Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Curcol Suami Istri


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya Muda


Pukul. 23:00 Wks.


Ini sudah seminggu berlalu, sejak hari di mana Dirga and family Jalan-jalan perdana.


Saat ini di kamar ada Kiara, yang sedang meletakkan Gav yang tertidur di ranjang bayi.


Sedangkan Dirga, yang beberapa hari ini tumben pulang jam 7 malam, seperti biasa Langsung melanjutkan pekerjaannya, di atas ranjang setelah bermain dengan Gav.


Kiara berjalan ke arah Dirga, yang di pangkuannya ada Laptop, Ia lalu duduk di samping Suaminya dengan kepala menyandar manja.


Dirga sendiri yang merasakan beban berat di pundaknya, menoleh ke arah rambut beraroma shampo yang langsung Ia kecup sayang.


" Capek?" tanya Dirga singkat, dengan mata yang tidak lepas dari deretan huruf dan angka di layar Laptopnya. Satu tangannya mengusap rambut Istrinya, sedangkan yang satu seperti biasa menekan Touchpad di keyboard Laptopnya.


" Nggak yank"


" ... "


Suasana hening, saat tidak ada lagi jawaban dari Suaminya. Kiara pun mengangkat wajahnya dari lengan terbuka Suaminya, Ia melihat ke arah wajah Suaminya yang terlihat lelah. Ia tahu suaminya sengaja menunda pekerjaan, hanya demi bisa bermain dengan Kicik kesayangan mereka.


" Kamu yang lelah yank." ujar Kiara, bukan bertanya lebih ke pernyataan yang benar adanya.


Dirga menghela nafas, lalu tersenyum jahil.


" Oke aku memang lelah, kalau gitu kamu tahu nggak, caranya biar aku nggak lelah lagi?" tanya Dirga, melihat wajah Istrinya yang mengangguk semangat.


" Tahu!"


" Apa?"


" Aku buatin kopi, lalu aku pijitin bahunya. Pasti lelah kamu hilang seketika, bagaimana?" Seru Kiara polos, memandang Suaminya yang malah mendengus.


" Salah" balas Dirga, tanpa basa-basi.


" Loh kok salah, terus apa dong?" tanya Kiara penasaran, dimana-mana kalau lelah ya di pijat.


" Masa sih, di pijat nggak hilang lelahnya?" batin Kiara, dengan kening berkerut.


Tuk


" Ouch ... Yah sayang, sakit loh!" pekik Kiara kesakitan, saat keningnya di ketuk oleh 2 jari panjang milik Suaminya.


Kiara melotot kesal ke arah Dirga, yang malah geleng kepala.


" Jawabannya salah, jadi di kasih hukuman." ujar Dirga tanpa dosa, malah terkekeh saat lengannya di gigit oleh kiara gemas.


" Terus apa dong?" tanya Kiara menyerah.


" Menurut kamu?" tanya Dirga balik.


Hampir saja pertanyaan Suaminya membuat Kiara memekik kesal, jika Ia tidak ingat ada Gav yang baru saja tertidur.


" Apa, aku kan nanya. Kenapa balik bertanya sayang?" tanya Kiara gemas, ia menggigit lengan Dirga lagi dan lagi saat Suaminya semakin mengerjainya.


" Ahaha ... Oke fine, nanti aja aku kasih tahunya. Sekarang kasih tahu Aku, apa yang mau kamu ceritakan." ujar Dirga, yang sebenarnya tahu apa yang di rasakan Sang pemilik hati. Ia menyingkirkan Laptopnya, meletakkannya di atas nakas bersama dengan Handphone miliknya dan Istrinya.


Kiara nyengir dengan senyum gigi kelincinya, membuat Dirga tidak tahan untuk mengecupnya.


Cup


" Ceritakan sekarang atau kamu mau cerita sambil melakukan hal menyenangkan?" ancam Dirga ambigu, tapi Kiara yang radar anti mesumnya sudah sedikit terasah, melotot garang dengan warna merah di pipinya.


Krauck


" Aaa ... Agg"


Dirga meringis tertahan, saat Istri kucing manisnya menggigitnya bar- bar. Kali ini bukan gigitan manja, tapi benar-benar di gigit. Hingga meninggalkan jejak 2 gigi besar, di lengannya yang saat ini sengaja tidak pakai apa-apa. Kebiasaannya yang tidak pakai baju, masih belum bisa di hilangkan olehnya.


" Rasakan."


Dirga mengusap lengannya, yang berhiaskan 2 jejak gigi kelinci di antara otot lengannya, yang akhir-akhir ini jarang terlatih.


