Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Suka?


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


"Mas ... Suka yah sama kak Kei?"


Ckitt!


Dug!


Ouch!


Bunyi decitan ban beradu dengan aspal terdengar, saat si pengendara menekan rem secara tiba-tiba, disusul dengan suara helm beradu dan pekikan sakit setelahnya.


Selyn si korban adu helm memukul bahu sang kakak, saat ia merasakan sakit di kening cantiknya.


Plak!


"Mas! Kalau mau nge-rem bilang-bilang dong, sakit nih. Pasti benjol deh kening, El!"


Ia sibuk mengusap keningnya, dengan sang kakak yang segera menghadapnya, khawatir saat mendengar suara benturan cukup keras.


"Maafin Mas, El!" seru Gavriel, ikut mengusap kening adiknya yang memerah.


Untunglah jalanan tempat Gavriel berhenti bukan lagi di jalan raya, sehingga mereka tidak menimbulkan kendaraan lain jadi korban, saat motor yang dikendarainya berhenti dengan tiba-tiba seperti tadi.


"Lagian Mas kenapa sih, kok tiba-tiba berhenti seperti itu?" tanya Selyn dengan raut wajah kesal.


Sekarang gantian Gavriel yang menampilkan wajah kesal, saat ditanya sang adik alasan kenapa ia menge-rem motornya tiba-tiba.


"Kenapa-kenapa, kamu tuh yang kenapa, El!"


"Lah ... El, kenapa Mas?" tanya Selyn bingung.


"Pertanyaan kamu itu loh, maksudnya apa coba?" tanya Gavriel, kemudian kembali menghadap depan, memindahkan gear dan memasukkan kopling.


"Lah ... Kan El hanya bertanya."


"Pertanyaan kamu aneh, El," balas Gavriel, kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka.


"Apa yang aneh, sih," gumam Selyn dengan pipi menggembung sebal.


Ia kembali menenggelamkan wajahnya di punggung sang kakak, dengan bibir tetap bergumam, sebal saat sang kakak tidak menjawab pertanyaan simplenya.


"Dasar, padahal yang aku tahu, hanya mba Que yang selalu bisa, membuat Mas berbinar seperti itu."


Tidak lama mereka pun sampai di depan rumah, dengan seorang satpam sigap membukakan gerbang untuk mereka.


Gavriel menurunkan sang adik di depan teras rumah, sedangkan ia sendiri memarkirkan motornya di garasi, berjejer dengan kendaraan lainnya.


Ia punya satu mobil mewah dari kakek Bakrie, sebagai hadiah kelulusan.


Tapi sayang ... Ia lebih suka memakai kendaraan roda dua, dari pada roda empat yang jelas-jelas dapat melindunginya dari panasnya sengatan sinar matahari.


Setelah memarkirkan si merah dengan cantik, ia pun berjalan santai dengan tangan memutar-mutar kunci di jari telunjuknya.


Di depan teras rumahnya sudah tidak ada El, biasanya mereka akan jalan bersama masuk ke dalam, tapi sepertinya sang adik masih marah karena pertanyaan di jalan tadi.


Ia mengangkat bahu tak acuh dan masuk ke dalam setelah mengucapkan salam.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


"Sudah pulang sayang? Tumben El masuk duluan?" tanya sang Mommy, menatap anak sulungnya penasaran.


Kan ... Apa ia bilang, El pasti masih kesal.


"Mungkin kelelahan Mom, seharian ini puas bermain. Biasa lah, namanya nggak pernah main di luar rumah," balas Gavriel menyindir di akhir kalimat, tanpa melihat ke arah sang Daddy yang tersedak saat mendengar ucapannya.


"Uhuk! Dadd dapat laporan dari Om Bima, apa benar tadi ada insiden di Mall?" tanya sang Daddy mengalihkan pembicaraan.


Gavriel mengehela nafas, saat di tanya tentang kejadian siang tadi, yang membuatnya hampir jadi remahan peyek, saat dirinya di kerumuni pengunjung lain.


"Iya."


Ia menjawab apa adanya, karena berbohong pun percuma, sebab Daddynya memiliki mata dan telinga dimana-mana.


"Jaga El lebih ketat, Daddy percayakan El sama kamu. Got it?" ujar Dirga melihat anak sulungnya tegas.


"Yes."


"Emangnya, kejadian apa?" tanya Kiara penasaran.


