
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Di dalam kereta penuh dengan penumpang, ada delapan remaja berdiri menjadi beberapa kelompok, yang saling bercengkrama, sambil menunggu kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun Kowloon.
Seperti yang sudah mereka rencanakan, jika destinasi setelah Shatin adalah Kowloon, mengunjungi masjid terbesar yang ada di Hong Kong.
Kereta MTR beroperasi dari pukul 05:00-01:00, selain fasilitas dan keamanannya yang terjamin, kereta ini selalu ramai disetiap jamnya dengan berbagai macam penumpang.
Di dekat pintu masuk, ada Gavriel dan Ezra, yang berdiri berhadapan dengan Selyn dan Queeneira duduk di samping mereka. Sedangkan kakak kelas mereka, berdiri terpisah menjadi dua kelompok, dengan Ge yang berpasangan dengan Ardan dan Didi dan teman satunya.
"Lu pernah ke Kowloon juga, Ar?" tanya Ge berbisik, dengan Ardan yang mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa?" tanya Ardan, dengan wajah menatap ke arah lain, ke arah remaja perempuan, yang saat ini sedang larut dalam obrolan dengan perempuan lainnya.
"Ada apa di sana?" gumam Ge bertanya penasaran.
"Macam-macam, tapi yang paling sering di kunjungi Masjidnya, sama mayoritas wisatawan beragama muslim. Emang kenapa?" jelas dan tanya Ardan setelahnya, dengan fokus masih pada remaja perempuan yang duduk di kursi, dengan seorang remaja laki-laki berdiri di hadapan si remaja perempuan.
"Oh ... Terus, macam-macam yang tadi kata lu itu, apa?" tanya Ge masih belum puas, membuat Ardan yang merasa terganggu menoleh dengan cepat, menatap teman gelonya kesal.
"Ck, elah. Cari di mbah Google sana. Reseh banget jadi manusia," sungut Ardan, membuat Ge yang melihatnya terkekeh kecil, gemas saat temannya kesal karena kesengajaannya.
"Sukurin dah, suruh siapa, lagi diajak ngobrol malah asik liatin anak orang," batin Ge dengan senyum kemenangan.
"Nggak seru, enak nanya sama sumbernya langsung," timpal Ge tanpa dosa, tidak perduli saat temannya semakin ngegerutu di hadapannya, lengkap dengan wajah melengos kesal.
"Serah lu dah," sahut Ardan ketus.
Stasiun yang akan menjadi tempat pemberhentian mereka, hanya tinggal menunggu pintu terbuka, mereka pun bersiap berdiri di depan pintu dan melangkah keluar saat pintu terbuka.
Stasiun Kowloon Bay
Tiga remaja, yang tadi berada di Mong Kok sekarang sudah menjejaki kaki mereka di daerah Kowloon, tujuan mereka jelas ingin bertemu teman sekelas mereka, yang beberapa saat lalu memposting foto dan tujuan destinasi selanjutnya, yaitu Kowloon.
Di samping mereka ada guide bernama Susan, setia mendampingi dan menerjemahkan apa yang tidak mereka mengerti.
"Jadi, kita kemana lagi, Mba Susan?" tanya Intan dengan kepala menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan seseorang yang belum juga terlihat sepanjang ia memandang sekitar.
"Kalian maunya kemana?" sahut Susan bertanya balik, membuat ketiga remaja ini memandang satu sama lain bingung dan kemudian gelengan kepala kompak adalah yang Susan terima.
Susan menghela napas, memang salahnya bertanya kepada orang yang belum tahu, dan tugasnya adalah membawa mereka berkeliling.
"Bagaimana kalau ke Mall terbesar di sini saja, di sana kalian bisa melihat dan membeli berbagai barang, dari yang murah hingga yang mahal."
Pertanyaan dari Susan membuat tiga remaja ini berpikir sejenak, karena mereka hanya dapat petunjuk sedikit mereka tidak bisa bertemu, jika mereka tidak segera menjelajah.
Intan sebagai si pengajak, menoleh ke arah Keineira dan Riaya, yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Gini guys, kita kan tidak tahu mereka akan kemana. Bagaimana, kalau sambil nunggu postingan selanjutnya, kita keliling dulu. Yah siapa tahu saja, jika mereka juga datang ke mall. Secara, mereka kan anak orang punya. Masa jalan-jalan ke luar negeri, tidak mengunjungi mall. Iya nggak sih?" ujar Intan panjang lebar, menjelaskan menurut sudut pandangnya, kemudian bertanya dan meminta pendapat kedua temannya.
Keineira diam, beda dengan Raiya yang mengangguk mengiyakan.