" Dasar kucing" dengus Dirga. Kedua tangannya mengapit pipi Kiara, sehingga bibir Istrinya mengerucut layaknya bebek.

__ADS_1


" Okheg ... Akhuw cewitha yhanwnk"


" Heum?" gumam Dirga dengan senyuman semakin lebar, penuh janji kesakitan.


" Ciwues"


" You got it" gumam Dirga, melepas pipi Kiara setelah mengecupnya kecil.


" Sakit, ja' at ih." Seru Kiara manja.


Dirga terkekeh, merasa sudah lama tidak bermanja seperti ini. Ia selalu pulang di jam 10 atau 12 malam, di saat kesayanganya sudah Tidur lelap.


" Mianhe ... ( maaf )" Gumamnya, dengan tangan mengusap pipi Istrinya lembut.


" Um ... " gumam Kiara panjang, meresapi kelembutan yang Suaminya berikan. Sudah lama Ia tidak bermanja, Ia sangat rindu akan segala hal yang ada pada diri Suaminya.


" Jadi mau Curcol apa? " tanya Dirga sekali lagi. Ia menghadap ke arah Istrinya, sehingga Kiara pun ikut menghadap sepenuhnya ke arahnya.


" Tentang asisten rumah tangga kita" gumam Kiara pelan, membuat alis Dirga terangkat sebelah gagal paham.


" Gosip kok soal pembantu, nggak elit banget." Batinnya nggak habis fikir.


" Lalu?"


" Bukan Bi Titin atau Bi Ana loh, sayang." Lanjutnya.


" Ya jadi?" tanya Dirga, masih belum paham.


Hei ... Bukan kapasitasnya membahas kinerja pembantu, Ia seharian mengurus berkas. Ia mana ada waktu, menilai kerjaan yang sangat jarang ia lihat di lapangan.


" Anita! " ujar Kiara cepat, belajar dari Suaminya, entah kenapa alarm bawah sadarnya berbunyi.


Jadi sejak seminggu yang lalu ada yang aneh, apalagi saat Ia menemui lemari pakainya ada baju yang jatuh. Sedangkan Ia merasa selalu rapih, jika meletakkan barang pribadinya, apapun itu.


Lalu ketika ia tanya siapa yang membersihkan, ternyata adalah Anita, karena selama ini Bi Ana yang masuk ke kamarnya dan tidak pernah ada, kejadian baju di gantung terlepas dari hanger.


Belum lagi Ia mendapat laporan dari Bi Titin atau Bi Ana, tentang kelakuan aneh Anita. Seperti mencium Gav berlebihan atau bahkan menciumi jas yang sejak Anita bekerja, selalu Anita yang membawanya ke tempat pencucian.


Ia curiga, jika ada hal aneh. Ini bulan ke 6 mereka bekerja, Ia akui jika kerjaannya selalu rapih. Bahkan Gav pun nyaman, jika sedang bermain dengan Anita. Tapi mengingat lagi perkataan Dari Bi Titin, yang Ia percaya sebagai ketua, untuk mengurus rumah membuatnya sangsi sendiri.


Dirga yang mendengar perkataan Kiara, mengernyitkan dahi Penasaran. Sebenarnya apa yang salah, selain dari tingkah gugup yang Ia kira takut karena tampang datarnya.


" Lalu?" tanya Dirga singkat, pertanyaan darinya membuat Sang Istri mengerucutkan bibir kesal, karena selalu Lalu dan Lalu yang keluar dari bibir Suaminya.


" Fine ... Jadi, apa yang salah dengan Si Anita?" tanya Dirga sungguh-sungguh.


" Dia cium Baby keterlaluan"


" Hah?"


" Ck ... Dia cium Gav, seperti Dia cium seseorang yang Dia sukai. Lalu Jas kamu, yang di bawa ke tempat cuci selalu di endus sama dia. Ngapain coba begitu? Apa Dia suka sama kamu?" tanya Kiara beruntun, setelah menjelaskan maksud dari kecurigaannya. Ia memandang Suaminya yang menampilkan raut wajah nggak percaya, membuatnya mendengus kesal.


" Kamu tahu dari mana?" tanya Dirga sangsi.


" Waktu itu, Bi Ana liat sendiri. Terus cerita sama Bi Titin, terus Bi Titin perhatiin deh karena penasaran sama cerita Bi Ana. Nah ... Pas di perhatiin ternyata benar, terus beberapa hari di pantau ternyata emang iya. " ujar Kiara. Membuat Dirga ikut menghitung berapa kata terus, yang tertera di setiap perkataan Istrinya.


