
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Perusahaan Jaya Dharma
Meeting Room
Suasana tegang melingkupi ruang pertemuan, di mana telah hadir beberapa investor, Andrew serta tamu lainnya.
Tamu lainnya, yang meminta rapat ulang itu menatap wajah Andrew, dengan sorot mata penuh kemenangan.
Sedangkan Andrew, menatap marah atas kejadian hari ini, apalagi bisik-bisik dari Para investor yang memandangnya, dengan sorot mata menghakimi.
Sebelumnya
Perusahaan Wijaya
Sesuai perintah dari Bos-nya, Dani segera berjalan menuju Devisi perancangan, untuk mengecek bagian pelegalan.
Tidak ada yang tahu, jika apapun yang di rancang atas nama Wijaya, akan memiliki legalitas-nya sendiri.
Bahkan sebenarnya, apapun yang di buat di bagian rancangan, hanya akan di simpan di dalam brangkas.
Bisa di bilang, ini hanyalah akal-akalan Sang Bos, untuk memancing musuh utama muncul di permukaan.
Di mulai dari kecurigaan atas pekerja di rumahnya, sebenarnya Dani juga tahu ada yang tidak beres, tapi Bos-nya belum mengambil tindakan.
" Malah lebih heboh kasusnya, Seharusnya kalau cuma masalah saham, cepet beres," batin Dani lelah.
" Sudah selesai?" tanya Dani singkat.
" Sudah, Pak Dani. Sesuai perintah Bos, rancangannya juga aman, lengkap dengan surat Legalitas-nya," balas Salah satu tim-nya.
" Bagus, lusa nanti Bos minta kita presentasi di depan investor, di perusahaan Jaya Dharma. Kamu jelaskan dengan rinci, jangan sampai ada yang yang tidak puas. Jika saat investor bertanya, kenapa bisa rancangan kita, dengan rancangan Jaya Dharma sama. Apa kamu paham?" ujar Dani tegas. Membuat tim-nya, yang ikut dalam pembuatan rancangan mengangguk mengerti, mereka juga merasa sedang di ajak perang.
Hasil karya mereka, di akui oleh orang yang tidak bertanggung jawab, bagaimana bisa mereka membiarkannya.
" Siap, pak Dani," balas Mereka tegas.
" Good,"
Saat ini
Maka itu, di sini lah mereka. Dengan membawa 2 orang perencana rancangan, mempresentasikan Rancangan bangunan buatan perusahaan Wijaya.
Membuat seseorang, melihat ke arah Tamu yang ternyata adalah Dirga, menampilkan raut wajah murka.
" Pak Andrew, bisa jelaskan kenapa rencangan gedung Mall-nya sama dengan perusahaan Wijaya? Lalu kenapa milik Wijaya lebih matang, apalagi perencanaanya?" tanya Salah satu investor curiga.
" Ini bisa di jelaskan, say ...
" Karena sudah jelas, apapun yang di rancang oleh Wijaya memiliki hak paten. Kalian bisa melihat dokumen Legalitas-nya, sudah saya lampirkan di laporan yang ada di hadapan anda semuanya," sela Dirga cepat. Tersenyum senang, saat melihat andrew melotot ke arahnya.
Bisik-bisik mulai terdengar, berdengung layaknya kumpulan lebah.
Dani serta Tim dari perusahaan Wijaya, yang datang bersama Dirga merasa bangga, puas akan kejadian hari ini. Mereka ingin membuktikan, jika Tim perancang Wijaya adalah yang terbaik di Kota S.
" Kalau begini, kerja sama yang kita buat sebaiknya di batalkan. Ini sama saja penipuan, hak paten sudah ada Legalitas-nya. Bagaimana anda bisa meng-klaim, jika rancangan Mall tersebut milik perusahaan Jaya Dharma?" tanya Seseorang lainnya dengan nada keras.
" Iya betul,"
" Ini sama saja pencurian data,"
" Untung saja masih ada pertemuan ulang,"
__ADS_1
" Iya,"
Suara protesan riuh terdengar, membuat kantor pertemuan itu ramai, layaknya pasar murah.
Dirga berdehem keras , meminta perhatian sehingga Para investor berhenti bergumam dan melihat ke arahnya.
" Ehem,"
" Seperti yang sudah di bahas dan jelaskan, apakah anda sekalian masih mau, memakai Rancangan curian atau memakai Rancangan sesungguhnya?" tanya Dirga datar. Melihat satu per satu investor di depannya, dengan pandangan mengajak. Tentu saja, dengan bergabungnya para investor ini, maka sahamnya bisa kembali stabil seperti sedia kala.
