
Selamat membaca ...
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Rumah Sakit kota S
Di ruangan dengan bau khas obat-obatan, terdapat seseorang dengan berbagai macam alat terpasang di tubuhnya.
Ruangan ICU tersebut sunyi, hanya ada bunyi dari alat EKG yang menandakan jika Si empunya tubuh masih hidup.
Di luar melalui jendela besar, ada Istri serta keluarga seseorang yang ada di dalam sana.
Mereka menunggu dengan sabar Si pasien dengan hati senantiasa berharap,Karena sejak beberapa hari yang lalu tepatnya tiga hari yang lalu pasca penyelamatan, Si pasien belum juga sadar dari koma-nya.
Puk!
Seorang Mama dari Si pasien menepuk bahu menantunya pelan, membuat yang di tepuk tersentak kaget lalu menoleh kebelakang.
"Kamu makan dulu ya sayang, kasian Gav juga belum makan. Kamu mau Anak kalian sakit, heum?" ujar Si penepuk lembut.
Ia membujuk Sang menantu agar mau makan, minimal beristirahat barang sejenak.
Kegiatan Si menantu akhir-akhir ini hanya melihat dan melihat, Sang suami yang masih tidur dalam koma-nya, membuat Ia sedih dengan hati layaknya teriris.
Terhitung sejak Anaknya masuk ruang ICU, istri dari Anaknya hanya berdiri dengan tangan mengusap kaca jendela.
Bahkan jika Sang cucu tidak merengek menyebut namanya, Ia pastikan jika menantunya tidak akan bergerak barang se-inci pun.
Ia juga tahu bagaimana rasanya, sebab orang yang ada di dalam sana adalah Anaknya sendiri, yang Ia lahirkan dan Ia rawat sepenuh hati.
Kesedihannya tidak bisa di ungkapkan, bahkan air mata saja sudah kering jika mengingat kejadian tragis tersebut.
Tiba-tiba ingatan-nya melayang saat Suaminya bercerita, bagaimana proses penyelamatan Sang anak yang sangat dramatis.
Flasback on
Hendri dan Fandi menunggu dengan hati gelisah luar biasa, mereka melihat sekeliling dengan pandangan nanar. Bagaimana keadaan orang yang terluka, baik dari kubu-nya atau pun kubu lawan.
Mereka memang sudah membayangkan akan mengerikan, naum mereka salah ini lebih jauh dari kata mengerikan tapi sangat mengerikan.
Awalnya mereka hanya ingin membuat kubu lawan pingsan, tapi sekali lagi salah bahkan sisa noda merah di tanah masih basah.
"Apa masih banyak yang terluka?" tanya Hendri ke arah Leo.
"Anggota kita tidak seberapa parah, tidak banyak juga yang terluka," balas Leo datar.
"Lalu apa Raka dan yang lainnya sudah tahu, dimana letak ruangan Dirga dan Kiara di sekap?" tanya Fandi cemas.
"Sudah Tuan, itu sebabnya kami di perintah untuk menggeledah tempat lain," balas Leo masih datar.
Percakapan berakhir, saat Leo mendapat informasi melalui earpiece dari Bima yang membuatnya menegang seketika.
"Tuan, saya harus memeriksa sesuatu. Saya permisi sebentar!" seru Leo cepat. Ia berlari kembali masuk ke dalam gedung, mengikuti perintah darurat dari Bima.
"Sial, bisa mati bersama kalau sampai meledak!" gumam Leo panik.
Ia dengan segera mencari dengan beberapa anggota terlatih, memeriksa setiap sudut dan menemukan beberapa Bom waktu yang baru saja aktif.
Tersisa waktu beberapa menit, membuatnya panik luar biasa.
"Cepat periksa dan jinakkan segera, suara ledakan akan mengundang banyak warga!" seru Leo memerintah.
Mereka dengan segera bergerak, memeriksa kabel yang tersambung.
Merah, kuning, hijau dan biru adalah warna kabel dari masing-masing Bom.
"Bagaimana, sudah di temukan warna yang mana?" tanya Leo berusaha tenang.
"Rumit, ada empat warna, biasanya hanya tiga," gumam Si anggota penjinak bom meneliti.
"Seharusnya kuning jika ingin menghentikan waktu, tapi Bima bilang ini tipe satu kali set. Akan sangat bahaya kalau salah potong kabel, Aku harus mempelajari dulu untaian kabelnya!" Lanjutnya.
"Oke, di teliti lagi. Masih ada berapa menit, Kamu pelajari dan kita akan memotongnya bersamaan, saat Kamu sudah tahu warna apa yang harus di potong," balas Leo datar.
Si anggota penjinak hanya mengangguk, mempelajari tiap belitan kabel rumit yang membuatnya semangat.
Tidak lama setelah memeriksa dengan seksama, akhirnya Ia tahu kabel apa yang bisa menghentikan waktu dari bom tersebut.
__ADS_1
"Sudah ketemu, kita bisa memotong kabel warna merah!" seru Si penjinak bom.
