Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Pernyataan Suka Dan Cemburu Buta


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan chen


Di depan gerbang rumah kakek dan nenek Queeneira, ada Queeneira dan Ge yang berdiri saling berhadapan, dengan Queene yang menatap si ketua OSIS sekolahnya dengan tatapan kaget.


"Queeneira, apa kamu menyukainya?"


"Apa?"


Queeneira tentu saja kaget dengan apa yang ditanyakan oleh kakak kelasnya, bagaimana bisa, kakak kelasnya bertanya seperti itu kepadanya dengan ekspresi santai.


"Bukan apa-apa kok, Queene. Gue cuma mau tahu aja. Lu nggak jawab juga nggak apa-apa," lanjut Ge dengan bahu terangkat seakan ia santai, namun justru sebaliknya dalam hati ia mengumpat dan ingin sekali menutup wajahnya, dengan kantung asoy saat ini juga.


Sepertinya ia sudah gila, karena seharian bersenang-senang dengan adik kelasnya, hingga ia lupa diri jika dirinya saat ini masih orang asing bagi adik kelasnya.


"Aku nggak ngerti kak, menyukai, menyukai siapa?" jawab Queeneira bertanya dengan ekspresi wajah tidak terbaca.


"Ya ... Tentu saja dia, siapa lagi."


"Dia? Dia siapa sih. Ngaco deh kak, kebanyakan makan kepiting ya? Sampai ngaco begini."


Queeneira mengelak dengan candaannya, saat kakak kelasnya bertanya dengan serius mengenai perasaannya, perasaan mengesalkan namun tidak bisa ia cegah, sehingga rasa itu semakin lama kian tumbuh di dalam hatinya.


"Aku serius Queeneira."


Diam, Queene pun terdiam saat Ge menyahuti kalimat candaannya dengan nada serius. Ia juga terdiam saat kakak kelasnya memajukan wajahnya, menatap matanya dalam dan tersenyum kecil di hadapan wajahnya.


"Mata lu selalu bersinar, waktu lu ada di dekatnya. Terlebih jika kalian sedang bersama," bisik Ge, membuat Queeneira segera menjauh dan pergi meninggalkan Ge, namun sayang Ge menangkap pergelangan tangannya, dan melanjutkan kata-katanya yang sungguh membuat Queeneira merasa aneh.



"Gue suka lihat senyuman lu, tampak bersinar melebihi cerahnya matahari. Tapi, gue nggak suka, waktu lu menampilkan ekspresi sedih."


"Menurut lu, gue kenapa coba?"


Ge bertanya setelah menyampaikan maksud hatinya. Tentang ia yang menyukai senyuman adik kelasnya, yang saat ini memunggunginya, dengan ia yang memegang erat lengan sang adik kelas.


"Bagaimana aku bisa tahu, saat kakak sendiri saja tidak tahu, kakak sedang merasakan apa kepadaku. Lagian, yang merasakan itu kan kakak, bukan aku," jawab Queeneira berusaha tenang, menjawab dengan pertanyaan pula saat ia sendiri tidak tahu, sebenarnya apa maksud yang ingin disampaikan oleh kakak kelasnya.


Kemudian Queeneira pun melepaskan genggaman di lengannya, berbalik menghadap ke arah kakak kelasnya, yang juga berbalik hingga akhirnya mereka saat ini kembali berhadapan.


"Terkadang rasa suka dan kagum itu bedanya tipis. Tipis sekali, sampai-sampai orang yang merasakan tidak bisa membedakan mana yang suka dan mana yang kagum. Tapi, waktu lah yang akan menjawab semuanya. Jadi, kakak harus segera membedakan perasaan kakak. Yang bertanya kepadaku, kenapa kakak seperti ini kepadaku."


Queeneira menyampaikan apa yang menurutnya benar kepada Ge, dengan hati-hati dan perlahan, berharap kakak kelasnya tahu dan mengerti apa maksudnya.


Ia tidak mau menjawab yang tidak-tidak, jika ujungnya nanti apa yang dijawabnya malah akan menjadi masalah untuknya sendiri.


Ia hanya berharap, kakak kelasnya bisa menyikapi rasa sukanya, dengan kejelasan yang sejelas-jelasnya. Sebelum kakak kelasnya akan merasa sakit, saat dirinya sendiri tahu jika ia hanya akan menyukai satu orang di hidupnya.


Satu orang yang dari awal sebenarnya sudah bersemayam lama di hatinya, namun baru akhir-ahkir ini ia sadari sebenarnya dia itu ternyata spesial dihatinya.


