Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Maaf & Siapa Aku Untukmu?


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Gavriel yang masuk dengan Selyn di gendongannya, menaiki tangga hati-hati dan jalan perlahan, takut membangunkan sang adik yang sebenarnya tidak akan bangun dari tidurnya.


Ternyata bukan hanya dirinya, yang jalan ke arah di mana kamar adiknya berada, tapi ada juga Queeneira yang sepertinya ingin menemani sang adik.


Dengan sigap Queeneira membukakan pintu untuknya, saat kedua tangan Gavriel dipakai untuk menggendong sang adik.


Ceklek!


"Thanks," gumam Gavriel, dengan Queeneira yang hanya bergumam dan berdiri di depan pintu, mempersilakan dirinya lebih dulu masuk.


Gavriel meletakkan dengan hati-hati Selyn, yang segera berguling ke samping, mencari guling kesayangan, memeluknya dan melanjutkan tidurnya lagi. Membuatnya geleng kepala, takjub dengan gaya tidur adiknya yang sembarangan.


Mendekatkan dirinya untuk mengusap kening adiknya, Gavriel pun menarik dirinya kembali, untuk menghadap ke arah Queeneira, yang masih berdiri di depan pintu, sepertinya menunggunya untuk keluar dari kamar.


Atau Queeneira merasa tidak nyaman dengan keberadaan Gavriel, sehingga memilih untuk menunggu Gavriel pergi, baru kemudian ia masuk. Sepertinya begitu, tapi siapa yang tahu.


"Kamu tidak masuk ke dalam, Que? Atau mau ke bawah lagi?" tanya Gavriel menatap sahabatnya bingung.


"Tidak, aku mau istirahat di sini," jawab Queeneira, tanpa melihat Gavriel yang menghela napas dalam.


"Ngambeknya lama banget," batin Gavriel lelah.


Ia pun berjalan menghampiri sahabatnya, yang diam-diam bergeser tempat, tidak ingin bersenggolan jika sahabatnya nanti lewat disampingnya.


Tap! Tap! Tap!


Melangkah dengan lambat, Gavriel gemas juga saat melihat sahabatnya melirik, melengos lalu bergeser sedikit demi sedikit, seperti memberi jalan untuknya keluar.


Tap!


Queeneira berjenggit kaget, saat tiba-tiba sahabatnya berhenti di depannya, namun ia masih belum memandang ke arah samping, di mana sahabatnya berdiri tegak.


"Ikut aku," ucap Gavriel dengan nada tegas, menarik tanpa permisi Queeneira, yang berusaha melepas genggaman tangan Gavriel.


"Gavriel! Mau kemana!" seru Queeneira kaget, tapi untunglah ia masih bisa mengontrol suaranya, hingga ia tidak benar-benar memekik keras.


"Ke kamar," sahut Gavriel tanpa melepas tautan tangan ataupun melirik ke arah Queeneira, yang terkesiap dengan menahan laju langkahnya. Namun sayang, tarikan dari Gavriel terlalu kuat, sehingga ia pun tetap terbawa begitu saja, mengikuti langkah sahabatnya yang saat ini sedang membuka pintu kamarnya.


Ceklek!


Membuka pintu segera, Gavriel membawa sahabatnya masuk, menutup pintu kemudian mendudukkan sahabatnya di ranjangnya. Ranjang yang sudah tidak asing lagi bagi Queeneira, karena Queeneira memang sudah dari kecil bermain di sini bersama Gavriel, Ezra dan Selyn.


Brugh!


"Gavriel, aku mau keluar!" seru Queeneira panik, berusaha berdiri dari duduknya tapi sayang, Gavriel menahan kedua bahu Queeneira, sehingga Queeneira kembali duduk di ranjangnya.


"Tidak. Duduk, Que." dengan tegas Gavriel memerintahkan sahabatnya untuk duduk, sedangkan ia sendiri bersimpuh dengan sebelah kaki menekuk, memandang sahabatnya dengan sorot mata redup.


"..."


Diam adalah yang Queeneira lakukan, saat mendengar nada mutlak dari sahabatnya, yang saat ini menatapnya dengan ekspresi muram.