"Hanya insiden kecil Mom, tapi Mom tenang saja. Kami semua tetap bisa melanjutkan acara santai kami," balas Gavriel, tersenyum kecil menenangkan.


"Oke ... Lain kali jangan yah, Mom nggak mau kalian kenapa-napa," ujar Kiara menatap anak sulungnya lembut.


"Siap, Mom!"


"Kamu mandi, sebentar lagi waktunya makan malam."


"Oke. Dadd, Mom, Gav ke atas dulu."


"Iya sayang!"


"Hn."


Gavriel pun berjalan ke arah tangga, menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


Kamarnya masih yang dulu, letaknya di samping ruang kerja sang Daddy, hanya berubah untuk desain dan letak serta jenis perabotan.


Kenangan saat ia kecil di dalam kamarnya, tersisa dinding dengan gambar awan dan matahari, kerana ia memang suka dengan awan dan matahari.


Terlebih ... Kamar ini adalah kamar pertama, hasil desain buatan sang Daddy langsung.


Saat ini ia berdiri di depan pintu kamarnya, sebelum masuk ia melihat pintu lainnya, tepatnya pintu di sebelah kamarnya.


Pintu kamar sang adik yang tertutup, sepertinya pertanyaan yang menurutnya aneh, berarti bagi adiknya yang manja.


Huft!


"Nanti deh, coba di tanya," gumamnya, sebelum membuka pintu kamar dan menutupnya pelan.


Ceklek!


Blam!


Gavriel keluar dari kamar mandi, dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya.

__ADS_1


Tetesan air dari rambutnya yang setengah basah, mengalir dan melewati dada hingga perut dengan kotak belum sempurna.


Sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil, ia membuka handphone miliknya dan mengetik angka password sandinya.


_ _ _ _ _ _


Enam angka, yang dari dulu tidak pernah ia lupakan.


Ia tersenyum saat ingat ini angka apa.


(Angka togel? Bukan, sembarangan)


Setelahnya, ia berjalan dengan kedua tangan sibuk melakukan tugas masing-masing, menuju ruangan dimana pakaiannya berada, lalu mengganti pakaian dengan cepat.


Setelah selesai berpakaian, ia menarik kursi belajarnya, lalu Gavriel duduk dan membuka lagi handphone miliknya.


Ia membuka aplikasi galeri foto, melihat puluhan foto hari ini, yang isinya kebanyakan foto sang adik tersenyum lebar seperti biasa, sehingga ia yang melihat ikut menampilkan senyum meski tipis.


Di antara puluhan foto adiknya, ada foto lain dengan objek yang di kenalnya.


Di foto itu mereka sedang bermain dengan yang lainnya, satu tersenyum tanpa malu dan lebar, sedangkan yang satunya menampilkan senyum dengan rasa manis yang berbeda.


Seketika, sekilas pertanyaan dari sang adik terngiang di telinganya, ia mengernyit saat ia kaget bahkan sampai mengerem motor tiba-tiba seperti tadi.


Pertanyaan adiknya tidak salah, tapi ia sendiri bingung harus jawab apa, sedangkan ia sendiri tidak tahu perasaannya saat ini bagaimana.


Biasanya ia akan risih dan tidak mudah menerima seseorang, terlebih perempuan untuk ada di sekitarnya.


Ia bahkan tertawa bersama dengannya, saat mereka ngobrol bersama di area game tadi.


"Suka?" gumamnya dengan kening semakin berkerut.


Suka seperti apa?


Yang ia tahu, ia hanya nyaman saat dia ada di sekitarnya.


Sama nyamannya, seperti saat sahabat perempuannya ada di sekitarnya.


"Entah lah ... Aku rasa, ini hanya perasaan El saja, lagian aku menganggap ini biasa saja."


Dengan bahu terangkat tak acuh, ia melanjutkan kegiatannya.


Sama seperti sang Daddy, Gavriel pun gemar menjadikan foto sebagai wallpaper laptop atau pun handphonenya.


Wallpaper handphone adalah foto mereka berempat, saat mereka merayakan kelulusan di sekolah.


Sedangkan foto di laptop adalah foto keluarga besarnya, yang saat ini akan di ganti dengan foto editan yang lainnya.


Foto baru, foto seseorang yang sedang tersenyum menghadap kamera.


"Shining."


Skip


Pagi hari datang dengan cepat, masih di kediamanan Wijaya.


Hari ini ia berangkat sendiri, karena adiknya lebih memilih berangkat bersama Daddy toyyib ketimbang dengannya.


