
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya
Kamar Gavriel
"Kerena tidak selamanya kita bersama, ada masanya kalian bersama seseorang yang kalian cintai, bergandengan tangan dengannya, menjemput mereka, melakukan kencan serta berbagai hal lainnya."
"Aku hanya tidak ingin jadi garis di antara kalian dan seseorang itu kelak, tapi kalian tenang saja. Meskipun aku nanti memiliki seseorang dalam hatiku juga, tapi aku jamin kalian adalah prioritasku."
"Jangan di bawa serius, ini hanya pikiran sesaatku, aku hanya ingin kalian tahu, jika kalian adalah segalanya untukku."
Di kamarnya, Gavriel yang mengingat kata-kata dari sahabat perempuannya terdiam, melihat ke arah foto mereka berempat, saat mereka sedang libur musim panas bersama.
Di foto itu hanya ada senyum polos, tanpa ada embel-embel ini dan itu.
"Sebenarnya, kenapa Queene membahas seseorang yang di cintai dan kenapa juga dia bilang garis pembatas?" gumamnya kemudian terdiam.
Ia merasa jika sahabat perempuannya aneh sekali, jika pun nanti ia memiliki seseorang yang ia cintai, belum tentu pula ia akan serta merta meninggalkan sahabatnya.
Bahkan jika seseorang yang ia cintai bisa memisahkan ia dan para sahabatnya, ia akan lebih memilih para sahabatnya.
Jika sahabat perempuannya saja menjadikan mereka prioritas, kenapa ia juga tidak menjadikan mereka prioritas.
"Ini sangat aneh, aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya."
Ia bingung kenapa sampai harus membawa nama persahabatan.
Jika pun nanti ia memilikinya, ia akan selalu mengajak sahabat dan seseorang itu untuk saling menerima satu sama lain.
Ia akan memastikan jika seseorang yang ia cintai, juga mencintai sahabat dan semua orang di dekatnya.
Saat ini yang ia tahu adalah ia mulai meras-
Tok! Tok! Tok!
Gavriel tersentak kaget saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pintu kamar.
Ceklek!
"Yo!" sapa seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Sendirian?" tanyanya, saat hanya melihat penampakan satu sahabatnya.
"Yup ... Que tidak bisa ikut, dia bilang lagi itu. Entah itu apa," balas seseorang yang adalah Ezra.
"Itu? Itu maksudnya apa sih?" tanya Gavriel bingung.
"Mana aku tahu, dia bilang cuma lagi itu tanpa penjelasan."
Ezra pun memasuki kamar Gavriel tanpa sungkan, rebahan santuy sebelum membuka handphone miliknya.
__ADS_1
"Eh, Gav!"
"Hn?" balas Gavriel menutup pintu, lalu berjalan kembali menuju meja belajarnya.
"Kamu, masih ingat ucapan Queen tadi siang?" tanya Ezra melihat Gavriel, yang juga melihatnya dengan alis terangkat.
"Masih, kenapa?"
"Queene kenapa sih? Apa tadi ada yang terjadi, saat kalian jalan bersama ke kelas?" tanya Ezra to the point.
Seperti Pipi dan Miminya, Ezra bukan tipe yang bicara pake kiasan, ia lebih baik berbicara frontal tapi masih dalam batasan.
"Maksudnya?" tanya Gavriel tidak mengerti.
"Ck ... Tadi pagi kalian jalan bersama bertiga? Kamu, Queene dan Kei. Apa ada yang terjadi?" tanya Ezra menjelaskan.
Queene terlalu mudah di tebak, raut wajahnya selalu mencerminkan apa yang sedang di rasa.
Bahkan pada saat sahabat perempuannya bilang seseorang yang di cintai, matanya tidak lepas dari wajah sepupunya.
Meskipun ia tidak tahu Queene menanggap sepupunya seperti apa, tapi yang jelas Queene sedang merasa terancam akan keberadaan perempuan lainnya, yang sedang dekat dengan sepupunya saat ini.
"Maksudnya apa sih, Ez?" tanya Gavriel semakin tidak mengerti.
"Haih! Gavriel, otak itu di pakai bukan cuma untuk pelajaran. Makanya Tuhan menciptakan hati, agar kita juga berpikir bukan hanya pakai otak!"
