
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Persetan dengan ucapan sialan Lu, apa maksud kalian melakukan ini terhadap Istri Gue, hah!!!" sela Si pria yang adalah Dirga. Kalimat dengan nada emosi yang di tanyakan oleh Dirga, membuat dua orang yang melihat ke arahnya malah tertawa dengan kerasnya.
Ha-ha-ha-ha!!!
Richard bahkan harus menepuk kedua tangannya, dengan kepala menggeleng. Merasa sangat lucu, dengan pertanyaan dari Si Arogan.
"Lu tanya kenapa?" ujar Richard sinis. Lalu senyum keji pun tampil di bibirnya, menatap tajam Dirga yang balas menatap tajam ke arahnya.
"Karena Lu pantes menerima ini, sikap Lu yang merasa berkuasa sungguh membuat Gue muak. Lu merasa paling hebat dalam segala hal, perusahaan bokap Gue juga hancur karena Lu. Jadi, apa yang membuat Lu bertanya, maksud Gue melakukan ini terhadap Lu!!!" ujar Richard sinis.
Dirga yang mendengarnya tentu saja marah, bukan salahnya jika perusahaan keluarga Jaya Dharma hancur. Dunia bisnis bukan dunia yang aman, untuk orang tidak berpengalaman.
"Lepasin Istri Gue, sebagai gantinya Lu boleh siksa Gue," ujar Dirga datar. Ia sebisa mungkin menahan emosinya, jika sedikit saja Ia ceroboh nyawa Kiara yang akan dalam bahaya.
"Lepasin?" sela Cate sinis. Ia berdecih kesal, saat mendengar perkataan laki-laki di depannya yang lebih rela menukar nyawanya, demi wanita sialan yang saat ini sedang pingsan.
"Sayang sekali, bukan begitu permainannya. Karena rencananya wanita ini akan ke Nirwana, setelah Si sialan ini menikmati-nya. Ha-ha-ha!!!" lanjut Caterine senang. Ia tertawa semakin kencang, saat mendengar amukan emosi dari Dirga yang mencoba beranjak dari duduknya namun kesakitan.
"Cih!" decih Richard sinis.
"Gue cabut dulu, ada yang perlu Gue lakuin. Lu awasin bunga Gue, awas kalau ada luka lain di tubuh bunga. Inget ini, Gue yang bakal abisin Lu!" ujar Richard ke arah Caterine. Ia menatap tajam Caterine, saat Ia melihat rencana terselubung di mata Caterine.
"Cih ... Oke, Aku janji!!" balas Caterine pasrah.
Niat hati ingin memberi souvenir, malah sudah di peringati dulu oleh Si sialan satu ini.
"Sialan!" batin Caterine kesal.
"Gue cabut," ujar Richard datar. Kemudian Ia meninggal Caterine, yang tidak lama ikut menyusul Richard karena ada keperluan mendadak.
"Kamu di sini dulu yah sayang, jangan macam-macam. Di luar banyak penjaga, yang siap menghabisi nyawa kamu kapan pun. Apa kamu paham sayang?" ujar Caterine. Ia menyempatkan diri tersenyum lebar , sebelum meninggalkan Dirga yang berdecih jijik.
"Wanita sinting!" gumam Dirga merinding.
Ia melihat ke arah sofa, di mana ada Kiara yang terbaring dengan noda merah di dahi-nya. Membuat hati Dirga seakan di remas, sekali lagi merasa gagal menjaga belahan jiwanya.
Ia mencoba berdiri, memaksa kedua kakinya yang bergetar saat menopang berat tubuhnya. Rasa sakit menyerangnya, seiring dengan setiap langkahnya.
"Tidak, ini bukan apa-apa!" gumam Dirga menyemangati. Dengan langkah terseok, dengan sesekali meringis Dirga akhirnya sampai di samping Kiara.
Jika biasanya Ia bisa melangkah lebar dan cepat, namun kali ini Ia merasa lemah dengan langkah layaknya siput.
Dirga duduk di samping Kiara, mengusap dahi Istrinya pelan. Memandang dengan nanar ke arah Kiara, saat mengingat kejadian na'as yang di alami mereka.