"Betul itu, waktu itu juga kita lihat mereka jalan-jalan di mall pas di kota S kan. Nggak mungkin dong, kalau di luar negeri mereka nggak ke mall juga," sahut Raiya dengan yakin, membuat Intan mengangguk saat pendapatnya di benarkan.
"Kei."
Keineira yang terdiam dengan pikirannya tersentak kaget, saat dua temannya memanggil namanya, lengkap dengan ekspresi bertanya.
"Ah! Kenapa?" tanya Keineira canggung, sehingga baik Intan maupun Raiya sama-sama menghela napas, saat teman cantik mereka lagi-lagi kedapatan melamun di tengah-tengah keramaian seperti ini.
"Ck, Kei .... Jangan melamun lah, kan sudah aku bilang untuk fokus. Lagi mikirin apa sih?" tanya Intan sedikit sebal, saat peringatannya tidak diindahkan.
"Itu, masalah mereka ada di mana," cicit Keineira takut, saat melihat wajah sebal temannya.
"Ya ampun, mikirin itu. Jadi menurut kamu, bagaimana?" tanya Intan gemas.
"Ano ... Apa iya, mereka pasti ke mall atau ke sini. Soalnya aku punya firasat, mereka tidak ada di sini," ucap Keineira memandang dua temannya bergantian, menjelaskan apa yang dirasakan dalam hatinya, mengenai keberadaan dari teman sekelas mereka.
"Tapi Ezra posting Kowloon, Kei. Kan kamu lihat sendiri," balas Intan dengan pendapatnya.
Dalam hati Keineira membenarkan, jika Ezra memberi tahu dengan jelas di postingan terakhir, dengan menyebut nama Kowloon sebagai tempat selanjutnya. Tapi entah kenapa ia tidak ada feeling, jika dia juga akan ada di sini.
"Iya sih," gumam Keineira, kemudian menatap kedua temannya, dengan senyum tidak enak.
"Maaf," lanjutnya.
"Tidak apa-apa, yuk jalan ke mall dulu, sambil nunggu."
Dengan begitu pun mereka pergi ke tempat tujuan mereka, mall ... Apa lagi, hitung-hitung sambil cuci mata.
Tsim Tsa Tsui , Kowloon, Hong Kong.
Akhirnya delapan remaja ini sampai juga di stasiun tujuan, yaitu stasiun Tsim Tsa Tsui.
__ADS_1
Dari sini mereka hanya perlu keluar melalui pintu exit A, kemudian berjalan sedikit ke arah kanan beberapa meter baru lah sampai di tempat tujuan.
Letak Masjid yang bersebrangan dengan Kowloon park dan juga restoran halal, membuat mereka tidak perlu repot mencari tempat main, juga tempat mereka makan malam hari nanti.
Yah ... Empat orang, dari delapan ini sudah dari awal akan memutuskan, untuk menghabiskan waktu hingga malam hari, tepatnya pulang setelah mereka bersama-sama menunaikan Ibadah Maghrib, di Masjid yang akan mereka datangi.
Lagi-lagi jalan dengan empat kelompok, saat mereka tidak bisa jalan bergerombol, karena daerah yang sedang kaki mereka jejaki adalah daerah ramai pengunjung dan pejalan kakinya.
Pasangan sedikit berubah, saat dengan santainya, Selyn memasangkan sang kakak dengan Mbanya. Sedangkan dirinya, berjalan bersama Ardan seperti biasa, membiarkan sepupunya berkorban, jalan bersama kakak kelas yang sampai sekarang ia tidak ketahui siapa namanya.
Suasana antara Selyn dan Ardan seperti tadi, ramai dengan Selyn yang bertanya daerah, yang saat ini ia lihat dengan takjub oleh kedua matanya yang berbinar.
Lalu pasangan Ezra dan kakak kelas, yang sama-sama diam, sibuk dengan kegiatan masing-masing, mendengarkan musik melalui headphone.
Sedangkan Ge dan Didi seperti biasa pula, akan ada pertentangan di antara keduanya, karena baik Ge ataupun Didi sama-sama tipe aktiv, kalau tidak mau dibilang pecicilan layaknya Ezra dengan Gavriel jika sudah bersama.
Dan satu pasangan tersisa, yaitu Gavriel dan Queeneira, yang berjalan bersisihan hanya keheningan, padahal di sekitar mereka suasananya ramai.
Sebenarnya baik Gavriel maupun Queene, sama-sama sedang bingung dengan Kecanggungan yang tercipta, setelah kehadiran kakak kelas mereka.
Di sisi Gavriel, ia bingung kenapa ia bisa marah hanya karena sahabatnya jalan dengan yang lain. Lalu Queeneira sendiri aneh, saat sahabatnya mengeluarkan hawa dingin, lengkap dengan tembok pemisah tak kasat mata.
Ada apa? Pikinya bingung.
