Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
A Daughter Like Her Father


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Di ruang tamu, ada empat orang anggota keluarga Wijaya-Wicaksono, yang sedang terlibat obrolan serius.


Sulung dari Dirga ini menatap kedua orang tuanya, dengan pandangan datar khas sang Daddy, ia sama sekali tidak memperlihatkan emosi. Beda dengan sang adik, yang menatap kedua orang tua mereka dengan pipi menggembung, serta tangan bersedekap dada.


"Jadi, kalian akan pergi liburan kemana?" tanya Dirga sama sekali tidak takut, akan kemurkaan bungsu kesayangannya. Justru ia terkekeh dalam hati, saat kesayanganya kesal dengan ekspresi wajah, yang mirip sekali dengan istrinya.


"Kemana pun, Dadd dan Momm pergi," sahut si bontot cepat, sedangkan sang kakak hanya diam menyaksikan keusilan sang adik.


"Dasar El," batin Gavriel geli.


Padahal mereka sudah sepakat akan berlibur bersama sepupu dan sahabat perempuannya, tapi sepertinya adiknya masih ingin menggoda kedua orang tua mereka, yang saat ini sedang melotot kaget ke arah keduanya.


"Loh! Kan sudah Dadd kasih tahu, Dadd dan Momm ada perjalanan bisnis," ujar Dirga kaget, akan ucapan cepat si bontot kesayanganya.


"Ck ... Dadd, kalau mau kasih alasan yang logis dikit dong. Mana ada perjalanan bisnis ramai-ramai dengan keluarga cemara, itu bisnis atau bisnis," tandas Gavriel sarkas, jengah saat Daddy toyyibnya berkilah.


Dirga terdiam dengan Kiara yang terkekeh kecil, astaga ... Ia tidak menyangka rencana mereka akan terendus dengan cepat, oleh anak sulungnya, yang saat ini menatap ia dan suaminya dengan datar.


Ha-ha-ha!


Dirga pun tak kuasa untuk menahan kekehannya, saat anak sulungnya berkata dengan nada sarkas, yang tidak repot ditutupi oleh kalimat manis.


"Dadd, kenapa tertawa? Tega ih, El ditinggal liburan. El ngambek nih," sewot Selyn melotot lucu, ke arah sang Daddy yang masih asik tertawa.


"Ha-ha ... Ternyata kalian sudah tahu ya, kalau begitu Dadd dan Momm tidak perlu berbohong lagi," ucap Dirga dengan kekehan gelinya.


Ia sungguh tidak menyangka ia memiliki anak lucu, saat dirinya hanya sesosok pria bagai batu di zaman ia muda dulu


"Lagian, El. Kamu lucu deh, mana ada orang ngambek ngasih kode seperti itu," timpal Kiara menyahuti perkataan suaminya, menggoda sang anak yang semakin menampilkan ekspresi sebal yang lucu.


Selyn semakin menekuk wajahnya, sebal saat sang Daddy dengan santai menyahuti marah pura-puranya. Tapi ia juga senang saat mereka berbincang santai seperti ini, lengkap dengan sang kakak yang ikut serta, karena biasanya hanya akan ada ia, Momm dan Daddnya, sedangkan sang kakak sibuk dengan kegiatannya.


"Is ... Nyebelin," dumel Selyn, dengan bibir bergetar menahan tawa, yang akhirnya meledak juga saat Daddynya semakin menggoda dengan ucapannya.


"Duh ... Yang ngembek tapi laporan dulu, sudah seperti tamu 1x24 jam saja. Emangnya Daddy Pak RT."


Ha-ha-ha!


Lagi-lagi tawa memenuhi ruang santai keluarga Dirga-Kiara, yang sedang sibuk membahas masalah liburan dua anaknya nanti.


Tawa mereka terpaksa harus tertunda saat Bi Ana, asisten rumah tangga mereka menginterupsi, dengan membawa tamu dua keluarga cemara, keluarga yang tadi masuk dipembahasan mereka.


"Yoo ... Sepertinya kami mengganggu!" seru Raka berjalan dengan Faro disisinya, sedangkan para istri sudah ngacir ke arah sana, maksudnya duduk dengan santai disamping sepupu ipar mereka atau juga Kiara yang menyambut dengan senyum lebar.


"Kalian datang bersama-sama? Janjian?" tanya Dirga dengan alis terangkat, melihat sahabatnya yang jalan berdampingan.