"Tolong jangan seperti ini," batin Queeneira menjerit frustrasi. Ia akan luluh lagi, jika dirinya melihat ekspresi sedih dari sahabatnya, ekspresi yang membuatnya ikut sedih.


Ia sungguh tidak ingin dengan mudahnya memaafkan sahabatnya, setelah dituduh yang tidak-tidak dengan seenaknya pula. Ia mengeraskan hatinya, saat mereka sama-sama terdiam namun tercetak jelas jika sahabatnya(Gavriel), sedang diam dengan pemikiran yang ia tidak tahu apa.


"Que," lirih Gavriel, masih menatap Queeneira yang melengoskan wajahnya, enggan melihat wajah rupawan Gavriel.


"Queeneira, lihat aku."


Apakah Queeneira melihat Gavriel? Tidak justru ia semakin melengoskan wajahnya, meski dalam hati ingin sekali melihat Gavriel dan memeluk cintanya, yang dulu bisa ia peluk sesuka hatinya.


"Quee-


"Apa, apa Gavriel. Kamu bisa bicara, tapi aku sedang tidak ingin melihatmu," sela Queeneira cepat, masih melihat ke arah lain dan itu membuat Gavriel lagi-lagi menghela napas.


"Come on, Que. Whats wrong?" tanya Gavriel putus asa.


"Ok ... I'm so sorry for my mistake. Can you forgive me, for last night? Please."


Dalam hati Queeneira menyumpah serapahi sahabatnya, yang selalu bisa bersikap lembut dan menyebalkan di saat bersamaan.

__ADS_1


Curang, pikir Queeneira sebal.


Bagaimana bisa, Gavriel dengan mudahnya meminta maaf menggunakan ekspresi, serta nada lembut seperti itu kepadanya dan sialnya ia lemah dengan Gavriel yang seperti ini.


Tapi tidak, untuk kali ini ia tidak ingin memaafkan begitu saja sahabatnya, ia ingin sahabatnya tahu jika ia juga bisa marah.


"Iya, aku pasti bisa," batin Queeneira dengan kepala menggeleng, sehingga Gavriel yang melihatnya pun khawatir saat melihatnya.


"Kenapa, Que." Gavriel segera menahan kepala sahabatnya yang menggeleng, dengan kedua tangan disisi kanan dan kiri kepala Queeneira, sehingga Queeneira akhirnya sadar dan menepis dua tangan Gavriel segera.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku mau keluar," elak Queeneira, kembali melihat arah lain, asal tidak melihat wajah khawatir sahabatnya.


"Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku dan permintaan maaf aku, Que," tandas Gavriel cepat.


Queeneira akhirnya melihat Gavriel, yang menatapnya dengan ekspresi frustrasi.


"Pertanyaan apa?" tanya Queeneira pura-pura tidak mendengar.


Gavriel menghela napas lagi, sebelum memegang tangan Queeneira, yang tentu saja menghindar namun Gavriel tidak menyerah, tetap mengambil tangan Queeneira, yang akhirnya tidak bisa menghindar lagi.


Kekehan terdengar dari Gavriel, yang merasa lucu akan keadaan mereka saat ini. Dalam hati Gavriel berpikir, jika mereka saat ini terlihat seperti pasangan kekasih alih-alih sahabat. Bagaimana bisa ia membujuk Queeneira, seperti yang dilakukan oleh sang Daddy saat sang Mommy sedang ngambek.


"Apa seperti ini, saat seorang pria membujuk wanitanya? Tapi Queeneira kan sahabatku."


Gavriel mengernyit dengan pemikiran absurdnya, menatap Queeneira dengan tidak fokus, melamun. Sehingga sekarang Queeneira lah, yang bergantian menatap Gavriel dengan ekspresi bingung.


"Kenapa?" tanya Queeneira tanpa perlu menutupi rasa penasarannya. Ia menyerah dan akhirnya melihat Gavriel, yang akhirnya tersadar dari pikiran absurdnya, menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Queeneira.


"Tidak, aku sedang memikirkan sesuatu saja. Dan pikiran itu sungguh absurd," jawab Gavriel dengan senyum geli, sehingga Queeneira pun semakin penasaran.


"Apa sih?" tanya Queeneira penasaran, lupa jika dirinya sedang kesal dengan sahabatnya, yang tersenyum malu di hadapannya saat ini.


