
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Di tempat lainnya, disaat bersamaan.
Mong kok, Kowloon.
Mong Kok adalah surganya bagi mereka yang gemar berbelanja, masyarakat biasa menyebut daerah ini dengan nama Ladies Market, yang tepatnya berada di Tung Choi street.
Sesuai dengan namanya, Ladies Market adalah tempat menjual berbagai macam barang kebutuhan perempuan, seperti tas, sepatu, aksesoris, kosmetik, kaus, hingga dress dijual di sini dengan harga yang murah.
Di sini, bukan hanya ramai oleh pengunjung dalam negeri, tapi juga dari luar negeri yang sengaja datang untuk memburu barang-barang dengan harga miring.
Di sepanjang jalan daerah Mong Kok, berdiri stand pedagang, mulai dari yang sepetak hingga toko dalam ruko.
Di salah satu ruko, yang menjual pernak-pernik perempuan, ada tiga remaja yang berlibur dengan ditemani guide tour.
Ketiganya asik berbelanja, saat di sekitarnya tersedia banyak pilihan, mulai dari baju dan kebutuhan lainnya.
Mereka suka melihat barang-barang dengan kesan girly, jadi jangan heran saat mereka melihat aneka jenis aksesoris mata mereka tidak bisa dijaga.
Tiga orang itu adalah Keineira, Intan dan Raiya. Tiga teman ini sedang menikmati sesi belanjanya, dengan sesekali bertanya mengenai barang-barang yang menurut mereka bagus atau tidak, kepada satu sama lain disertai dengan kekehan senang.
"Eh! Yang ini bagaimana?" tanya Intan saat ia melihat baju, dengan model aneh namun unik menurutnya.
Ia memamerkan kepada dua temannya, yang langsung melihat ke arahnya, dengan pandangan menilai.
"Em ... Unik sih, tapi kalau di pakai di sana. Pasti aneh banget," ujar Keineira dengan penilaiannya.
"Iya, benar kata Kei. Kalau di sini, sepertinya pakai apapun pantas saja. Tapi tidak tahu deh, kalau di negara kita nanti," timpal Raiya dengan anggukan kepala pelan.
Intan mendesah kecewa, sambil meletakkan baju yang tadi ditunjukan kepada kedua temannya, ketempat di mana berjejer baju dengan beragam desain unik.
Akhirnya mereka pun kembali dengan acara belanja mereka, memuaskan rasa lapar mata mereka, saat di hadapan mereka menunggu jejeran jenis baju untuk dilihat.
Intan, yang bosan dengan pilihan aneka pakaian di hadapannya, iseng membuka akun sosial medianya, sekedar untuk memposting atau juga melihat posting, dari teman yang kebetulan memfollow akun medianya.
Ia menscroll layar sentuh handphonenya, membaca setiap story, postingan atau juga menekan follow saat ada akun baru, yang memfollow akun Instakilonya.
Kekehan senang akan terdengar dari celah bibirnya, saat matanya melihat kegiatan orang lain melalui postingan foto, dengan berbagai jenis kegiatan atau apapun itu.
Di saat ia sedang menscroll lagi dan lagi layar handphonenya. Ia dibuat kaget akan satu postingan, dengan foto berisi tiga orang yang sangat Ia kenali dari satu akun yang ia follow namun sayang belum juga di follback.
"Mereka di sana," gumamnya pelan, melihat layar handphonenya dan kedua temannya secara bergantian, dengan binar mata senang.
Ini adalah kabar baik, untuk temannya yang berharap bisa bertemu dengan seseorang itu, di saat liburan mereka saat ini.
Untuk memastikan lokasi yang saat ini tertera di dalam postingan, ia pun menghampiri guide tour yang saat ini sedang berdiri di depan toko, tepatnya sedang memilih barang juga, namun memilih di luar ruko karena harganya lebih dari sekedar miring.
Berdiri di samping si guide, Intan pun berdehem sehingga si guide, yang kebetulan juga seorang perempuan, melihatnya dengan senyum kaget.
"Ya? Sudah selesai, Mba Intan?" tanya si guide sopan.
Intan menggelengkan kepalanya, dengan tangan terayun cepat.
"Tidak, itu em ..."
Intan melihat lagi foto postingan temannya, kemudian menyebutkan nama dengan dahi mengernyit, saat menyebut nama daerah yang belum di datanginya.
"Kenapa, Mba?" tanya si guide penasaran.
"Ini ... Daerah, Sha-tin. Em ... Apa masih lama?" tanya Intan mengeja, baru kemudian menunjukan foto dari Instakilonya.
"Shatin?" beo si guide, yang dibalas anggukan kepala dari Intan.
