
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
" Kata siapa Gue nggak modal?" tanya Kai dengan senyum usilnya, Ia sengaja membeli cincin ini yang sebenarnya untuk melamar Fania di tempat spesial nanti. Tapi karena sudah terlanjur basah seperti ini, ya apa boleh buat.
" Ini?"
" Heum ... Gue sengaja beli ini buat Lu Fan, Gue mau Lu jadi Istri Gue, Ibu dari anak-anak Gue nanti. Sorry kalau cara ngelamar Gue terkesan maksa dan nggak ada romantis-romantisnya, tapi Gue cuma mau Lu tahu"
" I love you Because you Fania, not Kiara"
" So, Become Mine Please"
Kaisar memandang Fania dengan sorot mata tulus, tidak ada lagi Kiara di matanya. Hanya ada Fania Si cokocip kesayanganya, cewek yang berhasil menggeser posisi Kiara di hatinya.
Sedangkan Fania sendiri antara percaya dan tidak percaya , ini semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang indah, seakan jika Ia bangun maka semuanya juga ikut menghilang.
Lalu apa yang harus Ia jawab? Di depannya ada laki-laki yang Ia cintai, menyatakan cinta padanya, bahkan sampai melamarnya?. Bukankah Ia hanya perlu menjawab iya atau iyes ?.
Seketika hati Fania ragu, bukan karena ia sudah tidak suka dengan Kaisar. Justru Ia sangat mencintainya, tapi bagaimana jika masih ada masa lalu yang akan menyertai hubungan mereka nanti.
Lama mereka saling diam, tidak ada yang bersuara. Kaisar yang memandang Fania gelisah dan Fania yang sedang berfikir dengan keputusannya, jawabnya menjadi penentu hubungan mereka.
" Maaf Mas" ujar Fania pelan, kepalanya menunduk tidak melihat ke arah wajah Kai saat ini.
" ... "
" Aku nggak bis
" Gue nggak minta Lu jawab sekarang Fan, yang penting Gue udah ungkapin apa isi hati Gue sama Lu. Lu fikirin lagi aja " sela Kai cepat, kokoronya belum kuat untuk menerima kenyataan kalau lamarannya di tolak.
" ... "
" Em, ya udah Gue balik dulu yah. Masih ada kerjaan yang belum gue selsesaikan" lanjut Kai, memilih pergi dulu dari pada suasana tambah canggung, ini tidak sesuai ekspektasinya. Ia kira lamarannya akan langsung di terima, tahu-tahunya ...
" Akh ... Sial"
" Mas mau kembali ke kantor?" tanya Fania, setelah lama tidak bersuara, Ia yang biasanya nyaplak seperti beo mendadak bisu karena hatinya masih sedikit ragu.
" Iya nih, Lu langsung istirahat yah. Chat Gue aja kalau perlu apa-apa" balas Kai, memakai kembali Jas yang tadi Ia sampirkan di lengan sofa. Lalu menghadap ke arah Fania yang melihatnya dengan sorot mata sedih, seakan belum rela jika Ia pergi.
" Bye ..."
" Mas hati-hati di jalan" balas Fania, saat Kai akan melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar.
Sebelum keluar dari pintu Kai menoleh sejenak, untuk melihat terakhir kali raut wajah Fania yang juga sama kacaunya.
" Iya Fan." balas Kai singkat, tersenyum tipis lalu membuka dan menutup pintu Apartemen Fania, meninggalkan debaman pintu dan Fania yang menatap nanar arah pintu
Blam
" Ya Tuhan, apa yang terjadi sama aku" gumam Fania, tanpa bisa di cegahnya air mata mengalir membasahi pipinya.
" Mas Kai"
Kaisar menyandar di depan pintu Apartemen Fania dengan perasaan sakit, kenapa Ia baru menyadari sekarang kalau memang Dialah cewek satu-satunya yang tercipta untuknya.
" Sialan kenapa sakit banget"
__ADS_1
Kaisar meninggalkan Apartemen Fania dengan perasaan kacau, ia mengendarai mobilnya bingung ingin kemana. Kantor hanya alasannya, nyatanya bahkan Ia sengaja cuti karena ingin menghabiskan waktu setelah sekian lama tidak bertemu dengan Fania.
Tidak tahu kenapa, ia mengendarai mobilnya hingga sampai di Bar Galaxy, Ia tidak ingin merepotkan sahabatnya yang saat ini sedang berkencan dengan calon istrinya. Maka itu Ia lebih baik meghabiskan waktunya di sini, siapa tahu saja beban fikirannya berkurang atau setidaknya Ia bisa melupakan sejenak rasa galaunya.
