
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Aldy maldini__Biar aku yang pergi.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Disneyland resort, Hong Kong.
Masih di dalam labirin, Queeneira dan Ge saat ini sedang berjalan menuju gerbang keluar. Di depan sana mereka melihat rombongan temannya, sepertinya sedang menunggu mereka yang akhirnya sampai juga di hadapan semuanya.
Selyn mengernyit bingung, saat tidak mendapati Mamas tampannya, yang seharusnya jalan bersama dengan Mbanya.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, namun ia sama sekali tidak menemukan batang hidung sang kakak.
"Loh ... Mba Que, Mas mana?" tanya Selyn dengan ekspresi khawatir, menatap Queeneira dengan yang segera melihat ke belakangnya, untuk mencari keberadaan sahabatnya.
"Sepertinya mereka masih asik melihat miniatur di dalam," batin Queeneira dengan perasaan tak menentu.
"Tadi kita terpisah, kamu tenang aja. Mas sudah kirim pesan untuk menunggu, kan?" jawab Queeneira menenangkan, bertanya tentang pesan yang ia terima juga dari sahabatnya.
"Pesan?" beo Selyn, kemudian buru-buru mengambil handphone dari tas kecilnya, membuka aplikasi pesan dan menemukan jika benar, sang kakak telah mengirimnya pesan singkat.
"Iya, El tidak tahu, Mba," gumam Selyn pelan.
Dalam hati ia merutuki kejadian tadi, saat ia di seret dan ikut begitu saja Mba teman Mamasnya.
Ia sedikit sebal, namun bagaimana lagi ia tidak boleh terlalu menunjukkan jika ia tidak suka, ia tidak mau Mamasnya kecewa dengannya.
"Isk ... Menyebalkan," batin Selyn mendengkus.
Dengan cepat ia mengetik balasan untuk sang kakak, mengirim pesan untuk bergegas ke gerbang keluar, dan tidak berlama-lama di dalam sana.
Setelah pesan terkirim, ia menunggu balasan lagi dan balasan pun datang, hingga akhirnya ia bisa bernapas lega.
"Huft ... Tapi, kenapa bisa kak Ge dengan Mba Que yah," batin Selyn bingung.
Ia tidak berkomentar ketika melihat kedekatan Mba dan kakak kelas, saat Mbanya menampilkan ekspresi santai. Selagi itu bukan ekspresi malu ataupun tersipu, ia tidak akan mengacau. Ia juga yakin, jika Mbanya hanya menganggap kakak kelas itu kakak kelas biasa saja tidak lebih.
Tidak lama kemudian, mereka melihat dua orang yang mereka kenali sedang jalan ke arah mereka. Dari kaca mata penglihatan seorang Selyn, entah kenapa Mba teman sekelas kakaknya seperti menampilkan ekspresi bahagia, namun sang kakak sebaliknya.
Senyum devil merekah di bibirnya, saat ia sedikit tahu arti ekspresi wajah sang kakak. Ia jadi tidak sebal lagi, saat dua teman kakaknya menariknya untuk meninggalkan sang kakak, kalau ia bisa melihat dengan jelas, ekspresi seperti itu dari sang kakak.
Tapi ... Benarkah ini cara yang terbaik?
"Huh ... Dua mata pisau, salah-salah jadi boomerang," batin Selyn berpikir lagi.
"Sudah lama nunggu?" tanya Gavriel menatap rombongannya satu per satu.
"Maaf yah, kelamaan. Soalnya aku suka liat miniaturnya, keren-keren," timpal Keineira, ikut menjelaskan alasan mereka lama menemui rombongannya.
"Iya, nggak apa-apa kok Kei, iya kan, Rai," sahut Intan cepat, dengan Raiya yang mengangguk mengiyakan saat yang lain masih diam.
"Nggak apa-apa, Mba Kei. Tapi lain kali ingat yah, kita kemari ramai-ramai. Kalau bisa juga jangan terpisah seperti itu, El kan jadi khawatir," ujar Selyn, sedikit menyindir sehingga seseorang yang di panggil Kei pun merasa tertohok.
"Iya, maaf," gumam Keineira, menundukkan kepalanya saat mendapat sindiran halus dari adik temannya.
"El, jangan begitu. Mas nggak ajarin kamu bicara seperti itu," tegur Gavriel dengan nada aneh, sehingga Selyn pun tersentak kaget saat mendengar sendiri, jika sang kakak yang tidak pernah memarahinya, untuk kedua kalinya menegurnya dengan nada seperti itu.
Ia melihat sang kakak dengan ekspresi tidak percaya, saat kakaknya juga menatapnya namun tanpa ekspresi.