"Apapun caranya, Kita akan keluar dari sini sayang. Aku janji, meskipun aku harus kehilangan kedua kaki Aku. Aku akan melakukannya, Aku mencintaimu Dear!" gumam Dirga. Ia tersentak kaget saat melihat kelopak mata Kiara bergerak, lalu berkedip dengan ringisan sakit.
"Uugh!!!"
"Sayang, Kamu sudah sadar!!" seru Dirga senang. Ia memegang sebelah tangan Kiara yang bebas dan menggengamnya erat, namun lembut di saat bersamaan.
"Dir ... Dirga, Dirga hiks Dir hiks!!" isak Kiara sedih.
Ketika Ia sudah membuka matanya, hal yang pertama Ia lihat adalah wajah Suaminya, yang menampilkan raut wajah khawatir dan lega di saat bersamaan.
Kiara pun bangkit, memeluk Dirga dalam rengkuhannya eratnya. Menuai desisan sakit dari Dirga, yang langsung di sadarinya.
"Mana yang sakit sayang? Maafin Aku yah, Aku terlalu bahagia bisa bertemu kamu lagi. Aku sangat khawatir, jangan tinggalkan Aku. Bawa aku kalau Kamu mau pergi, karena tanpa Kamu Aku bukan lagi Aku!" ujar Kiara dengan suara bergetar.
Matanya memandang Dirga dengan berkaca-kaca, memegang kedua sisi wajah Suaminya yang memiliki luka sana-sini, membuat hatinya sakit serasa di tusuk belati tak kasat mata.
"Ssstt!!! Jangan berbicara seperti itu, Kita akan baik-baik saja. Aku yakin di luar sana sudah ada yang bergerak, untuk menyelamatkan Kita. Aku juga tidak akan kemana-mana, Aku di sini bersama kamu," ujar Dirga menenangkan.
"Janji?"
"Janji!!" balas Dirga, kemudian mengecup kening Kiara sayang.
"Gue harap Bima sudah tahu Gue dimana, Ya Tuhan lindungi Kami di sini," batin Dirga berharap.
Mansion Wijaya
"Apa!! Kenapa Kamu izinkan?" balas Hendri kaget. Sehingga membuat Bakrie, Bagus dan Fandi yang baru saja tiba di Mansion kaget, dengan jantung berdetak kencang.
Deg!!
__ADS_1
"Kiara hanya pergi keluar mencari udara segar, apa salah?" tanya Putri kesal. Tapi langsung melotot horor, saat tahu arti dari ucapannya.
"Astaga!!!"
Putri menutup mulutnya panik, saat menyadari apa ucapan dirinya sendiri. Bagaimana bisa Ia lupa, jika saat ini Kiara bisa saja yang jadi incaran selanjutnya.
"Apa maksudnya ini Putri?" tanya Bakrie emosi. Bisa-bisanya menantunya mengizinkan Cucu menantunya pergi, di saat keadaan genting seperti ini.
"Papa!!" seru Putri kaget. Ia tidak menyangka Papa, serta besannya sudah sampai di sini lagi.
"Kemana Kiara?" tanya Fandi marah. Jika saja Istrinya tidak menahannya segera, mungkin Ia akan mengamuk saat ini juga.
"Aku, Aku,"
"Sudah, jangan emosi. Ini semua di luar kemauan Putri, Aku yakin, jika Kiara sudah nekat pergi keluar. Itu artinya ada yang tidak beres," ujar Bagus menengahi. Ia tidak mau suasana bertambah rumit, dengan pertengkaran saling menyalahkan seperti ini.
Bakrie menghela nafas, mencoba bersabar dengan musibah bertubi-tubi yang di alami keluarganya.
"Kapan ini selesai?" batin Bakrie pasrah.
"Tuan, Nyonya tidak perlu khawatir!!"
Ucapan seseorang dari arah belakang Mereka, membuat Mereka serempak menoleh ke arah Bima yang berdiri dengan raut wajah cerah.
Mereka menampilkan raut wajah sama, saat melihat sikap Bima yang aneh. Seperti ada sesuatu, yang membuat mereka penasaran.
"Apa maksud kamu?" tanya Bakrie penasaran.