Kaisar memakirkan mobilnya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk Bar, yang di jaga oleh 2 orang body guard dengan tubuh tegap lengkap dengan wajah angkernya.
Suara dentuman musik terdengar memekakan telinga, Kai berjalan dengan raut wajah datar, tidak mengindahkan atau menoleh ke kanan atau kiri, saat ada siulan menggoda yang dilayangkan untuknya.
Di meja depan bartender ada seseorang yang di kenalnya, berdiri memperhatikan sekitar dengan raut wajah bersahabat pada saat ada pelanggan memesan minuman di meja bartender. Ia pun melangkahkan kakinya, menghampiri Raka yang kebetulan juga melihat ke arahnya.
" Yoo, Banga-kai" sapanya kurang ajar
" Bangke Lu" Balasnya sewot.
Raka terkekeh saat mendapatkan balasan sesuai eksptasinya, lalu mengulurkan kepalan tangannya untuk bertos ria. Ia menerimanya dengan senang hati, Raka bukan orang yang tepat jika harus di musuhi, yang pasti 3 Strong adalah kawan yang tepat untuk di Rangkul.
" Ada bau-bau orang patah hati nih" seru Raka meledek Kai di sertai seringai menjengkelkannya.
" Bau menyan iya" balas Kai sinis, melotot ke arah Raka yang lanjut ngekek.
" Haha ... Lu sih, senjata makan tuan kan jadinya?" ujar Raka seakan tahu apa yang di alami oleh Kaisar saat ini.
Oh ... Jangan salah, Raka ini temasuk orang peka terhadap teman, tapi akan jadi lambat jika itu mengenai hatinya. Kasusnya ya Si selebor, kalau bukan Fania yang menyadarkannya, mana mungkin Dia nekat ngelamar Si selebor yang sedang terbakar cemburu.
" Diem aja Lu, berisik" balas Kai sewot, lalu Ia memesan Long Ice Tea Island untuk menemani masa suramnya.
" Di tolak ya?" tanya Raka ngeyel, bodo amat mau di jawab kek nggak kek yang penting bisa nyaplak, siapa tahu aja di jawab.
Sahabat songongnya bilang Kai orangnya asik, maksudnya asik di kerjain.
" Sotoy "
" Kalau gagal ya coba lagi, Gue juga gitu kalau lagi minum Al*-al*. Gagal dapat hadiah ya Gue minum lagi sampai berhasil" seru Raka sama sekali nggak nyambung, bibirnya sudah berkedut menanti balasan dari Si koplak.
" Lu kira Fania hadiah di minuman, gagal coba lagi? Gile Lu ya?" sembur Kai, masuk perangkapnya.
" Hahaha ... Ngaku juga gara-gara Fania" olok Raka di sela-sela kekehannya.
" Sial"
" Ya elah Kai, namanya usaha itu bukan sekali atau dua kali. Masa gitu aja udah nyerah, Cemen banget jadi cowok." ujar Raka kali ini tanpa kekehan. Ia menatap Kai serius, kasian juga udah bisa Move On tapi sekalinya Move On di tolak.
Kaisar terdiam mendengar Raka yang memang benar adanya, kenapa Ia harus Galau kalau masih ada Jalan Menuju Roma. Ia hanya harus membuat Fania tidak ragu atas cintanya, iya kan? Apalagi Fania belum menerimanya ( Kai nggak mau nyebut di tolak) karena alasan Dia bukan Kiara. Artinya Ia hanya harus meyakinkan Fania kalau hanya ada Fania di hatinya bukan lagi Kiara.
" Iya juga" gumam Kaisar pelan, musik yang menghentak keras membuat gumaman Kai hanya bisa didengarnya, Sehingga Raka pun tidak bisa mendengar.
" Jangan bisik-bisik, nggak kedengeran nih Gue!" seru Raka kepo
" Apasih, sama pelanggan kepo banget. Balik sana ngawasin karyawan, ngapain ngurusin urusan orang" balas Kai masa bodo.
" Kuburan Lu sempit kalau pelit" sahut Raka masih ngeyel
" Kalau gitu Gue minum Ini gratis dong?" balas Kai Oot.
" Gratis? Apa hubungannya?" tanya Raka gagal paham, dahinya mengernyit memandang Kai seakan Dia adalah alien dari Mars.
" Lu bilang jangan pelit, ya berarti Gue minum juga gratis, lu bayarin. Nah itu namanya nggak pelit, inget pelit kuburannya sempit" balas Kai enteng banget, meminum minumannya dengan nikmat.
" Sialan Lu, beda lah itu mah. Kalau gitu caranya bisa-bisa gulung tikar Gue dapet pelanggan macem kau" sewot Raka dengan tangan melempar kulit kacang yang habis Ia makan isinya.