Suasana pun menjadi canggung, saat mereka terjebak dengan dua kakak-adik yang saling melihat dengan ekspresi tak terbaca.
Queeneira pun menghela napas, sedikit banyak ini adalah salahnya saat ia tidak mengejar sahabatnya, malah menyerah begitu saja sahabatnya jalan dengan teman sekelasnya.
"Aku harus apa," batin Queeneira melihat Gavriel dan Selyn bergantian.
__ADS_1
Ia tahu dengan jelas, jika Selyn hanya ingin membantunya mendapatkan sahabatnya.
"El, Gavriel. Kita lanjutkan jalan-jalan kita aja yuk. Hari semakin siang, nanti keburu kehabisan waktu," lerai Queeneira, menatap bergantian sahabatnya dan adik sahabatnya.
"Gavriel, El tidak bermaksud seperti itu. Kamu-
"Kalian lanjut saja, terserah kalian ingin kemana. Aku pass dulu."
Gavriel dengan cepat menyela kalimat yang ingin diucapkan oleh sepupunya, kemudian meninggalkan begitu saja adik, sepupu, sahabat dan teman seperjalanannya, saat ia merasa menyesal telah membuat suasana kacau.
Ia keluar dari taman bermain labirin, menuju tempat istirahat di ikuti oleh Keineira.
"Mas!"
"El!"
Ezra menarik tangan adiknya, membawanya untuk menghadap ke arahnya dan menatap Selyn dengan gelengan kepala pelan.
"Biarin dulu," gumam Ezra pelan.
Suasana pun menjadi canggung, setelah dua orang meninggalkan tempat mereka berkumpul saat ini.
Intan dan Raiya sedikit merasa bersalah, saat melihat ekspresi sedih di wajah imut adik teman sekelasnya. Tapi, saat mereka berpikir jika ini adalah yang terbaik untuk temannya, mereka menebalkan wajah, bersikap seakan-akan apa yang terjadi bukan kehendak mereka.
Sedangkan disisi Ge, Ardan dan dua lainnya juga merasa demikian. Entah kenapa mereka merasa jika ini adalah akibat mereka, yang memaksa ingin bersama-sama saat liburan seperti ini. Terlebih Ge, yang baru saja membuat adik kelasnya menampilkan ekspresi tidak bersemangat.
"Oke guys, kalian mau lanjut atau mau istirahat, seperti Gavriel? Kala-
"Kita lanjut aja Mas, El mau habisin sisa waktu liburan El dengan mengelilingi taman bermain. El mau bersenang-senang, bukan mau ngabisin masa liburan dengan duduk santai di taman. Oh iya, Mas Ar sama El yah, mau kan?" sela Selyn panjang lebar, berusaha melupakan kejadian tadi, serta memberi waktu sendiri untuk kakaknya yang otaknya sedang konslet.
"Boleh, kita keliling kemanapun El mau. Mas Ar akan temani El," sahut Ardan dengan ekspresi wajah berseri-seri.
"Oke Mas," timpal Selyn.
"El," panggil Queeneira, hingga Selyn pun menoleh ke arahnya, ekspresinya sedih namun di tutupi dengan baik oleh senyuman lebar.
"Iya, kenapa Mba?"
"Iya."
"El, sama Mas Ezra aja yah," bujuk Ezra namun sayang Selyn hanya menggelengkan kepalanya, kemudian menarik tangan Ardan yang pasrah begitu saja saat di tarik oleh adik imut di depannya.
"Tidak apa-apa, El sama Mas Ardan saja. Bye semuanya."
"El!"
Ezra mendesah lelah, dengan tangan menggaruk kepala kesal. Ia menoleh ke arah sahabatnya, yang juga melihat Selyn di ujung sana, berlari kecil dengan kakak kelas mereka.
"Quee-
"Aku sama Ge, Ez. Maaf," sela Queeneira, kemudian menarik tangan kakak kelas OSIS mereka, meninggalkan Ezra dan sisa lainnya yang sama-sama terdiam.
"Kita berdua ke tempat lain, kalian bisa ikut. Kalau mau," kali ini Didi dengan nada tidak enaknya, menyenggol lengan temannya, yang mengangguk mengiyakan.
"Mba ke tempat lain aja, nanti hubungi Mba aja kalau sudah selesai," tandas Susan, yang merasa suasana tidak bagus. Ia menatap tamu yang dibawanya, melihat dengan hati tidak habis pikir, saat kehadiran salah satu dari ketiganya bisa merusak suasana.
Tapi ia bisa apa, ia hanya pemandu yang bertugas memandu, bukan mengurusi urusan pribadi seseorang yang menyewanya.