"Iya, lihat ini," balas Intan, memerintahkan si guide yang ternyata belum melihat ke arah layar handphonenya.
Menuruti orang yang jadi tanggung jawabnya, si guide yang bernama Susan ini, melihat ke arah tamunya dengan senyum lebar.
"Oh! Patung seribu budha, agak jauh sih dari sini. Harus naik kereta atau bus, yah ... Kira-kira setengah jam lah."
Intan mendesah kecewa, saat tahu lokasi yang saat ini teman sekelasnya kunjungi, jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka saat ini.
Ia membaca lagi postingan dari teman sekelasnya, yang bernama Ezra dengan lebih teliti.
Di postingan itu terlihat pemandangan kota yang cantik sekali, lalu hastag dengan nama Shatin than Kowloon.
Mengernyitkan dahinya, Intan kembali melihat ke arah Susan yang juga masih melihatnya.
"Kalau Kow-lon?" tanya Intan dengan pandangan mata penasaran.
"Kowloon?" beo Susan memastikan.
"Iya!"
"kowloon cuma naik kereta dan melewati tiga stasiun, sekitar lima belas menit sampai. Kenapa, Mba Intan?" balas Susan menjelaskan, bertanya kepada Intan masih dengan nada penasaran.
__ADS_1
Setahunya, tamu yang saat ini ia dampingi, sama sekali tidak tahu nama daerah di sini, dan sekarang di hadapannya, sedang bertanya kepadanya daerah yang belum mereka datangi.
"Benarkah, Mba Susan?" tanya Intan senang, memastikan jika yang ia dengar adalah benar.
"Iya, Mba. Kenapa? Mba mau kesana?" tanya Susan.
"Mau Mba, nanti saya bilang sama yang lain," balas Intan dengan nada semangat, baginya belanja bisa kapan lagi, saat ini yang paling penting adalah pertemuan dengan teman sekelasnya dulu.
"Baiklah, saya tunggu di sini ya, Mba Intan."
Setelahnya, ia pun dengan segera menghampiri kedua teman, yang ternyata sudah melipir jauh ke sana.
"Sepertinya, akan ada yang semangat," batin Intan dengan segala pemikirannya.
Puk!
Menepuk bahu temannya, Intan pun tanpa tendeng alih-alih menunjukan layar handphonenya, saat ia mendapati ekspresi bertanya dari teman, yang tadi Ia tepuk bahunya, Keineira.
"Lihat!" seru Intan dengan mata berninar-binar senang.
Keineira yang melihat apa yang di tunjukkan oleh Intan pun memandang ke arah layar handphone, dengan senyum merekah senang, membuat Raiya penasaran.
"Ini!"
"Apaan sih?" tanya Riaya saat melihat ekspresi dua temannya, yang sepertinya senang sekali.
"Lihat, lihat!"
Lagi-lagi Intan hanya berseru senang, saat satu temannya yang lain, bertanya kenapa mereka mengeluarkan ekspresi bahagia.
"Ap-
Riaya dengan sangat terpaksa menelan lagi, apa yang ingin ditanyakan olehnya. Ia segera dan tanpa permisi, merampas handphone milik temannya untuk melihat dengan jelas, apa yang tertera di layar handphone milik temannya.
"Ini Instkilo Ezra, kan?" tanya Raiya memastikan, menuai anggukan kepala semangat dari Intan, yang melihat ia dan Keineira bergantian.
"Aku sudah bertanya, sama Mba Susan di mana dan seberapa jauh, tempat yang saat ini dikunjungi oleh mereka," jelas Intan semangat.
"Lalu?"
"Katanya, jarak dari sini ke sana tidak terlalu jauh. Hanya melewati tiga stasiun dan perjalanan waktu, sekitar tiga puluh menit."
Yang paling senang adalah Keineira, saat ia memikirkan kemungkinan pertemuan mereka di sana. Ia sebenarnya bisa saja menghubungi dia, tapi ia takut nomer ponsel dia ganti. Ia baru memiliki nomor ponsel, tapi tidak dengan chat talk-talk.
Kalau sudah begini, ia menyesal saat dulu tidak sekalian meminta id talk-talk dia.
"Isk ... Ya sudah lah, pokoknya ini kalau habis ini bertemu, aku mau minta id-nya," batin Keineira dengan senyum lebar.
"Cie ... Ada yang senang pake banget," goda Intan saat melihat ekspresi semangat temannya.
"Iya aja sih."
Keineira hanya mampu melengoskan wajahnya, saat kedua temannya semakin gencar menggodanya. Dalam hati ia merutuki kejahilan dua temannya, yang selalu bisa membuatnya mati kutu.
