Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Siapa itu Jaya Dharma


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Richard Jaya Dharma adalah anak dari pengusaha terkenal di kota S, memiliki papa bernama Andrew Jaya Dharma.


Perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan properti ini, selalu bersaing ketat dengan perusahaan Wijaya. Meski terkadang ada kerja sama, hasil yang besar belum tentu membuat Andrew puas.


Puncaknya saat pembangunan MTR, Wijaya yang lagi-lagi memenangkan Tender membuat Jaya Dharma, harus kehilangan beberapa persen keuntungan saham.


Tapi apa mau di kata, Wijaya tidak seperti perusahaan lainnya, yang mampu di tembus keamanannya karena ada agen rahasia pelindung di belakangnya.


Richard sebenarnya baru saja pulang setelah beberapa tahun di hukum, oleh Andrew karena ketahuan menghabiskan uang puluhan juta dolar.


Seringnya Sang anak membuat onar membuat Andrew marah, tapi perbuatan Richard kali ini justru membuatnya senang.


" Bagaimana bisa kamu pulang, dengan wajah babak belur begitu, Richard?" tanya Andrew tanpa emosi. Ia dan Anaknya saat ini sedang ada di ruang kantor, perusahaan Jaya Dharma.


Ia tidak kaget jika Sang Anak tawuran atau berkelahi, tapi baru ini Ia melihat Sang Anak pulang membawa luka di wajahnya.


" Berkelahi, apa lagi?" balas Richard tanpa niat.


Richard sendiri sudah muak hidup dengan ayah, yang sok-sok-an perduli nyata-nya tidak.


Andrew mengangkat sebelah alis heran, tidak tersinggung dengan sikap Anaknya yang kurang ajar.


" Heh, berandal seperti kamu gini kalah! Apakah dunia sudah terbalik?" ujar Andrew menghina.


Richard bukanlah anak dari hasil pernikahan, Richard adalah anak dari salah satu mainan, hanya agar Ia mendapatkan kekuasaan akan Jaya Dharma sepenuhnya.


" Lawan mu sepertinya tangguh, siapa Dia?" tanya Andrew penasaran.


Sebelum menjawab Richard mendengus, heran dengan kelakuan Papa-nya yang tidak biasa.


" Wijaya, Dirga Wijaya," balas Richard cuek.


" Wijaya!" beo Andrew tidak percaya.


" Iya,"


" Maksud kamu, Wijaya yang terkenal itu?" tanya Andrew dengan nada tidak percaya.


Setahunya, Wijaya terlebih penurusnya bukan seseorang yang mudah main pukul. Jarang ada yang bisa membuat Wijaya murka, apalagi main kasar.


" Bagaimana bisa?" tanya Andrew.


" Suruh siapa punya Istri cantik, tidak boleh berkenalan," balas Richard cuek.


" Richard mau tuntut Wijaya, Dia harus masuk penjara dan membayar luka yang Richard terima pah," Lanjut Richard mutlak.


Bagaikan angin segar, perkataan dari Anaknya membuat senyum di bibirnya, hampir saja terulas.


" Tentu saja, kita harus membalas atas penghinaan ini," balas Andrew cepat. Menuai kernyitan dahi heran, dari Richard yang penasaran.


" Papa nggak takut?" tanya Richard heran.


" Buat apa takut,"


" Kasus penganiayaan hanya sebentar masa tahanan, Rich ...


" Kata siapa Papa mau Dia di penjara?" sela Andrew cepat. Sebelum Sang Anak melanjutkan perkataannya, karena tanpa di beritahu pun peluang untuk menang tipis.


" Jadi, maksud Papa apa?" tanya Richard tidak mengerti.


" Papa cuma mau Wijaya merasakan kerugian, masalah menang di pengadilan tidak perlu di fikirkan, membuat Dia marah lebih menyenangkan," balas Andrew santai.


Perkataan Papa nya kelihatan sekali tujuannya apa, membuat Sang anak ikut tersenyum miring, saat mendengar ide briliant dari Sang Papa.


" Betul juga, Richard mau lihat wajah sombong itu muram dan marah, apalagi sewaktu perusahaannya sedikit demi sedikit hancur," seru Richard mengerti.


" kalau gitu, Richard boleh dong bermain?" Lanjutnya bertanya. Di jawab anggukan kepala oleh Andrew, di serta dengan senyum miringnya.


" Secantik apa Istri dari Wijaya itu, sehingga kamu bisa terlibat perkelahian?"

__ADS_1


Richard hanya diam, saat mendengar pertanyaan dari Sang Papa, meski suaranya santai tapi Richard tahu, jika Sang Papa sedang senang.


" Cantik sekali, Papa juga bakal ngiler kalau melihatnya," balas Richard dengan senyum ganjilnya.