"Kami sudah dapat sinyal, dari Tuan Dirga beberapa menit yang lalu. Sekarang Tuan Faro dan Raka, sedang dalam ...
"Kita di sini, maaf tidak sopan semuanya!!" sela seseorang yang ternyata adalah Raka. Ia tersenyum tipis, memandang keluarga sahabatnya semangat.
Hari ini juga mereka akan menyudahi permainan kejam ini, membereskan hama hingga ke akarnya.
"Benarkah?" tanya Mereka serempak dengan semangat. Senyum dan desahan lega dari Putri dan linangan air mata Sarah, membuat Raka mengangguk ikut sedih.
Flasback on
Bima dan anggota lainnya, yang saat ini sedang mengintai rumah target merasa curiga. Saat tidak ada pergerakan sama sekali, dari dalam rumah yang mereka intai.
"Mencurigakan sekali Bim, apa menurut Kamu tidak aneh. Sejak beberapa hari yang lalu, nyaris tidak ada aktivitas!" ujar Leo curiga.
"Dia keluar, seharusnya kita bisa pasang alat pelacak di bagian mobil?" gumam Leo bertanya.
"Biar Aku yang pasang, Kamu pastikan tidak ada yang melihat!" ujar Bima tegas. Leo hanya mengangguk, lalu mengikuti Bima yang segera bertindak.
Setelah berhasil, mereka kembali ke Markas. Di mana sudah ada 4 orang sahabat Dirga, yang memantau melalui CCTV dan radar pelacak.
Bima bilang jika tidak ada yang tahu, jika Dirga menanam alat pelacak di Gigi-nya. Mengingat jika Ia sering mendapat ancaman, Ia memasang alat dengan harapan. Jika suatu hari nanti ada hal yang tidak menyenangkan terjadi menimpah-nya, maka mereka cepat menemukannya.
"Bagaimana, Apa sudah ada informasi?" tanya Faro datar. Memandang Bima dengan raut wajah berharap, sudah terlalu lama mereka membiarkan Dirga yang tidak jelas keadaannya bagaimana.
"Alat palacak sudah Kami pasang, di mobil milik target," balas Bima sama datarnya.
Bekerja di dunia hitam, terlebih memiliki Bos datar membuat Bima terbiasa ikut menampilkan raut wajah datar. Kecuali saat bermain dengan Gav, Si pembuat onar Anak kesayangan Sang Bos.
Seketika hati-nya sakit, saat mengingat wajah Tuan mudanya berhiaskan air mata dengan segukan menyayat hati.
"Tunggu saja pembalasan dari Ku," batin Bima berjanji. Ia akan pastikan dengan tangannya, jika mereka menerima ganjaran dari perbuatan keji mereka.
"Bag-
Ting! Ting! Ting!
Bunyi alarm sinyal terdeteksi, membuat ucapan Raka terhenti. Mereka serempak melihat ke arah sinyal radar, yang menunjukan titik merah yang berkedip tanda keberadaan Si pemilik alat pelacak.
Mereka saling memandang, dengan bibir tersenyum dan bernafas lega. Akhirnya mereka mengetahui di mana posisi keberadaan Dirga, itu artinya hari pembalasan untuk pelaku kejahatan.
"Kita bergerak!!!" perintah Raka semangat.
"Siap!!!" balas mereka ikut semangat.
Flasback off
Maka di sini lah mereka berada, di dalam mobil dengan membawa anggota terpilih. Ada Fandi dan Hendri yang turut serta, sedangkan Para kakek di Mansion menemani Para Istri serta Gav yang bisa tersenyum senang lagi. Sepertinya Sang Cucu tahu, jika kedua orang tuanya sudah bisa di selamatkan.
Sedangkan di saat bersamaan
Di Gedung Tua
Ceklek!
__ADS_1
"Wah, sudah mesra-mesraan-nya? Manis banget sih. Serasa mau berpisah yah untuk selama-lamanya? Kasihan!!!" ujar Caterine dengan nada mendayu. Ia mengepalkan tangannya, menahan emosi saat melihat laki-laki yang di cintai-nya, memeluk wanita yang di benci-nya.