"Bukan apa-apa sih, tapi menurut aku lucu aja," sahut Gavriel dengan bahu terangkat, senang bisa mengalihkan rasa tidak peduli sahabatnya untuk sesaat.


"Lucu, tapi bukan apa-apa, gimana sih," dengkus Queeneira kembali melihat arah lain.


"Iya, kalau kata aku sih nggak ada apa-apa. Tapi ya lucu aja," timpal Gavriel berusaha membuat sahabatnya lupa lagi, akan keadaan mereka yang masih dalam keadaan tegang.


"Nggak jelas ih," sahut Queeneira segera, hampir tersenyum tapi segera di tahannya.


"Terus bagaimana dong, habis lucu sih kata aku," timpal Gavriel semakin ngawur.


Oke ... Seketika Gavriel menelan salivanya, saat bujukan biasanya, tidak mempan lagi untuk sahabatnya. Sehingga yang ada sahabatnya kesal alih-alih memaafkannya.


"Hais, repot banget berurusan sama perempuan," batin Gavriel mengeluh.


Tidak ingin membuat sahabatnya semakin kesal, ia pun menghela napas, menatap sahabatnya dengan ekspresi serius.


"Queeneira, aku minta maaf, karena semalam aku menuduh kamu yang tidak-tidak. Aku tidak berniat untuk menyinggung hatimu. Tapi aku hanya ingin tahu, apa kamu menyukainya, hingga kamu bilang kalau kamu bahagia, lengkap dengan ekspresi bahagia pula."


Menjelaskan sekali lagi apa yang ingin dikatakannya, Gavriel pun akhirnya bisa sedikit bernapas, saat selesai mengucapkan kata permintaan maafnya.


Queeneira terdiam saat mendengar kalimat maaf dari sahabatnya, lengkap dengan penjelasan tentang perasaannya, yang lagi-lagi membawa kakak kelasnya di antara pembahasan mereka.


"Seharusnya kamu sadar, bukan dia yang aku suka," batin Queeneira sebal.


"Apa yang mau kamu dengar dari aku, Gavriel?" tanya Queeneira alih-alih menjawab pertanyaan sahabatnya.


Untuk apa, pikirnya semakin kesal.


"Kamu dan dia," sahut Gavriel tanpa pikir lama.


"Aku menyukainya," jawab Queeneira asal ceplos, tidak peduli jika ia harus menahan rasa sakitnya dua kali lipat, dari rasanya melihat sahabatnya dengan yang lain.


Membohongi diri sendiri, sakit rasanya.


"..."


Ada denyutan nyeri saat mendengar pengakuan dari sahabatnya, yang dengan lancar tanpa beban mengatakan tentang perasaan suka dengan kakak kelasnya.


Tapi sayang, mereka sudah lama bersama. Tentu ia tahu, jika sahabatnya saat ini sedang membohonginya.


"Bohong!"


"Lantas, apa, Gavriel. Kamu tahu kalau aku bohong, tapi kamu masih bertanya tentang perasaan aku, sebenarnya mau kamu apa?"


Queeneira kesal tentu saja, saat sahabatnya yang tahu jika ucapannya hanya kebohongan, tapi masih saja bertanya tentang ia dan kakak kelasnya.


Jalan baru sekali, sudah dituduh yang tidak-tidak, bagaimana kalau sampai diantar jemput segala macam.

__ADS_1


Seketika ia kembali kesal, saat ingat jika dulu sahabatnya pakai acara jemput teman sekelas mereka segala macam.


"Kalau yang seperti ini, baru bisa dibilang suka, huh," batin Queeneira kesal.


"Sudah lah Gavriel, lupakan jika kita pernah membahas permasalahan ini. Aku anggap kita tidak pernah membahas ini," lanjut Queeneira saat Gavriel hanya diam, tidak membalas pertanyaannya dan hanya melihatnya dengan wajah kaget.


Seketika ruang kamar tidur Gavriel sunyi, saat keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Gavriel yang masih menggengam tangan Queeneira, tersentak kecil saat si empunya tangan berusaha melepasnya.


"Mau kemana?" tanya Gavriel setelah sadar dan melihat Queeneira yang hendak berdiri dari duduknya.


"Keluar, panas di sini," jawab Queeneira asal.


