
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Who are you__Ginette Claudette.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Disneyland resort, Hong Kong.
Bunga dengan bentuk kepala karakter tikus terlihat dengan jelas, saat dua belas orang dalam satu rombongan ini, memasuki area taman bermain.
Mereka berjalan dengan menjadi tiga barisan tidak teratur, saling bercanda saat satu atau yang lainnya mengeluarkan ide-idenya, untuk seperti ini atau seperti itu, jika mereka tiba di wahana nanti.
Masuk melewati gerbang seperti lorong, mereka di sajikan lagi jalanan lebar dengan rumah dan toko bergaya klasik.
Dari sini mereka bisa melihat lagi, bagaimana luasnya taman padahal wahana bermain belum kelihatan tempatnya, saat sepanjang jalan hanya diisi dengan toko dengan berbagai pernak-pernik menghiasi.
"Jalan lagi? Ah! Untung saja sudah mulai terbiasa berjalan dengan kaki," gumam Selyn mengeluh kepada sang kakak, yang balas dengan menepuk kepala adiknya sayang.
"Dasar manja, El mau main nggak? Kalau tid-
"Eh! Mau dong Mas, masa sudah jauh-jauh naik kereta tiga kali nyerah, nggak jadi main. Enak saja," sela Selyn, menggerutu saat sang kakak meledeknya.
Grep!
"Nanti kita naik komedi putar," sahut Queene memeluk Selyn dari samping, dengan senyum lebar di wajahnya, sehingga Selyn yang tadinya cemberut jadi sumringah lagi dan balas memeluk pinggang Queeneira.
"Tentu! Kita seret Mas yah," timpal Selyn dengan semangat.
"Ih! Tidak mau, seperti bocah saja," tolak Gavriel cepat, saat sang adik punya rencana ingin mengajaknya menaiki komedi putar, duduk di atas kuda dan hanya mutar-mutar di tempat.
Jangan harap, ia lebih baik naik kuda sungguhan, dari pada bermain seperti itu.
"Ye ... Kata siapa cuma bocah yang main komedi putar? Yang sudah aki-aki juga main tuh, kalau tidak percaya lihat saja nanti," tandas Selyn menatap kakaknya sebal, saat rencananya ditolak dengan cepat.
"Tetap tidak mau, tuh ajak Mas Ezra aja" dengkus Gavriel, melimpahkan keinginan adiknya kepada sepupunya yang balas dengan dengkusan juga.
"Ogah!"
"Is! Kok pada nggak mau sih," dumel Selyn sebal.
"Kalau Mas Gavriel dan Mas Ezra tidak mau, Mba Kei mau kok, nanti kita main bersama yah."
Empat orang yang tadi sedang terlibat dalam pembicaraan, segera menoleh ke asal suara, yang tiba-tiba menawarkan main bersama dengan senyum ramah.
Selyn melihatnya dengan bibir mengerucut berpikir, lalu melihat Mba dan Mamasnya bergantian, kemudian ke arah Keineira lagi.
"Cara ampuh untuk menjauhi si anu dengan si anu, ya harus si anu yang di dekati si anu. Hum ... Bisa dicoba."
Selyn dengan pemikiran banyak anu menganggukkan kepalanya kecil, kemudian tersenyum lebar selebar-lebarnya, sehingga Queeneira, Gavriel dan Ezra yang melihatnya merinding sendiri, takut bibir mungil Selyn kaku karena senyum yang terlalu lebar.
"Boleh! Mba Kei sama El, biar Mas Gav dan Mba Que bisa main bersama. He-he ... Ide bagus kan?"
__ADS_1
Keineira yang awalnya memasang senyum berseri-seri, berubah menjadi senyum hambar. Ia mendadak serangan jantung saat mendengar sendiri, ucapan gamblang adik dari laki-laki yang ia sukai saat mencetuskan idenya.
Ia menatap canggung ke arah Selyn yang masih tersenyum sumringah, lalu melihat Queeneira yang terkikik kecil, kemudian ke arah Gavriel yang menggelengkan kepala, takjub dengan ucapan adiknya yang blak-blakan.
"Astaga! El ini kenapa sih," batin Gavriel lelah.
