Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Tanding Antar Sekolah (Rencana Dimulai)


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA S


Hari ini adalah hari pertandingan persahabatan antar sekolah se-kota S.


Halaman, parkiran, bahkan setiap sudut sekolah sudah ramai, dengan tamu dari sekolah lainnya.


Di pintu masuk ada tulisan 'Welcome to our School' dengan cetakan besar, lengkap dengan pernak-perniknya.


Bukan hanya peserta dari lomba, yang memenuhi stadion indoor sekolah saat ini, tapi juga para cheerleaders, guru pembimbing, serta supporter yang membawa masing-masing perlengkapan.


Hiruk-pikuk, suara bersautan, obrolan ini dan itu memenuhi indra pendengaran.


Di pintu masuk ada Pak kepala sekolah, berjalan diiringi dengan Gavriel dan Keineira, yang berdiri disisi kiri-kanannya.


Tepuk tangan, siulan dan pekikan tertahan siswa atau siswi dari sekolah lain, terdengar saat melihat penampilan menawan dari seorang Wijaya muda, belum lagi seorang wanita cantik dengan rambut terurai berjalan dengan senyum mengembang.


"Sepertinya tahun ini lebih antusias," bisik sang kepala sekolah kepada Gavriel, serta Keineira yang balas sama berbisiknya.


"Seperti itu kah, Pak?" tanya Gavriel dengan nada tenang, beda dengan Keineira yang tersenyum simpul.


"Ya ... Benar sekali."


"Semoga sukses ya Pak," timpal Keineira ceria.


"Tim basket kalian harus menang, bisa kan, Gavriel."


Gavriel hanya mengangguk dan bergumam, mendengar nada perintah dari kepala sekolah, yang menginginkan kemenangan dari timnya.


"Hn."


"Bagus," balas kepala sekolah senang, kemudian menaiki tiga anak tangga menuju podium, untuk melakukan pidato pembukaan.


Pidato dibuka dengan kepala sekolah, mengucapkan terima kasih dan lain sebagainya, serta berlanjut dengan sambutan sponsor, yang akan mendukung acara pertandingan ini.


Pertandingan akan berlangsung selama dua hari, dengan babak penyisihan dan keesokan harinya adalah semifinal dan final serta acara penutupan.


Jumlah tim dari masing-masing sekolah adalah delapan tim, yang artinya akan ada 4 kali permainan, sedangkan esok tiga kali termasuk final.


Sekolah dari Gavriel atau juga Trisakti, mendapatkan kesempatan di permainan terakhir, dengan lawan SMA Bakti Bangsa, sekolah dengan pemain-pemain unggulan, lawan yang lumayan tangguh untuk tim Gavriel.



Pertandingan ini dibuka dan dapat di tonton semua orang, sehingga bukan hanya SMA undangan saja yang menonton, ada juga beberapa calon murid kelas tiga SMP yang sedang suvey, serta keluarga dari beberapa murid lainnya.


Di ruang tunggu dalam, dengan skat pemisah, sudah berkumpul masing masing anggota tim yang akan bertanding. Sedangkan di ruang tunggu luar, tim yang akan bertanding sudah bersiap untuk turun ke lapangan.


Disisi ruang tunggu milik SMA Trisakti, ada Ezra yang sedang menunggu sepupunya berganti kostum, setelah tadi menjadi pengiring kepala sekolah dengan seragam lengkapnya.


"Untung saja kita dapat giliran terakhir," desah Ezra dengan handphone di tangannya, sedang berkirim pesan dengan sahabat perempuannya, yang bertanya tentang keberadaan mereka.


"Kenapa?" tanya Gavriel, sambil melipat baju seragamnya lalu melepas bawahannya.


"Nervous," lanjutnya, itu bukan pertanyaan tapi pernyataan dari Gavriel, yang telah selesai memakai seragam basketnya.


Seragam orenge dengan angka 97 Tiger, tercetak dengan warna biru sebagai pengenal tim mereka.