Gavriel yang merasa sedang di ledek oleh sepupunya, dengan sengaja melempar penghapus yang ada di meja, mengenai tepat sasaran kening Ezra, yang mengaduh seketika.
Three poin shoot
"Bangke Gav, sakit oi!" seru Ezra dengan tangan sibuk mengusap keningnya, yang ada cap berwarna merah.
"Suruh siapa, bilang otak, hati dan apalah-apalah itu. Aku kan tidak mengerti, kenapa bawa-bawa hati dan otak, yang bangke berarti bukan aku."
Gavriel tetap dengan nada absolutnya, membalas perkataan sang sepupu yang ngeromet, menyumpah serapahinya dengan umpatan persis seperti unkel dan daddynya.
"Oke ... Jelasin apa maksud kamu, berbicara seperti itu?" tanya Gavriel serius.
"Ck ... Guru-guru salah nih, bilang kamu jeniu- oi-oi jangan yang itu, kamu mau kepala aku penyok?"
Ucapan ngawur Ezra berganti dengan seruan panik, saat Gavriel mengangkat kamus bahasa jerman dengan tebal tidak kira-kira, seperti hendak melempar ke arahnya.
"Makanya jangan sibuk ngegerutu, jelaskan apa maksudnya," sembur Gavriel mengembalikan lagi kamus di tangannya.
Penghapus saja lemparannya bisa sakit, apa lagi kamus tebal seperti itu, alamat wajah tampannya berganti rupa.
"Oke, fine. Aku jelasin," ujar Ezra menyerah.
"Kamu tahu kan, selama ini hampir tidak ada perempuan lain, selain Queene dan El ada di sekitar kita. Bahkan saat kita hang out seperti kemarin."
Ezra menjeda kalimatnya, melihat bagaimana sepupunya mengangguk membenarkan.
"Lalu?"
"Aku sebenarnya sudah merasa, jika sebenarnya Queene tidak nyaman dengan kehadiran mereka."
__ADS_1
"Mereka? Maksudnya Kei dan teman-temannya?" tanya Gavriel yang di balas anggukan kepala oleh Ezra.
"Yupz!"
"Bukankah Queene dan El yang mengizinkan?" tanya Gavriel masih belum mengerti.
Bukan ia yang mengizinkan, kenapa ia yang merasa seperti sedang di salahkan.
"Hais ... Gav, Queene bukan orang yang akan menunjukkan sikap tidak sopan, terlebih itu adalah teman sekelas, yang akan tiap hari bertemu dengannya."
"Ya aku tahu Ez, lalu hubungannya apa?" tanya Gavriel gemas.
Ezra menghela napas, saat mendengar pertanyaan tidak peka dari sepupunya.
Sepertinya sifat ini berasal dari sang Mommy, yang orangnya lama saat merasakan perasaan.
Merasa percuma jika ia membahas dengan penjelasan, yang ia sendiri bingung, ia pun kembali pada sifat to the pointnya.
"Kalau aku bilang, Queene merasa terancam dengan kehadiran Kei, apa kamu akan mengerti, Gav?"
Deg!
Gavriel tersentak kaget, saat sepupunya membawa-bawa Kei dalam pembahasan mereka.
"Kenapa sama Kei?" tanya Gavriel menelan salivanya gugup.
"Queene merasa kalau kamu akan meninggalkannya, dan kamu akan lebih memilih Kei untuk jalan di sampingmu."
Ezra menatap sepupunya serius, saat melihat ekspresi mencurigakan dari sepupunya.
Sudah pasti ... Queene saja merasa, apalagi ia yang selalu berbagi mainan dan apapun dengan sepupunya.
"Ak-aku nggak gitu, kalian hanya berlebih."
Nada gugup dari Gavriel membuatnya semakin yakin, jika sepupunya sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.
"Gav ... Selama ini hanya Queene yang ada di hidup kamu," ujar Ezra menatap Gav tidak biasa.
"Karena dia sahabatku," balas Gavriel cepat, balik menatap sepupunya.
"Gav ... Apa kamu nyaman dengan kehadiran Kei di sekitarmu?"
"Apa?"
"Apa kamu suka dengan Kei?"
"Hah!!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah selanjutnya
Sampai babai.
__ADS_1