka.


Sepertinya Gavriel senang melihat meja makan pagi ini, ramai dengan keluarga besarnya.


"Yut-yut, mam!"


"Gavriel tuh yang makan, kenapa nyuruh Uyut makan? Uyut sudah kenyang!" sahut Bagus saat Sang cucu bilang makan ke arahnya, sedangkan Dia sendiri akan melengos saat di suapi Kiara sesendok bubur.


"No, mam-mam no,"


Kepala Gavriel lagi-lagi menggeleng, saat Kiara menyuapi Gav dengan Mpasinya.


"Kid, saatnya makan. Mau Daddy tidak gendong Kamu?" ujar Dirga tegas. Ia menatap Gavriel dengan pandangan tajam, namun lembut di saat bersamaan.


"No, Dadd, mam-mam no!"


"Oke ... Selamat tinggal dengan kata jalan-jalan, Kamu tidak menurut artinya batal rencana hari ini," ujar Dirga santai. Ia pura-pura pasrah dengan bahu terangkat, saat lagi-lagi Anaknya membantah perintah darinya.


"Anak Gue sudah mulai songong," batin Dirga mendengus geli.


"Momm, mam-mam!"


"Makan yang benar, jangan main-main!" seru Dirga.


Gavriel menatap Sang Daddy dengan mata berkaca-kaca, saat mendengar nada suara berbeda dari Daddynya.


Nyut!


Aih ... Dirga merasa bersalah karena ucapan sedikit kerasnya, Ia pun mengangkat Putranya untuk duduk di pangkuannya, lalu mengusap kepala Gav lembut.


"Makan yang benar, supaya Gav cepat tumbuh dan pintar. Maafin Daddy yah, got it?" gumam Dirga lembut, menatap dengan sorot mata menyesal ke arah Anaknya.


Gavriel menepuk pelan kedua pipi Daddynya, lalu terkekeh ceria.


"Dadd!"


"Gavriel cucu Oma, pintar sekali. Makan sama Oma yuk!" seru Sarah semangat, saat melihat interaksi Menantu dan Cucunya.


"No, Dadd, mam!"


Gavriel menggeleng menolak usulan Sang Oma, menyebut nama Sang Daddy sebagai orang yang akan menyuapinya makan, menggantikan tugas Sang Mommy.


"Gav mau makan di suapi Daddy?" tanya Kiara memastikan.


Gavriel menganggukkan kepala lucu lalu tertawa lebar.


"Tuh kan, pasti Kamu pindah haluan. Sekarang Mommy di lupakan," ujar Kiara pura-pura ngambek.


Tawa terdengar dari anggota keluarga yang melihat, bagaimana ibu dari Gavriel merajuk karena merasa tersingkirkan.


"Sepertinya Gav lebih sayang Daddy yah, dari pada Mommy!" seru Putri meledek menantunya yang semakin menampilkan ekspresi cemberut.


"Mami senang sekali meledek Yaya," sahut Kiara pura-pura tersinggung.


Ha-ha-ha


Suasana ceria pagi ini di rasakan oleh semua anggota keluarga, setelah beberapa pekan di rundung kesedihan akhirnya ada tawa ceria di tengah-tengah mereka.


Acara sarapan pun berjalan dengan di isi obrolan, serta suara Gavriel yang senang saat Sang Daddy menyuapinya.


Gavriel hanya memanfaatkan waktu, sebelum Sang Daddy bertransfomasi lagi menjadi Daddy toyyib, yang pergi saat Ia bobok tampan dan pulang juga sudah bobok tampan.


Skip


Seperti janji Dirga tadi yang berkata akan mengajak jalan-jalan Gavriel, jika menuruti perkataan dan makan dengan benar.


Saat ini setelah acara sarapan selesai, setelah keluarga besarnya pamit pulang, mereka juga berencana untuk jalan keluar rumah.


Tidak jauh hanya ke Mall kota S, memeriksa bangunan yang akan di adakan pembugaran.


Tapi sebelum itu, Dirga akan mengajak Istri dan Anaknya untuk mampir ke kantor, mengurus masalah kecil, namun jika di biarkan akan menimbulkan kontroversi.


Saat ini Dirga sedang ada di kantor pribadinya, membuka lagi dokumen kepemilikan saham yang berhasil Dani beli dari pemegam saham lainnya, yang menjual saham kecil kepada pembeli rahasia.