"Udah ah! Mau berangkat tidak," ajak Keineira mengalihkan pembicaraan, namun sayang ajakannya ditanggapi dengan seruan yang semakin menggodanya.
"Cie!!!"
"Kalian ini!"
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Shatin, Hong Kong.
Masih di Shatin, tepatnya di patung seribu budha.
Rombongan dengan jumlah delapan orang ini, masih asik dengan kegiatannya. Meskipun sudah ada yang duduk, saat tidak kuat berkeliling saat harus naik anak yang jumlahnya tidak kira-kira.
Di sisi Gavriel, Ezra dan Selyn yang saat ini sedang berdiri, saat Gavriel balik menghampiri ketika beberapa saat lalu izin, untuk mencari satu dari mereka (Queene) yang belum juga kembali.
"Que, mana?"
"Mba Queene, mana Mas?"
Mendengar pertanyaan sama dari keduanya, Gavriel hanya bisa mengkat bahu pura-pura tidak tahu, namun tangannya yang disembunyikan di dalam saku mengepal erat.
"Kita tunggu saja," balas Gavriel dengan nada dingin. Nada yang sama sekali, belum pernah keduanya dengar, dari lisan seorang Gavriel jika di hadapan mereka.
"Ada apa ini?"
"Sepertinya ada yang tidak beres."
Baik Ezra maupun Selyn, hanya mampu berbicara dan bertanya dalam hati, saat mereka masih melihat ekspresi tidak biasa dari Gavriel.
Padahal tadi Gavriel, izin kepada mereka untuk mencari Mba atau juga Queeneira, tapi saat mereka bertanya dan jawaban tidak tahu adalah yang didengar mereka, mereka pun jadi curiga.
Tidak biasanya, seorang Gavriel menyerah saat mencari sahabat perempuannya, Queeneira.
Dulu pun seperti ini, jika saat itu Ezra tidak salah ingat, tepatnya saat mereka bermain petak umpet, sepupunya dengan tanpa henti mencari Queeneira, di saat ia dan Selyn menyerah karena Queene bersembunyi di tempat yang di luar dugaan mereka.
Dan Gavriel akan selalu menemukannya, tidak seperti ia dan Selyn, yang akan cepat menyerah saat sudah merasa tidak sanggup lagi.
__ADS_1
"Kalau gitu, El hubu-
"Mas bilang kita tunggu saja, El. Kenapa El, tidak dengar."
Gavriel tanpa sadar menyela perkataan adiknya dengan nada datar nan dinginnya, membuat Selyn yang hampir mengambil handphone dari tas kecilnya terdiam, dengan perasaan sakit saat pertama kali ini, ia mendengar nada seperti itu dari sang kakak untuknya.
Selyn tidak mengangkat wajahnya, saat ia masih mengatur linangan air mata, yang hampir menggenang di pelupuk matanya. Dan setelah merasa bisa mengatur emosinya, ia pun dengan ekspresi dibuat-buat mengangkat wajahnya. Kemudian mendengkus kesal, ke arah sang kakak yang menatapnya dengan ekspresi syok.
"Ah! Sepertinya Mas baru sadar, dengan apa yang dikatakannya," batin Selyn dengan senyum kecil menutupi sedihnya.
Ia belum tahu apa yang di alami oleh Mamasnya tadi, tapi sepertinya ia bisa sedikit menebak apa penyebab sang kakak beraksi seperti itu.
"El!"
Gavriel dengan suara tercekat, memanggil nama adiknya lirih saat ia sadar dengan apa yang baru saja diucapkan olehnya. Apalagi, dengan nada dingin yang tadi ia gunakan untuk sang adik juga sepupunya, yang hanya bisa diam menatapnya dan adiknya bergantian.
"El, maaf, Mas."
Gavriel menghentikan ucapannya, saat melihat adiknya yang menggelengkan kepala, lalu berikutnya adalah pelukan dari sang adik yang diterimanya.
Grep!
Gavriel menerimanya dan balas memeluk adiknya erat, seraya berbisik lirih dengan sang adik yang menggelengkan lagi kepalanya pelan.
"El, maafin Mas. Mas tidak bermak-
"Tidak Mas, Mas tidak salah. El yang tadi tidak dengar ucapan Mas," sela Selyn, sambil menghirup aroma khas sang kakak mencari penenang, saat ia menenggelamkan dirinya dalam rengkuhan hangat sang kakak.
"Kamu boleh hubung-
"Tidak, kita tunggu saja."
Lagi-lagi El menyela kalimat sang kakak, saat kakaknya merasa menyesal, dengan apa yang dilakukan oleh sang kakak kepadanya. Selyn menggelengkan kepalanya lagi, lalu mendongakan wajahnya ke atas, menatap sang kakak yang juga sedang menatapnya.