Dirga terkekeh geli, Ia baru ini dengar curhat tentang pembantu. Dari dulu Ia terbiasa, tinggal di Apartemen sendiri dengan pembantu, yang hanya bertugas bersih-bersih lalu pulang setelahnya. Jadi Ia baru ini merasakan, repotnya memiliki pembantu nggak kuat iman.


" Nasib jadi cowok tampan, yah gini nih. Dari perempuan kelas atas, sampe pembantu suka sama tampang Gue, sial." batin Dirga antara kesal dan nggak percaya.


" Kok ngekek sih yank, aku kan bener-bener merasa aneh." sewot Kiara, saat mendengar Suaminya terkekeh dengan kepala menggeleng.


" Ya jadi mau bagaimana?" tanya Dirga gemas. Bukannya Ia tidak perduli, tapi Ia sendiri nggak punya pengalaman. Lalu apa yang harus Ia lakukan?, jika saja curcol tentang Perusahaan Si Anu ganggu nah ... Baru tuh Ia gercep membombardir hingga hancur.


" Anita sepertinya suka kamu!" seru Kiara, mengulangi pernyataannya tadi.


" Hah?"


" Iya ... Sepertinya Anita suka sama kamu sayang, masa kamu nggak ngerasa?" ujar Kiara, menjelaskan maksudnya.


" Suka sama aku?" beo Dirga. Mengulangi pernyataan Istrinya dengan nada aneh, antara tidak senang dan geli.


" Eum ... " gumam Kiara, dengan kepala mengangguk membenarkan.


" Elah yank, ini kan bukan dunia novel atau film dimana ada pembantu suka sama majikan, terus pembantu deketin majikan, terus majikannya juga suka, terus akhirnya menikah." balas Dirga, ikut-ikutan Kiara mengeluarkan kata terus yang jumlahnya tidak terkira.


" Ketularan kan Gue, mana kata terusnya banyak banget. Apa bapak-bapak di luar sana, sering julid bareng bini yah kalau lagi curcol." batin Dirga Penasaran.


" Tapi bagaimana kalau benar, Si Anita suka sama kamu yank?" tanya Kiara, memandang Suaminya dengan yakin akan hipotesisnya.


" ... "


" Loh kok diam? " Lanjutnya bertanya, saat Suaminya hanya memandangnya dalam diam.

__ADS_1


" Serius deh yank, Aku nggak ada waktu untuk mikirin perasaan sepele seperti itu. Mikirin kamu aja udah buat memori otak aku luber, jadi nggak ada ruang tersisa buat mikirin yang lain. " ujar Dirga, menjawab pertanyaan nggak penting Istrinya. Kalau emang suka, ya terserah yang suka. Tapi jangan berharap lebih, kalau nggak mau sakit.


" Dih, kok malah gombal?"


" Siapa yang gombal? Ini serius dari hati aku loh Dear , oke sesi nggak penting di tutup. Nah ... Sekarang saatnya Aku kasih tahu kamu, bagaimana cara agar aku nggak lelah lagi. Kamu masih mau tahu nggak?" balas Dirga, menyudahi acara curhat unfaedah Istrinya. Ia melihat wajah Istrinya, yang akhirnya mengangguk ingin tahu,meski masih ada sedikit rasa mengganggu di raut wajahnya.


" Sebaiknya nanti Gue periksa lagi, apa emang benar. " Batinnya, Ia sebenarnya hanya tidak ingin Sang Istri riwet sendiri.


" Um apa?"


" Pejamkan matamu" perintah Dirga, menuai kernyitan di dahi Istrinya.


" pejamin aja, jangan banyak tanya." Lanjutnya saat melihat Kiara, yang hendak bertanya.


" Oke, galak bener." balas kiara, sambil memejamkan matanya.


Melihat Istrinya yang sudah memejamkan matanya, membuat senyum setan pun hinggap di bibirnya. Jadi dengan sekali dorongan wajahnya, malam itu Ia habiskan dengan kegiatan panas yang berkualitas, karena Gavnya tertidur tanpa ada rengekan di acara kegiatan olahraga mereka kali ini.


Skip


Sekitar 1 jam setelahnya, kegiatan mereka selesai. Menyisakan helaan nafas puas, Dirga mengecup sayang kening Sang Istri yang berhiaskan peluh.


" Kalau gini, malah tambah lelah sayang." gumam Kiara, saat Suaminya mengecupi leher yang Ia yakini berhiaskan tanda merah.