"Bukan, tapi mau liat kekuatan lawan. Gila aja aku nervous, ini bukan pertandingan pertama kali," dengkus Ezra, saat merasa sepupunya sedang mengejeknya.


"Oh ... Jelaskan dong, biar aku tidak salah paham," sahut Gavriel santai, tidak perduli saat sepupunya kesal akan pernyataannya.


"Bleh," sungut Ezra kemudian fokus pada handphonenya.


"Eh! Dicariin sama Que-Que nih," lanjut Ezra saat ia membaca isi pesan dari sahabatnya.


"Kenapa nggak disuruh kemari," tandas Gavriel seenaknya, tidak mikir jika mereka saat ini sedang ada di ruang ganti, dengan laki-laki mengelilingi mereka.


"Pitakmu, Gavriel. Liat dong, sedang berada di mana kita!" sewot Ezra dengan melempar sepatu olahraga, yang masih belum dipakainya.


Gavriel berkelit, menghindar kemudian terkekeh saat melihat sepupunya sensitif, dan marah-marah karena ucapan ngawurnya.


"Ya kali Ez, aku biarin Queene diliatin laki-laki sini," ujar Gavriel mendengus, dengan nada posesif didalamnya.


"Astaga Gavriel! Kamu bisa bercanda ju-


Bletak!


"Ouch!"


Ucapan ngaco Ezra terpaksa berganti menjadi pekikan sakit, saat Gavriel dengan sengaja melempar kotak susu kosong, menghantam telak, tepat di ubun-ubun sepupunya.


"Baru kotak susu kosong, sudah memekik sakit seperti perempuan," ejek Gavriel tidak perduli, saat sepupunya menatapnya dengan tatapan kesal.


"Ck, ubun-ubun aku, Gav," dumel Ezra dengan tangan mengusap ubun-ubunnya yang sakit.


Gavriel hanya memutar bola matanya bosan, kemudian memasang handband berwarna hitam, di pergelang tangan kanannya lalu memakai sepatunya segera.

__ADS_1


"Berisik, Ez. Lebih baik kita temui Queene, lalu menonton pertandingan yang lain," putus Gavriel tidak perduli.


Ia menuang penyegar wajah di telapak tangannya, menepuk-nepukkan pada wajahnya dan seketika segar menyambutnya.


"Ikut, tidak?" lanjut Gavriel bertanya dengan alis terangkat, saat sepupunya masih santai bermain handphone.


"Ikut, dia bilang sedang di jalan, menuju stadion dengan teman sekelas kita," jelas Ezra dengan memperlihatkan layar handphone, berisi pesan dari Queene sesuai perkataannya tadi.


"Oke," gumam Gavriel singkat.


Keduanya pun berjalan menuju tempat Queene berada, sambil menahan diri dari godaan dan pekikan kagum dari anggota cheers, disetiap langkah mereka di sepanjang koridor ruang tunggu.


Di pintu masuk sudah berdiri Queene, bersama teman se-clubnya bernama Syasa, menunggu kedatangan dua sahabatnya sesuai janji.



"Gavriel! Ezra!"


Queene melambaikan tangannya semangat, saat melihat dua laki-laki remaja yang memakai seragam basket sama.


"Queene!" seru Ezra semangat, beda dengan Gavriel yang tersenyum tipis ke arah sahabat perempuannya.


Senyumnya mengembang, dengan jantung berdetak kencang, saat melihat dia berjalan dengan gagah yang kini tersenyum tipis ke arahnya.


"Queene, kamu merona," bisik Syasa menggoda Queene, yang bergerak salah tingkah.


"Ap-apa sih Sya, aku tidak tuh," balas Queene dengan nada gugup, membuat Syasa terkekeh geli akan tingkah malu-malu teman sekelasnya.


"Ah! Cinta tapi sahabat," canda Syasa, tapi Queene yang mendengarnya merasa tertohok.


Benar juga ... Cinta antar sahabat, apakah akan berakhir dengan lebel happy ending.


Tap!


"Kamu nonton sekarang?" tanya Ezra setelah keduanya sampai di hadapan Queene.