"Jadi, gue harus segera mengetahui alasan gue kenapa gini sama lu. Begitu maksudnya?" tanya Ge setelah mendengar jawaban tidak terduga dari adik kelasnya.


"Iya. Karena kakak juga harus tahu, kalau aku tidak bisa menerima siapa-siapa. Saat ada seseorang yang sudah lebih dulu menempati kursi di hatiku. Jadi, sebelum kakak punya rasa itu, aku harus mencegahnya lebih dulu."


Queeneira tahu apa yang di katakan olehnya sangatlah jahat dan tidak berperasaan. Maka itu ia berharap jika kakak kelasnya hanya bercanda, ia tidak apa di olok perempuan dengan rasa percaya diri tinggi, asalkan kakak kelasnya tidak membuat ia menanggung beban perasaan lebih dari ini.


Sedangkan Ge hanya mampu terdiam, dengan menahan perasaan nyeri di hati yang tiba-tiba saja menghujami jantungnya.


Sakit, namun tidak berdarah. Saat perasaan yang baru di sadari olehnya lebih dulu di pangkas, dengan pernyataan yang ia sadari juga, jika apa maksud dari perkataan adik kelasnya adalah untuk kebaikannya sendiri.


Kebaikan agar ia tidak terlalu berharap dan memaksa, akan perasaan yang dimilikinya untuk adik kelasnya, Queeneira.


"Nasib euy, sekalinya suka, di tolak dengan cara halus begini. Tapi setidaknya gue udah berani bilang, kalau gue suka sama senyumnya."

__ADS_1


Ge hanya mampu mengutarakan rasa sakitnya dalam hati, namun bibir tersenyum kecil saat melihat adik kelasnya, yang berdiri di hadapannya dengan senyum kecil namun tetap bersinar dipenglihatannya.


"Kejam sekali, tapi ... Gue masih boleh kan, dekat sama lu," pinta Ge dengan nada pura-pura sedih.


"Sebagai apa?" tanya Queeneira cepat.


"Adik, tentu saja seorang adik. Dan juga gue nggak akan mencabut kata-kata gue yang tadi. Kalau gue suka saat melihat lu tersenyum," jawab Ge dengan lugas, saat mengulangi perkataannya di awal saat ia memegang tangan adik kelasnya.


"Oh iya, terima kasih untuk hari ini. Next, jangan tolak ajakan main dari gue yah, gara-gara gue ngomong gini sama lu," lanjut Ge saat Queeneira hanya diam, tanpa niat menanggapi perkataannya.


Untuk sesaat Queeneira memang diam saja, mendengar dengan perasan tidak enak ketika kakak kelasnya, menampilkan ekspresi wajah sedikit muram namun bibir tetap tersenyum.


"Baiklah, kalau kakak butuh teman untuk main boleh kok ajak aku. Aku nggak akan menolak, jika itu bisa membuat hubungan kakak-adik kelas ini tetap berjalan," sahut Queeneira dengan nada ceria, kembali seperti Queeneira yang dulu. Queene yang disukai oleh Ge saat si empunya nama Queeneira, tersenyum dengan tulus ke arahnya seperti saat ini.


"Benar yah, janji harus di tepati loh," timpal Ge dengan mata memicing, kemudian tersenyum lebar saat Queeneira mengangguk ke arahnya.


"Iya, janji kak."


"Bagus!"


"Ge ... Oy, ngapain kalian berdua di luar?"


Seruan dari Ardan, yang saat ini sedang berdiri di depan pintu dengan Selyn, membuat Ge dan Queeneira melihat ke arah asal suara.


"Nggak, nggak ada apa-apa," sahut Ge dengan suara sedikit keras. Kemudian kembali melihat adik kelasnya, yang juga melihat ke arah temannya di sana.


"Yuk! Sudah malam, besok gue sama Ardan udah balik ke kota S. Kalian kapan?" ajak dan tanya Ge, setelah memberitahu perihal kepulangan mereka esok hari.


"Kami juga besok, tapi kami ngambil penerbangan sore. Kalau kakak?" tanya Queeneira balik.


"Kami jam enam pagi sudah harus di bandara. Sayang sekali yah, kita tidak bisa pulang bersama," jawab Ge dengan nada sedih.


"Kalau begitu hati-hati di perjalanan besok. Semoga selamat sampai tujuan, sorry kak besok tidak bisa mengantar," sahut Queeneira meminta maaf, sehingga Ge pun mengangguk menepuk kepala Queeneira refleks.