Dirga terkekeh, lanjut mengecup lengan berhiaskan jejak memanjang bekas jahitan, yang sudah mulai memudar.


" Kata siapa? Jadi seger lagi tuh, malahan kalau kamu mau kita bisa lan ...


" Nggak usah, terima kasih Tuan Wijaya." sela Kiara cepat, sebelum Suami Mesumnya melanjutkan kalimat, yang sesungguhnya sudah Ia ketahui kelanjutannya apa.


Perkataan bernada horor dari Istrinya, membuat Dirga terkekeh dengan kekehan menggoda. Membuat Kiara yang mendengarnya, merasakan sesuatu yang susah di jelaskan.


" Padahal sering banget dengar Dia terkekeh, tapi tetap saja jadi deg degan." batin Kiara, dengan jantung berdegub kencang.


Cup


" Fine, kamu istirahat. Aku mandi dulu, masih ada kerjaan yang belum selesai. Oke? Nite Dear ... Thank you for this night." bisik Dirga, setelah mengecup sekilas bibir kesukaannya, yang kini tersenyum dengan semu merah di pipi.


" Um, Nite too Honey." balas Kiara, lalu memejamkan matanya, lelah pasca berperang.


30 menit setelahnya


Dirga sudah mandi, dengan memakai boxer sebagai penutup tubuhnya. Ia berjalan ke arah nakas, tempat Ia meletakkan Laptop miliknya. sebelum mengambil laptop, Ia menyempatkan diri mengecup kening Sang Istri, yang sudah terbuai di alam mimpi.


Kemudian Ia melangkah, mendekati ranjang bayi di mana ada Gav yang juga tertidur lelap.


" Tumben, kamu nggak ganggu Daddy sama Mommy. Tapi nggak apa-apa, tidur yang nyenyak ya sayang. Mommy malam ini capek, Daddy yang salah. Besok kita olahraga yah, jadi nanti Gav bangun pagi." gumam Dirga, setelah mengecup kening Anaknya. Gav tersenyum di sela kegiatan tidurnya, membuat Ia terkekeh kecil. Melihat betapa lucunya kelakuan buah hatinya, meski dalam keadaan tidur sekalipun.


" Khe ... Kamu ngerti ya sayang, Daddy bilang apa! " Lanjutnya, kemudian mengusap lembut rambut hitam Anaknya.


" Nice Dream, my world" bisik Dirga pelan, mengecup terakhir kali pipi Anaknya. Lalu melenggang pergi, menuju ruang kerjanya berada.


Dirga menutup pintu kamar dengan debaman kecil, lalu berjalan ke arah kanan. Ia tidak khawatir meski saat ini tidak memakai pakaian atasan, letak ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamar utama membuatnya yakin, jika tidak ada orang yang akan melihatnya. Lagian jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, Para pembantu di rumahnya pasti sudah menuju ke alam mimpi.


Namun belum juga mencapai ruangannya, rasa haus di tenggorokannya membuat Ia berbelok. Hendak ke arah dapur, mengambil minum atau membuat segelas kopi sebagai teman kerja nanti.


Tap ... Tap ... Tap ...


Ruangan yang sunyi, membuat langkah kakinya menggema sepanjang Ia ruangan menuju dapur. Penerangan sekitar yang remang-remang, membuat langkahnya pelan hati-hati. Tapi saat mencapai dapur Ia bisa melihat dengan jelas, karena lampu dapur selalu dalam keadaan hidup.


Dirga segera mengambil gelas, mengisi air dan meminumnya hingga tandas. Lalu mengambil cangkir miliknya, mengisi dengan bubuk kopi dan menuang air panas secukupnya.


Tap


Ia merasa seperti ada seseorang berdiri di belakangnya, Ia pun menolehkan wajahnya ke belakang tanpa membalik tubuh. Ingin melihat seseorang yang ternyata adalah Anita, berdiri dengan wajah merah melihat ke arahnya dengan gerakan salah tingkah.


" Tu Tuan ada yang bisa di bantu?" tanya Anita, dengan nada gugup yang kentara. Membuatnya semakin mengangkat alis sebelah curiga, apalagi istrinya menceritakan kelakuan pembantunya, yang saat ini menundukkan wajah dengan meremat gelas kosong di tangan.


" Tidak " Balasnya datar, singkat dan menunjukan jika Ia tidak bisa di sentuh. Ia dengan cepat mengangkat cangkir kopinya, lalu melenggang meninggalkan Anita yang diam berdiri di dapur.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya...


Jangan lupa komentar serta klik jempolnya yaa...


Serta vote dukunganya...


Sampai babai


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2