"Iya! Biar seru. Kapan lagi nonton cowok-cowok berkeringat," canda Queene dengan nada main-main, membuat Ezra terkekeh geli sedangkan Gavriel protes tidak terima.


"Kalau mau liat yang berkeringat, di pasar sana Que, liat kuli panggul. Keringatnya lebih banyak," sewot Gavriel dengan hati gerah.


Seketika Gavriel tidak terima, saat sahabatnya berkata ingin melihat cowok-cowok di dalam sana.


Apakah dirinya tidak cukup, sepupunya tidak cukup, kenapa harus orang lain juga.


"Ya beda dong, Gav. Kalau yang di dalam kan tampan, muda dan seumuran. Kalau yang di pasar kan sudah berumur semua," balas Queene menggoda sahabatnya, yang kini berwajah masam.


"Terserah kamu," sahut Gavriel dengan nada datar.


Gavriel meninggalkan Queene serta Syasa yang melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.


Kemarin ia sudah tahu, apa maksud dari perasaan aneh sepupunya.


Cerita yang hanya dirinya tahu, tentang perasaan tidak karuan, yang tumbuh di dalam hati sepupunya.


"Gavriel, kenapa?" tanya Queene penasaran, dengan nada sedih didalamnya.


Ezra mengangkat bahu tanda tidak tahu, kemudian mengajak kedua perempuan di dekatnya, untuk berjalan memasuki stadium menyusul sepupunya yang sepertinya sedang kesal.


"Sebaiknya kita ke dalam, kita susul Gavriel."


Queeneira dan Syasa hanya mengangguk dan bergumam singkat, mengikuti jejak langkah sahabatnya memasuki stadium, menyusul Gavriel yang lebih dulu masuk.


Queeneira pov on


Aku sedikit sedih, saat dia pergi meninggalkan aku begitu saja karena candaan semataku.


Sungguh aku bingung dengan sikap dia yang tidak seperti biasanya.


Iya ... Seperti biasanya.


Biasanya, dia akan menanggapi candaanku dengan kebiasaannya, yang selalu menarik wajahku untuk masuk kepelukannya.


Tapi tadi jangankan memelukku, menanggapi candaanku pun dengan nada seperti itu.


Surak-seru di dalam stadium memenuhi indra pendengaranku, saat aku dan teman se-clubku melangkah semakin memasuki, tempat dilaksanakannya pertandingan.


Bukan hanya suara suporter, tapi juga suara dari chearleades masing-masing sekolah, yang mendukung tim mereka dengan semangat.


"Que, Queene!"


"Ah!"


Aku tersentak kaget, saat mendengar sahabatku memanggil namaku berulang.


Sepertinya aku sedikit melamun, apalagi saat aku melihat dia yang duduk dengan di kelilingi anggota cheers dan anggota basket SMA kami.


"Ya, ada apa, Ez?" tanyaku, mengalihkan wajahku menatap Ezra yang tersenyum ke arahku.


"Aku harus gabung dengan tim, kamu duduk nyaman di bangku sana. Jangan lupa, suport kami."


"Tentu saja, aku akan mendukung kalian semua. Semangat Ezra!" seruku, kemudian dia menepuk kepalaku pelan dan berlari menuju timnya.

__ADS_1


"Queene, kita duduk di sana yuk," ujar Syasa, sambil menunjuk tempat kosong.


Aku mengangguk mengiyakan, karena bagiku di mana saja duduk, asal bisa melihatnya bermain itu sudah cukup menyenangkan bagiku.


Queeneira pov end


Normal pov on


Sedangkan disisi lain, di sisi Gavriel dan teman-teman timnya, yang sedang menunggu giliran tanding, mereka mendiskusikan serta memperhatikan jalannya pertandingan sambil menganalisa.


Mereka menikmati setiap jalannya pertandingan, dengan sesekali berbisik saat ada lawan yang terlihat tangguh untuk dijadikan target mereka.


Skip


Tidak terasa pertandingan demi pertandingan dilewati, waktu sudah menunjukkan akhir pertandingan saat tim Trisakti akhirnya memenangkan pertandingan terakhir dan masuk untuk semi final.