Leo yang mendengarnya tentu saja senang, Ia dengan segera mengabarkan ini kepada anggotanya, lalu mereka dengan segera memotong kabel dengan warna merah.
Berhasil dan angka yang awalnya berjalan menghitung mundur pun akhirnya berhenti,di menit 07:57 yang artinya kurang dari delapan menit jika mereka gagal, maka semua yang ada di gedung ini akan terkubur bersama.
"Good job!" seru Leo senang. Ia menepuk punggung anggotanya yang tersenyum, senang berhasil menaklukan bom dengan tipe rumit.
"Aye!" Balasnya.
Leo pun menghubungi Bima, lalu kembali menemani Fandi dan Hendri yang sedang membantu petugas medis mengobati korban yang terluka, sepertinya semua sudah Berakhir.
"Bagaimana, apa kondisi sudah terkendali?" tanya Fandi kepada Leo.
"Bima bilang ada Bom di dalam, anggota kita sedang mencari dan mencoba menaklukannya," balas Leo menjelaskan.
Fandi dan Hendri panik saat mendengar kata Bom, mereka hampir masuk ke dalam jika tidak mendengar kalimat lanjutan dari Leo yang semangat.
"Tapi tenang saja, anggota sudah menemukan dan menjinakan bom tersebut. Tuan tenang saja, Tuan Dirga orang yang perhitungan. Kami mendapat pelatihan dengan detail di kelompok kami!" lanjut Leo tersenyum menenangkan
"Semua sudah terkendali, Drone juga tidak melihat pergerakan lain dari udara. Dan sepertinya ini semua sudah Berakhir!"
Ketika Dani selesai mengucapkan kalimatnya, dari ujung tempat mereka menunggu terlihat orang-orang yang mereka kenal sedang berjalan ke arah mereka.
Tapi ekspresi lega mereka tidak bertahan lama, saat melihat Raka dan Faro mengangkat seseorang dalam keadaan pingsan dengan kondisi tubuh mengenaskan.
"Dirga!!!" seru Keduanya bersamaan.
Fandi dan Hendri berlari menyambut anak mereka, berteriak dengan panik yang membuat Tim medis segera menyiapkan brangkar ambulan.
"Siapkan tempat untuk Dirga berbaring, segera!!!" seru Hendri panik.
"Dirga, Dirga Kamu, tidak mungkin!!"
Ketika sampai di depan Anaknya yang ada di dalam gendongan Raka dan Faro, Hendri tidak kuasa lagi menahan rasa paniknya.
Badannya bergetar melihat bagaimana kondisi Sang anak, luka di tubuh Anaknya terlihat jelas sebab Dirga tidak memakai atasan kecuali celana panjang sebagai bawahan.
Lengan kekar Anaknya yang dulu bersih tanpa cela, kini terlilit kasa dengan noda merah merembes dengan aliran di sekitarnya.
Lalu ia melirik ke arah Anaknya, yang saat ini ada dalam rengkuhan Kaisar dengan pandangan nanar.
Ia bahkan tidak bisa melihat kehidupan di dalamnya, kosong adalah pandangan mata dari Kiara saat ini. Menatapnya tanpa jiwa, membuat hatinya terenyuh sakit dan nyeri di saat bersamaan.
Flasback end
"Mih, Mami melamun?" tanya Kiara tanpa nada.
Ia melihat Sang mertua dengan mata tanpa binar kehidupan, ketika melihat Mertuanya yang sedang melamun.
Sang mertua atau juga Putri, tersentak kaget sepertinya Ia tidak sadar sedang melamun.
"Maafin Mami, tadi Mami memikirkan sesuatu," balas Putri canggung.
"Kamu makan dan istirahat dulu yah, Gav sudah waktunya makan, Dia tidak mau makan jika bukan Kamu yang menyuapi," ujar Putri membujuk.
Kiara hanya mengangguk, lalu kembali menghadap ruang ICU melalui jendela dan menempelkan telapak tangannya di sana.
"Cepat sadar ya sayang,cepat sembuh. Aku merindukanmu, Aku harus menyuapi Gav makan. Tidak apa-apa kan, Aku tinggal sebentar?" gumam Kiara lirih.
"Nanti aku kembali!" Lanjutnya tersenyum sedih.
"Baiklah Mih, Yaya titip Dirga yah. Setelah Gav makan dan tidur, Yaya kemari lagi,"ujar Kiara datar. Matanya menatap kosong ke arah Putri yang mengangguk, sekuat tenaga menahan laju air matanya.
"Setelah Gav tidur, Kamu juga ikut tidur yah. Kamu hampir tidak tidur beberapa hari ini, Mami khawatir Kamu kenapa-napa sayang!" balas Putri.
Kiara tidak menjawab, hanya melihat Sang mertua dengan pandangan kosong.
"Mami mohon, apa Kamu tidak menyayangi Mami lagi Kiara sayang?" lanjut Putri lirih.
Putri merasa cukup tiga hari Kiara hidup tanpa jiwa, Ia tidak bisa lagi membiarkan menantu kesayangannya menanggung beban hidup sendiri.