"Tidak juga, kami bertemu di persimpangan sana," sahut Faro menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Mba Que! Ke kamar yuk, El mau kasih lihat sesuatu," ajak Selyn dengan semangat saat melihat penampakan manis Mbanya, calon kakak iparnya kelak.


Biasanya ia akan melihat rambut berkuncir milik Mbanya, tapi sekarang Mbanya menggerai rambutnya, membuat penampilan tomboy Mbanya menjadi seperti perempuan yang feminim.



"Kasih lihat apa?" tanya Queene penasaran, ia mengalihkan pandangannya dari sang sahabat, yang juga memandang ia dengan mata tidak berkedip, berganti ke arah adik sahabatnya.


"Ada deh! Yuk ikut El," sahut Selyn misterius, membuat Queene mengangguk, mengiyakan ajakan dari adik sahabatnya yang langsung menyeretnya dengan bar-bar.


"Mas juga ikut dong," pinta Ezra dengan semangat, tapi sayang adik kesayanganya menjawab ia dengan cepat dan kejam.


"Bleee ... Rahasia perempuan, laki syuh jauh-jauh."


"Ish ... Tidak seru," dengkus Ezra sebal, lalu melihat ke arah sepupunya yang melihatnya dengan alis terangkat sebelah.


"Apa?" tanya Gavriel datar.


"Ck ... Nggak seru," gumam Ezra sebal.

__ADS_1


Selyn dam Queene pun berjalan ke arah tangga, menuju kamar dari Selyn setelah Selyn mengambil laptop milik sang kakak, tanpa sepengetahuan kakaknya sebagai pemilik.


"Buat apa, bawa-bawa laptop Mas Gav?" tanya Queene dengan alis bertaut bingung.


"Mau tunjukin gambar, foto-foto yang ada di laptop Mas. Mba penasaran nggak? Kalau El sih penasaran, soalnya galerinya ada kata sandi. Dan sialnya, El tidak tahu kata sandinya apa," balas Selyn ceriwis nan panjang lebar, bertanya untuk di jawabnya sendiri. Dan itu membuat Queene geli sekaligus kagum, dengan kelakuan antik adik sahabatnya.


Ada yah, orang bertanya di jawab sendiri dengan nada lucu seperti itu.


"Ya elah El, kamu aja adiknya tidak tahu, apalagi Mba yang bukan siapa-siapa Mas," dengkus Queene gemas, saat adik kesayangan terkekeh dengan imutnya.


"Yah ... Kali aja Mas kasih tahu Mba, kan mba dekat dengan Mas Gav," ucap Selyn sengaja, tanpa tahu jika perkataannya membuat hatinm Queene berdenyut nyeri, saat ingat kenyataan tentang mereka akhir-akhir ini.


"Kamu salah El, bukan Mba lagi yang ad di matanya, tapi orang lain," batin Queene sedih.


Selyn membuka pintu dengan Queene yang menutupnya pelan, kemudian menyusul si pemilik kamar yang sudah santai, rebahan tengkurap dengan laptop di hadapannya.


"Lihat Mba, di antara banyak file foto hanya file ini yang di kunci, dan El semakin penasaran. Makanya El ajak Mba ikut lihat foto di dalam sini," ujar Selyn memanggil Queene untuk mendekat, menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong.


"File foto yang mana?" tanya Queene setelah duduk di samping Selyn, yang menggeser tubuhnya sehingga kini Queene ikut rebahan di ranjangnya.


"Nih ... Yang angka 616, maksudnya apa coba. Kok nama file angka seperti itu. Kenapa nggak sekalian 212 coba, biar seperti film pendekar kesukaan Buyut," dumel Selyn saat melihat angka aneh di layar laptop sang kakak tersayang.


Queeneira tentu saja tergelak, saat adik sahabatnya mendumel dengan nada sewot seperti biasa, ciri khas seorang Selyn jika sedang kesal.


"Yah! Mba kok ketawa, El kan hanya berusaha jujur, eyang bilang orang jujur rezeki-nya banyak. Dan terbukti, karena selama ini El selalu dapat uang lebih dari Eyang dan Omah," cerocos Selyn sebal, saat melihat Mba calon iparnya terkekeh akan ucapan ngawurnya.


"Ha-ha-ha ... Abis kamu ada-ada saja, pendekar zaman apa itu, 212. Ha-ha-ha!"


Queeneira dengan santai menertawakan ucapan Selyn, yang saat ini sedang menampilkan raut wajah semakin kesal.