"Jangan pakai nada seperti itu lagi, Mas. Kalau Mas sedang berbicara dengan El. El, tidak suka," ujar Selyn menatap kakaknya dengan kalimat meminta, matanya bahkan hampir saja berkaca-kaca namun ditahannya.
Gavriel mengangguk dan kembali membawa Selyn, kedalam dekapannya dan juga melihat ke arah sepupunya yang ternyata sedang melihat ke arahnya.
"Maaf," ucap Gavriel tanpa suara, yang di angguki oleh Ezra dengan senyum kecil, sebagai balasan permintaan maaf darinya.
"Ini belum seberapa, tapi Mas sudah marah seperti ini. Apa ini belum cukup, Mas," batin Selyn sedih.
Skip
Tidak lama dari kejadian langka, seorang Gavriel yang dingin dengan adik dan sepupunya. Akhirnya, orang yang ditunggu mereka pun terlihat, berjalan santai saling bercanda dan terlihat akrab di penglihatan pribadi seorang Gavriel, yang lagi-lagi hanya bisa menatap datar ke arah keduanya.
"Bagaimana, kalian sudah puas jalan-jalannya?" tanya Queene bertanya kepada sahabat dan adiknya, dengan nada suara biasa.
"Sudah! Tapi kita belum punya foto berempat, El mau kirim buat Dadd dan Momm," sahut Selyn seperti tidak terjadi apa-apa. Sengaja menyembunyikan, saat ia merasa bukan waktunya mereka membahas ini, ketika ada orang luar di sekitar mereka saat ini.
"Wah! Betul juga, Mba hampir lupa. Baba pasti nanya deh," pekik Queeneira saat ingat akan janjinya kepada sang Baba, jika mereka akan rutin mengirim foto saat mereka berada di mana pun.
"Sebaiknya kita cepat ambil foto, setelahnya kita turun dan makan siang. Lihat sudah pukul berapa ini," tandas Gavriel, tanpa menoleh ke arah Queene, membuat Queeneira yang merasa keanehan sahabatnya, melihat ke arah Gavriel dengan ekspresi tidak mengertinya.
"Yah ... Sebaiknya kita cepat ambil foto, lalu turun dan makan," sahut Queene menyetujui apa yang tadi diucapkan oleh sahabatnya.
"Aku tahu tempat makan enak dan halal di sini, kalian mau ikut aku aja?" tawar Ardan, melihat teman dan adik kelasnya satu per satu.
Angguka kepala dan gumaman adalah yang diterimanya, membuat senyumnya mengembang saat ia merasa jika masih ada kesempatan untuknya, dekat dengan adik dari adik kelasnya.
Rombongan Gavriel pun mulai mengambil foto, dengan ekspresi senang namun juga ada kalanya ada yang canggung, saat dua orang ini (Gavriel dan Queeneira) saling bersentuhan.
"Maaf."
Hanya kata singkat itu, jika biasanya Gavriel ataupun Queeneira bahkan terlalu biasa dengan saling pelukan, jika sedang gelud atau juga saat Gavriel, sengaja membawa wajah Queeneira dipelukan ketiaknya.
Hal yang sekarang jarang, bahkan nyaris tidak mereka lakukan lagi, tepatnya saat salah satunya merasakan perasaan asing, yang awalnya ingin ia pelajari.
Empat lainnya yang tersisa, sesekali alam ikut mengabadikan gambar mereka, bersama adik kelasnya yang kebetulan dan berjanji akan jalan bersama lagi.
Setelah mendapatkan foto dengan view terakhir gambar kota, mereka pun bersama-sama turun, dengan pasangan berubah saat Selyn dengan cepat membawa Mbanya, untuk jalan di sampingnya alih-alih samping Ge seperti awal.
"Manja," dengkus Queeneira saat Selyn, menyandar dengan kekehan renyah di bahu Queeneira, yang tinggi badannya hampir sama dengannya.
"Biarin Mba, mumpung Mba belum ada yang punya," balas Selyn menyindir namun sayang, Queene hanya menanggapinya santai.
"Kamu yang tetap Mba pilih," timpal Queeneira dengan kikikan senangnya.
"Benarkah?" pekik Selyn, dan anggukan adalah yang didapat dari Queeneira, lalu keduanya pun tergelak bersama, sedangkan Gavriel menatap keduanya dengan bibir hampir tersenyum kecil.
"Tuhan, bolehkah aku marah?"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apakah Keineira akan bertemu dengan Gavriel dan yang lainnya?
Mau tahu?
Ikuti saja kisah selanjutnya.
__ADS_1
Emkoy sai.
Sampai babai.