Ia tahu Gavriel sedang merasakan kesal, tapi kenapa? Apa karena ia lebih memilih kakak kelasnya, di bandingkan dengan mereka untuk menjelajah patung seribu di Shatin.
Queeneira adalah tipe orang yang akan diam, jika belum benar-benar harus membuka suara, contohnya saat mereka di restoran tempo lalu. Jadi ia berusaha untuk menganggap biasa, sampai orangnya sendiri yang buka pembicaraan.
"Masjidnya sudah terlihat," gumam Queeneira, membuka obrolan setelah beberapa saat keduanya saling diam.
"Hn."
"Bagaimana menurut kamu, seru kan?" lanjut Queeneira bertanya, berusaha tidak peduli saat sahabatnya, menjawab hanya dengan gumaman bernada datar.
"Hn, seru."
Lagi-lagi, jawaban datar dari Gavriel adalah yang Queene terima, tapi Queeneira masih berusaha santai, saat ia pura-pura tidak tahu atau memang ia tidak tahu, letak kesalahannya ada di mana.
"Kita bisa makan lagi di sini, soalnya di depan Masjid ada restoran muslim," lanjut Queene belum menyerah, dan itu membuat Gavriel yang tadinya kesal menjadi luluh. Ia berhenti dari acara jalannya, di ikuti oleh Queene yang juga berhenti, untuk melihat sahabatnya dengan kening berkerut.
"Hn, kita makan dan akan makan lagi. Sebanyak apapun kamu mau."
Queeneira tersenyum saat bisa melihat lagi, senyum tipis dari sahabatnya, sehingga ia pun merasa apa yang tadi di khawatirkan olehnya, hanya pikiran negatifnya saja.
"Bener yah?"
"Iy-
Obrolan keduanya terpaksa berhenti, saat seseorang menyela dengan panggilan menyebut nama Queene.
Di depan mereka ada Ge, yang menatap keduanya dengan santai, tidak takut dengan tatapan tajam dari adik kelasnya.
"Mau apa lagi ini orang," batin Gavriel kesal.
"Apa kak?" tanya Queeneira, menatap kakak kelasnya penasaran.
"Gue nggak tahu daerah sini, si Ardan sama Selyn. Lu sama gue yuk, ke taman depan Masjid," ajak Ge dengan santainya, menarik tangan Queene yang untungnya, masih sempat bisa di tahannya.
"Aish! Tunggu dulu kak," sewot Queeneira namun sayang, Ge hanya memasang wajah reseh seperti biasa, membuat Queeneira mendengkus.
"Tunggu apa?"
"Ke taman? Yang lain emang mau ke sana juga?" tanya Queeneira balik, yang di jawab anggukan kepala dari Ge.
"Sudah, nanti baru deh pas sudah waktunya, kita ke Masjid," balas Ge menjelaskan, dengan senyum lebarnya.
Queeneira menoleh ke arah samping, ke arah Gavriel yang hanya diam dan menatap ke arah kakak kelasnya tidak suka.
"Kamu mau ikut juga, Gav?" ajak Queeneira, sehingga Gavriel pun menoleh ke arahnya namun tidak lama, karena setelahnya Gavriel meninggalkan Queene dan Ge begitu saja.
"Kalian saja, takut ganggu."
Queeneira hanya bisa diam, melihat dari tempatnya berdiri punggung Gavriel yang semakin jauh meninggalkannya. Ia pun melihat ke arah Ge, yang juga melihat ke arah sahabatnya.
"Dia kenapa?" tanya Ge, tanpa melihat ke arah Queene yang hanya bisa menghela napas diam-diam.
"Tidak tahu," gumam Queene pelan.
"Jadi lihat taman?" lanjutnya, tidak ingin membuat kakak kelasnya menunggu.
"Lu nggak apa-apa, jalan sama gue?"
"Lah ... Gimana sih kak, kan kakak yang ngajak. Ya udah santai aja lah," balas Queeneira, aneh dengan pertanyaan kakak kelasnya.
"Ya udah yuk!" seru Ge, menuai dengkusan dan gelengan kepala dari Queeneira, yang merasa aneh dengan kelakuan kakak kelasnya.
Sementara Queeneira dan Ge jalan ke dalam taman, Gavriel menghampiri sepupunya yang saat ini sedang berdiri di depan pintu masuk taman, sengaja menunggunya.
"Queene sama Ge lagi?" tanya Ezra saat tidak mendapati sahabat perempuannya, di samping sepupunya padahal tadi jalan bersama.
"Hn."
__ADS_1
"Masuk yuk!" ajak Ezra dengan Gavriel yang hanya mengangguk.
Keduanya jalan di isi dengan obrolan seputar tempat yang mereka kunjungi, lanjut ke pekerjaan dan obrolan ringan lainnya, sebagai pengalihan dari Ezra saat mood sepupunya lagi-lagi down.