Ya elah ... Ia lupa, tadi malam saat ingin mengetuk pintu kamar sang adik, dari arah ruang kerja sang Daddy, terdengar panggilan menyebut namanya.


Alhasil, ia dengan menghembuskan nafas lelah, berjalan ke arah sebaliknya dari kamar adik kesayanganya, menuju ruangan dimana sang Daddy bekerja.


"Momm, Gav berangkat dulu. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam, sayang!"


Brumm!


Di tempat lain, di saat yang bersamaan tepatnya di pinggir jalan.


Ada sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan, saat si pengendara merasa jika mobilnya ada kendala.


Si pengendara tersebut keluar dari mobilnya, membuka kap dan mengecek mesin mobil.


"Pah! Kenapa?" tanya seorang remaja perempuan, kepada si pengendara atau juga Papanya.


"Ah! Sepertinya kurang air. Sebaiknya kamu naik taksi saja, nggak apa-apa kan, Kei?" balas si Papa dari seseorang yang di panggil Kei.


Kei atau Keineira mengangguk mengerti, kemudian mengambil tas punggungnya dan berdiri lagi di samping sang Papa.


"Apa Papa tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.


"Tidak apa-apa, kamu duluan saja. Takut kamu terlambat," balas sang Papa lembut.


Kei pun melihat ke arah jalan, hampir tidak ada taksi yang lewat, membuatnya mendesah pasrah jika harus telat datang ke sekolah.


"Tapi ... Tidak ada taksi yang lewat Pah," ujar Kei menatap sang Papa dengan pipi menggembung.


Sang Papa ikut melihat sekitarnya, lalu menatap putrinya dengan tangan menggaruk kepala.


"Iya juga yah," gumamnya pelan.


"Yah ... Gimana dong Pah."


Pasangan anak Papa ini kompak melihat jalan dengan lesu, bukan hanya tidak ada taksi, bahkan kendaraan lainnya pun jalan dengan kecepatan tinggi, karena memang ini adalah waktu mepet untuk memulai aktivitas.


Di ujung jalan sana, ada sebuah motor sport berwarna merah.


Melihat mobil berhenti di pinggir jalan dengan kening mengernyit, bukan karena mobilnya tapi karena seseorang, yang berdiri di samping mobil tersebut.


"Itu kan ...."


Karena penasaran dengan orang berseragam sama tersebut, ia pun menghentikan laju motornya tepat di depan orang tersebut, yang menatapnya dengan kening berkerut.


Sepertinya dia bingung, tentu saja ... Ia masih memakai helm full face, sehingga mampu menutupi seluruh wajahnya agar tidak terlihat.


Sedangkan si orang yang di pinggir jalan ini atau juga Kei, bingung dengan pengendara motor yang tiba-tiba berhenti di depannya.


Tapi tunggu .. Ia mengernyit mencoba mengingat, kendaraan motor yang ada di depannya, dengan motor yang biasa di pakai oleh teman sekelasnya.


"Tunggu dulu, jangan-jangan ..."


"Gavriel!" pekiknya kaget, saat si pengendara motor membuka helm yang di pakainya.


"Iya aku, kenapa kaget gitu?" balas si pengendara yang ternyata Gavriel.


"Kamu, ngapain di sini?" tanya Kei kaget.


Astaga ... Ia tidak menyangka akan bertemu dia dalam keadaan seperti ini.


"Aku? Aku hanya penasaran, melihat seorang siswi satu sekolah denganku, berdiri di pinggir jalan."

__ADS_1


Seketika Gavriel kaget karena ucapannya sendiri.


Ada apa ini, kenapa ia harus penasaran, jika sebelumnya ia akan cuek dengan kejadian seperti ini.


"Maksudku, apa kamu tidak lihat, sudah jam berapa ini?" lanjutnya menjelaskan, saat melihat ekspresi kaget dari teman sekelasnya.


Kei tersenyum kecil, saat mendengar kalimat lanjutan buru-buru dari laki-laki remaja di depannya.


"Mobil Papa, mogok," ujar Kei menolehkan wajahnya ke arah mobil, dimana ia melihat sang Papa sibuk memeriksa, padahal ia tahu jika sang Papa tidak mengerti.


Hi-hi!


Ia tertawa kecil, membuat Gavriel yang melihatnya ikut melihat ke arah yang di lihat oleh temannya.


"Itu ... Papa kamu?" tanya Gavriel.


"Iya."