Ezra sih stay calm, ia hanya menutupi senyum gelinya dengan deheman kecil, melihat ke arah lain asal tidak melihat reaksi teman sekelasnya, yang kena juga saat Selyn sedang mode tidak mau tahu.
"Luas juga," batin Ezra sambil melihat sekitarnya, melihat pohon natal menjulang di ujung sana.
"Em ... Kenapa kita nggak main bersama saja, jadi lebih seru. Iya kan?" usul Keineira menatap Selyn dan yang lainnya canggung, dalam hati ia merasa tertohok saat perkataan Selyn terasa seperti ultimatum, layaknya garis tak kasat mata yang tidak boleh ia lewati.
"Main bersama? Hum ..." Selyn berpura-pura memikirkan usulan teman dari Mamasnya, dengan memasang pose menggemaskan di mata Ardan dan dua lainnya, yang dari tadi sibuk berfoto dengan Didi sebagai fotografer.
"Emang rencananya gitu, tapi Mba Kei tiba-tiba ajak El main, jadi El iya-in aja," lanjut Selyn polos, memandang Keineira dengan mata berkedip imut, jangan lupa senyum sumringah mirip seperti Kiara.
"Astaga!"
Keineira membatin dengan perasaan gemas, menatap Selyn dengan pikiran mengingatkan untuk tetap sabar.
Bagaimana bisa ada adik perempuan menyebalkan model Selyn, kenapa laki-laki yang disukai olehnya harus punya adik, mengesalkan namun imut disaat bersamaan.
"Oke, Keineira, sabar, jangan terbawa suasana."
Keineira menghitung dalam hati, kemudian memasang senyum manis lagi.
"Maksudnya Mba, nanti El mau main apa aja, kalau Mas Gavriel nggak mau menemani, Mba mau kok nemenin. Seperti itu El," jelas Keineira dengan nada sabar.
"Oh ... Seperti itu, bilang dong Mba. Jadikan El tidak salah mengartikan," jawab Selyn dengan ekspresi wajah dibuat kaget, pura-pura baru mengerti penjelasan dari teman Mamasnya.
"Rasakan," batin Selyn terkikik geli.
"El, mau kemana dulu?" sela Gavriel, menghentikan sang adik, yang sepertinya masih ingin melancarkan serangan berupa permainan kata, sama seperti sang Daddy yang suka sekali bermain dengan sindiran jika sudah sebal.
Selyn segera menoleh ke arah sang kakak, dengan wajah cemberut saat ia hendak mengerjai Keineira, tapi di sela dengan pertanyaan tentang keinginannya.
"Ke semua wahana, Mas. Hayoo," tantang Selyn, menatap Gavriel dengan mata memicing.
"Tidak capek? Yakin?" tanya Gavriel dengan senyum geli.
"Tidak dan yakin," balas Selyn tanpa pikir panjang.
"Oke."
"Oke, let's go!"
Selyn dengan semangat menarik tangan kakaknya, kemudian menarik tangan Ezra juga untuk mengikuti langkahnya, diiringi dengan kekekahan senangnya.
Setelah Selyn yang lebih dulu pergi dengan Gavriel dan Ezra, rombongan Ge mengikuti jejak langkah ketiganya, sedangkan Susan lebih memilih pergi dengan Intan dan Raiya yang juga mengikuti langkah Ge dan rombongannya.
Kini tersisa dua dari kedua belas orang, yang berdiri berhadapan namun tidak saling berbicara.
Cukup lama mereka saling lihat, namun salah satu dari keduanya memutuskan untuk berbalik, hendak melangkah namun tidak jadi saat mendengar ucapan satunya.
Queeneira yang ingin menyusul ketiga sahabatnya, terdiam saat namanya dipanggil dengan nada tenang oleh Keineira.
"Queeneira."
__ADS_1
"Aku suka Gavriel, untuk hari ini boleh ya aku dekati Gavriel. Kamu sahabatnya kan, tentu kamu ingin yang terbaik untuk Gavriel. Iya kan?" tanya Keineira namun sayang, Queene hanya diam tanpa niat membalas apalagi menghadap ke arahnya.