Susan pun pergi ke arah berlawanan, menuju tempat yang hanya dirinya lah yang ia tahu. Meninggalkan Ezra, Intan dan Raiya yang saling menatap dalam diam.
"Kalian mau kemana?" tanya Ezra dengan nada datar, membuat Intan dan Raiya menelan saliva, gugup saat pertama kali seorang Ezra mengeluarkan nada dingin, karena biasanya Ezra berbicara biasa dan santai.
"Kita mau ke wahana jungle trek," jawab Intan berusaha menahan nada gugupnya.
"Oke, kita kesana," sahut Ezra. Kemudian berjalan lebih dulu, meninggalkan Intan dan Raiya yang mengekor dari belakang langkah lebar Ezra, yang hanya berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun kepada mereka.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
Queeneira dan Ge yang jalan menuju arah sebaliknya dari Gavriel duduk berdampingan. Saling diam saat mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Ge cukup tahu apa yang sedang dipikirkan adik kelasnya, ia juga tahu apa yang saat ini sedang dirasakan oleh adik kelasnya, jadi sebisa mungkin ia akan menjaga lisannya agar tidak mengganggu keterdiaman adik kelasnya saat ini.
Lalu Queeneira, yang diam tanpa bergerak sedikit pun lama-lama tersadar, jika ini bukan lah gayanya yang membuat orang lain merasakan kesedihannya.
Jadi, dengan helaan napas dalam, ia pun menoleh ke arah kakak kelasnya, yang juga langsung menoleh ke arahnya.
"Maaf."
"Eh!"
"Maaf, seharusnya aku ajak kakak berbicara. Bukannya malah diam saja," lanjut Queeneira menjelaskan, dengan Ge yang menggelengkan kepala menolak pernyataan Queeneira.
"Bukan, bukan lu yang salah. Kenapa lu meminta maaf," tandas Ge cepat.
"Oke, aku nggak salah. Kalau begitu, sebaiknya kita melewati hari ini dengan jalan dan melihat-lihat."
Ge tersenyum senang, saat merasa adik kelasnya bukan lah orang yang egois. Bagaimana bisa ada orang yang berhati lapang seperti Queeneira, padahal jelas-jelas apa yang tarjadi kurang lebih adalah ulahnya, tapi kenapa Queeneira masih menjaga sikapnya di hadapannya. Bukankah akan lebih baik jika Queene marah dengannya, alih-alih mengajaknya jalan dan bersenang-senang.
"Oke, gue ikut lu aja. Kemana aja lu mau, gue ikut," sahut Ge semangat.
"Oke, yuk!"
Dengan begitu, Queene dan Ge pun memulai jalan berdua mereka, dengan wahana yang lebih dekat dulu dari tempatnya duduk, baru kemudian ke tempat lainnya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Lalu Gavriel, yang saat ini sedang duduk dengan Keineira di sampingnya hanya diam. Tanpa niat beranjak sedikitpun.
"Gav, minum dulu," ujar Keineira dengan tangan mengulurkan sekaleng minuman dingin.
Gavriel tidak langsung menerimanya, ia melihat dengan hati tidak menentu saat teman sekelasnya tersenyum, masih dengan tangan mengulurkan kaleng minuman ke arahnya.
"Huft ... Sial."
Setelah mengumpat dalam hati, barulah ia menerima minuman dari Keineira, yang langsung tersenyum senang.
"Thanks," gumam Gavriel lirih, sambil membuka kaleng dan meminumnya sedikit.
"Tidak masalah," sahut Keineira.
Diam.
Gavriel masih asik dengan pikirannya, sambil memainkan bibir kaleng dengan jari telunjuk panjangnya. Sambil menatap ke arah depan, masih dengan Keineira yang setia duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu mengikutiku, Kei? Kenapa kamu tidak menghabiskan waktu liburanmu dengan teman-temanmu?"
Keineira yang sedang melihat sekeliling dengan sesekali meminum minum terdiam, saat Gavriel tiba-tiba bertanya alasannya mengikutinya, alih-alih bermain dengan dua temannya.
Ia menoleh ke arah Gavriel, yang masih menghadap ke arah depan, tidak meliriknya sedikit pun sedari awal.
"Karena aku ingin," cicit Keineira, masih menatap Gavriel yang akhirnya melihat ke arah dengan alis bertaut bingung.
"Kenapa?"
"Karena aku, karena aku suka kamu. Aku mau dekat dengan kamu, Gavriel."
"Kei."
"Gavriel, aku ....."
"Kei, aku ....
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ...
Terima kasih dan sampai babai.