
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Rumah Sakit kota S
Di ruang ICU terbaring pasien berjenis kelamin laki-laki dengan nafas teratur, tidak seperti kemarin yang tubuhnya terpasang segala jenis alat penopang hidup.
Hari ini hanya tinggal alat bantu nafas dan jarum infus yang menanacap di punggung tangan kirinya.
Di samping Si pasien ada seorang istri Kiara namanya, seperti biasa sedang melakukan tugas rutin yang sudah enam hari ini ia lakukan.
"Dokter bilang Kamu sudah melewati masa koma, tapi kenapa kamu masih betah tertidur?" tanya Kiara kecewa.
Tangannya dengan telaten mengusapkan lap dengan aroma yang masih sama, ke seluruh permukaan tubuh Si pasien yang adalah Suaminya.
"Kamu tahu, Aku senang sekali saat Dokter menyampaikan berita kondisi Kamu semalam,akhirnya Doa Kami di dengar oleh-Nya," gumam Kiara senang.
Flasback on
Di luar ruangan ICU, sudah berkumpul keluarga Wijaya dan Wicaksono.
Mereka semua menanti dengan hati was-was dan gembira di saat bersamaan. Awalnya mereka kaget mendengar suara teriakan dari arah kamar Sang anak, terlebih itu adalah suara teriakan Sang menantu yang panik .
Mereka bahkan langsung menghampiri ruang ICU, dengan ekspresi yang tidak bisa di gambarkan dengan jelas.
Raut wajah panik adalah yang pasti, tapi syukurlah menjadi sedikit lega saat mendengar perkataan Sang menantu selanjutnya.
Dokter yang sedang berada di dalam belum juga keluar, membuat mereka yang sudah merasa lega kembali khawatir, saat keadaan dari Anak mereka masih belum di ketahui kejelasannya.
"Pah, kenapa lama sekali?" gumam Kiara bertanya.
Saat ini Ia masih betah berada di pelukan Fandi, mencari sandaran saat hatinya benar-benar gelisah.
"Demi Tuhan, kenapa lama sekali? Apa ada yang salah dengan Suamiku?" batin Kiara penasaran.
"Dokter perlu mengkaji lebih dalam sayang, tidak bisa asal periksa dan beres. Kamu berdoa saja, semoga lamanya Dokter di dalam tanda jika Dirga sudah baik-baik saja!" balas Fandi tenang.
Meskipun dalam hatinya juga khawatir, tapi Ia tidak boleh memperlihatkan keadaannya, Ia harus tetap tenang agar Sang anak bisa sedikit menghilangkan rasa khawatirnya.
"Begitu kah Pah? Syukurlah!" bisik Kiara.
Tidak lama pintu ruang ICU terbuka, di susul Dokter yang keluar dengan ekspresi lega.
Ceklek!
Mereka serempak menoleh ke arah pintu, mendatangi Dokter serta memberondongi Dokter dengan pertanyaan satu tujuan.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya mereka hampir berbarengan.
"Pasien atas nama Dirga syukurlah sudah melewati masa koma, tapi untuk saat ini biarkan Pasien istirahat dulu, besok bisa di temui lagi dan besok juga pasien sudah bisa di pindah ke ruang rawat inap!" ujar Dokter tersebut menjelaskan dengan nada semangat.
"Syukurlah!!" seru mereka bersamaan.
Doa serta rasa syukur mereka panjatkan di dalam hati, mereka senang luar biasa saat penantian sabar mereka membuahkan hasil.
"Baik, terima kasih Dokter!" ujar Hendri mewakili.
Flasback off
"Cepat buka mata Kamu sayang, supaya cepat pindah ruangan dan Gav bisa melihat Kamu, Gav sangat merindukan Mu," ujar Kiara.
Ia tersenyum saat pekerjaannya sudah selesai, lalu melihat lagi wajah Sang suami yang mulai berhiaskan rona merah, sebab beberapa hari yang lalu wajah Suaminya pucat meski suhu tubuhnya tidak dingin.
"Tampannya ... Baiklah Aku keluar sebentar, Aku harus memastikan jika Si buntal memakan makanannya, saat ini Mama yang sedang mencoba menyuapinya," lanjut Kiara menjelaskan.
Cup!
"Aku mencintaimu, Dirga," bisik Kiara setelah mengecup sekilas bibir merah Suaminya.
Kiara pun meninggalkan ruangan, Ia menutup pintu pelan dengan meninggalkan debaman kecil.
Blam!
Sepeninggalnya Kiara, kini ruangan itu kembali sunyi sepi tanpa ada sedikit pun suara.
"Kiara!"
Di luar ruangan Kiara yang sedang berjalan menuju ruang inap tempat Gav berada tiba-tiba berhenti, saat menyadari jika ada sesuatu miliknya yang tertinggal di sana.
"Oh ... Astaga, Aku lupa membawa handphone Ku. Ya ampun, kenapa bisa sampai lupa seperti ini!" gumam Kiara merutuki diri sendiri.
"Sebaiknya Aku kembali," Lanjutnya.