Para pemegang saham lainnya juga akan kembali percaya padanya, artinya kerugian yang sudah berjalan beberapa bulan ini akan segera teratasi.
" Tentu Kami memakai Rancangan Wijaya, rencana pembangunan sudah matang, dengan segala hasil kedepannya yang memuaskan. Bukan begitu Teman-teman semuanya?" ujar Salah satu seorang Investor. Dia menanyakan pendapat investor lainnya, yang di jawab seruan setuju. Hingga akhirnya rapat hari ini sukses, dengan kemenangan Wijaya mutlak, menyisakan andrew yang sudah dari tadi menahan amarah. Jika saja tidak ada investor di sini, maka Dia sudah menghantam wajah sombong dari keturunan Wijaya di depannya.
" Sialan," batin Andrew kesal.
Peserta rapat pun meninggalkan ruangan rapat, setelah penandatanganan kerja sama. Meninggalkan andrew dan Dirga yang saling melihat, dengan ekspresi wajah kaku.
" Well, Tuan Jaya Dharma. Bisakah anda jelaskan, dari mana asal rancangan itu? Atau anda mau masuk penjara, dengan tuduhan pencurian karya?" ujar Dirga datar. Melihat ke arah Jaya Dharma dengan sorot mata tajam, puas melihat orang di depannya diam tidak berkutik.
" Apa maksudnya? Saya tidak merasa se ...
" Dan akan saya pastikan, jika 1 minggu ke depan akan ada pemanggilan untuk anda, dari pengadilan. Bagaimana, heum?" sela Dirga dingin. Memandang Andrew tanpa ekspresi, senyum miring-nya setia tampil di bibirnya, saat melihat ekspresi syok dari lawannya.
" Kura ...
" Oke, sekian hari ini. Karena anda tidak mengaku, maka siap-siap saja dengan konsekuensi-nya," sela Dirga lagi. Ia meninggalkan ruang pertemuan, di ikuti Dani serta 2 karyawan yang di bawa-nya.
" Wijaya sialan,"
Itu adalah hal yang terakhir Dirga dengar, lalu di susul bunyi bantingan benda yang Ia yakini kursi atau mungkin juga layar proyektor.
Entah lah ... apa pun itu bukan urusan-nya, karena yang Ia tahu saat ini adalah kemenangan ada di pihaknya.
Flasback on
Saat di Mansion Wijaya, sebelum rapat ulang.
Dirga tersentak kaget, saat Papa-nya menyebut cucu di kalimatnya. Bagaimana Ia bisa santai, jika ada Anaknya yang bisa saja jadi target selanjutnya.
" Sial," batin Dirga kesal.
" Hanya tinggal menjebak Andrew, kita bisa memulainya dengan menunggu peluncuran Rancangan gedung Mall, yang di curi dari kantor Dirga. Maka semuanya akan terbongkar," ujar Dirga menjelaskan.
" Maksudnya?"
" Apa yang terjadi?"
" Di curi?"
Ekspresi berbeda dari orang yang ada di ruang tamu saat ini, membuat Dirga menampilkan senyum setan-nya.
Jangan di kira Ia bodoh, Ia menyadari ada yang aneh dengan barang di kantor-nya yang berpindah tempat.
Yah ... Meskipun tidak terbukti, bahkan CCTV pun tidak menemukan kegiatan ganjil. Tapi saat Ia melihat lagi dengan teliti, akhirnya Ia sadar jika Ia telah kecolongan.
Awalnya Ia tidak tahu, apa maksud dari Dia mencuri Data tersebut. Ia menunggu lama akan ada-nya pameran dari rancangan perusahaannya, namun tidak kunjung tersiar. Sehingga membuatnya tidak memikirkan terlalu jauh dan melupakannya begitu saja.
" Iya, tapi Dirga tidak yakin. Apa ini ada hubungannya atau tidak, informasi yang di dapat mengatakan jika ada pergerakan dari Andrew," ujar Dirga menjawab kalimat kaget mereka semua.
" Tapi bagaimana bisa, sebenarnya siapa orang yang mencuri tersebut?" tanya Bakrie kaget.
Bagaimana Ia tidak kaget, data penting milik perusahaannya, di curi di kandang sendiri.
" Itu yang masih jadi misteri, selain pembantu yang di percaya Kiara untuk membersihkan kantor, tidak ada orang lain," balas Dirga.
" Kamu harus pecat pembantu kamu, kalau tidak Cucu Papa akan bahaya," ujar Hendri murka.
" Tidak bisa main pecat begitu saja pah, Dia harus tinggal lebih lama di rumah, tapi seperti yang Papa bilang Gav bisa saja jadi sasaran, langkah aman adalah memindahkan Kiara dan Gav di sini," seru Dirga kalem.