Taman dengan sungai dan gajeboh seperti dinasti ini, ramai dengan pengunjung berbagai tingkatan usia.
Suasana ramai tidak lantas mambuat Gavriel ikut merasa senang, saat melihat depan sana di mana ada adiknya yang akrab dengan kakak kelas, juga sahabat perempuannya yang berjalan dengan ketua OSIS sekolah dengan santainya.
"Gavriel, kamu tidak apa-apa?" tanya Ezra saat keduanya hanya duduk, menikmati keramaian dengan mengasingkan diri.
"Tidak apa-apa, bagaimana?"
Gavriel balik bertanya, melihat sepupunya dengan wajah lempeng, tanpa emosi yang membuat Ezra semakin lelah.
"Kamu, Queene, apalagi," balas Ezra to the point, gemas saat lagi-lagi tampang sepupunya asem bagai buah lemon.
"Aku dan Queeneira baik-baik saja, kenapa?"
Lagi-lagi balik bertanya, sehingga Ezra lebih memilih diam menatap Gavriel, membuang napas dan angkat tangan menyerah.
"Oke, kalian tidak apa-apa. Lalu, kenapa kami cemberut seperti itu?" tanya Ezra gemas.
"Aku? Cemberut? Ngaco," balas Gavriel mengelak.
"Ck, jangan ngelak," timpal Ezra cepat.
"Aku tidak cemberut, titik. Aku hanya kesal, tidak bisa mencegah Selyn untuk tidak berdekat-dekatan dengan kakak kelas itu," tandas Gavriel dengan alasannya, yang Ezra maklumi saat tahu salah satu alasan mood sepupunya jelek saat ini.
"Oke, hanya karena itu?" tanya Ezra belum puas.
Gavriel mengangguk mengiyakan, lalu berdiri dari duduknya untuk menghampiri sang adik, yang masih asik dengan kakak kelas mereka.
"Mau kemana?" tanya Ezra bingung, saat Gavriel hendak meninggalkannya.
"Misahin Selyn, apa lagi."
"Ck ... Tunggu!"
Setelah berdecak sebal, Ezra pun mengikuti langkah sepupunya, yang sudah jauh di sana bersiap untuk memisahkan sang adik dari kakak kelas bernama Ardan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Di daerah lainnya, tepatnya di daerah Kowloon Bay. Tiga remaja lainnya berkeliling sambil melihat sekitarnya, mencari keberadaan orang yang mereka kenali, namun tidak kunjung ketemu.
"Mereka sudah posting lagi?" tanya Raiya saat mereka bingung.
"Belum."
"Kamu yakin mereka ke sini? Ke daerah Kowloon?" tanya Raiya lagi, saat lelah mengunjungi tempat satu ke tempat lainnya.
"Iya, Kowloon kok bacaannya. Kan kalian baca sendiri," balas Intan tidak ingin di salahkan.
"Ya bisa aja, Kowloon lain."
Kei yang melihat temannya hampir bertengkar, melipir menghampiri Susan yang hanya diam menyaksikan adu mulut Intan dan Raiya.
"Mba Susan," panggil Keineira dengan senyum canggung, membuat Susan menatapnya dengan senyum maklum.
Namanya anak muda, pikirnya tidak ambil pusing.
"Kenapa, Mba Kei?"
"Itu, sebenarnya Kowloon luasnya seberapa dan paling sering di kunjungi di mana saja?" tanya Keineira dengan bingung.
"Kowloon yah ... Sebenarnya Kowloon banyak daerah dengan stasiun pemberhentian berbeda. Bisa di bilang, meskipun distrik atau nama jalannya lain, di panggilnya tetap saja Kowloon. Lalu soal yang sering di kunjungi, biasanya kalau umat muslim lebih banyak ke Masjid di Jordan atau Thim Tsa Tsui, karena Masjid bersebrangan dengan taman atau juga restoran halal. Jadi pengunjung bisa dengan mudah mengakses tempat ibadah dan tempat hiburan."
Penjelasan dari Susan membuat Keineira diam-diam mengela napas dalam.
Sepertinya mereka salah tempat, saat mereka melihat postingan dengan nama Kowloon dibawa serta.
"Begitu, Mba?"
"Iya."
"Sepertinya, belum saatnya bertemu," batinnya, menatap dua temannya yang masih adu argumen.
"Harus kemana setelah ini."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jordan dan Thim Tsa Tsui satu daerah beda kawasan dan sama-sama punya Masjid besar, dengan kemegahan tersendiri di bangunannya.
Ikuti kisahnya selanjutnya ....
Author ingin ajak para pembaca ke Hong Kong, melalui cerita ini🤣.
__ADS_1
Terima kasih dan sampai babai.