"Siapa Kamu? Kenapa Kalian melakukan ini kepada Kami berdua?" tanya Kiara emosi. Menatap tajam ke arah Caterine, yang terkekeh seram.
Caterine maju melangkah dengan pelan, membuat Dirga siaga membawa Kiara masuk ke pelukannya, kesalahan fatal karena Caterine yang melihatnya semakin murka.
"Lepaskan wanita sialan itu, sekarang juga Dirga!!!" seru Caterine dengan nada tinggi. Menatap tajam ke arah Kiara yang tersentak kaget, saat di bentak apalagi melihat wajah murka wanita di depannya.
"Lu yang sialan, wanita sinting!!" balas Dirga tidak kalah tingginya.
"Sialan, kamu mau Dia mati sekarang? Oke, tunggu sampai Richard datang dan melakukan hal menyenangkan dengan wanita di pelukan Kamu. Akan Aku pastikan, jika mati lebih baik dari pada yang lainnya!" ujar Caterine dingin.
Persetan dengan segalanya, jika Dia tidak bisa memiliki Dirga maka wanita itu juga tidak berhak.
"Siapa sebenarnya Kamu? Kenapa kamu tega melakukan ini ke sesama wanita?" tanya Kiara sekali lagi.
"Kalian tidak ingat Aku? Ha-ha-ha!!!!" ujar Caterine kemudian tertawa seram.
"Ah iya juga, Aku kan bukan dalam mode polos," lanjut Caterine berkedip-kedip polos.
Perkataan Caterine yang ambigu, membuat Kiara dan Dirga menatap tidak mengerti ke arah Caterine.
"Apa maksudnya?" batin Mereka kompak.
Caterine yang melihat raut wajah penasaran, dari orang di depannya melebarkan senyuman-nya.
Ia berjalan ke arah meja, di mana ada Tas miliknya. Kejutan yang sudah Ia persiapkan, jika sewaktu-waktu ada pertanyaan ini dan benar saja ternyata memang ada.
"Pertanyaan klasik," batin Caterine geli.
Ia membongkar Tas-nya, mengeluarkan kantung plastik dan meletakkan peralatan di samping Tas-nya.
"Kalian penasaran yah, siapa Aku?" tanya Caterine main-main.
"Oke deh, Aku kasih tahu siapa Aku!!" Lanjutnya berseru senang.
"Perhatikan baik-baik yah!!!" ujar Caterine saat tidak ada tanggapan. Hanya tatapan mata yang di terima-nya, membuat Caterine menghentak kaki kesal saat tidak ada tanggapan.
"Jawab dong!!!" bentak Caterine marah. Membuat Kiara yang ada di pelukan Dirga, lagi-lagi tersentak kaget dengan badan bergetar takut.
"Ssttt ... Ada Aku!" gumam Dirga menenangkan.
"Cih, sok kuat. Padahal untuk berdiri saja sudah susah, mau sok-sok-an melindungi wanita sialan itu!" ujar Caterine meledek.
"Urus saja urusan Lu sendiri," ujar Dirga datar.
Caterine sekali lagi kesal, lalu mulai melakukan kegiatannya sendiri. Kegiatan yang membuat mereka berdua mengernyit bingung.
Iya ... Di depan mereka saat ini, Caterine sedang sibuk dengan peralatan untuk menghapus make-up.
Setelah selesai dengan ritualnya, Caterine menghadap ke arah Kiara dan Dirga yang melotot tidak percaya.
"Kamu!!!!" seru Kiara kaget. Sedangkan Dirga menahan emosinya, saat melihat wajah sok polos yang memandang mereka dengan senyum malu di buat-buat.
"Haloo Tuan dan Nyonya tersayang!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nirwana adalah surga atau tempat dimana adanya kebebasan atau kesempurnaan.
Rencana terselubung adalah rencana tertutup, yang tidak di ketahui orang lain tujuannya.
Bunga yang di maksud Richard adalah Kiara.
Ganjaran adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Bisa di sebut juga dengan balasan.
Keadaan genting adalah keadaan darurat, sebuah situasi yang memerlukan penanganan segera
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya....
Jangan lupa komentar dan klik jempolnya yaaa ...
Jangan lupa vote dukunganya.
Sampai babai
Terima kasih
__ADS_1