"Aku tahu kamu juga suka dengannya, tapi kamu sahabatnya. Tidak mungkin kan, sahabat jadi cinta, seperti lagu kesukaan kalian berdua," lanjut Keineira, dengan kata-kata yang membuat Queeneira tersentak kaget.
Bukan, ia bukan kaget karena ia ketahuan memiliki rasa dengan sahabatnya, tapi perkataan terakhir lah yang sangat membuatnya terkejut.
Ternyata teman sekelasnya memikirkan makna dari lagu kesukaan mereka, yang ia putar waktu di mobil milik sahabatnya, saat mereka pergi ke sekolah bersama.
Lalu, apa maksud dari ucapan temannya, yang bilang jika sahabat tidak mungkin menjadi cinta, seperti di dalam lagu.
Tiba-tiba hatinya kesal, ia pun dengan segera berbalik menghadap Keineira, yang hanya memasang wajah biasa.
"Kalau begitu silakan kamu dekati sepuasmu, karena aku tahu bagaimana sahabatku. Aku tahu, jika pun kamu saat ini dengannya, pasti dia akan kembali lagi padaku. Kembali disisiku, selamanya akan seperti itu, Keineira."
Entah apa yang diucapkan olehnya, yang pasti Queeneira juga tidak menyangka bisa mengucapkan kalimat seberani itu.
Tapi ia cukup puas, saat melihat ekspresi Keineira yang akhirnya kesal juga, saat biasanya wajah manis dan tenang yang selalu di perlihatkan.
"Dan selamat berjuang," lanjut Queeneira, sebelum meninggalkan Keineira sendiri, berdiri dengan perasaan yang hanya ia sendiri ketahui.
"Dia," gumam Keineira merasa kesal dan gelisah disaat bersamaan.
Sementara Keineira dengan rasa kesal dan gelisahnya, Queeneira merutuki kesombongannya sendiri.
Bagaimana jika apa yang diucapkannya tidak terjadi, malah sebaliknya, Gavriel akan menjauh darinya, apalagi beberapa hari ini ia dan Gavriel dalam keadaan canggung luar biasa.
"Queeneira Wardhana, kenapa kamu bodoh sekali," lirihnya, mengepalkan tangannya menahan rasa kesal akan diri sendiri.
Dari kejauhan, Gavriel yang melihat sahabatnya berjalan berjauhan dengan teman sekelasnya, hanya melihat dengan kening berkerut bingung, karena ekspresi yang di tampilkan keduanya hampir sama.
"Ada apa?" tanyanya dalam hati.
Berjalan menghampiri keduanya, Gavriel berhenti di hadapan salah satunya dan tersenyum, dengan tangan menepuk kepala orang di hadapannya lembut.
"Ada apa?" tanyanya masih dengan tangan menepuk kepala, namun sayang tidak ditanggapi jawaban. Hanya mata berkedip cepat lah yang ia dapat alih-alih suara sahutan sebagai jawaban.
"...."
"Tidak di jawab? Kejamnya, mentang-mentang lagi marah sama aku. Yuk, aku traktir minum," lanjutnya dengan nada merajuk, menarik tangan seseorang yang dari tadi ia tepuk kepalanya dan membuat seseorang lainnya menatap tidak percaya ke arah kedua.
Kembali kesisiku, selamanya seperti itu.
"Tidak, aku pasti akan mendapatkannya."
Ucapan Queeneira terus terngiang di telinganya, apalagi saat melihat sendiri bagaimana laki-laki yang ia sukai, menggengam tangan Queeneira dengan lembut.
Ya ... Seseorang yang dihampiri oleh Gavriel adalah Queeneira.
Gavriel merasa mood sahabatnya sedang buruk, ia berpikir jika itu karena dirinya, yang beberapa hari ini bersitegang dengan Queene, sehingga Queene menampilkan raut wajah tidak sedap.
Queeneira yang di tarik begitu saja oleh Gavriel, menyempatkan diri menolehkan wajahnya ke arah belakang, untuk memberikan senyum manis ke arah teman sekelasnya, yang balas menatapnya tidak percaya.
"ke sisiku," ucap Queeneira tanpa suara, membuat Keineira mengepalkan tangan, dengan hati cemburu luar biasa.
"Gavriel."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya ...
Terima kasih dan sampai babai.