Meski hasil yang di dapat tidak susuai ekspektasi, tapi setidaknya persen yang di pegangnya saat ini, bisa membuat pemilik saham lainnya tidak berkutik.


Dering nada panggil dari handphonenya mengalihkan pandangan Dirga, dari kertas ke arah layar handphonenya.


Di layar terpampang nama Dani, membuat senyum miringnya tampil tanpa bisa di tahan.


Ia menekan tombol hijau dan menempelkan ke telinga kanannya.


Tut!


"Hn?" gumam Dirga datar.


"Bos, meeting di mulai jam sepuluh nanti!"


"Oke, pastikan Semuanya hadir. Apa yang Gue minta sudah siap?" tanya Dirga tidak sabar.


"Siap, sesuai instruksi!"

__ADS_1


"Sip, Gue datang sebelum meeting. Siapin kebutuhan dan sambut seperti biasa!" seru Dirga semangat.


"Baik!"


"Hn,"


Tut!


Dirga pun menutup panggilan sepihak, setelah mendengar balasan mengerti dari tangan kanannya.


Ia mendengus puas, saat tahu tiba juga waktunya Ia membalas ketidak perayaan mereka terhadap kemampuannya, hanya karena Ia cacat sementara.


"Well ... Apa sudah siap?" gumam Dirga bertanya pada diri sendiri.


Tok! Tok! Tok!


"Sayang! Sudah beres belum?"


Suara ketukan pintu di susul suara Sang istri, membuat Dirga melupakan kesenangan akan kemenangannya untuk sesaat.


Ia pun berjalan ke arah pintu dan membukanya, lalu tersenyum tipis.


"Sudah kangen yah sama Aku?" tanya Dirga dengan percaya dirinya. Ia menaik turunkan alisnya menggoda, yang malah membuat Kiara mendengus.


"Pede sekali Kamu Yank, Aku cuma mau ingatin kamu akan janji yang Kamu buat. Bukannya kamu mau ajak kami jalan keluar?" ujar Kiara bertanya dengan sewot, tapi setelahnya memekik kaget saat tiba-tiba tangannya di tarik paksa dan membentur dada bidang milik Suaminya.


Grep! Brugh!


Dirga yang merasa perasaan senang yang tidak bisa di tahan, segera menarik tangan Istrinya mendekat ke arahnya, lalu membawa masuk Sang istri kedalam ruang kantornya.


Brak!


Pintu tertutup setelah Dirga menendangnya sedikit kuat, menimbulkan suara debaman kuat dan membuat Kiara lagi-lagi terpekik kaget.


"Astatang, Yank kaget ih!" seru Kiara yang saat ini ada dalam pelukan posesif Suaminya.


Ia menengadahkan wajahnya melihat ke arah Dirga, yang juga melihat ke arahnya dengan ekspresi ...


"Kamu sedang bahagia, sayang?" tanya Kiara penasaran.


Benar sekali ... Ekspresi bahagia Dirga, tidak mampu di tutupi apalagi di hadapan Istri Ratu hatinya.


"Kamu yang paling tahu Aku, sayang!" gumam Dirga memandang istrinya dengan perasaan senang membuncah.


"Bisa Aku tahu?" tanya Kiara mengusap pelan dagu dengan janggut tipis tumbuh di sana.


"Jangan lupa bercukur, yang ini bikin geli!" lanjut Kiara yang segera di angguki Dirga.


"Oke!" sahut Dirga cepat.


"Jadi, bisa cerita sekarang?" tanya Kiara lagi. Ia masih ada di pelukan Suaminya, bahkan balas memeluk pinggang Suaminya erat.


"Aku senang karena bisa jalan keluar dengan kalian, apa lagi?" balas Dirga menutupi.


"Bihing sikili," ujar Kiara dengan nada lucu menatap Dirga tidak percaya.


Dirga terkekeh saat melihat Kiara yang memaksa untuk memberi tahu, apa yang membuatnya senang seperti ini.


Ia balas mengecup kecil bibir penuh milik Istrinya, lalu menatap wajah Sang istri dengan senyum teduhnya.


"Yang pasti ini ada hubungannya dengan kejadian semalam, Kamu hanya perlu ada di samping Aku dan dukung Aku dengan Doa Kamu. Oke, sayang?" balas Dirga tanpa menjelaskan.


"Nanti juga tahu," Lanjutnya saat melihat wajah tidak puas dari Kiara di hadapannya saat ini.