" Ya kan Lu yang bilang sendiri, pelit kuburannya sempit. Gue sih cuma balikin pernyataan, senjata makan tuan lu." balas Kai telak, membuat Raka berdecih kesal merasa di pecundangi.
" Sialan"
__ADS_1
" Jadi intinya Fania kenapa?" tanya Raka belum menyerah.
" Fine, Gue kasih tahu intinya" balas Kai menyerah, Si kampret bernama Raka kalau belum dapat jawaban yang detail belum puas.
" Gila, Gue curiga Ujian Negara juga nanya sama temen sebangkunya nih orang" batin Kai memandang Raka curiga.
" Nggak usah mikir yang nggak-nggak deh, hasil Ujian Gue murni hasil pemikiran Gue" ujar Raka merasa tersindir di pandang Kai seperti itu.
" Dih kampret, Cenayang Lu?" tanya Kai horor, Ia takut jika segala pemikirannya bisa di baca oleh Raka yang sedang otw ngebalangin piring tempat kacang ke arahnya.
" Santai elah kampret, bercanda kali" lanjut Kai menyerah, lalu terkekeh saat melihat Raka yang sudah misuh-misuh di hadapannya.
" Lagian jadi orang kepo banget, tapi syukur deh seenggaknya dapet teman berbagi" batin Kai dengan senyum yang di sembunyikannya.
" Fania udah tahu, Gue jadiin Dia pelampiasan" ujar Kai singkat, yang penting intinya seperti itu, Iya kan?
" Terus?"
" Udah, intinya gitu" balas Kai seadanya.
" ... "
Raka memandang Kai dengan raut wajah datar, nggak habis fikir. Apanya yang intinya? Kenapa kalau cuma gitu masalahnya harus pusing segala? Kan tinggal pepet aja terus Akang, lama-lama juga luluh.
" Apa?" tanya Kai risih
" Lu sendiri nganggep Fania siapa?" tanya Raka serius.
" Fania ya Fania, sekarang gue udah sadar. Ternyata mereka berbeda dan Gue suka Fania karena Dia Fania" balas Kai nggak kalah serius.
" Kalau gitu ya tinggal jelasin lagi, nih ya Gue kasih tahu. Cewek itu mahluk paling unik sedunia jagat alam semesta, mereka itu maunya di pepet sampe ngerti. Paling sensitif sama hal beginian, mereka lebih ngandelin perasaan ketimbang logika. Fania bertahan sama Lu di saat Lu nyakitin Dia karena dia yakin, jika suatu saat Lu akan luluh dan balik menyukainya. Setelah Lu suka, kenapa nggak bales dengan cara yang sama? Lu juga harus bisa yakinin Dia, kalau Lu juga suka sama Dia "
Kai melongo, mendengar penjelasan Raka yang penjang sekali. Namun, mendengar apa yang di katakan oleh Raka benar adanya Ia pun jadi berfikir.
" Bener juga yah, Dia aja bertahan Gue sakiti kenapa Gue nggak? " batin Kai.
" Thanks "
" Hah? "
" Thanks kampret, atas pencerahannya. Setelah ini biar Gue yang berjuang buat ngeyakinin Dia, kalau Gue sama tulusnya mencintai Dia dan benar-benar cuma ada Dia di hati Gue " ujar Kai, mengulangi lagi ucapan terima kasihnya.
" Iya, tapi inget ini Kai " ujar Raka menggantung, membuat Kai mengangkat alis sebelah sebagai ganti tanya.
" Di belakang Fania bukan cuma ada Dirga, tapi ada Gue juga yang menjaga. Dia udah Gue anggep adik Gue sendiri, sekali lagi Lu nyakitin Dia, Siap-siap aja Lu tinggal nama di dunia ini" lanjut Raka dengan nada datar di sertai hawa dinginnya.
Gleeek
Kaisar sedikit takut, Ia bahkan sampai susah menelan slavianya sendiri. Ternyata cewek yang di sukainya, di jaga oleh Guguk sekelas Doberman galak-galak semua.
" Ya, tenang aja" balas Kai singkat, dengan keringat dingin mengalir.
Kaisar memutuskan menginap di Basecamp kamar milik Raka, malas pulang ke Apartemennya dan Raka pun mengizinkan.
" Ada-ada aja sih, emang yah cinta itu datengnya kalau nggak belakangan yah di awalan." batin Raka geleng-geleng kepala, saat melihat Kaisar yang berjalan dengan langkah lunglai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya..
Jangan lupa sampirkan komentar dan klik jempolnya yah...
Serta vote dukunganya
__ADS_1
Sampai babai
Terimakasih