Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Calon Pengusaha Muda Dan Janji Dirga


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Sabtu, 25 januari 20XX.


Adalah hari dan tanggal kelahiran Putra dari pasangan Dirga dan Kiara Wijaya.


Terlahir dengan normal dan bentuk sempurna, Gav panggilan dari anak kesayangan keduanya tumbuh menjadi anak pintar.


Di usianya yang hampir menginjak satu tahun, Gav bahkan sudah mengerti apa itu larangan dan perintah.


Rupa turunan dari Sang Daddy dan senyum manis dari Sang Mommy, menjadikan Gav bayi paling menggemaskan di setiap saat orang melihat.


Tidak jarang saat mereka sedang ada di tempat umum, Gav akan menjadi pusat dan membuat orang terpekik gemas.


Dua hari lagi adalah pesta ulang tahun pertama yang akan di adakan keluarga besar Wijaya.


Pesata ulang tahun dari Cicit keturunan asli Bakrie dan Bagus ini, akan menjadi pesta pertama dalam silsilah keluarga mereka.


Nasib memiliki satu anak dan satu cucu dari pasangan masing-masing, menjadikan mereka over protektif terhadap Cicitnya, yang akan menjadi pewaris selanjutnya untuk kerajaan bisnis Wijaya dan Wicaksono.


Mansion Wijaya Muda


Saat ini di ruang tamu sudah berkumpul keluarga besar Dirga dan Kiara.


Seperti biasa mereka mengunjungi Si pemilik rumah untuk berkumpul, serta bermain bersama Gav Cicit dan Cucu pertama mereka.


Pembahas kali ini lebih serius, karena mereka hanya memiliki waktu dua hari lagi untuk menyusun rencana pesta ulang tahun Gav.


Awalnya baik kakek, buyut atau pun Kiara tidak ingin mengadakan pesta. Tapi mendengar keinginan dari Dirga sebagai Daddy dari yang bersangkutan, maka Mereka mengikuti saja apa keinginanya.


"Jadi di mana Kita akan menyelenggarakan pestanya?" tanya Sarah heboh. Ia menyambut dengan gembira pesta pertama, dari hari kelahiran cucu tampanya.


"Bagaimana kalau di Hotel, Kita undang kolega dan kenalan Kita. Aku takutnya tidak akan cukup ruang, mengingat jika Kita melakukan pesta pasti pers ikut meliput!" seru Dirga. Ia mengusulkan ini bukan tanpa sebab, selain ini pertama untuk Anaknya ada sesuatu juga, yang ingin Ia beri tahu kepada khalayak ramai.


"Jika Kamu ingin yang seperti itu, Kakek ikut saja. Benar kan Bakrie?" ujar Bagus menyetujui. Ia bertanya kepada sahabatnya, yang mengangguk setuju.


"Tentu saja, Kakek juga ingin mengundang semua teman Kakek dulu. Kakek juga ingin kebahagiaan Kita di rasakan oleh orang lain!" sahut Bakrie semangat.


"Jangan lupa berbagi!" seru Putri mengingatkan.


Dirga mengangguk untuk menjawab seruan Sang Mama, lalu tersenyum saat idenya di sambut baik oleh anggota keluarganya.


"Kalau begitu, Kita serahkan pada Event Organizer saja. Nanti biar Papa yang urus," ujar Fandi menyanggupi.


"Baiklah Pah, terima kasih!" seru Dirga tersenyum kecil.


Setelahnya pembahasan terus berlanjut, membicarakan dengan detail siapa saja yang akan di undang.


"Lalu ... Bagaimana dengan penjagaan?" tanya Hendri serius.


Saat ini hanya ada para lelaki di ruang tamu, sedangkan Kiara, Gav dan Para Mama berpindah tempat membahas hal yang berbeda.


"Tenang saja, anggota Dirga yang akan menjaga. Dirga pastikan jika tidak akan ada kekacauan di pesta nanti," balas Dirga tidak kalah serius.


"Bagus, Kakek percayakan keamanan dengan anggota Kamu. Sekarang Kakek harus ke suatu tempat, Kakek akan segera mengundang teman-teman Kakek. Bagus mari Kita pergi!" ajak Bakrie senang. Ia ingin segera memberi tahu temannya, rencana pesta pertama Cicit mereka.


"Mari kita berangkat!" balas Bagus semangat.


Lalu keduanya pun pergi, meninggalkan Dirga, Hendri dan Fandi yang melanjutkan pembicaraan.