"Baiklah, apa pun itu Aku pasti dukung Kamu. I love you, My Husband!" ujar Kiara mencoba mempercayai.


Tahu jika nanti pun Suaminya akan memberi tahunya dengan jelas, Ia akhirnya mengalah dan memilih menyaksikan saja apa yang akan terjadi nanti.


"Love you more, Dear!" balas Dirga lembut.


"Oke, Aku harus siap-siap segera. Kita akan ke kantor terlebih dahulu, baru kemudian kita jalan. Got it?" lanjut Dirga melepas pelukannya sebentar, lalu memeluk lagi Sang Istri lebih erat, setelah dapat anggukan kepala dari Istrinya.


"Tetap bersama Aku, hingga anak-anak Kita tumbuh dewasa, lalu menikah dan memiliki cucu dan keturunan berikutnya. Bisa, kan?" bisik Dirga lirih di telinga Kiara.


"Tentu saja, sampai rambut hitam ini memutih, sampai hembusan terakhir nafas ini, Aku akan menemani Kamu. Selamanya!" balas Kiara cepat.


Ia semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang milik Suaminya, mendengarkan setiap detak jantung dengan irama yang sama dengannya.


Mereka pun melepaskan pelukan masing-masing, lalu saling membalas senyum.


" Yuk!" seru Dirga.


"Yuk!" balas Kiara ceria.


Keduanya pun meninggalkan ruangan dengan saling bergandengan, di iringi dengan obrolan serta candaan hingga sampai kamar yang ada di sebelahnya.


Mereka juga sudah pindah kamar, karena Dirga sudah bisa berjalan normal tanpa bantuan kruk lagi.


Beberapa saat kemudian ....


Dirga saat ini sudah mengganti pakaian santai dengan pakaian kantornya, pakaian yang sudah beberapa minggu ini tidak di pakainya.


Di pantulan cermin setinggi tubuh orang dewasa, terpampang tubuh tegap dengan balutan jas hitam dan kemeja hitam sebagai dalaman.


Ia menatap pantulan dirinya dengan senyum miring, siap menghadapi penjilat berlebel pemilik saham di perusahaannya.


Grep!


Sepasang lengan putih melingkar di pinggangnya dari arah belakang lalu memeluknya manja.


"Sudah jangan lama-lama bersiap-siapnya, semalam ada yang bilang kalau Dia tampil tampan, akan mengundang jutaan wanita mengekor di belakangnya. Jadi Aku mohon, sudah yah .... Jangan tampil tampan, jika itu bukan di hadapan Aku!" gumam suara seseorang yang di hafalnya dengan nada manja.

__ADS_1


Dirga terkekeh saat mendengar perkataan posesif dari Ratu di hatinya. Ia menarik lembut sepasang lengan tersebut, membawanya kedepan dan balik memeluknya dari belakang.


Kini terlihat di depan cermin, seorang wanita dengan balutan pakaian terusan selutut berwarna peach, dengan seorang pria di belakangnya yang menyandarkan dagunya di bahu Si wanita.


"Seharusnya Aku yang bilang begitu, jangan tampil cantik dan seksi jika itu bukan di hadapan Aku. Apa Kamu mengerti?" gumam Dirga posesif.


Kiara terkekeh kecil saat Dirga mengecupi leher jenjangnya berulang, tanpa meninggalkan bekas karena mereka sudah punya perjanjian tentang tanda kepemilikan.


"Siap, Kapten!" balas Kiara sambil terkekeh.


"Kita berangkat!" seru Dirga kemudian.


Kiara mengangguk, lalu Ia terlebih dulu keluar kamar untuk menyiapkan keperluan Gavriel selama di luar.


Perjalanan dari rumahnya ke kantor hanya di tempuh beberapa belas menit, kali ini mobil yang di Kendarai Dirga adalah mobil sport lainnya, berwarna biru dongker dengan jenis limited edition.


Di belakangnya ada Bima yang setia mengawal, serta beberapa anggotanya yang turut serta.


Tidak lama halaman kompleks gedung perkantoran milik Wijaya terlihat, Ia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus miliknya.


Turun dengan gagah, Dirga sedikit berjalan cepat menuju pintu satunya, di mana ada Kiara yang turun dari dalam dengan Gavriel di gendongannya.


"Kamu nanti tunggu di ruangan Aku saja, apa Kamu paham?" ujar Dirga saat mereka berjalan menuju pintu masuk gedung perusahaan milik keluarganya.