Puk! Puk! Puk!


"Tentu saja, terima kasih sekali lagi. Sampai jumpa nanti di sekolah," gumam Ge, tidak peduli saat adik kelasnya terkejut akan perbuatannya.


Yah ... Ia merasa jika alasan ia bisa menerima keberadaan kakak kelasnya, karena ia nyaman sebagai adik dengan kakaknya.


Ia bisa membedakan perbedaan perasaan yang dirasakannya, saat ia mendapat tepukan di kepala dari kakak kelas dan juga dari sahabatnya.


Perbedaan yang sangat kentara, saat sahabatnya memberikan afeksi debaran, sedangkan kakak kelasnya tidak sama sekali.


"Gue balik, lu juga nanti hati-hati di perjalanan pulang besok. Bye, Queene."


"Um .. Tentu. Bye juga kak."


Setelah mengucapkan salam perpisahan, akhirnya Ge dan Ardan pun pulang ke tempat mereka, menaiki bus besar dengan tujuan Sathin.


Sepeninggalnya dua kakak kelasnya, Queeneira tidak dulu masuk seperti yang di lakukan Selyn, yang tanpa banyak bicara masuk ke dalam kamar dan segera mandi, membersihkan diri saat dia merasa gerah.


Queeneira lebih memilih berdiri di teras rumah kakeknya, dengan alasan menghilangkan keringat dan mencari angin segar, sebelum masuk dan bergantian mandi dengan Selyn.


Queeneira melihat ke arah depan, di mana ada jalanan yang sepi tanpa ada orang yang lewat satu pun. Dalam hati ia berpikir, jika saja ia punya keberanian seperti kakak kelasnya, untuk jujur dengan perasaan yang ia rasakan kepada sahabatnya. Mungkin kah ia juga akan mendapat jawaban seperti kakak kelasnya barusan, yang mengatakan jika sahabatnya ternyata sudah punya orang lain, yang menempati kursi spesial di hatinya. Seperti ia yang sudah menempatkan sahabatnya di kursi hatinya, untuk menolak kehadiran kakak kelasnya yang ingin singgah di hatinya.


Ia tidak ingin membuka harapan, jika nyatanya ia sudah memiliki seseorang di hatinya.


Karena baginya, memberi harapan dengan sikap pura-pura menerima adalah perbuatan jahat. Dan ia bukan orang yang seperti itu, ia tidak ingin melakukan itu kepada orang baik, sebaik kakak kelasnya yang sudah mengalihkan rasa kecewanya dengan memberi rasa bahagia. Saat mereka menghabiskan waktu bersama, dengan perbuatan sederhana namun cukup membuatnya tertawa.


"Terima kasih, aku bahagia, ak-


"Tentu saja kamu bahagia, Que. Bisa jalan dengan dia, berpegang tangan dan tertawa bersama, bagian mana yang membuat kamu tidak bahagia."


Queeneira segera membalikkan tubuhnya, menghadap seseorang yang tiba-tiba menyela gumamamnya, dengan nada datar dan dingin khas yang sudah dihafalnya.


Di depan pintu, berdiri Gavriel, yang bersedakap tangan dan menyandarkan tubuhnya di daun pintu, menatapnya tanpa ada emosi yang membuatnya seketika merasakan perasaan tidak nyaman.


Ini adalah tatapan datar pertama untuknya, dari sahabatnya yang biasanya menatapnya hangat.

__ADS_1


"Gavriel."


"Hn."


Suasana pun hening saat Gavriel hanya bergumam menyahuti ucapan Queeneira, yang memanggil namanya dengan suara pelan.


"Gavriel, kamu, kamu sejak kapan di situ?" tanya Queeneira setelah merasa aneh, dengan keterdiaman ia dan sahabatnya.


Gavriel yang masih menyandar di daun pintu akhirnya berdiri tegak, berjalan perlahan menghampiri Queeneira, yang sama sekali tidak bergerak untuk berpindah tempat. Seakan dirinya di paku dengan tatapan tajam dari Gavriel, yang akhirnya sampai juga di hadapannya.


"Apa kamu takut Que, kalau aku mendengar lebih banyak rasa bahagiamu, saat mengingat kegiatan kalian hari ini, heum?"


Queeneira mengernyit dahi bingung, saat Gavriel dengan aneh mengatakan rasa takutnya, jika ketahuan sedang bahagia karena memikirkan kejadian hari ini.