Seruan penonton dari pihak Tuan rumah semakin semangat, saat papan pengumuman tercetak nama Trisakti untuk pertandingan besok.


"Yeah! Bravo!"


Pak Daniel, selaku penanggung jawab dari tim Trisakti tentu saja senang.


Mereka berhasil memasuki semi final, artinya hanya tinggal selangkah lagi mereka membawa tropi kemenangan.


"Kerja bagus! Besok, bapak harap performa kalian semakin meningkat. Besok adalah penentuan, kalian harus semangat!"


Pak Daniel memberi semangat, kepada timnya yang balas sama semangatnya.


Mereka bersatu dan berhigh five bersama, menyoraki dengan semangat nama tim mereka.


"Tiger! Tiger! Yeah!"


Prok! Prok! Prok!


Tepuk tangan mengakhiri sesi rundingan, sebelum membubarkan diri untuk bersiap pulang.


Gavriel dan Ezra berjalan bersama, menuju ruang ganti dengan diselingi obrolan seputar pertandingan.


"Gavriel! Ezra!"


"Gavriel!"


Seruan dari dua arah dengan beda suara, membuatnya kedua laki-laki remaja ini berhenti. Kemudian kompak menoleh ke belakang, ke asal suara yang berasal dari dua remaja perempuan berbeda.


Tidak jauh dari mereka ada Queene dan Keineira, yang sama-sama menghampiri mereka dengan langkah semangat.


"Selamat ya! Kalian hebat!"


Dua ucapan selamat di ucapkan bersamaan oleh dua remaja perempuan ini, sehingga keduanya pun saling melihat, dengan senyum canggung terpatri dibibir masing-masing.


Sedangkan Gavriel dan Ezra yang diberi ucapan selamat kompak, hanya mengangguk dengan canggung pula.


"Gavriel, permainan kamu sungguh sempurna. Aku sampai tidak bisa beekedip, sangking kagumnya!" seru Keineira dengan semangat, saat ia melihat Queene yang ingin mengucapkan sesuatu.


"Benarkah, aku rasa biasa saja," tanggap Gavriel dibuat senang, namun dalam hati ia menanti, apa ekspresi yang akan dikeluarkan oleh sahabat perempuannya.


Queene hanya diam, saat melihat sahabat laki-lakinya menanggapi ucapan teman sekelasnya dengan santai.


Ia menahan diri, agar saat ini juga tidak pergi dari hadapan ketiganya.


"Iya! Aku serius!" tandas Keineira semakin semangat, saat dirinya merasa jika Gavriel menanggapinya senang.


"Kamu bisa saja, besok akan lebih seru, karena besok aku akan mengeluarkan seluruh kemampuan aku," ujar Gavriel menanggapi pernyataan teman sekelasnya.


"Aku tidak sabar, aku mau juga dong, di ajari basket sama kamu," ujar Keineira berharap dengan nada senang.


"Ngobrol sambil jalan yuk, aku harus mengganti pakaianku. Aku paling nggak suka dengan keringat," ajak Gavriel tanpa melihat dua sahabatnya, dengan salah satunya yang hanya mampu terdiam.


"Yuk! Aku juga harus mengganti seragam aku."


Gavriel pun dengan sengaja berbalik setelah menepuk bahu sepupunya, memberi kode yang dimengerti sepupunya segera.


"Tolong yah," bisik Gavriel lirih, yang hanya didengar oleh Ezra.


"Sudah mulai, yah," batin Ezra melihat ke arah Queene, yang hanya melihat depan dengan pandangan sulit di artikan.


Ezra pun menghela napas, lalu menepuk pundak sahabatnya pelan, membuat Queene tersentak dan melihatnya bingung.


Puk!


"Ah! Kenapa, Ez?"


"Kita pulang, aku antar kamu. Oke," putus Ezra, yang untungnya segera disetujui oleh sahabatnya, yang hanya bisa mengangguk dan mengekor di belakangnya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Apa yang dimulai?


Mau tahu ...

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.


__ADS_2