Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Di balik layar


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Lokasi kejadian


Police line di pasang di sepanjang tempat kejadian, mulai dari atas jurang dengan bukti pagar yang rusak, hingga sekitar bangkai mobil yang ikut terbakar.


Raka, Faro dan Kai akhirnya sampai di lokasi, mereka segera merangsak masuk kedalam kerumunan. Meski harus saling dorong dengan wartawan dan warga, akhirnya mereka sampai juga di depan mobil Lamborghini, milik sahabat-nya yang telah hangus terbakar.


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada 4 orang laki-laki yang mereka kenali sebagai orang tua dan kakek dari Dirga, mereka pun segera menghampiri ke-4 nya dan segera memberondongi dengan pertanyaan bernada khawatir yang kentara.


" Pah, gimana kelanjutannya?" tanya Faro. Mewakili Raka dan Kai, yang mengangguk mendukung.


Mereka ber- 4 melihat ke arah Anak muda, sahabat dari Dirga dengan sorot mata sedih. Apalagi Papi Hendri, yang mata-nya sudah merah efek menahan air mata.


" Penyidik bilang, ini murni kecelakaan. Namun ada hal ganjil, tidak di temukan mayat di dalam, Tim evakuasi sedang menelusuri lokasi sekitar jatuhnya mobil," balas Fandi. Menggantikan Hendri, yang saat ini melengoskan wajah, melihat lagi ke arah mobil milik Anaknya.


Jantung-nya berdegub kencang, saat Papa-nya memberitahu jika Menantu-nya terlibat kecelakaan tunggal, Ia pun sangat terpukul dengan kejadian na'as ini.


" Ya Tuhan, kuat kan hati Anak hamba," batin Fandi meminta.


" Lalu bagaimana Kiara, nak Faro?" tanya Fandi khawatir.


" Kiara masih pingsan Pah, Gav juga menangis hingga lelah dan tertidur," balas Faro sedih. Sungguh hati-nya sakit saat melihat Anak kecil, menangisi keadaan orang tua-nya hingga seperti itu.


" Cucu Ku yang malang, Aku merasa gagal menjadi seorang Kakek," gumam Bagus sedih. Air mata-nya yang Ia tahan agar tidak menerobos keluar, akhirnya keluar juga dengan cucuran deras.


Ia membayangkan ekspresi wajah Cucunya, yang sedih dengan lelehan air mata. Saat melihat Sang Mommy menangis saja Gav sudah ikut menangis sesegukan, apalagi mengetahui jika Sang Daddy yang paling di sayanginya sudah tidak ada di dunia.


Raka mendekat ke arah mobil yang masih mengeluarkan kepulan asap, berjongkok di samping pintu mobil dengan kepala menunduk.


" Sialan Lu songong, kenapa bisa sampai seperti ini. Gue yakin ada yang melakukan konspirasi, ini semua pasti ada hubungannya dengan Jaya Dharma sialan itu, Gue nggak terima Lu pergi dengan cara begini. Gue harus periksa ini lebih lanjut," ujar Raka dalam hati. Air mata-nya mengalir, seiring dengan kilasan masa lalu mereka bertiga. Bagaimana mereka bertemu dengan cara pemakasaan, bagaimana masa muda mereka di habiskan dengan cara yang unik luar biasa.


" Sialan, siapa yang meletakkan bawang merah di sini, kenapa air mata sialan ini nggak mau berenti," batin Raka terisak.


Faro yang melihat sahabatnya jongkok, dengan tubuh bergetar pun merasa sedih, Ia mendekati Raka yang pasti sedang menyembunyikan kesedihannya.


Puk


" Sabar Ka, Gue yakin Dirga belum meninggal, bukannya Lu denger sendiri nggak ada mayat di dalam mobil yang terbakar?" bisik Faro lirih. Menepuk pundak kemudian memeluk dari samping, bahu Raka yang semakin bergetar dengan air mata mengalir.


" Gue tahu, Gue cuman ...


Ucapan Raka berhenti, saat melihat hal aneh dengan jejak samar di depannya. Tidak terlihat karena sudah bercampur dengan jejak lainnya, tapi Ia yakin ada yang tidak beres dengan jejak ini.


Faro yang tidak mendengar kelanjutan, dari ucapan Raka mengernyit bingung. Lalu ikut melihat sesuatu yang di perhatikan oleh Raka, dengan alis mengerut penasaran.


" Kenapa?" tanya Faro singkat.


Raka menoleh ke arah Faro, lalu menunjukan sesuatu dengan jari-nya jejak seretan sepatu, yang bercampur dengan jejak lainnya. Samar namun nampak jelas, jika itu adalah sesuatu yang di seret keluar.


" Lihat," ujar Raka pelan. Menunjuk jejak samar, yang di ikuti Faro dengan segera.


Deg


" Ini," seru Faro tidak percaya. Ia menoleh ke arah Raka, yang juga melihatnya dengan segala pemikirannya.


" Ini di sengaja, Gue yakin," bisik Raka pelan. Seakan Ia tidak ingin, jika bukti yang di temukan di ketahui oleh orang lain.


