
Happy reading vrohh
¶¶¶¶¶¶¶¶
Saat ini waktu menunjukan pukul sembilan pagi, Dirga berencana untuk sarapan bersama dengan Kiara di Penginapan Asri.
Ia kemudian memutuskan untuk mengirim pesan singkat, lalu menunggu Kiara sambil duduk dan menikmati kopi hitam tanpa gula.
Kalian ingatkan jika Dirga bukan penggemar manis,tapi lain lagi ceritanya jika manisnya berasal dari senyum Kiara.
Cieee ehem ....
"Garap cuy," batin Dirga eror.
Dengan santai Dirga menikmati pahitnya kopi yang mengalir melewati kerongkongannya, baginya Kopi adalah minuman paling enak, setelah air putih tentunya.
"Kopi yang terbaik!" gumam Dirga pelan.
Dirga tidak terlalu suka dengan minuman sejenis Wisky atau pun Bir dan minuman keras lainya.
Ia tidak seperti sahabatnya Raka, yang paling jago meminum minuman keras seperti itu. Tapi jangan salah, walaupun tidak terlalu suka bukan berarti Ia tidak minum.
Di banding Faro, toleransi dirinya terhadap alkohol tidak kalah dengan Raka, jadi jika di urutkan maka orang pertama adalah Raka , Dirga baru kemudian Faro, jika soal kuat atau tidaknya minum minuman Beralkohol.
Berbicara tentang Alkohol , Dirga masih ingat awal mula dan alasan kenapa Ia meminum minuman yang kata Raka sih minuman surga.
Ketika itu Ia masih duduk di bangku SMA, kelas satu masa dimana Ia merasa nakal dan ingin bebas.
Pada saat pertama Ia bertemu dengan Raka, Dirga adalah seseorang yang memiliki pribadi yang tertutup. Tidak banyak yang bisa menjadi temannya, sifatnya yang sombong selalu menampilkan wajah datar, serta mata nya yang menyorot tajam. Membuat teman lelaki di sekolahnya tidak berani berteman, bahkan sekedar menyapa saja mereka sudah ketakutan dulu.
__ADS_1
Jika bukan karena tugas, mungkin sepanjang hari Ia akan diam dan hanya membaca buku tentang manajemen keuangan saja.
Dirga itu bukan orang yang suka mengalah, bahkan menunjukan kekurangannya saja Ia tidak akan sudi, baginya pantang menyerah sebelum bertindak.
Kalau Ia tidak salah ingat sore itu sepulang sekolah, tiba-tiba Raka mendatanginya lebih tepatnya sengaja menunggunya di gang samping sekolahnya.
"Woy anak Mama , Gue mau nantang Lu"
Itu perkataan Raka dulu, alih-alih menyapa sopan, Si Kampret satu itu malah to the point alias blak-blakan berkata seperti itu.
"Dasar kampret," gumam Dirga saat mengingat.
Dengan datar dan tanpa ekspresi tentu saja Ia menjawab singkat dan padat, masa bodo dengan kelakuan Sahabatnya dulu.
Flasback on
Dirga pov
Gue melihat Dia dengan kening mengernyit bingung.
"Heh ... Gue siapa? " jawab Dia sambil terkekeh singkat
"Gue Raka , Raka Ferdian ..." lanjut Dia.
Gue masih melihat Dia dengan ekspresi awalnya, bahkan Gue sudah siap-siap angkat kaki ingin segera meninggalkan gang tempat Gue berdiri saat ini.
"Ngabisin waktu aja," batin Gue kesal.
"Nggak kenal ..." ujar Gue datar dan nggak perduli.
__ADS_1
Gue melangkah kan kaki meninggalkan Dia yang masih diam di tempat.
"Dan Gue nggak peduli," lanjut Gue pada saat posisinya ada di samping Dia , pas sekali di telinga sehingga membuat Dia emosi.
Gue lihat Dia mencoba tenang dengan mengepalkan kepalan tangan Dia kemudian Dia tersenyum sinis.
"Heh ... Cupu pengecut, selamanya cuma jadi pecundang!" ujar Dia meledek Gue.
Ucapan dari Dia yang mengejek Gue membuat Gue hampir Terprovokasi, jika saja Gue tidak memiliki kendali kuat Mungkin saja saat ini Kepalan tangannya sudah mendarat indah di pipi Dia.
Gue menghentikan langkah kaki sejenak,kemudian menolehkan Kepala kebelakang tanpa membalikan badan, Gue hanya memberikan balasan yang membuat Dia terlihat semakin kesal.
"Ya ... Dan pecundang adalah orang yang lebih dulu teriak pecundang, dasar pecundang cih!" ujar Gue sinis.
Gue meludah jijik lalu akhirnya benar-benar meninggal kan gang tersebut serta Dia, yang sedang menahan rasa kesalnya.
Namun ada yang salah sebelum Gue benar-benar pergi, Gue lihat Dia tersenyum sinting, apa mungkin Dia senang sebab merasa menemukan teman yang sebelas dua belas dengannya.
Flasback end
"Kok Gue kesel yah pas inget kejadian itu, Si kampret satu itu selalu bisa bikin Gue darah tinggi aja," gumam Dirga pelan.
Ia pun membuka aplikasi pesan pada handphonenya, mengecek kembali apakah ada pesan balas dari Kiara atau tidak.
"Lama banget, kopi sampai mau habis,"
Ia pun menoleh ke kanan dan kiri, melihat tamu di penginapan miliknya yang semakin ramai pengunjungnya.
"Musim semi kali ini lebih ramai dan tentunya akan semakin spesial," gumam Dirga sambil tersenyum.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Terus ikuti kisah nya ya ...