Deg!
Nyut!
Jantung Kiara tersentak dengan rasa nyeri seperti di cubit, saat mendengar nada lirih dari Mami mertuanya.
__ADS_1
Mata Kiara bergerak dan berkedip cepat, saat air matanya menerobos keluar. Tidak tahan ingin menunjukan kesedihan, tapi Ia masih menahannya sekuat tenaga.
"Apa Kamu tahu, kalau Mami sangat sedih melihat Kamu seperti ini Yaya sayang?"
"Apa kamu mau Gav sedih, karena merasa tidak di rawat sepenuh hati?"
"Tidak, Gav Anakku!" batin Kiara takut.
"Cukup sayang, Mami mohon kembali seperti dulu. Dirga akan sangat kecewa jika kamu seperti ini, Dirga akan semakin menyalahkan dirinya sendiri jika Dia tahu kamu seperti ini!"
"Mami juga sedih, Mami ibunya, tapi Mami tahu siapa dan bagaimana Dirga anak Mami,"
Putri menumpahkan segalanya di hadapan Sang menantu, memberi tahu jika bukan hanya Kiara yang sakit tapi juga Ia, karena Ia adalah ibunya.
Ia yang paling merasa sedih di antara semua orang, Suaminya ayah Dirga juga sedih, Papa mertua Kakek Dirga pun demikian.
"Mami-
"Hiks!"
Kalimat darinya berhenti tiba-tiba, Ia mengangkat wajahnya yang berhiaskan air mata, melihat ke arah menantunya saat mendengar isakan lirih dari arah depan.
"Hiks!"
Jatuh, akhirnya pertahanan Kiara luruh saat mendengar ucapan menyayat hati dari Sang mertua.
Air matanya jatuh dengan isakan serta tubuh berguncang, di hari ke-tiga akhirnya pertahanannya luruh juga Ia menangis dengan tanpa malu.
Tiga hari ini Ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah, Ia sudah berjanji kapada Sang suami bahwa Ia tidak akan menangis.
Tapi akhirnya Ia melanggarnya saat mendengar ucapan dari Mertuanya, Ia di sadarkan jika bukan hanya Ia yang sedih atas kejadian tragis di tengah keluarganya.
Bagaimana Ia lupa jika masih ada orang yang ternyata lebih sedih di bandingkan Ia, bagaimana Ia lupa jika masih ada seorang ibu yang menangisi keadaan Anaknya yang adalah Suaminya.
"Hiks!"
Di ujung ruang ICU ada orang terdekat Keluarga pasien yang hanya mampu melihat, bagaimana dua orang perempuan yang sangat menyayangi pasien sama-sama menumpahkan air mata.
Berpelukan satu sama lain dengan saling memaafkan, mereka tidak ingin mengganggu sebab ini yang terbaik.
Mereka juga merasa jika Kiara perempuan yang di sana, yang saat ini sedang menangis harus segera bangkit dari keterpurukan.
Bukannya mereka tidak ingin menasihati, tapi mereka juga sadar jika mereka yang ada di posisi Kiara pasti akan merasakan hal yang sama.
Sarah mama dari Kiara menatap haru ke arah besan-nya, yang saat ini sedang menangis dengan tubuh saling berpelukan.
Di gendongannya ada Sang cucu, yang menempel erat mencari kehangatan darinya.
Cucunya akhir-akhir ini kurang mendapat kasih sayang dari Sang Mommy, karena alasan yang Ia mengerti dan Ia pahami.
Meskipun Anaknya tidak lupa memberi makan Sang cucu, tapi Kiara akan kembali meninggalkan Gav di saat sudah tertidur.
Dia akan kembali ke ruang ICU dari luar melalui jendela, hanya untuk melihat kondisi Sang menantu.
"Semoga Kiara kembali seperti semula," gumam Sarah pelan.
"Mom-mon, ngis?"
"Tidak sayang, Mommy tidak menangis! Mommy sebentar lagi bisa main dengan Gav, apa Gav senang?" ujar Sarah lembut. Ia menyahuti pertanyaan dari Sang cucu dengan ceria, membuat Gav yang beberapa hari ini selalu menempel dengannya terkekeh senang.
"Ain, Mom-mom, au!"
"Heum, nanti bisa main. Okey, sekarang kita makan dulu yah!" seru Sarah semangat.
"Hi-hi!"
"Terima kasih tuhan, setidaknya cucu Ku bisa tertawa lagi," batin Sarah senang.
Bersambung
Semangat untuk semuanya.
Sedikit note:
Ruang ICU atau Intensive Care Unit adalah ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan dengan penyakit atau cedera serius. Untuk membantu memulihkan kondisi pasien, ruang ICU dilengkapi dengan peralatan medis khusus.
Elektrokardiogram atau EKG adalah tes untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung menggunakan mesin pendeteksi impuls listrik (elektrokardiograf). Alat ini menerjemahkan impuls listrik menjadi grafik yang ditampilkan pada layar pemantau.
__ADS_1