Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Dikerjain Dadd Dan Momm


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Annecy, Prancis.


Di belahan dunia lain, tepatnya di kota Annecy, Prancis. Ada rombongan dengan jumlah genap, sedang bersama-sama menghabiskan waktu liburan, tanpa anak-anak turut serta.


Ya, benar sekali. Dirga dan istri serta para sahabat berikut pasangannya, saat ini sedang berlibur di kota Annecy.


Prancis atau juga Paris, mungkin di kenal dengan menara Eiffelnya, tapi jangan salah. Kota yang saat ini di kunjungi oleh Dirga dan sahabatnya, tidak kalah indah dari kota fashion tersebut.


Dengan danau hijau kebiruan terbentang luas, ada juga kota tua yang memadukan daya tarik sejarah, panorama, gastronomi, tradisi. Dibelah oleh Sungai Thiou yang kemudian membentuk kanal-kanal dan jalan-jalan sempit, yang membuatnya dijuluki Venesia-nya Alpen.


Tiga sahabat, yang sama-sama sudah memiliki istri dan anak yang juga saling bersahabat ini, memulai perjalanan liburannya secara terperinci.


Di mulai dari mengunjungi danau Annecy, lalu lanjut menjelajah kota tua dan yang terakhir adalah mengunjungi kota kecil dengan bus turis.


Mereka sendiri menginap di hotel Imperial palace, hotel bintang empat dengan fasilitas tidak di ragukan lagi.


Di Hari pertama ini, sesuai jadwal yang sudah di tentukan. Mereka mengunjungi danau Annecy, yang terlihat indah dengan air jernihnya.


Tempat view paling cantik di danau Annecy adalah jembatan cinta atau disebut dengan Pont des Amours, yang terletak di pintu masuk kanal Vass.


Pukul. 15:00


Waktu sudah terlewati empat jam di danau Annecy ini, mereka berjalan kaki mengikuti jalanan, yang sudah dibuat untuk menjelajah danau.


Di jembatan cinta, ada Dirga dan Kiara, yang melihat panorama keindahan danau, dengan berpegangan tangan, hanya berdua saat pasangan lainnya berdiri berjauhan, saling tidak ingin mengganggu momen bersama pasangan masing-masing.


Sedang asik dengan obrolan mesra nan romantis ala pasangan muda, Dirga tersentak kaget, saat merasakan getaran pada saku celananya.


Ia sudah bisa menebak siapa yang saat ini berani meneleponnya, saat dirinya sudah mewanti tangan kanannya, untuk tidak menghubunginya selama ia dan istrinya sedang berlibur.


"Ck ... Mereka berdua nih pasti," batin Dirga dengan decakan sebal, saat ia berpikir seseorang dan menjadi dengkusan saat benar adanya, apa yang ada di pikirkan olehnya nyata.


"Ada apa, bukan kah tadi pagi sudah kirim pesan," lanjut Dirga masih dalam batin, dengan kernyitan bingung.


Dirga sengaja hanya melihat, sebelum memasukkan lagi handphone ke dalam saku celana, kemudian kembali memeluk istrinya.


"Siapa, Yank?" tanya Kiara, saat tadi sang suami melepas pelukan, untuk melihat handphonenya.


"Anak-anak," gumam Dirga semakin menyamankan pelukannya.


"Anak-anak!" pekik Kiara melepas pelukan sang suami, menuai desahan kesal saat suaminya sudah merasa nyaman.


"Ck ... Kok dilepas, dear," sungut Dirga sebal.


"Isk ... Anak-anak nelpon, kamu sengaja tidak angkat. Nanti mereka khawatir, sayang," timpal Kiara ikutan sebal.


Ia menengadahkan telapak tangannya, tanda meminta kepada suaminya, yang balas dengan dengkusan dan bibir manyun, pose yang sama sekali tidak cocok untuk seorang angkuh macam Dirga.


"Tapi tadi pagi, kita sudah kasih kabar, dear," elak Dirga masih enggan memberikan handphonenya.


"Tapi mereka pasti kangen kita, sayang," tandas Kiara keukeh dengan pendiriannya.