" Kalau gitu, kita bisa dong berbagi. Heh ... Anakku?" seru Andrew , yang di balas senyum miring dari seorang yang di panggil anakku.


" Kita bisa bermain bersama, Richard yakin Papa juga akan suka dengan target Richard kali ini," balas Richard santai.


Maka di mulai lah rencana keduanya, mulai dari tuntutan pengadilan, lalu mengirim orang untuk mengintai rumah target.


Tapi sayang sekali, target utama nyaris tidak pernah keluar dari rumah kecuali bersama Sang Suami, karena saat ini mereka belum bisa menyerang. Maka mereka harus main halus, membayar mahal seseorang untuk mendapat lembaran foto yang akan di jadikan hadiah.


Serta seseorang, yang akan menjadi pemain hitam lainnya.


Skip


Pengadilan Negeri Tinggi


Richard pov


Hari ini adalah sidang antara Gue dan Sang target, siapa lagi kalau bukan Dirga Mahesa Wijaya. Si Arogan, yang baru-baru ini Gue ketahui latar belakangnya.


Pengusaha nomor wahid, di Kota S maupun Manca Negara. Pengusaha muda yang sukses, di berbagai bidang.


" Cih, terlalu melebihi-lebihkan," Dengus Gue kesal.


Banyak wartawan dan Pers yang mengelilingi Gue , bertanya ini dan itu namun Gue enggan membalasnya.


Karena menurut Gue itu terlalu merepotkan .


Gue masuk kedalam ruang sidang, berdampingan dengan Kuasa hukum dan orang-orang Gue, sedangkan Papa Gue nggak hadir, Dia bilang sibuk.


Cih ... Sibuk dengan mainannya.


Sidang berlangsung dengan tertib, perdebatan antara Kuasa hukum Gue dan Kuasa hukum dari pihak lawan membuat Gue yakin, jika kemenangan mutlak milik lawan.


Faro Geovan Wardhana, siapa yang tidak mengenal. Advokat nomor wahid, di bidangnya, apapun kasus-nya Dia tidak pernah kalah.


Tapi bukan itu yang Gue amati saat ini, melainkan Saksi ahli yang sedang duduk dengan kepala menunduk.


" Cantik banget, bisa merasakan walau sekali Gue rasa cukup," Batin Gue mupeng.


" Terserah," Batin Gue cuek.


Gue melihat ke arah Dirga, yang juga sedang melihat ke arah Gue dengan tatapan tajam.


" Wow, Gue yakin kalau tatapan mata punya peluru, kepala Gue udah bolong dari tadi," Batin Gue merasa tertantang.


Gue pun iseng menggumamkan kata tanpa suara, ke arah Dirga yang langsung bangkit berdiri hendak menyerang Gue.


Benar-benar sesuai ekspektasi, melihat orang kalem emosi itu lebih menyenangkan, di bandingkan dengan menghabiskan uang jutaan dolar.


" Istri Lu cantik, jadi mau Gue tidurin,"


Richard pov end


" Brengsek, apa mau Lu hah?" seru Dirga kalap. Nada suaranya yang biasanya datar, menjadi penuh emosi saat melihat Richard, yang hanya tersenyum mengejeknya.


" Ga, sabar. Kita ada di tempat sidang ,tahan emosi Lu, kalau tidak kemenangan kita cuma debu," ujar Faro berbisik. Ia di bantu dengan Raka menahan tubuh Dirga, yang memberontak ingin mendekati Richard.


" Elah Ga, tahan emosi Lu," timpal Raka berbisik.


Suasana pun menjadi riuh saat melihat pertengkaran di antara keduanya, penonton melihat ke arah keduanya dengan wajah penasaran, membuat Kiara terburu-buru mendekati Suaminya, yang saat ini sedang terbakar emosi.


" Kenapa? Gue cuma mau ngucapin selamat atas kemenangan Lu, salah yah?" ujar Richard santai. Ia menyeringai saat melihat Kiara, yang menerobos masuk, menenangkan Dirga dengan cara memeluknya.


" Sayang sabar, Aku mohon,"


" Sudah yah, Gue cabut. Oh iya, apa hadiah dari Gue udah sampai di tangan Lu, Bagaimana, apa Lu suka?" ujar Richard hendak berbalik. Namun, sebelumnya ia bertanya dengan nada mengejek, terkekeh senang saat melihat Dirga yang kembali kalap.


" Sialan Lu, Gue ...


Plak


Suara temparan membuat ruangan yang ricuh, menjadi sunyi seketika saat pengusaha muda dari keluarga terpandang yaitu Dirga, yang tadi kalap dan emosi terdiam dengan pandangan nanar ke arah Kakek Bakrie.


Kakek Bakrie yang sudah tidak tahan, dengan sikap bar-bar Sang Cucu, membuatnya menjadi ringan tangan.

