
Hati hati typo merajalela genk hihihi
Happy reading vrohh...
¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kiara sampai di kamarnya dengan hati senang luar biasa.
Ia menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang kamarnya, lalu memandang langit-langit kamar dengan senyum kecil.
"Manis sekali, bunga tulip yah. Aku baru ini lihat tulip seindah ini," gumam Kiara senang.
"Ah ... Apa yang aku fikirkan, sebaiknya Aku mandi dan melihat-lihat lagi hasil foto hari ini!" Serunya kemudian.
Kiara pun bangkit dari rebahannya, berjalan ke arah kamar mandi dan melakukan ritual bersih-bersihnya.
Skip
Saat ini Kiara sedang menikmati langit malam di balkon kamarnya, beda dengan langit malam di kota, langit malam di desa Nuan lebih indah dengan taburan bintang dari yang bersinar hingga bintang yang terlihat kecil.
Secangkir Vanilla Latte mememani Kiara untuk menikmati moment sunyinya, suasana Desa yang tentram memberikanya kenyamanan lebih.
Suara mahluk malam seperti Jangkrik serta Katak adalah satu satunya yang terdengar saat ini.
Maklum saja waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat dua puluh lima malam, waktu dimana Orang istirahat dari segala macam aktivitasnya.
"Bintangnya jadi terlihat jelas!" seru Kiara senang. Tapi tidak lama menjadi muram saat Kiara mengingat kembali percakapannya dengan Sang mama
Tapatny tiga jam yang lalu melalui sambungan telepon.
Iya ... melalui sambungan telepon kalian tidak salah baca kok.
Padahal Ia memutuskan untuk tidak dulu menerima atau menghubungi keluarganya, tapi ternyata Ia belum mampu menahan godaan, sangking Rindunya Ia terhadap Sang Mama.
Alhasil pada saat Ia sedang melihat kembali foto - foto hasil jepretannya hari ini. Saat itu Handphonenya berdering, tanda panggilan masuk dengan nama Sang mama tertera di layar handphonenya.
__ADS_1
Ketika panggilan pertama Ia sengaja tidak menerimanya, lalu pada saat panggilan kedua Kiara mulai goyah dengan keputusannya.
Ia menimbang lagi lalu memutuskan untuk menerima telepon dari Sang mama di panggilan selanjutnya dengan hati yang gelisah.
Ia sadar dengan sangat jika bagaimanpun cepat atau lambat, Ia harus menghadapi kenyataan ini.
Yang pertama Ia dengar adalah suara bergetar dari Sang mama, sebelum isakan tangis dan kata rindu untuknya.
Seketika tangisan yang Ia tahan pun pecah, karena mendengar isakan dari Sang Mama. Ia seperti anak yang durhaka, telah membuat Air mata menetes dari kedua mata Mamanya tersayang.
Hatinya tersayat mendengar tangis tergagap Mamanya, butuh waktu jeda beberapa saat hingga isakan itu berehenti dan di gantikan suara serak Mamanya.
Banyak kata yang Ia dengar dalam percakapan mereka, tapi Kiara hanya mampu mencerna tentang penyesalan Sang Kakek dan kerinduan Mama dan Paparnya.
Mamanya pun meminta agar Ia pulang segera, tapi Ia menjelaskan keadaannya dan meminta waktu beberapa hari lagi untuk Ia menikmati waktu sendirinya.
Ia juga berjanji akan menjaga diri dengan baik dan pulang jika Ia sudah siap dengan semuanya.
Sungguh Ia masih perlu banyak waktu untuk melakukan apa yang di inginkannya saat ini.
"Ingat untuk selalu menghubungi Mama, apa kamu paham?"
Itu adalah kalimat terakhir Sang Mama, sebelum beliau mengakhiri panggilannya.
Ia tentu menyanggupi dan mengucapkan terima kasih serta maaf yang sedalam-dalamnya, kepada Sang Mama karena kelakuan Kekanakanya.
"Terima kasih Mah, sudah mengerti Yaya?" gumam Kiara pelan.
Ia mendongakkan kepalanya menghadap langit malam, lalu tersenyum kecil.
"Setidaknya Mama tahu, jika Aku dalam keadaan baik-baik saja," Lanjutnya.
.
.
__ADS_1
Penginapan Dirga
Saat ini Dirga sedang ada di dalam kamarnya, tepatnya di balkon kamarnya menikmati udara malam sama seperti yang di lakukan Kiara di sana.
Dirga duduk di kursi dengan tangan memegang handphone.
Ia membuka kembali galeri foto pada handphonenya,untuk melihat lagi foto-foto Kiara tadi siang, Ia melihat dengan seksama dari foto satu ke foto lainnya.
"Kiara ..." gumam Dirga senang.
Pertemuan yang Ia kira hanya pertemuan biasa berubah menjadi luar biasa , saat Ia rasa bahwa Kiara adalah wanita yang bisa membuatnya penasaran.
Berawal dari insiden kecelakaan, di lanjut dengan perjodohan yang tidak di harapannya. Kemudian berubah menjadi rasa ingin memiliki untuk dirinya sendiri, hingga melakukan sesuatu yang bahkan dalam mimpi pun Ia enggan melakukanya.
"Apakah takdir itu ada?" gumam Dirga bertanya.
Dirga seperti di permainkan oleh takdir termakan kata-katanya sendiri, jika Ia tidak ingin lagi mengenal apa itu rasa ingin memiliki.
"Lucu sekali, takdir heh!" Serunya kemudian terkekeh.
"Lu tahu Ra, Dia itu emang Cewek pertama yang mengenalkan Gue cinta dan cewek pertama juga yang bikin Gue kecewa," Gumamnya pelan.
Ia berhenti sejenak, lalu menggeser layar handphonenya untuk melihat foto selanjutnya.
"Tapi ntah kenapa Gue ngerasa beda, Lu cewek yang bisa bikin gue ngelakuin hal merepotkan,"
Foto berikutnya pun terlihat menggantikan foto yang lain.
"Di saat cewek lain hanya perlu Gue tunjuk untuk bisa jadi milik Gue, kenapa Lu bisa membuat Gue ngelakuin hal yang di luar kebiasaan Gue?" gumam Dirga bertanya.
"Sebenarnya apa alasan Gue bisa cinta pada pandangan pertama sama Dia? " tanya Dirga kepada udara malam yang menemani.
"Apa ini hanya karena rasa penasaran sesaat? Atau ini memang saatnya hati Gue membuka lembaran baru?" tanya Dirga bingung.
"Apa benar Dia jodoh Gue?"
__ADS_1
Bersambung