Kei kembali menolehkan wajahnya ke arah Gavriel lagi, lalu tersenyum kecil.


"Papa tidak bisa, tapi pura-pura bisa," ujarnya meledek sang Papa yang segera protes.


"Kei! Papa dengar!"


"Hais ... Das-


"Kamu lagi ngobrol sama?"


Reno yang bingung, berjalan dan berdiri di samping putrinya, yang saat ini sedang berhadapan dengan seorang pria remaja.


"Halo! Tuan, saya Gavriel, teman sekelasnya Kei. Salam kenal," ujar Gavriel mengenalkan diri.


"Ah! Saya Papanya Kei, panggil saja Om Reno. Salam kenal, Gavriel!"


"Baiklah,"


"Lalu, mobilnya kenapa Om?" lanjutnya bertanya.


Reno menolehkan wajahnya ke samping, melihat mobilnya dan menghela napas.


"Sepertinya haus," balas Reno tidak yakin.


"Sudah hubungi bengkel Om?"


Reno menepuk pelan dahinya, saat ia lupa jika orang yang tepat untuk membenarkan mobilnya adalah orang bengkel.


"Belum ... Kalau begitu, Om hubungi orang bengkel dulu. Kei kamu telpon taksi saja," balas Reno, kemudian tanpa melihat sang putri ia berjalan menuju mobilnya, hendak mengambil handphone miliknya.


"Iya Pah!"


"Nggak usah Kei, kamu bareng aku saja berangkatnya."


"Eh!"


"Kenapa? Lagian kita satu arah," ujar Gavriel bingung, saat mendapat jawaban pekikan dari teman sekelasnya.


"Em ... Maksudnya, aku naik motor kamu?" tanya Kei, membuat Gavriel yang mendengarnya terkekeh, merasa lucu dengan pertanyaan canggung dari teman sekelasnya.


"Bukan, terbang Kei, bukan pakai motor," balas Gavriel menggoda, membuat Kei yang mendengarnya menggembungkan pipinya sebal.


"Is ... Serius Gavriel!" seru Kei dengan nada yang sungguh, ia sendiri tidak sadar kenapa bisa mengeluarkan nada seperti itu.


Gavriel melihat Kei dengan tatapan geli, tidak risih saat mendengar nada manja dari remaja perempuan di depannya.


Biasanya hanya suara manja El dan Queen, yang nyaman di pendengaran, tapi sekarang ia bahkan ikut tersenyum saat mendengarnya.


"Ada apa denganku," batinnya merasa aneh.


Ia menggelengkan kepala, saat ada rasa asing menyelimutinya.


"Lagian kamu masih bertanya, jelas-jelas hanya ada motor di depan kamu."


Kei salah tingkah saat mendengar perkataan dari Gavriel, ia melengoskan wajahnya yang memerah malu, apalagi saat melihat alis Gavriel yang terangkat sebelah.


Di penglihatannya itu sungguh menawan.


"Ya kan, ya kan aku takut kamu bercanda," elak Kei menatap Gavriel, dengan mata menyipit lucu.


"Nggak lah, aku nggak bercanda."


"Yuk! Nanti telat, kamu mau di hukum?" lanjutnya menuai anggukan kepala malu, dari Keineira yang menghampiri sang Papa terlebih dahulu.


"Pah! Kei berangkat sama Gavriel yah, Papa nggak apa-apa kan, Kei tinggal?" ujar Kei bertanya.


"Sama Gavriel? Apa tidak apa-apa nak Gavriel?" tanya Reno.


"Tidak apa-apa, Om!"


"Baiklah .... Om titip Kei yah, hati-hati di jalan."


"Siap, Om!"


"Yuk Kei," ajak Gavriel, sedangkan Kei hanya menganggukkan kepala pelan.


"Kei pergi Pah, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, hati-hati sayang!"


"Kami berangkat, Om!"


"Iya!"


Brum!


Sepeninggalnya anak dan teman sang anak, Reno melihat jalan dengan dahi mengernyit, saat mencoba mengingat nama yang entah mengapa tidak asing di pendengarannya.


"Gavriel yah ... Sepertinya aku pernah dengar. Tapi dimana yah?" gumamnya.


"Dengan Pak Reno?" tanya petugas bengkel, membuyarkan lamunan Reno tentang nama dari seorang Gavriel.


"Iya, saya!"


"Sepertinya, memang tidak asing," batinnya masih penasaran.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikut terus kisah selanjutnya ...


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2