Ia berbalik arah menuju ruangan Suaminya kembali, berjalan dengan santai dan sesekali menyapa perawat yang berpapasan dengannya.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, Kiara masuk setelah mengucapkan maaf dengan kekehan kecilnya.
"Hai sayang, maaf Aku kembali lagi. Aku mendadak menjadi pelupa, he-he!" ujar Kiara salah tingkah.
Ia berjalan menuju ranjang Dirga dan mengambil handphone miliknya yang Ia letakan di atas nakas.
__ADS_1
"Lihat, handphone Ku ketinggalan,"ujar Kiara memperlihatkan handphone di tangannya.
"Padahal nggak akan ada yang menelpon juga sih, selain Kamu yang selalu rajin menanyakan kegiatan Aku dan Gav sehari-hari di rumah," ujar Kiara mendengus geli.
"Baiklah, Aku pergi dulu yah! Nanti Aku kembali, Kamu tenang saj-
"Ra!"
Deg!
Kiara menahan nafas saat Ia mendengar suara, dengan nada lirih nyaris tidak terdengar memanggil namanya.
"Ra!"
"Dir- Dirga ..."
Kiara menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca, saat lagi-lagi mendengar suara lirih memanggil namanya.
"Kiara,"
"Dirga, Aku di sini!"
Kiara segera menggengam erat tangan kanan Dirga untuk di kecupnya berulang, dengan bibir setia mengucapkan kata syukur.
"Syukur lah sayang, hiks!"
Mata itu akhirnya terbuka pelan, berkedip beberapa kali sebelum akhirnya bergerak bingung, saat memandang langit-langit berwarna putih di atasnya.
Kiara yang melihatnya tentu saja bahagia, kali ini Ia ingat dengan tombol darurat maka dengan segera menekannya berulang, kemudian kembali melihat Suaminya yang memandangnya dengan ekspresi sayu.
"Syukurlah, Kamu sudah siuman sayang!" seru Kiara dengan lelehan air mata.
Ia tidak kuasa menahan laju air matanya, apalagi isakannya.
Malu dengan reaksinya sendiri, Kiara menutup wajahnya dengan telapak tangan, serta menelusupkan wajahnya di antara ranjang dan lengan Dirga.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, Dokter yang di panggil olehnya datang dengan perawat mengekor di belakangnya.
"Selamat pagi!" sapa Dokter ramah.
"Pagi Dokter!" balas kiara serak. Ia tersentak kaget dan buru-buru menghapus air matanya, kemudian berdiri memberi ruang agar Dokter bisa segera memeriksa keadaan Suaminya.
"Sudah bangun Tuan? Syukurlah ... kalau begitu Saya periksa lagi ya, sebelum Tuan pindah ke ruang inap!" ujar Dokter tersebut.
Selanjutnya Sang Dokter melakukan tugasnya, Dia meletakkan stetoskop di atas dada dan mendengar irama jantung dari Suaminya. Berlanjut memeriksa bagian tubuh yang lain, yang sama sekali tidak di mengerti oleh Kiara yang memperhatikan dari tempatnya berdiri.
Pemeriksaan selesai, Sang Dokter melepas dan menggantung lagi stetoskop miliknya, lalu berbicara dengan perawat di sampingnya.
"Baik, Dokter!"
Lalu Dokter tersebut menghadap ke arahnya, dengan senyum tipis yang di mata Kiara adalah senyum paling menyejukan baginya.
"Kami akan mengurus pemindahan ruangan,Nyonya bisa ikut saya sebentar ada yang harus Saya jelaskan!" ujar Dokter tersebut.
"Baik Saya dengan salah anggota keluarga Saya akan menemui Dokter, di ruangan pribadi Dokter setelah ini, apa seperti itu tidak masalah?" balas Kiara cepat.
"Tidak masalah, kalau begitu Saya permisi!" seru Dokter tersebut ramah.
"Baik, terima kasih sekali lagi, Dokter!" seru Kiara semangat.
Dokter tersebut mengangguk lalu meninggalkan ruangan, sehingga hanya tersisa Kiara serta perawat yang sibuk dengan alat-alat medis.
Kiara menghampiri ranjang Suaminya, lalu menggengam tangan milik Dirga dengan lembut.
"Terima kasih, sayang," bisik Kiara lembut.
Saat ini Dirga kembali menutup matanya, setelah selesai pemeriksaan. Sepertinya Sang suami masih belum benar-benar kuat, tapi tidak masalah yang penting Ia tahu jika Suaminya sudah mulai membaik.
"Permisi Nyonya, sekarang pasien sudah siap di pindahkan!" seru Seorang perawat sopan.
Kiara mengangguk dengan semangat, tadi sewaktu Dokter memeriksa keadaan Dirga, Ia juga sudah menghubungi keluarganya.
"Iya Suster, terima kasih!" balas Kiara dengan senyum cerah.
Sedangkan di ruang inap lain,tepatnya di ruang inap yang sudah di sewa oleh keluarga Wijaya.
Putri sedang menelpon Sang suami, tentang kabar menggembirakan ini. Ia dengan semangat memberi tahu, jika Anak mereka sudah bisa di pindahkan di ruang rawat biasa.