Berdiri dan harus duduk lagi, saat lagi-lagi Gavriel menarik tangannya, tidak mengizinkannya untuk pergi.


"Belum selesai, Que. Kita belum membahas ini sampai tuntas," tandas Gavriel sedikit menaikkan intonasi suaranya.


"Bahas apa lagi, Gavriel. Aku lelah, aku ingin istirahat," sentak Queeneira kesal juga, menatap Gavriel dengan mata berkaca-kaca, tumpah juga air matanya.


Tentu saja, perempuan mana yang tidak akan menangis, jika dibeginikan oleh orang yang disukainya.


Setidaknya jangan bersikap lembut, perhatian dan sebagainya dengan bumbu yang manis-manis, jika ternyata bukan hanya kepadanya dia bersikap seperti ini.


Deg!


Gavriel kaget saat melihat bola mata sahabatnya berair. Ia dengan segera menghapus namun sayang, Queene menepis tangan Gavriel yang menatapnya nanar.


"Aku bisa sendiri," ucap Queeneira dengan nada bergetar.


"Queeneira, maafin aku."


"Buat apa, Gavriel. Maaf buat apa?" tanya Queeneira cepat, dengan lelehan air mata yang semakin deras.


Grep!


Dengan cepat Gavriel membawa Queeneira ke dalam pelukannya, meminta maaf dengan lirih tanpa peduli Queeneira yang meronta di dalam pelukannya.


"Lepas Gavriel, lepaskan aku."


Gavriel tidak mengindahkan permintaan Queeneira, justru ia semakin memeluk erat sahabatnya, yang akhirnya berhenti meronta dan menangis di pelukannya.


"Queeneira maafkan aku. Tidak tahu kenapa, aku pasti akan seperti ini, tidak bisa mengontrol rasa emosiku jika itu kamu. Aku tidak suka dengan orang lain yang berdekatan denganmu, aku tidak ingin kamu berdekatan dengan yang lainnya. Tapi aku sadar, aku hanyalah sahabatmu, aku tidak bisa begitu saja melarangmu untuk berdekatan dengan siapa atau yang lainnya. Aku tidak ingin, aku tidak ingin berbagi dengan yang lain."


"Gavriel ... Sadarkah kamu dengan apa yang kamu ucapkan barusan? Kenapa kamu seperti ini."


Queeneira tidak membalas ataupun menanggapi apa yang diucapkan oleh Gavriel. Baginya ini bukan pernyataan tapi ini adalah ungkapan, dengan perasaan bingung di dalamnya. Jadi ia hanya akan mendengarnya, untuk nanti melihat perkembangannya.


Tapi setidaknya ia tahu, jika sahabatnya memiliki rasa takut seperti ini kepadanya, yang membuatnya entah harus bersyukur atau apa.


"Takut saja belum cukup, dia harus sadar dengan perasaan sendiri. Sebelum aku benar-benar memutuskan untuk menyudahi dan menyimpan rasa ini, dalam hatiku dibagian yang paling dalam."


Queeneira memutuskan untuk menerima permintaan maaf sahabatnya, dengan balas memeluk sahabatnya, yang juga semakin erat memeluknya.


Sekitar lima menit kemudian, keduanya sama-sama mengurai pelukan, saling melihat dengan Gavriel yang sigap mengusap kedua mata Queeneira lembut.


"Jangan nangis di hadapan aku," pinta Gavriel lirih.


"Kenapa?"


"Aku tidak suka, ada yang sakit di sini," sahut Gavriel, dengan membawa telapak tangan sahabatnya, mendarat dengan indah di atas dadanya.


"Di sini sakit, jika aku melihatmu sedih," lanjut Gavriel dengan ekspresi berkerut bingung, kembali pada kenyataan jika dirinya tidaklah sepeka itu akan sebuah perasaan.


Warna merah muda diam-diam terlukis di kedua pipi anak dari Faro Wardhana, yang merasakan bagaimana kerasnya dada sahabatnya, lengkap dengan debaran jantung yang dirasakannya jelas sekali.


"Apasih, niatnya mau marah lama jadi luluh juga. Nggak adil," batin Queeneira menggerutu.


"Lalu, sebenarnya, apa aku di mata kamu, Gavriel?"


"Kamu ....."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2