Di dalam saku celana Dirga, handphone dengan merek ternama dan harga mahal nan canggih, sudah bergetar beberapa kali, tanda si pemanggil menghubunginya berkali-kali.


Dalam hati Dirga terkekeh kesenangan, saat ia membayangkan ekspresi kesal yang akan anak-anaknya tampilkan, saat nanti ia menerima panggilan tersebut.


"Tunggu sekali lagi, dear," putus Dirga menuai decakan sebal dari Kiara, yang merasa sang suami isengnya nggak ketolongan lagi.


"Awas yah, kalau nanti anak-anak ngambek," timpal Kiara, akhirnya menyetujui apa keinginan suami usilnya.


"Hn."


"Oke, sekarang coba lihat, sudah berapa kali panggilan tak terjawab, dari anak-anak. Jangan terlalu kelamaan loh, yank," perintah Kiara.


Dirga pun mengangguk, kemudian mengambil handphonenya untuk melihat panggilan tak terjawab dari anak-anaknya.


📞 5 panggilan tak terjawab


Gavriel Wijaya__Son


"Baru lima," ucap Dirga santai, yang segera di hadiahi tampolan sayang dari Kiara, kesal karena membuat anaknya harus menunggu hingga panggilan selanjutnya.


"Cuma! Kamu bilang cuma! Astagfirullah, Dirga Wijaya, yang katanya paling kaya sedunia noveltoon. Kamu mikir tidak sih, kala ...


Dirga hanya bisa mengedipkan matanya, saat mendengar rentetan kalimat panjangnya naudzubillah, dari sang istri yang sudah menikah dengannya selama 17 tahun.


Ia kira setelah sekian lama ia tidak mendengar kalimat panjang dari istrinya, sang istri sudah lupa cara melafalkan kalimat tanpa jeda.


Telinganya pengang seketika, ingin menyela namun takut jatah harian dikurangi, tapi kalau tidak segera dihentikan, kesehatan kedua telinga bagian dalamnya akan jadi taruhan.


"Ya Tuhan, lindungilah telinga hamba," batin Dirga meminta.

__ADS_1


Dirga baru saja ingin menghentikan kalimat panjang Kiara, dengan sesuatu yang menurutnya paling mutakhir. Tapi sayang, niat hanya tinggal niat, saat ia merasakan getaran lanjutan, yang setidaknya membuat ia bisa bernapas lega juga.


📞 Gavriel Wijaya__Son calling


"Ah! Setidaknya ada hal yang lainnya, yang bisa membuat si bawel berhenti," batin Dirga mendesah lega.


"Aku tuh khawatir yank, kala-


"Lihat, mereka menghubungi kita lagi," sela Dirga cepat, dengan layar handphone menghadap ke arah Kiara, yang langsung berbinar saat melihat nama si bujang terpampang jelas.


Senyum merekah di bibir kesukaan seorang Dirga, saat sang istri melihat layar handphonenya.


Dengan kecepatan menyamai yellow flash, ninja dari negeri sakura sana. Nyonya Wijaya ini segera menyambar handphone milik Tuan Wijaya, yang hanya mampu berkedip saat handphonenya sudah perpindahan tangan.


Klik!


"Bonjour, Gavriel! (Haloo, Gavriel)" sapa Kiara dengan semangat, saat menerima panggilan dari sang anak.


Senyum cantiknya semakin mengembang, saat melihat wajah putra-putrinya di layar handphonenya.


"Maman, tu vas bien? (Mama, kamu baik-baik saja)" tanya Gavriel dengan nada khawatir yang kentara, membuat sang Mommy yang tadi tersenyum lebar, menjadi senyum merasa bersalah.


"Très bien, Gavriel. Pardonne, (Baik kok, Gavriel. Maaf yah)" balas Kiara lembut.


Tangannya tidak tinggal diam, ia dengan sengaja mencubit mesra pinggang suaminya, yang hanya bisa mendesis sakit, saat merasakan sengatan cubitan dari sang istri.


"Sakit, dear," lirih Dirga menahan perih.


"Sukur, rasakan," sahut Kiara melotot sebal, ke arah suaminya yang menatapnya memelas.