"Baik, Aku segera ke rumah sakit!"
"Iya, tetap hati-hati sewaktu mengendarai mobil!" balas Putri mengingatkan.
"Iya, ya sudah Aku tutup teleponnya,"
"Baiklah,"
Tut!
"Syukurlah tuhan!" Gumamnya senang.
Sarah yang juga sudah menelpon keluarganya ikut bahagia, akhirnya Cucunya bisa melihat Daddynya lagi.
__ADS_1
"Gav senang? Daddy akan tidur di sini dengan Kicik, jadi jangan sedih lagi yah!" ujar Sarah. Ia melihat dengan pandangan teduh, saat Sang cucu melihatnya dengan binar mata bahagia.
"Da-da?"
"Huem ... Daddy Gav, akan kemari seben-
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
Kalimat Sarah berhenti saat mendengar suara ketukan, lalu pintu terbuka di susul dengan suara Seorang perawat.
"Permisi!"
Pintu terbuka lebar dengan Kiara dan perawat yang mendorong brangkar, di atasnya ada Dirga yang terbaring dengan mata masih menutup.
"Mah!" seru Kiara senang.
Ia segera melengkah dengan riang, mendekat ke arah Sang Mama yang saat ini sedang menggendong Anaknya.
"Mom-mom!"
"Yes, sweatheart. Daddy bisa kumpul lagi dengan Kita, Kamu senang?" tanya Kiara. Ia membawa Gav ke dalam gendongannya, mengecupi pipi gembul sang anak dengan gemas.
"Da-da, ngun ain?"
"Iya sayang, Daddy sudah bangun dan bisa bermain. Jadi sekarang kamu kasih lihat Mommy wajah menggemaskan Kamu, mana ayok perlihatkan!" sahut Kiara ceria.
"Hi-hi .... Da-da, ngun!"
"Cucu Oma bahagia?" sahut Sarah menimpali.
"Hi-hi, Dadd-dadd!!"
"Oh Tuhan, Kamu bisa panggil Daddy sayang? pasti Daddy akan bahagia saat mendengarnya!" seru Kiara kaget.
Ia bahagia, Anak kesayangannya sudah bisa memanggil anggota keluarganya dengan lancar.
"Semuanya sudah beres, Nyonya. Kami permisi, jika ada yang di perlukan Anda bisa menekan tombol di sini!" ujar Seorang perawat menjelaskan.
"Baik Suster, terima kasih banyak!" balas mereka bertiga.
Perawat itu mengangguk dan meninggalkan ruangan, setelah membalas dengan singkat ucapan terima kasih dari keluarga pasien.
"Sama-sama, permisi!"
Skip
Ruang pribadi Dokter
Suasana tegang tercipta, saat Sang Dokter selesai menjelaskan kondisi Dirga.
Kiara menatap tidak percaya saat Dokter memberi tahu, jika akan ada masalah dengan kedua kaki Suaminya akibat kejadian kemarin.
Kakek dan kedua Papannya bahkan menunjukan ekspresi yang hampir sama dengannya, syok dan juga sedih di saat bersamaan.
"Lalu, apakah akan separah itu Dokter?" tanya Bakrie setelah lama terdiam. Ia mencerna lagi penjelasan Dokter, yang sungguh membuatnya terpukul.
"Sebenarnya, jika saja saat itu tidak ada pergerakan lebih, kondisinya tidak akan seperti ini," ujar Dokter.
"Tapi tidak seperti apa yang anda bayangkan, setelah luka sembuh total jika pasien selalu rajin melatih otot saraf motoriknya, lama-lama juga akan bisa berjalan dengan sedia kala," Lanjutnya.
"Jadi maksud Dokter, bagaimana?" tanya Kiara.
"Cidera pada kedua pahanya bukan hal serius, tapi gerakan paksa setelahnya yang membuat serius. Maksud Saya adalah dengan rajin terapi berjalan, saudara Dirga akan bisa berjalan kembali seperti sedia kala!" ujar Dokter menjelaskan.
Akhirnya mereka bisa bernafas lega, saat mendengar ulang apa maksud dari perkataan Dokter.
"Syukurlah, jadi Cucu saya bisa berjalan jika rajin terapi?" tanya Bagus memastikan.
"Benar Tuan!"
"Terima kasih Tuhan," batin mereka bahagia.
Keesokan harinya
Pagi cerah menyambut keluarga kecil Dirga Si Wijaya Muda.
Di ruangan tempat Dirga di rawat, ada Kiara yang tertidur di ranjang lainnya dengan Gav di sebelahnya.
Sinar matahari masih mengintip malu di sela-sela horden,meski hangatnya sudah menyapa seorang pasien yang saat ini sedang membuka matanya perlahan.
Dia mengedip-ngedipkan kelopak matanya pelan, membiasakan cahaya pada retina matanya yang terkena sinar matahari.
"Umh!!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sedikit notes :
Fungsi sel saraf motorik adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan.
__ADS_1
Saraf motorik mengkoordinasikan gerakan tubuh yang disadari, yang akan langsung merangsang otot Anda.