"Apa maksudnya? Kenapa aku harus takut?"


"Akui saja Queeneira, jika kamu punya rasa dengan kakak kelas kesayangan kamu itu," ucap Gavriel sedikit emosi saat ia terbawa suasana, tanpa tahu jika perkataannya membuat Queeneira merasa marah, kerana dituduh yang tidak-tidak.


"Aku, punya rasa, dengan kak Ge. Oh my, Gavriel. Tahu apa kamu tentang rasa?" tanya Queeneira ikut sedikit kesal, saat Gavriel dengan sok tahu, menuduhnya dengan tuduhan yang sungguh luar biasa sekali.


"Tentu saja aku tahu, kamu sendiri yang bilang kalau kamu bahagia. Tadi, baru saja, di sini," jawab Gavriel dengan nada datar, menatap sahabatnya dengan cemburu yang terlihat nyata di kedua bola matanya.


Yah ... Sebenarnya Gavriel hanya sedang cemburu, akan gumaman tidak lengkap yang di ucapkan oleh Queeneira tadi. Tapi sayang sekali, Queeneira tidak melihat itu saat ia sendiri merasa marah akan tuduhan tidak benar Gavriel, yang menyangka dirinya menyukai kakak kelas mereka.


"Iya aku bahagia, Gavriel. Bahkan aku lebih bahagia saat aku sedang bersamanya, dibandingkan saat aku sedang bersamamu. Kamu juga benar, jika aku memang menyukainya. Lantas, apa hubungannya denganmu, Gavriel. Katakan, siapa kamu untukku?"


Deg!


"Karena kamu sudah tahu aku menyukainya, kamu lebih baik tidak usah dekat denganku lagi. Aku ingin menjalin hubungan dengannya, aku tidak ingin karena aku dekat denganmu, hubungan aku dan kak Ge berantakan."


"Apa maksudmu, Queeneira?"


"Urus saja urusanmu sendiri, Gavriel. Jangan ikut campur lagi masalah pribadiku. Perhatikan saja perempuanmu, bukan kah kalian juga saling suka? Lalu, kenapa kalian tidak bersama saja. Jadi, kita sama-sama memiliki pasangan. Kamu dan dia, dan biarkan aku bahagia dengan yang lainnya."


"Dia? Dia siapa? Jangan membahas sesuatu yang di luar pembahasan, Queeneira. Saat ini aku sedang membahas kamu dengan kakak kela-


"Gavriel, jika kamu memang tahu mengenai perasaan orang lain. Seharusnya kamu mengerti perasaan diri sendiri lebih dulu. Jangan sakiti aku dengan perasaan sepihak ini dan jangan sakiti aku dengan tuduhan ini."


"..."


Gavriel terkesiap mendengar perkataan dengan nada kecewa dari sahabatnya. Ia melihat dengan hati berdenyut nyeri saat sahabatnya mengatakan, jika ia menyakiti dengan perasaan sepihak.


Siapa yang mencintai siapa, sehingga sahabatnya menyatakan dengan jelas, jika sahabatnya saat ini sedang sakit hati.


"Queeneira, kamu ..."


Gavriel tidak melanjutkan ucapannya, saat melihat pupil mata Queeneira yang melebar, melihatnya dengan ekspresi wajah kaget namun lega disaat bersamaan.


"Lupakan, anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa. Selamat malam."


Setelah mengatakan itu kepada Gavriel, Queeneira pun pergi begitu saja meninggalkan Gavriel, yang saat ini masih mencerna apa maksud ucapan sahabatnya.


Ia pun berbalik, menghadap ke arah pintu hendak bertanya lagi, tapi sayang Queeneira sudah lebih dulu masuk, menutup pintu dengan kuat dan menimbulkan debaman keras setelahnya.


Brak!


Membalikkan tubuhnya ke arah belakang lagi, Gavriel mengumpat saat mengetahui kenyataan, jika sekarang rasa cemburunya ternyata sudah memasuki tahap bahaya. Hingga ia selalu merasa lepas kendali, saat sudah berhadapan dengan sahabatnya, yang membuatnya selalu bisa merasakan perasaan cemburu buta.


"Fak, sial-sial-sial."


Ia mengumpati diri sendiri, dengan tangan mencengkram pagar teras erat.


"Bisa aja kan, bahagia yang dia maksud bahagia yang lainnya. Kenapa kamu selalu seperti ini Gavriel, jika sedang ada di hadapannya, bodoh."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2