Klik


Raka pun mengeluarkan Handphone dari saku celana-nya, memotret dengan kamera Handphone sebagai bukti.


" Jejak sejelas ini, kenapa tidak ada yang lihat?" gumam Faro bingung. Yang di angguki kepala setuju, oleh Raka yang memiliki fikiran demikian.


" Gue rasa, ada pemain di pihak penyidik. Kita harus urus ini sampai tuntas Ro, Gue yakin ada yang nggak beres," balas Raka yakin.


Raka pun menoleh, ke setiap sudut penjuru lokasi. Ada penyidik juga Tim evakuasi, yang bersiap mengangkat bangkai mobil ke atas dengan bantuan alat berat jenis Crawler Crane.


" Kita harus sampaikan ini ke yang lainnya, tapi Kita harus hati-hati, mereka di sekitar kita," bisik Raka. Ia merasa ada yang aneh dengan kepala penyidik, yang hanya menyampaikan tidak ada mayat namun tidak memeriksa lebih teliti.


" Hn," gumam Faro menyetujui.


Mobil pun di angkat ke permukaan, ke atas jurang di tepi jalan dan di geret dengan mobil derek, untuk di lakukan pemeriksaan lebih lanjut dan sebagai barang bukti.

__ADS_1


.


Kediamanan Wijaya Muda


Suasana berkabung menyelimuti rumah milik pasangan Wijaya Muda, Sang ratu istana milik Dirga masih betah dalam keadaan pingsannya.


Kiara pov on


Aku memandang Linglung, ke arah atas tepatnya ke arah langit-langit kamar Ku .


" Aku tertidur? Berarti tadi Aku hanya bermimpi," gumam Ku pelan. Aku mendesis sakit, saat Aku mencoba bangun dari rebahan dan duduk bersandar di kepala ranjang.


" Uggh ... Kepala Ku sakit sekali, apa tadi Aku terbentur sesuatu?" tanya Ku pada diri sendiri.


" Kepala kamu sakit Sayang? "


Tanya seseorang dari arah jendela kamar ku, Dia melihat ke arah Ku yang hanya bisa syok dan menangis.


" Hey, kenapa menangis?"


Tanya-nya lagi, namun Aku tidak mampu membalasnya. Hanya menatap terharu, saat Dia tersenyum lembut ke arah Ku.


" Kamu, Kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanya Kiara alih-alih menjawab pertanyaan seseorang itu.


" Aku kenapa? Aku baik-baik saja kok, Aku cuma lagi ada di tempat, yang tidak ada satu pun orang tahu sayang . Hehe ... Tapi kamu tenang saja yah, Kita akan segera bertemu lagi kok, Aku janji! "


" Maksud Kamu apa sayang?" tanya Ku bingung. Kenapa Dia bilang seperti itu, sedangkan orangnya ada di hadapanku.


" Aku mendengar suara ramai di ruang tamu, bisa kamu periksa untuk Ku sayang?"


Aku mengerutkan kening bingung, namun hanya mengangguk saat ada perintah dari-nya.


" Baiklah,Aku juga mau sekalian lihat Gav, tumben sekali Gav tidak merengek," balas Ku dengan kepala mengangguk.


" Aku tunggu Kamu yah, sayang,"


Perkataan ambigu terakhir darinya, membuat kening Ku berkerut.


" kenapa nggak ikut sekalian, ngapain nunggu Aku? " batin Ku bingung. Tapi aku menampik itu, hanya tersenyum dan sekali lagi mengangguk.


Aku pun memutuskan untuk bangun, ingin memeriksa keadaan Gav, karena terakhir yang Aku ingat Gav menangis, ingin bermain dengan Dia yang tadi bilang akan menunggu Ku.


Di ruang tamu Aku mendengar suara keluarga Ku, sedang berunding tentang prosesi pemakaman seseorang, yang tadi baru saja mengobrol dengan Ku.


" Sebaiknya janazah Dirga di makamkan, di pemakaman San Digo. Kita sewa yang paling luas, bagaimana?"


Apa maksudnya ini?


" Aku setuju, bagaimana Fandi?"


" Papi Hendri kenapa bilang seperti itu, siapa yang akan di makam kan?" batin Ku penasaran.


" Jenazah Dirga, sampai tidak bisa di kenali lagi, hiks Anakku Dirga hiks, "


" Apa?"


Tubuh Ku terdiam kaku, saat mendengar mertua Ku mengucapkan nama jenazah yang ternyata adalah Suami Ku sendiri.


" Tidak, ini tidak mungkin, "


Tidakkkk


" Kiara sayang, bangun sayang!!! "


Deg


" Hosh ... Hosh ... Hosh ... "


Helaan nafas tidak beraturan dari Kiara, membuat Semua yang ada di kamar Kiara memandang khawatir.


Tadi sewaktu mereka sedang duduk, dengan Gav yang bermain dengan Sang Kakek. Kiara tiba-tiba berteriak dalam tidur-nya, membuat mereka lari tergopoh-gopoh menghampiri Kiara yang tidur di temani oleh Sarah.