Dari suara sambungan, yang Dirga dan Kiara dengar. Ada suara isakan kecil, suara yang mereka kenali milik bontot kesayangan.


Seketika Dirga dan Kiara yang tadi sedang saling memandu kasih(menyiksa), menoleh ke arah layar dan melihat dengan hati sakit, saat kesayangan mereka menatap layar handphone dengan mata berkaca-kaca sedih.


"Daddy, Mommy."


Nyut!


Dirga menyesal sudah mengerjai kedua anaknya, kalau ia tahu akan begini jadinya, ia tidak akan iseng dan segera menerima panggilan dari anak-anak mereka.


"Iya sayang, ini Mommy. Maafin Mommy yah, Mommy salah," sahut Kiara menyesal dengan nada bergetar menahan isakan juga, saat melihat wajah sedih Selyn di sambungan video call saat ini.


"El sayang, ini Daddy. Maafin Dadd yah, Dadd tadi hanya ingin menggoda kalian," timpal Dirga lebih menyesal dari pada sang istri, sebab ia lah yang melakukannya.


"Daddy, Mommy. Jangan seperti itu lagi, El sangat khawatir dengan kalian berdua. El-


"Selyn sayang, maafin Daddy. Daddy janji tidak seperti ini lagi," ujar Dirga semakin merasa bersalah.


"Lagian kenapa si Dadd, panggilan dari kami tidak segera diterima?"


Kiara dengan mata setajam celurit segera menoleh ke arah suaminya, yang hanya bisa tersenyum kaku, saat menerima tatapan sayang berujung musibah untuknya dari istrinya.


Glek!


"Hayooo loh, jatah abis dah pokoknya," batin Dirga sempat-sempatnya ngawur.


"Tidak sayang, Daddy tidak sengaja. Daddy kalian hanya ingin menggoda, tidak ada niat yang lain kok," balas Kiara, memberikan alasan logis agar nama suaminya tetap harum.


Dirga menampilkan wajah kuyu, saat istrinya tidak bilang yang aneh-aneh.


"Maafin Daddy, yah. El, Gav," timpal Dirga sungguh-sungguh, melanjutkan perkataan sang istri dengan nada menyesal.


"Daddy. Jangan seperti itu lagi yah, El sangat khawatir, aku juga khawatir. Aku bahkan hampir saja pesan tiket kesana, untuk menyusul Mommy dan Daddy."


Dirga yang tadi menampilkan wajah menyesal, segera berganti dengan wajah terharu saat mendengar kalimat panjang dari putra sulungmya. Di sampingnya ada sang istri, yang juga menampilkan wajah menyesal, dengan setitik air mata di sudut mata sang istri.


"Maaf," gumam Dirga lirih.


"It's oke Daddy. El sayang banget sama Daddy dan Mommy. El tidak ingin ada apa-apa dengan Dadd dan Momm."


"Mommy juga sayang kalian berdua. Kalian baik-baik saja kan di sana?" balas dan tanya Kiara mengalihkan pembicaraan.


Cukup saling meminta maaf dan menyalahkan, ia tidak ingin liburan anak-anak kacau, karena kejadian yang baru saja terjadi.


"Kami baik-baik saja, Mommy. Momm dan Daddy juga kan?"


"Kami baik, kalian tenang saja."


Dan Selanjutnya adalah obrolan ringan, seputar kegiatan mereka di masing-masing negara tempat mereka berlibur.


Baik Dirga dan Kiara, maupun Gavriel dan Selyn, sama-sama menceritakan kejadian yang mereka alami.


Dirga dan Kiara juga menunjukkan pemandangan di belakang mereka, pemandangan danau dengan air hijau nan jernihnya. Sehingga Gavriel dan Selyn, memandang takjub view yang saat ini sedang dinikmati oleh kedua orang tuanya.


Entah berapa lama mereka saling bercerita, yang pasti mereka baru berhenti saat mereka mendengar panggilan, yang suaranya mereka kenali dengan sangat, memanggil nama kedua orang tua dari Gavriel dan Selyn.