Skip


Setelah pembicaraan panjang akibat waktu mepet, kini di rumah Wijaya muda hanya tinggal Tuan rumah dan Nyonya rumah serta Anak balita, yang sedang merangkak semangat.


"Sudah selesai pembahasannya?" tanya Kiara yang ikut duduk lesehan di samping matras milik Gav.


"Sudah, nanti soal undangan untuk kolega biar Dani yang tangani," balas Dirga.


Saat ini mereka sedang ada di kamar bermain, menghabiskan waktu malam mereka dengan menemani Sang anak yang sedang giat latihan berjalan.


"Akhir-akhir ini Aku perhatikan Gav giat sekali belajar jalan?" tanya Dirga dengan ekspresi penasaran.


"Berkat siapa?" ujar Kiara balik bertanya.


Dirga mengangkat sebelas alis tidak mengerti, saat Sang istri bertanya ini sebab dari siapa.


"Maksudnya?"


"Oh yah .... Terima kasih untuk Tuan Dirga yang tampan, berkat taruhan Konyol dan sindiran mengejeknya, Gav manis Aku berubah jadi sok dewasa!" ujar Kiara menyindir.


"Hah? Maksudnya gimana yank?" tanya Dirga semakin penasaran.


Kiara menghela nafas, gemas dengan tingkah sok tidak tahu dari Sang suami.


"Kamu tahu, usia produktif di mulai dari umur satu tahun. Anak sudah mulai bisa berbicara dan memahami perintah," ujar Kiara menjeda kalimatnya, saat melihat ekspresi Suaminya yang mulai paham.


"Lalu?"


"Kamu ingat kan saat Gav menangisi Kamu sebelum ada insiden itu? Itu adalah ikatan batin Anak dan ayah,lalu saat Kamu selalu menyematkan kata perintah berupa 'got it' itu juga bisa Gav pahami dengan jelas,"


Dirga diam mendengar penjelasan dari Kiara, memikirkan apa maksud dari ucapan Sang istri.


"Sayang, Kamu tahu tidak. Entah ini anugerah atau apa, tapi Anak Kita berbeda tingkat kecerdasannya di banding Anak balita lainnya,"

__ADS_1


"Ya bagus dong, Anak Kita bisa di bilang jenius!" seru Dirga bangga.


"Kok malah seperti itu ekspresinya?" batin Dirga aneh.


"Tunggu ... Jadi maksud Kamu, ini ada hubungannya dengan omongan Aku yang bertaruh tentang perusahaan di Eropa itu?" tanya Dirga dengan nada kaget luar biasa.


"Yang benar saja!" Lanjutnya berseru heboh.


"Nah ... Baru sadar? Lagian Kamu sih. Sudah tahu Gav ini hasil cocok tanam siapa, malah di bakar sumbunya. Aku bahkan harus geleng kepala," balas Kiara mencibir.


"Ha-ha-ha!"


"Kenapa malah tertawa?" tanya Kiara sewot.


Ia mendelikkan matanya menatap ke arah Dirga, yang dengan santainya tertawa renyah.


"Luar biasa, hasil cocok tanam Kita memang luar biasa!" seru Dirga sinting.


"Hah?"


"Aku yakin bahkan di umur empat tahun, Gav akan mengerti apa itu modal dan saham!" lanjut Dirga tanpa melihat Kiara yang sudah berasap.


"Jangan mimpi, Aku tidak akan mengizinkan Anak Ak-


"Siapa juga sayang, yang mengizinkan Gav dewasa sebelum waktunya?" sela Dirga cepat dengan nada serius.


"Lalu?" tanya Kiara tidak mengerti, bukan kah tadi suaminya yang senang saat tahu Gav cepat tanggap.


Dirga menatap Kiara dengan senyum teduh, lalu menepuk kedua pahanya, memerintahkan Kiara agar duduk di pangkuannya.


"Tidak, Kamu masih belum kuat!" seru Kiara menolak.


"Tidak akan sakit, beda lagi kalau yang duduk di sini gajah, emangnya Kamu gajah?" balas Dirga meledek.


"Enak aja bukan lah, emang Aku seberat itu!" seru Kiara tidak terima. Ia melotot dengan pipi menggembung lucu, membuat Dirga terkekeh karena tingkah menggemaskan Istrinya.


"Ha-ha-ha ... Kalau begitu, mari Kita coba!" tantang Dirga dengan senyum miringnya.