" Ada apa sayang?" tanya Sarah khawatir. Ia mengusap kening Anaknya, yang berhiaskan keringat dingin yang mengucur deras.


Bahkan air mata Sang Anak pun mengalir dengan jumlah tidak terkira.


Kiara yang mendengar pertanyaan dari Sang Mama, menoleh ke arah Sang Mama segera. Memegang bahu Sarah kuat, mengucapkan kata-kata tidak masuk akal yang membuat jantung mereka berdegub seketika.


Semua orang pun harus kembali kaget, saat racauan Kiara yang memandang sekitar linglung.

__ADS_1


" Dirga belum meninggal Mah, Dirga tadi ngobrol sama Yaya, jangan atur pemakaman Mah, Suami Yaya ada di tempat jauh,"


" ... "


" Mami, Mami percaya kan sama Yaya, tadi Dirga ada di sini sama Yaya,"


" ..."


" Kakek, Papa kenapa semua diam?"


" ..."


" Faro, Raka kalian kesini mau ngajak Dirga bertengkar lagi? Nanti yah, aku panggilin Dirga,"


" Sayang, Kamu di mana? Lihat mereka tidak percaya dengan Ku, hiks ... Kamu, hiks ..


Hu hu hu


Tangisan seketika pecah, saat Kiara tidak mendapat satu pun jawaban dari keluarganya. Hanya tatapan sedih, yang menjawab pertanyaan. Membuatnya tidak tahan,hingga pecahlah tangisannya, tangisan yang membuat mereka semua ikut kembali menangis.


" Yaya sayang, hiks," gumam Sarah. Membawa Anaknya kepelukannya, di susul Fandi yang tidak tahan saat melihat tangisan menyesakan yang berasal dari anak kesayangan-nya.


" Ya Tuhan, tabahkan kami semua,"


Bagus menyingkir dari kamar Cucunya, berjalan linglung ke arah kamar bermain. Di mana ada Cucunya, yang saat ini bermain namun dengan ekspresi tidak ceria seperti biasanya.


Sesekali rengekan dari Gav terdengar, namun untungnya ada teman main-nya yang menemani Gav, sehingga akan berhenti merengek dan kembali bermain.


" Kenapa cobaan selalu hadir, di kehidupan rumah tangga Cucu hamba ya Tuhan," batin Bagus mengecup kening Gav sayang.


" Da da, Ma ma,"


" Mommy sedang istirahat, Cucu tampan Uyut main sama Queeneira dan Ezra dulu yah," gumam Bagus mencoba ceria.


" Da da,"


.


Di sebuah tempat yang jauh


Di sebuah ruangan pengap dengan bau lembab, terdapat beberapa orang sedang berdiskusi kelanjutan rencana mereka.


Si ketua yang mempelopori konspirasi ini, menampilkan wajah senang saat rencana-nya berhasil.


" Bagus, hanya tinggal menunggu Pemeran


satunya, rencana kita akan sempurna. Lalu apa kamu yakin, keluarga mereka percaya bahwa ini kecelakaan murni tanpa ada unsur kesengajaan?" tanya Si ketua. Kepada salah satu orang yang terlibat, di dalam pemeriksaan kasus kecelakaan.


" Yakin, saya sudah pastikan tidak ada bukti yang tertinggal. Bahkan keluarga-nya pun sudah percaya, bahwa ini kasus kecelakaan dan mereka meminta untuk di lanjutkan pencarian jenazah, haha ... Sampai kapan pun tidak akan ada mayat yang di temukan," balas seseorang. Yang ternyata adalah pihak penyidik, tepatnya ketua dari penyidik.


" Bagus, melihatnya terpuruk seperti itu membuat Ku senang, malam ini kita berpesta. Hey, Caterine apakah kamu puas?" seru Si ketua. Ia bertanya kepada wanita, yang saat ini sedang tiduran di samping seseorang, di atas ranjang kusam dengan senyum mengerikan.


" Puas? Tentu saja ini belum apa-apanya, ini masih awal, Aku tidak akan puas sebelum Pemeran tambahan datang dan melihat langsung keadaan sebenarnya! " balas Si wanita yang di panggil Caterine. Ia menelusuri wajah seseorang, yang memiliki luka di dahi yang sudah di tutup perban, dengan jari lentik berhiasakan kuteks berwarna merah.


" Iya kan sayang?" Bisiknya di telinga seseorang tersebut.


" Dasar wanita gila, ha ha ha ..."


Kemudian yang terdengar adalah suara tawa mengerikan, yang memenuhi ruangan lembab yang letaknya tersembunyi jauh dari perkotaan.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Merangsak masuk sama dengan memaksa masuk.


Police line adalah perlengkapan wajib untuk menjaga agar situasi di TKP tidak berubah.


Crawler Crane adalah salah satu jenis dari crane, dimana alat ini merupakan pengangkat yang biasa digunakan didalam proyek konstruksi. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, memindahkan secara horizontal, kemudian menurunkan material ditempat yang diinginkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Jangan lupa komentar dan klik jempolnya yaaaa ....


Serta vote dukunganya ...


Sampai babai

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2