"Ah! Mba mah gitu, jangan tertawa lagi. Lebih baik kita pecahkan misteri kata sandi ini, supaya kita bisa melihat isi foto yang ada di dalam," dumel Selyn mengakhiri bercandanya.


Queeneira mengangguk, kemudian menetralkan rasa gelinya dan menahan tawanya saat lagi-lagi adiknya membuat ia lupa, akan nyeri hatinya ketika mereka membahas sandi dan orang yang dekat dengan sahabatnya tadi.


Ia ikut melihat foto-foto lama mereka, saat mereka masih banyak waktu bermain, berkumpul dan menghabiskan waktu bersama, sebelum badai bernama tugas sekolah juga salah paham menghampiri ia dan sahabatnya.


Di dalam foto itu ada foto mereka, dengan jumlah ribuan dan juga foto baru, foto baru dengan penampakan anggota baru juga.


Ia ingat foto kapan itu diambil, dan seketika ia perasaan kesal mampir kembali menggerogoti hatinya, saat ia merasa jika sahabatnya memiliki rasa juga buat dia.


Sudah terlihat jelas saat sahabatnya mulai menyimpan foto lain, selain foto mereka yang biasa disimpan oleh sahabatnya, jika sedang ada kegiatan di luar rumah seperti kemarin.


"Hi-hi ... Ada yang sedang cemburu nih," batin Selyn kumat jahilnya.


Queene mengubah lagi raut wajahnya, balas menatap Selyn yang menampilkan raut wajah bertanya, yang tentu saja dibuat-buat untuk menggoda Mba Queeneira-nya.


"Iya ... Ini foto mereka, waktu kita hang out bareng," balas Queene mencoba untuk biasa saja.


Selyn bertambah senang, saat melihat sendiri bagaimana sahabat kakaknya mengontrol ekspresi sebegitu rapihnya.


"Mas tumben sekali simpan foto lain, apa Mas suka yah sama mereka bertiga? Wah! Mas hebat, sekalinya suka sama tiga perempuan sekalig-


Pletak!


"Ouch! Yah Mba ... Masa El di jitak sih, kan sakit."


Queene yang gemas Akan ucapan ngawur adik sahabatnya pun dengan ikhlas, memberikan jitakan sayang untuk Selyn, yang saat ini sedang mengusap ubun-ubunnya menghilangkan sakit.


Sebelum menjawab pertanyaan sebal dari Selyn, Queene mendengkus ikut sebal dulu, saat sahabat yang ia cintai di fitnah sebegitu kejamnya, apalagi sama adik kandung kesayangan sahabatnya sendiri.


Tapi ... Buat apa ya, ia kesal dan sebal?


Ini kah yang disebut the power of nggak rela? Sehingga Queene yang mendengarnya kesal dan melampiaskannya dengan segera.


"Kamu ada-ada saja, Mas sendiri kok dicurigai seperti itu. Dasar, adik durhaka," sungut Queene tanpa sadar, jika saat ini ia seperti sedang marah ketika kekasihnya dijelekkan oleh orang lain.


Selyn terkekeh saat melihat reaksi tidak terduga Mbanya, yang marah saat ia gibah kakaknya sendiri, padahal ini bukanlah urusan dari sahabat kakaknya.


"Ciee! Yang bela Mamas Gavriel, segitunya. Huem ... Jadi curiga," timpal Selyn menatap Queene dengan mata memicing menggoda, jangan lupakan alisnya ikut naik-turun.


Queeneira tersentak kaget, saat dirinya kebablasan mengeluarkan ekspresi kesal berlebih, hingga mengundang tatapan menggoda dari adik sahabatnya.


Ia bergerak salah tingkah, saat Selyn semakin menggodanya dengan siulan dan gerakan alis naik-turun mengejeknya.


"Ih! Apa sih, siapa yang cemburu!" seru Queene lagi-lagi salah langkah, justru perkataannya membuat Selyn semakin genjar menggodanya.

__ADS_1


"Dih ... Siapa coba, yang bilang kalau Mba cemburu? Kan El hanya bilang curiga dan segitunya sampai belain Mas. Hayooo, jangan-jangan benar yah, kalau mba Queene cemburu?" ucap Selyn to the point, tepat sasaran dan juga sukses semakin membuat seorang Queeneira mati kutu.


Skak match ala Selyn Wicaksono.


Ini murni turunan dari sang Daddy, yang selalu mengintimidasi lawan dengan permainan kata.