__ADS_1


Bakrie tidak ingin Dirga lebih malu lagi, dengan tersandung masalah ini saja membuat pemilik saham yang lain protes, apalagi kalau sampai ribut di Pengadilan Mahkamah Agung.


" Cukup, pulang sekarang," perintah Bakrie datar. Ia meninggalkan ruang sidang, bersama Bagus, sahabatnya yang menepuk pundak-nya pelan.


" Kakek," batin Kiara takut. Saat melihat, perubahan raut wajah Sang Kakek, yang biasanya meski datar tapi ada binar bahagia.


Richard yang belum benar-benar meninggalkan ruang sidang terkekeh senang, saat melihat wajah sombong itu menatap tidak percaya ke arah keluarganya.


Papa-nya benar, Bakrie di kenal kejam dan keras apalagi menyangkut masalah martabat.


" Rasakan, cih," Gumamnya pelan. Menjauh ruang sidang bersama dengan orang-orangnya, serta Kuasa hukumnya.


Mansion Wijaya


Di ruang tamu, sudah berkumpul keluarga Wijaya dan Wicaksono, serta Raka dan Faro.


Suasana hening menyelimuti mereka, tidak ada yang buka suara, mereka tenggelam dalam fikiran masing-masing.


Kemenangan di pengadilan bukan menu utama, sebab inti tujuan dari ini adalah membuat Dirga marah dan emosi di depan umum.


Terbukti setelah mereka pulang, berita dengan cepat tersebar luas. Termasuk aksi tamparan dari Sang tetua Wijaya, yang di kenal tidak pernah main kekerasan, bisa dengan mudah memukul Cucunya sendiri di depan umum.


Belum lagi merosot-nya harga saham perusahaan mereka, terhitung beberapa jam yang lalu. Dani, sebagai tangan kanannya melaporkan jika ada sekitar penurunan saham sebesar 3%.


3% bukan jumlah yang sedikit, jika ini di biarkan maka jumlahnya akan makin bertambah.


" Apa kamu lihat, akibat dari kecerobohan mu Dirga?" tanya Bakrie datar. Menyudahi acara hening, sejak mereka berkumpul.


Di ruang tamu hanya ada Para lelaki, sedangkan Para Wanita di ruangan lain menemani Gav.


Diam adalah pilihan Dirga, Ia tahu tindakan-nya kali ini sungguh ceroboh. Di dalam ruang sidang membuat keributan, tapi suami mana yang bisa tahan saat istrinya di begitukan?


" Maaf Kek," balas Dirga singkat. Melihat dengan tegas, ke arah Kakeknya yang menghela nafas.


" Kemana Dirga yang dulu, kenapa sekarang kamu semakin tempramental?" tanya Bakrie tidak habis fikir.


" ..."


" Sudah lah Bakrie, Aku yakin ada alasannya Dirga berbuat seperti itu, pasti ini ada hubungannya dengan Kiara, bukankah seperti itu?" sahut Bagus tepat sasaran.


Deg


Tubuh Dirga menegang, saat mengingat perkataan Richard saat di ruang sidang tadi.


" Apa yang di lakukan Dia?" tanya Bakrie.


" Dia bilang,"


Semua menunggu jawaban dari Dirga, dengan raut wajah penasaran. Sedangkan Dirga mengepalkan tangannya emosi, saat harus mengatakan sendiri kata-kata rendah yang membuatnya emosi kembali.


" Dia bilang, ingin meniduri Kiara, kek," lanjut Dirga dengan nada dingin. Sungguh Ia sangat emosi saat mengerti, apa maksud ucapan tanpa suara Si Sialan Jaya Dharma.


" Apa!!!"


Hampir semua orang yang mendengar lanjutan kalimat Dirga, terkejut luar biasa. Bahkan Fandi, Papa dari Istrinya pun sampai berdiri, dengan raut wajah emosi.


" Sialan, berani sekali Dia memiliki fikiran seperti itu," seru Fandi emosi.


Hati-nya terbakar emosi, saat mendengarnya. Pantas saja Menantunya yang di kenal datar, bisa mengeluarkan emosi sampai seperti itu.


" Kelewatan, mereka tidak bisa di biarkan. Ini juga pasti ada hubungannya dengan perusahaan kita yang jatuh," sahut Hendri tidak kalah emosi. Menantu kesayanganya harus bertemu dengan orang gila, macam keluarga Jaya Dharma, mimpi apa keluarga mereka.


" Apa ada yang lainnya Ga?" tanya Raka. Ia juga akan beraksi seperti sahabatnya, jika ada pria lain memiliki niat meniduri Istrinya, apalagi mendengar sendiri rencana dari mulut Si pria sialan tersebut.


" sebenarnya ....


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya....


Jangan lupa komentar dan klik jempolnya yah...


Serta vote dukunganya ...


Sampai babai

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2