"Oke .... Tapi awas yah kalau setelah pangku Aku, Kamu kesakitan," ujar Kiara mewanti. Ia memicingkan matanya, meledek Dirga yang hanya mengangkat bahu acuh.


"Lets see!" seru Dirga menantang.


Kiara mendengus lalu bangkit berdiri, menghampiri Suaminya yang memasang wajah sombong, apalagi bibir tipisnya yang saat ini tersenyum miring menantangnya.


"Awas yah," ujar Kiara untuk terakhir kali, yang di jawab Dirga dengan anggukan kepala yakin.


"Iya, dear!" seru Dirga yakin.


Kiara pun sampai di depan Dirga yang masih tersenyum miring, sejenak Ia ragu takut Sang suami masih akan merasakan sakit saat Dia menduduki kedua pahanya.


Dirga yang bosan dengan pertanyaan bernada khawatir pun menarik tangan istrinya,menuai pekikan kaget dari Sang Istri, yang membuat telinga Dirga berdenging seketika.


Grep!


Brugh!


Kyaaa!


"Berisik sayang," bisik Dirga di telinga Kiara.


Kini Kiara ada di pangkuannya dengan telapak tangan nemplok di dadanya, menyadar dengan ekspresi kaget kentara.


Kiara yang kaget hanya bisa terdiam, dengan perasaan takut jika Ia membuat suaminya kesakitan.


Dirga mengernyitkan dahi heran, saat tidak mendapatkan respon dari istrinya setelah pekikan tadi.


Ia melihat ke arah bawah, di mana wajah Kiara yang terbenam di dalam dadanya.


"Dear!" panggil Dirga pelan.


"Kamu ... Apa Kamu tidak sakit?" bisik Kiara takut.


Dirga terkekeh saat mendengar pertanyaan khawatir dari Sang Istri, jujur saja jika Ia sangat merindukan saat istrinya duduk di pangkuannya seperti ini.


"Bahkan berat badan Kamu sama sekali tidak terasa sayang, apa Kamu makan dengan benar?" ujar Dirga kini balik khawatir.


Terakhir Ia bisa merasakan berat badan Sang istri adalah malam sebelum insiden itu.


Ia baru menyadari jika Istrinya maksudnya berat badan istrinya berkurang, pantas saja Ia melihat jika pipi Kiara tirus sedikit.


"Tentu, Aku makan dengan benar. Kamu jangan khawatir dan jangan mengalihkan pembicaraan, Aku bertanya apakah Kamu kesakitan?" tanya Kiara. Ia mendongakan kepalanya ke atas, melihat wajah Suaminya yang menampilkan senyum lembut.


"Tidak dan tidak, Aku bahkan bisa memangku Kamu lebih lama dari ini. Bahkan di tambah Gav juga tidak masalah," ujar Dirga santai.


Kiara menatap wajah Dirga dengan mata berkaca-kaca terharu, akhirnya Sang suami sudah mengalami peningkatan kesehatan.


"Benarkah?" tanya Kiara senang.


"Yes!"


Hiks!


Air mata Kiara tumpah seketika, saat suaminya berkata seperti itu. Bolehkah Ia berharap, jika saat pesta ulang tahun Gav, suaminya bisa berjalan.


"Why you cry, Dear? Please stop it!" bisik Dirga.

__ADS_1


"I'm Happy," gumam Kiara.


"Me too!"


Mengetahui jika air mata Kiara adalah air mata kebahagiaan, Ia pun membiarkan sesaat istrinya menangis. Ia tahu dengan sangat jika Sang istri terlalu lama menahan kesedihannya, jadi yang Ia lakukan saat ini hanyalah mengusap lembut punggung bergetar istrinya.


"Maafin Aku," bisik Dirga, membuat Kiara menggelengkan Kepala pelan.


"Tidak sayang, tidak ada kata maaf di antara Kita. Hanya boleh terima kasih dan Aku mencintaimu selalu," ujar Kiara menatap sayu wajah Suaminya.


Dirga mengangguk kepala mengerti, lalu mengecup kening Kiara lama, meresapi setiap kehangatan yang ada di diri istrinya.


"Dadd, Momm, tav eyuk au eyuk!"


Keduanya tersentak kaget, serempak melihat ke arah Gav yang duduk dengan mata bulat memandang mereka sedih.


Kekehan kecil terdengar dari Dirga, saat melihat anaknya menampilkan wajah minta di perhatikan, sepertinya ini hasil turunan Sang istri karena wajah sedih Gav mirip seperti Kiara. Lucu dan menggemaskan, membuatnya harus menggigit pipi bagian dalamnya agar tidak mencubit pipi Anaknya sendiri.