"Ah! Sepertinya obrolan kita harus sampai sini dulu, Onty dan Unkel kalian sudah memanggil. Dan ini juga sudah terlalu sore, bukankah di kalian saat ini sudah larut malam juga kan?" tanya Kiara hendak menyudahi sambungan telepon mereka.

__ADS_1


"Yes Momm, sebentar lagi pukul sepuluh malam, kami juga harus beristirahat."


"Baiklah, kalau begitu sampai nanti lagi, El, Gavriel. Momm dan Daddy juga harus pulang ke penginapan," balas Kiara, yang di angguki kepala oleh suaminya.


"Kalian langsung istirahat, got it?" timpal Dirga menambahkan.


Dari sini mereka bisa melihat kedua anaknya mengangguk, dengan Selyn yang akhirnya bisa tersenyum lebar, senyum yang membuat Dirga bernapas lega.


"Nggak lagi-lagi," batin Dirga menyesal.


"Baiklah, Momm, Daddy. Sampai nanti!"


"Cau dao, sweetheart, (Selamat tidur, sayang)" ujar Dirga dan Kiara kompak.


Tut!


Sambungan pun terputus, keduanya saling melihat dengan Kiara uang menatap suaminya semakin kesal.


Ia menampol lengan suaminya satu kali, dengan suaminya yang memekik sakit, namun berubah jadi kekehan saat melihat ekspresi kesal yang lucu dari istrinya.


"Kenapa sih, dear?" tanya Dirga watados, lengkap dengan alis naik-turun menggoda. Membuat Kiara mendelik, tapi juga terkekeh saat suaminya mencolek gemas pinggangnya.


"Kenapa sih, kenapa sih. Jangan ulangi!" sembur Kiara dengan menahan senyuman.


"Iya, dear."


"Janji?"


"Iya, janji!"


"Huemb."


Dirga tergelak dalam hati, saat masih di kasih kesempatan melihat ekspresi lucu istrinya.


"Jangan ngambek, nanti cantiknya hilang."


"Dih! Sudah tuwir masih saja gombal," ledek Kiara, namun tidak membuat suaminya marah karena memang benar adanya.


Mereka sudah tidak muda (Ia enggan menyebut tua), tapi mereka masih mempertahankan keromantisan mereka.


"Nggak apa-apa, yang penting ...."


"Yang penting apa?" sela Kiara bertanya cepat.


"Je t'aime. (Aku mencintaimu)"


"Je t'aime aussi. (Aku juga mencintaimu)"


Di atas jempatan cinta biasa disebut dengan Pont des Amours, pasangan hidup dengan janji semati ini saling tersenyum, menghiraukan para sahabatnya, yang menatap ke arah mereka dengan geleng-gelengan kepala tidak heran.


"Astatang! Mereka itu," gumam Elisa, namun tidak pelak dirinya juga malu saat suaminya, Faro, ikut menggengam tangannya, dengan senyum tampan menghiasi wajahnya.


"Je t'aime."


"Ngo oi lei. (Aku cinta kamu)"


Lalu pasang Benedict, hanya saling melihat satu sama lain, dengan mata saling berkedip.


"Ay, mau gue bilang je t'aime, juga?" tanya Raka dengan polosnya, membuat Amira hanya bisa mendengkus, namun menjadi senyum malu, saat suaminya berbisik dengan lembut.


"Ich liebe dich uber alles. (Aku mencintaimu di atas segalanya)"


"Ich auch. (Aku juga)"


🥀🥀🥀🥀🥀


Pelajaran hari ini, jangan sekali-kali mempermainkan rasa khawatir seseorang, karena itu akan membuat orang yang mengkhawatirkan kita merasa sedih.


Untuk yang sudah memiliki pasangan. Buatlah selalu pasangan bahagia, meski dengan secuil perhatian.


Dan untuk kaum jomblo, jangan bersedih. Karena Tuhan sudah memberikan kita jodoh masing-masing, hanya menunggu waktu yang tepat untuk datang.


Kalau tahun ini belum datang, mungkin tahun selanjutnya. Kalau tahun selanjutnya belum datang juga, mungkin tahun selanjutnya lagi ... Lagi ... Dan lagi.


Tunggu saja sampai datang, oke. 🤣


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Terima kasih


Dan

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2