"Iya, Aku Paham!" balas Kiara dengan kepala mengangguk pelan.


"Good," gumam Dirga senang.


Mereka pun berjalan dengan Gav, yang sudah pindah kedalam gendongannya. Sebelah tangannya Ia gunakan untuk menyangga bokong montok milik Sang anak, sedangkan sebelahnya lagi menggenggam tangan Kiara erat.


Seperti biasa saat memasuki area Lobby kantor, aura yang di keluarkan Dirga berubah seketika.


Aura dominan menyebar ke segala penjuru kantornya, karyawan kantornya yang melihat kedatangannya segera membungkukkan badan hormat dan menyapa Sang Direktur sopan.


"Selamat Siang, Pak Direktur!" sapa setiap karyawan sopan.


Dirga hanya mengangguk dan menjawab dengan gumamannya, beda dengan Kiara yang balas tersenyum dan menyapa balik dengan ceria.


"Selamat siang, Semuanya!"


Keduanya tetap melanjutkan perjalanan mereka, hingga sampai lift dan menuju atas di mana ruang meeting dan ruangan pribadi milik Dirga berada.


"Nah ... Kamu tunggu di dalam, Kamu bisa keluar jalan dengan Gav kalau bosan atau terlalu lama menunggu Aku selesai meeting nanti. Tidak apa-apa kan?" ujar Dirga sebelum di depan ruangan.


"Iya, Aku mengerti. Kamu semangat ya sayang, habisi yang perlu di habisi," balas Kiara dengan senyum miringnya.


Dirga tersenyum miring, saat Sang istri mulai belajar mengeraskan hatinya.


Ini yang di perlukan Ratu Wijaya, kekerasan hati tanpa menghilangkan sisi kemanusiaannya,sama seperti Sang Mama yang bisa membedakan mana yang patut di kasihani dan mana yang tidak.


"Of course, my majesty!" balas Dirga.


"Dadd, ngat!"


"Tentu sayang, demi Kamu dan Mommy, Daddy pasti semangat. Kamu tunggu Daddy sebentar yah, setelah ini kita jalan-jalan. Got it?" sahut Dirga menjawab ucapan semangat dari Sang anak.


"Hi-hi!"


"Good Boy, Daddy pergi dulu!" ujar Dirga.


Ia mengecupi pipi dan kepala Anaknya gemas, yang di balas kikikan renyah dari Sang anak.


"Aku pergi ke ruang pertemuan dulu, see you!" ujar Dirga ke arah Kiara.


Kiara mengangguk mengerti, lalu tersenyum saat Dirga mengecup keningnya lama.


Sepeninggalnya Dirga, Kiara baru membuka pintu ruangan milik Suaminya pelan.


Kriet!


Pintu ruangan terbuka, suasana dan letak barang yang ada di dalam ruangan Dirga masih sama. Bahkan wangi ruangan pun masih sama, seperti terakhir Ia kemari.


Ia menutup pintu ruangan Suaminya, lalu berjalan ke arah jendela besar tempat Ia dan Suaminya biasa melihat pemandangan luar.


Tap! Tap! Tap!


Ruangan yang sunyi membuat setiap langkahnya terdengar, bahkan Gav pun ikut terdiam tanpa berceloteh.


Tap!


Akhirnya mereka sampai di depan jendela besar, lalu segera melihat ke arah luar. Memandang pemandangan ibu kota dengan senyum kecilnya.


"Lihat sayang, bukan kah dunia ini sangat besar? Apa Kamu bisa, kelak dewasa nanti seperti Daddy, yang mampu menaklukan dunia dalam genggamannya?" bisik Kiara ke arah Anaknya, namun dengan mata melihat ke depan.


"Dadd!"


"Iya ... Seperti Daddy, tidak ... Bahkan Kamu harus melebihi Daddy. Bisa kan?" tanya Kiara memandang wajah Anaknya yang memandangnya polos.


"Hi-hi!"


Gavriel membalas pertanyaan Sang Mommy dengan kikikan lucunya, dengan tangan menepuk pipi Sang Mommy semangat.


"Tapi tidak sekarang, nanti saat sudah waktunya. Got it?" lanjut Kiara lalu keduanya terkekeh bersama.


"Lihat ada pesawat terbang, lihat itu ada burung juga!"


"Hi-hi, yung-uyung!"


"Ha-ha-ha ... Iya uyung,"


Bersambung

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....


__ADS_2