"Ah ... Sampai lupa, Anak kesayangan Mommy iri yah?" ujar Kiara menggoda.


"Kemari Kid, bukan kah Kamu sudah belajar keras untuk berjalan?" sahut Dirga menantang.


"Kesini dengan kedua kaki bantet Kamu sendiri, kita lihat sampai mana tahap belajar Kamu!" lanjut Dirga dengan tangan terayun seakan memanggil.


Mendengar perkataan kedua orang tuanya dan juga tangan terayun mengundang, Gav pun mulai berdiri dari duduknya.


Di mulai dari meletakkan kedua telapak tangan mungilnya di Matras, lalu mengangkat bokong gembulnya. Gav menahan beban badannya dengan telapak tangan bantetnya, lalu perlahan tapi pasti berdiri dengan tubuh hampir limbung.


Hup!


Gav pun mulai berdiri meski sedikit oleh ke kanan lalu ke kiri. Dia mulai melangkah,di mulai dari kaki bantetnya yang sebelah kanan, satu langkah berhasil dengan Gav yang hampir limbung namun berhasil.


Dirga dan Kiara yang menyaksikan merasakan perasaan berdebar, antara senang dan khawatir takut Gav jatuh dan menangis.


Melangkah pelan lagi kini langkah Gav mulai seimbang, dengan tangan terbentang seperti terbang.


"Mom, Dadd, alan, hi-hi!"


Kiara turun dari pangkuan Dirga lalu berjongkok, saat Gav yang mulai dekat ke arahnya.


"Semangat sayang, sebentar lagi!" seru Kiara senang. Ia merentangkan tangannya lebar, bersiap menyambut kedatangan Gav yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.


"Mom, hi-hi!"


"Come on Kid, one step closer!" seru Dirga ikut menyemangati.


"Dadd!"


Gav yang mendapat dukungan semangat dari kedua orang tuanya semakin melangkah dengan tegap, langkahnya yang tadi kaku bak robot sekarang lebih mantap lurus meski terkadang oleng.


Tap!


Semakin mendekat Gav ke arah mereka, semakin lebar senyum yang terpampang di bibir keduanya.


Tap!


"Semangat sayang!"


"Hi-hi!"


Dan


Hap!


"Yey ... Gavnya Mommy pintar, akhirnya Kamu menang sayang. Selamat yah ... Perusahaan di Eropa jadi milik Gav seutuhnya!" ujar Kiara senang. Ia menciumi dengan gemas pipi anaknya yang terkekeh senang, dengan tangan bertepuk heboh.


Dirga yang melihatnya tersenyum senang, saat melihat kedua kesayangannya tertawa bahagia.


"Pemandangan seperti ini, apakah akan bertahan lama?" batin Dirga bertanya.


"Oo ... Sepertinya akan ada pengusaha muda, dari yang termuda, Daddy kalah saing nih!" balas Dirga menggoda.


Gav tertawa polos saat Sang Daddy menepuk kepalanya bangga, lalu tangannya terulur minta di gendong.


"Ndong!"


"With my pleasure, Lil Prince!" ujar Dirga mengambil alih Gav kedalam gendongnya.


Tawa ketiganya terdengar memenuhi ruang bermain milik Gav, mengakhiri sore ceria di kediamanan Wijaya Muda hari ini.


Dan sepertinya Kiara lupa akan pertanyaan dari alasan, kenapa Dirga tidak membenarkan pernyataan jika Gav tidak di izinkan, terjun di dunia bisnis di usia muda sama sepertinya.


"Bagaimana Gue membiarkan Anak lucu Gue terjun di dunia kejam? Selama Gue masih hidup dan sehat, nggak akan Gue biarin anak Gue kekurangan kasih sayang. Apalagi sampai menjejaki hidup, di dunia penuh intrik dan politik yang tidak pandang bulu dan akan Gue pastikan dengan tangan Gue sendiri, kalau Gav maupun anak Gue yang lain kehidupannya akan normal seperti anak yang lainnya!"


Itu adalah janji Dirga, yang akan Ia terapkan di seumur hidupnya.


Janji seorang ayah yang ingin anaknya tidak merasakan kehidupan sepertinya dulu.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....


Intrik adalah penyebaran kabar bohong yang sengaja untuk menjatuhkan lawan: mereka melakukan -- guna meng-hancurkan pihak lawan.

__ADS_1


__ADS_2