__ADS_1
" Baiklah, mulai hari ini biarkan Kiara dan Gav tinggal di Mansion. Kamu harus cepat bertindak?" ujar Bakrie mutlak. Menuai anggukan kepala setuju dari yang lainnya.
Flasback off
" Maafin Dirga semuanya, sebenarnya bukan pembantu di dalam rumah yang Dirga curigai, tapi seseorang yang malah sudah keluar dari rumah, yang adalah tersangka sebenarnya," batin Dirga menyesal kebohongan-nya. Ia dengan segera berjalan cepat, untuk menuju kantor dan sore hari-nya menjemput kembali Istri serta Anaknya yang di sembunyikan di dalam Mansion Wijaya.
Skip
Seminggu setelahnya
Terhitung sejak kemenangan, atas Tender proyek pembangunan gedung baru Mall yang sukses, lalu kembalinya Para investor di pihaknya. Membuat saham milik keluarga Wijaya kembali di atas, sebenarnya Ia tidak masalah mengenai kerugian. Tapi membiarkan lawan menang adalah hal paling pantang, bagi Ia Si Wijaya yang di kenal Arogan.
Jaya Dharma juga sudah mengumumkan, jika Rancangan bangunan yang kemarin di pamerkan adalah murni hasil tiruan. Membuat Jaya Dharma mengalami kerugian besar, bukan hanya kerugian tapi Dirga juga melayangkan surat gugatan yang sia-sia, karena Jaya Dharma menyerahkan kambing hitam tidak bersalah.
Sudah Dirga bilang, jika menyerahkan Jaya Dharma kepada pihak berwajib tidak akan membuat jera. Hukum rimba adalah satu-satunya, hal yang pantas di terima mereka.
Kehidupan Dirga akhir-akhir sungguh tenteram tanpa ada gangguan,bahkan Ia sudah bisa melanjutkan pencarian Manager, yang akan di tempatkan-nya di Hotel Luxury milik keluarga Wicaksono.
Seperti saat ini, Dirga sedang bermain dengan Anaknya, di Ruang bermain milik Gav yang ada di dalam rumah miliknya.
Kiara sedang ada di sampingnya, menyuapi Ia serta Putranya bergantian, dengan potongan buah apel, buah kesukaan kiciknya.
" Jadi Daddy udah bisa santai dong, waktu temenin Gav main?" ujar Kiara senang. Menyuapi Sang Suami yang geleng kepala, namun tetap menerima suapan darinya.
" Udah kenyang, jangan suapin lagi," ujar Dirga tidak singkron dengan mulutnya.
" Yee, katanya udah kenyang masih di caplok aja!" seru Kiara. Kemudian terkekeh senang, saat melihat Suaminya menjulurkan lidah meledeknya.
" Blee, sayang banget kalau di lewati," balas Dirga menggoda. Ia menaik-turunkan alisnya, dengan tangan menjawil pipi Istrinya gemas.
" Da da ain, da-udaan, ain,"
" Kuda-kudaan? Okay, Daddy jadi kuda-nya yah!" sahut Dirga semangat. Ia memposisikan tubuhnya layaknya kuda, sedangkan Kiara mengangkat Putranya menaiki punggungnya.
" Da da ain, tehe he he,"
" Jalan Daddy kuda, keliling dunia dengan kecepatan cahaya," seru Kiara senang. Ia memegangi Gav agar tidak terjatuh, dari atas punggung Suaminya.
" Lets go ...."
Di suatu tempat, bangunan tidak terpakai.
" Bagaimana, apa semua-nya sudah beres?" tanya Seorang pria dengan nada dingin.
" Siap, sesuai kehendak Tuan," balas Orang yang di tanya.
" Bagus, laksanakan segera, dalam waktu dekat mereka harus ada di sini," Ujarnya mutlak. Menuai anggukan kepala patuh, dari Orang yang di perintah.
" Siap, Tuan,"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Investor adalah orang perorangan atau lembaga baik domestik atau non domestik yang melakukan suatu investasi (bentuk penanaman modal sesuai dengan jenis investasi yang dipilihnya) baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.
Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak hadirin atau salah satu bentuk komunikasi. Presentasi merupakan kegiatan pengajuan suatu topik, pendapat atau informasi kepada orang lain.
Legalitas adalah pengesahan di dalam hukum.
Hak paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
Kambing hitam adalah seseorang yang di jadikan korban, tanpa adanya keterkaitan.
Ikuti terus kisahnya ....
Jangan lupa sematkan komentar dan klik jempolnya yah ...
Serta vote dukunganya ...
__ADS_1
Sampai babai
Terima kasih