Seperti pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


A daughter like her father.


Selyn pun seperti Dirga, dibagian mememojokkan seseorang dengan kalimat jebakan.


Niatnya sengaja kok ingin menunjukan foto mereka, karena ia sudah tahu apa saja yang tersimpan di dalam laptop Mas Gavrielnya, dan ia hanya ingin melihat reaksi dari seorang Queene, saat tahu ada foto perempuan lain yang disimpan oleh kakaknya sendiri.


Queeneira terdiam, dengan rona malu di pipi chuby miliknya dan itu tidak luput dari penglihatan seorang Selyn.


Grep!


Ia tersentak kaget, saat tiba-tiba tangannya digenggam lembut oleh Selyn, yang saat ini melihatnya dengan senyum kecil.


"Mba," panggil Selyn pelan, menatapa wajah Queene, tepat di kedua bola matanya dengan tatapan serius.


"Ya?"


Queeneira melihatnya dengan jantung berdegub kencang, apalagi saat melihat ekspresi berbeda dari Selyn, yang biasanya menampilkan raut wajah bercanda.


"Mba ... Boleh El tanya?"


Queeneira mengangguk saat Selyn bertanya masih dengan ekspresi seriusnya.


"Apa?"


"Mba .... Suka kan, dengan Mas Gav?"


Deg!


"Bagaimana mungkin," batin Queeneira dengan mata melotot kaget, ke arah Selyn yang semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Mba ... El tahu, jika Mba sebenarnya suka dengan Mas Gav. Tapi El janji, tidak akan ikut campur masalah kalian berdua, sampai kalian berdua sendiri yang memulai saling terbuka."


Queeneira semakin menatap Selyn dengan tatapan tidak percaya, saat kata-kata dewasa keluar dari belah bibir adiknya, adik sahabatnya yang umurnya bahkan masih dibawah mereka, namun sudah bisa menyikapi masalah dengan hati-hati.


"El, Mba buk-


"Jangan dijawab sekarang Mba, karena El tahu jika ini adalah kenyataan sulit. Tapi Mba jangan khawatir, El tahu Mas bagaimana. Dia saat ini hanya sedang mencari jati dirinya sendiri, sedang mencari keyakinannya sendiri. Karena apa? Karena mba harus tahu, seorang Wijaya-Wicaksono, bukan mencari pasangan untuk diajak berpacaran. Ngerti kan Mba, maksud El apa."


Selyn yang menyela kalimat sangkalan dari Queene menjelaskan dengan gamblang, apa yang saat ini sedang dialami oleh Mamasnya tersayang.


Untuk sekarang, ia cuma tidak ingin kedua pasang sahabat ini berselisih, hanya karena Mamasnya yang lupa cara memperlakukan seorang sahabat dengan nama Queeneira.


Jangan kira ia tidak tahu, jika ia punya kakak terbuka macam seorang Ezra, yang juga gemas dengan kelakuan keduanya.


Ditambah dengan sikap Mamasnya yang akan memandang berbeda Mba atau pun dia, kakak perempuan yang baru dikenalnya.


Seorang Gavriel, kakak dari Selyn itu paling tidak peduli dengan yang namanya perempuan, kecuali keluarganya dan orang terdekat didalam hidup kakaknya.


Jadi, jangan salahkan ia, jika ia kepo akan perubahan atmosfer antara Mamas dan Mba-nya.


Queeneira hanya mampu mengangguk, saat ia tidak bisa menyangkal skak match seorang Selyn dari keturunan Wijaya.


"Baik, tapi Mba tidak akan memaksa. Mba akan ikut senang, jika dia senang, El."


Grep!


Selyn dengan segera membawa Queene ke pelukan eratnya, berharap bisa membuat Mba kesayangannya sabar, menghadapi sikap kekanakan sang kakak, yang saat ini sedang dalam masa pencarian.


"Keep fight ... Ganbatte, onee-chan. (Tetap berjuang ... Semangat, Mba.)" bisik Selyn, menuai anggukan kepala mengerti dari Queene, yang tersenyum tulus untuk adik kesayangannya.


"Hai lah ... Ngo cito. (Iya ... Saya tahu.)" balas Queeneira bergumam, lalu ikut mengeratkan pelukannya.


"Yah ... Aku rasa, aku harus ikut menunjukan arti dari cemburu yang kurasakan ini," batin Queene dengan rencananya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.


__ADS_2